LSM di Selandia Baru:
Reformasi Militer Cuma Omong Kosong  


Wellington - Sebuah LSM pengamat Indonesia di Selandia Baru menilai reformasi 
militer cuma omong kosong dan meminta negaranya untuk segera mencabut kembali 
hubungan militer yang baru saja dipulihkan. Pernyataan tersebut dikeluarkan 
Indonesia Human Rights Committee (IHRC) terkait penembakan lima warga Alas 
Tlogo, Pasuruan. 


Maire Leadbeater dari lembaga tersebut mengecam pemerintah Selandia Baru yang 
dianggap secara diam-diam menjalin kembali hubungan pertahanan, setelah delapan 
tahun diputuskan. 
"Kami terkejut dengan pemerintah Selandia Baru yang diam-diam memulai kembali 
hubungan pertahanan dengan Indonesia setelah delapan tahun putus, dan tidak 
mendiskusikan perubahan kebijakan ini kepada masyarakat atau dengan parlemen," 
kata Maire Leadbeater dalam pernyataan yang dirilis, Rabu (6/6). "Penyerangan 
terhadap warga desa mengindikasikan 'reformasi militer' di Indonesia cuma omong 
kosong."


Lembaga tersebut menyatakan keprihatinannya akan kekebalan hukum yang dinikmati 
oleh militer Indonesia terkait kasus Timor Timur. "Kami harus mempertimbangkan 
semua korban tidak bersalah selama represi militer Indonesia, hampir 200.000 
orang tewas," kata Marie. 


Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri RI, Kristiarto Legowo, 
mengaku belum mendengar pernyataan tersebut. Namun, dia menegaskan fondasi 
hubungan Indonesia-Selandia Baru sangat kuat. "Saya yakin pemerintah Selandia 
Baru bisa melihat secara objektif keseriusan pemerintah Indonesia dalam 
menangani kasus Pasuruan," katanya saat dihubungi SH, Kamis (7/6) pagi.


Indonesia dan Selandia Baru memulihkan kembali hubungan kerja sama pertahanan 
yang sempat terganggu pasca jajak pendapat di Timor Timur 1999. Pemulihan 
tersebut disampaikan dalam pertemuan Menlu Hassan Wirajuda dan Menlu Selandia 
Baru Winston Peters di Jakarta awal Mei lalu. 
Kerja sama pertahanan itu dimulai dengan pelatihan pejabat militer Indonesia di 
Selandia Baru. Dalam pertemuan Komisi Bersama Tingkat Menteri tersebut juga 
disepakati kerja sama kepolisian. Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clarks 
dijadwalkan akan mengunjungi Indonesia bulan Juli mendatang.
Di bagian lain, Kapuspen TNI Sagom Tamboen kepada SH, Kamis (7/6), mengatakan 
reformasi TNI akan tetap berjalan terus. Desakan masyarakat agar kasus tanah 
Grati diselesaikan di Pengadilan Sipil sepenuhnya diserahkan pada mekanisme 
hukum yang berlaku. 


"Kalau ada peraturan yang mengharuskan diselesaikan di pengadilan sipil, tentu 
akan kami patuhi, tetapi kalau aturannya mengharuskan pelaku diadili di 
pengadilan militer proses itu yang akan kita tempuh," tambah Sagom. Menurutnya, 
kerja sama Indonesia-Selandia Baru tidak akan berpengaruh dengan adanya kasus 
Grati, meskipun kerja sama pertahanan kedua negara dilakukan berdasarkan 
komitmen TNI untuk melakukan reformasi internal. 


Di bagian lain, rencana pemeriksaan beberapa warga Desa Alas Tlogo dengan 
status sebagai saksi peristiwa penembakan oknum Marinir, akhirnya batal 
dilakukan. Belum jelas alasan pembatalan pemeriksaan oleh Pomal yang 
dijadwalkan berlangsung di Rabu (6/6) di Mapolsek Grati, Pasuruan.

Menurut Kepala Desa Alas Tlogo, Imam Sugnadi, kepastian pembatalan atau 
penundaan pemeriksaan tersebut setelah ada kabar dari Polres Pasuruan. 
"Pemeriksaan warga batal dilakukan Rabu ini. Kabar selanjutnya, kami masih 
menunggu surat panggilan dari Polres atau Polsek," kata Imam Sugnadi saat 
dihubungi SH, Rabu (6/6) siang.


Ia menambahkan pihaknya tidak tahu alasan penundaan pemeriksaan tersebut. 
Tetapi bagi Imam, hal itu tidak ada masalah, karena warga sudah menyatakan siap 
diperiksa untuk memberikan keterangan terkait dengan peristiwa tersebut. Yang 
jelas, sebanyak 15 orang yang mengetahui terjadinya peristiwa tersebut siap 
memberikan keterangan.


Sebelumnya, pemeriksaan terhadap warga akan dilakukan secara bertahap. Tetapi 
dengan pembatalan ini, pihaknya belum tahu kapan pemeriksaan akan dilakukan. 
"Rencananya Rabu, ada 4 atau 8 orang yang akan diperiksa. Tetapi kami sudah 
siapkan 15 orang," tandasnya.
Lima belas orang tersebut adalah Misnatun, Syah, Munaji, Muchtar, Budiono, 
Samad, Tosan, Supadil, Ahmad, Misdi, Satiran, Asur, H Sholeh, Jumaatun (ayah 
Dewi Khatijah) dan Somad (ayah Mistin). "Dalam pemeriksaan nanti, warga akan 
didampingi 23 pengacara dari elemen Ormas, LSM maupun partai politik," kata 
Imam. (nat/emy/nun)



[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke