Refleksi: Seandainya ancaman menjadi suatu tindakan nyata, apakah  tindakan tsb 
melanggar peraturan agama? Apakah tindakan tidak diberangkan jemah haji membuat 
Allah murka? Seandainya juga apalia sang menteri agama bukan beragama Islam dan 
karena kebanggaan nasionalisme menyebabkan  tidak diberangkatkan jemah haji, 
apakah dia akan dicap mau memurtadkan umat? 


Sebagai  ancar-ancar diluar pengertian agama, seandainya tidak berangkatkan 
jemah haji yang jumlahnya 200.000 orang, berarti suatu penghematan yang cukup 
besar. Dan seandai pula bila tiap jemah untuk pergi melakukan ibadah agama 
harus paling kurang memiliki US$ 3.000,-- maka jumlahnya uang seluruhnya  
200.000 x US$ 3.000,-- = US$ 600.000.000,-- Karena tidak diberangkatkan jemah 
haji dan jumlah ini ditaruh di bank kafir dengan bunga 1%/tahun akan 
menghasilkan $ 6.000.000,-- Dari hasil bunga  ini berapa banyak anak orang 
miskin yang sakit bisa diobati? Atau berapa banyak anak orang tak mampu bisa 
dibantu untuk mendapat pendidikan? 

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=8954

Rabu, 18 Juli 2007,


Ancam Tak Berangkatkan Haji 


Jurus Menag Tanggapi Cekal Pesawat RI ke Arab Saudi 
JAKARTA - Menteri Agama (Menag) M. Maftuh Basyuni punya jurus sendiri dalam 
menanggapi rencana Arab Saudi mencekal pesawat RI. Jika rencana pencekalan itu 
benar-benar diterapkan, Menag mengancam tidak akan memberangkatkan 205 ribu 
jamaah haji tahun ini. 

"Ya, tidak ada alternatif lain. Kami tidak akan pernah memberangkatkan jamaah 
(haji) sampai dapat izin pesawat mendarat. (Ini lebih baik) daripada 
dimaki-maki jamaah," tegas Maftuh dalam jumpa pers di gedung Departemen Agama 
(Depag) kemarin. Dia hari itu didampingi Dirjen Penyelenggaraan Ibadah Haji dan 
Umrah Depag Slamet Riyanto.

Maftuh mengatakan, pencekalan tersebut dapat dikategorikan upaya menghambat 
penerbangan sehingga memosisikan jamaah tidak mampu menunaikan ibadah haji.

Mantan Dubes RI di Arab Saudi dan Oman itu lantas mengutip bagian Alquran Surat 
Ali Imran 97, yang berbunyi: manis tathoo'a ilaihis sabilaa. Artinya: (di 
antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke 
Baitullah), yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana 
(Tanah Suci). 

"Saya menganggap, pencekalan itu membuat orang muslim (Indonesia) tidak 
termasuk dalam manis tathoo'a ilaihis sabilaa," jelas alumnus Pesantren Modern 
Gontor itu. Dengan demikian, bisa dikatakan, pencekalan tersebut membuat 
kewajiban berhaji muslim Indonesia gugur karena tidak ada kendaraan.

Kabar pencekalan pesawat RI ke Arab Saudi itu diungkap Kepala Komunikasi Publik 
Departemen Perhubungan Bambang S. Ervan Senin lalu. Menurut Bambang, Arab Saudi 
berencana mengikuti rekomendasi Uni Eropa yang melarang pesawat Indonesia 
terbang ke wilayahnya. 

Larangan itu diketahui dari surat penjelasan yang dikirimkan otoritas 
penerbangan sipil Arab Saudi (General Authority of Civil Aviation/GACA). "Surat 
itu ditandatangani Vice President Safety and Economic Regulation Arab Saudi 
Mohammed R. Berenji," ujarnya Senin lalu.

Bila cekal itu benar-benar diterapkan, Garuda jelas akan sangat terpukul. 
Sebab, wilayah tersebut menjadi rutenya yang paling basah. Saat ini, Garuda 
terbang delapan kali seminggu ke Jeddah dan Riyadh. Ini jalur gemuk karena 
mengangkut ribuan TKI dan jamaah umrah. 

Belum lagi penerbangan jamaah haji yang berlangsung tiap tahun itu. Garuda 
menjadi maskapai resmi yang mengangkut 103 ribu jamaah tiap musim haji. Dalam 
penerbangan haji, Garuda berbagi dengan Saudi Arabian Airlines, maskapai milik 
pemerintah Arab Saudi.

Maftuh kemarin menambahkan, pemerintah Arab Saudi belum seratus persen melarang 
penerbangan pesawat RI. Otoritas penerbangan sipil di sana, katanya, masih 
menanyakan kejelasan dari pemerintah RI terkait jaminan keselamatan penerbangan 
haji. 

"Saya persilakan. Sekarang kan masih wacana. Pemerintah Arab Saudi tak langsung 
menerapkan ketentuan penerbangan Uni Eropa karena persahabatan dengan 
pemerintah kita. Nah, mereka lantas menanyakan kondisi sebenarnya penerbangan 
Indonesia," jelas Maftuh. 

Dia berjanji, begitu utusan pemerintah Arab Saudi datang, Depag dan PT Garuda 
Indonesia akan blak-blakan menjelaskan jaminan keselamatan penerbangan di tanah 
air.

Maftuh menegaskan, Depag belum punya opsi menggunakan transportasi alternatif 
melalui kapal laut untuk memberangkatkan jamaah. "Itu bukan keluar dari ide 
saya," ujar suami Wiwik Zakiah llyas itu. 

Dia mengatakan, ide tersebut awalnya dilontarkan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan 
Muslim Indonesia (ICMI) Muslimin Nasution. Muslimin mengusulkan, sudah waktunya 
kembali pada haji laut yang lebih nyaman dan lebih murah. "Saya sebagai orang 
yang pernah terlibat penyelenggaraan haji laut, rasanya tidak seperti yang 
digambarkan. Dari negara-negara muslim, hanya Mesir dan Sudan yang masih 
mempertahankan haji laut," jelas alumnus Universitas Madinah 1968 itu 
blak-blakan. 

Menurut Maftuh, ide Muslimin memang tidak ditolak, tetapi diminta dipikirkan 
masak-masak. Maftuh lantas bertemu Kapten Andi, seorang penggagas haji laut, di 
Jeddah pada April lalu. "Kehadiran Kapten Andi di Jeddah untuk menyiapkan 
penyelenggaraan haji laut," ujarnya. 

Saat bertemu Kapten Andi, Maftuh membeberkan, masih banyak komponen terkait 
haji laut yang tidak masuk dalam daftar permasalahan yang disodorkan. "Saya 
menjadi ragu kalau haji laut itu akan lebih murah USD 400 daripada haji udara," 
ungkap menteri kelahiran 4 November 1939 itu. Sampai saat ini, Maftuh mengaku 
belum bertemu lagi dengan Kapten Andi. Praktis, Depag pun belum dapat 
menindaklanjuti haji laut meski disebut-sebut akan diuji coba mulai musim haji 
tahun depan. (agm


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke