http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=290196
Sabtu, 16 Juni 2007, Liberalisasi Budaya dan Aborsi Oleh Hutri Agustino Melenyapkan dinding dan jarak satu bangsa dengan bangsa lain dan satu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Demikianlah Yusuf Al-Qaradhawi dalam Islam dan Globalisasi Dunia mendefinisikan globalisasi. Konklusi definisi di atas adalah liberalisasi nilai-nilai budaya yang selanjutnya akan mengikis habis kearifan lokal budaya. Proses ini akan semakin pelik terkait dengan minimnya proses filterisasi budaya oleh masyarakat akibat keterbatasan modal sosial (social capital) yang dimiliki. Prolog ini mungkin relevan dengan virus mematikan bernama aborsi. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa negara Indonesia menduduki posisi teratas dalam masalah aborsi. WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahun. Di antara angka tersebut, 750 ribu sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia (Wijono, 2000). Sungguh angka yang sangat mencengangkan terjadi di negara yang menyandang predikat negara "ala ketimuran" dan mayoritas muslimah. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masalah degradasi moral dan akhlak manusia Indonesia tidak lepas dari proses westernisasi (budaya hidup ala Barat) serta liberalisasi budaya (culture liberalization) yang dipaksakan. Dalam hukum kausalitas, sesunguhnya aborsi adalah akibat kehamilan yang tidak diinginkan. Kondisi ini merupakan konsekusnsi pola hidup bebas akibat pudarnya nilai-nilai moralitas. Kisaran inilah yang menjadi inti pemaksaan budaya ala Barat. Perlu diketahui bahwa negara-negara sebagai founding fathers dan pengusung gerbong globalisasi tidak hanya puas menjajah secara fisik dan ekonomi, tetapi juga yang tidak kalah bahayanya adalah bentuk imperialisme dalam ranah budaya. Dengan demikian, kaum terjajah (negara miskin dan berkembang) lama-kelamaan akan kehilangan identitas lokal beserta seperangkat nilai positif yang dibawanya. Proses ini akan menciptakan bangsa-bangsa yang ber-"chasing" Barat, tetapi otak masih berkapasitas lokal. Hal ini mungkin tidak muluk-muluk. Sebab, kalau jujur, banyak kita jumpai dandanan masyarakat kita yang sudah kebarat-baratan karena ingin dikatakan modern, namun faktor keintelektualan dan kelimuwan bisa nomor sekian. Secara makro, tingginya angka aborsi di Indonesia tidak dapat terlepas dari pengaruh budaya Barat yang sengaja diperdagangkan secara paksa ke negara-negara yang mempunyai kesemuan dalam berkiblat. Sampelnya adalah semakin maraknya pasokan narkoba ke Indonesia, bahkan sekarang telah menyandang predikat produsen di samping semakin meningkatnya penderita AIDS. Pemaksaan lain bisa kita lihat dari semakin derasnya arus komunikasi dan informasi yang seolah-olah telah memudarkan keterbabatasan ruang dan waktu. Dulu peristiwa di luar negeri baru dapat kita akses 1 atau 2 minggu kemudian, tetapi sekarang tiap detik yang terjadi di belahan dunia mana pun dapat langsung kita akses secara cepat dengan adanya internet. Jadi, arus infomasi tidak dapat terbendung lagi. Informasi yang bernilai positif-etik sampai pada informasi "nakal" dapat diaskses siswa SD sekalipun. Sehingga tidak aneh bila kasus anak memerkosa anak semakin marak tanpa disadari bahkan di luar prediksi kedua orang tuanya yang hanya bisa mengoperasikan mesin ketik manual sebagaimana diajarkan di sekolahnya dulu. Tesis saya ini mungkin tidak sepenuhnya salah. Sebab, 75 persen pelaku aborsi di Amerika menyatakan bahwa alasan melakukan aborsi adalah khawatir menggangu karir, sekolah, dan bentuk-bentuk tanggung jawab lain. Data ini juga didukung oleh data studi dari Aida Torres dan Jacqueline Sarroch Forrest (1990) yang menyatakan 93 persen kasus aborsi dengan alasan yang sifatnya ingin menyelamatkan diri sendiri (ego pribadi). Misalnya, takut dikucilkan, malu, serta gengsi. Fakta dari negara Paman Sam di atas secara tidak sadar ternyata juga "laku keras" di negara Indonesia. Hasil penelitian saya bersama tim mengenai Perilaku Seks Bebas dan Aborsi Mahasiswa Malang (2006) menyatakan enam di antara tujuh informan yang hamil atau sekitar 85 persen melakukan tindakan aborsi dengan alasan takut dengan sanksi sosial akibat pergaulan bebas (free sex). Jadi, disadari atau tidak, perilaku dan sikap informan tersebut telah mengadopsi kehidupan ala Barat yang ditinjau dari disiplin ilmu apa pun hasil akhirnya berbeda dengan pola hidup masyarakat Indonesia. Terlepas dari konsepsi di atas, masalah aborsi di Indonesia juga tidak hanya melibatkan individu yang hamil terus digugurkan, tetapi sering juga melibatkan sejumlah oknum berprofesi dalam bidang kesehatan yang "nyambi" meng-aborsi secara ilegal dengan motif mencari tambahan biaya hidup yang tidak sebanding dengan gaji pokok-formal yang diterimanya. Fenomena ini dapat dianalogikan seperti syarat terjadinya transaksi jual beli pada pasar nyata dalam ilmu ekonomi. Yakni ada penyedia jasa, ada pengakses jasa, serta ada tempat bertransaksi, kecuali pengguguran kandungan yang dilakukan secara manual-tradisonal (menggunakan nanas, air tape, minuman-minuman tetentu, dan lain-lain). Hutri Agustino, finalis PIMNAS XIX Kategori PKM Penelitian di Unmuh Malang dengan Judul "Perilaku Seks Bebas dan Aborsi Mahasiswa Malang", mahasiswa FISIP UMM [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
