RIAU POS
      24 Agustus 2007 Pukul 10:00 

      Pemimpin, Berhentilah ke Luar Negeri 
     
      Sensitivitas kemanusiaan yang hilang berganti dengan berbagai simulasi 
politik yang berimplikasi pada musnahnya rasa (sense). Pemimpin adalah 
referensi takdir dari siklus kemanusiaan, dan idealisasi dari seorang pemimpin 
adalah kearifan dan kebijaksanaan sebagai manusia pelayan masyarakat. Namun 
realitas yang terjadi  di negeri berbudaya, di mana kebudayaan itu menjadi 
tanda tanya, ada apa dengan pemimpin kita? 

      Mengapa dan ada apa dengan wakil kita di parlemen (dewan)? Haruskah 
negeri ini menjadi kardus-kardus yang bergambar gedung pencakar langit, dan 
kemudian terbakar yang di dalamnya telah beranak-pinak ribuan anak negeri yang 
menangis karena kampungnya porak-poranda oleh tangan-tangan kapitalis bengis 
berwajah dewa. Sementara sang pemimpin dan para wakil rakyat tidak pernah tahu 
atau tidak pernah mau tahu.

      Kemiskinan rakyat selalu berepisode akar permasalahannya sama, biang 
masalahnya sama, dan tanda tanya mengapa ini tidak pernah selesai. Diakah 
pemimpin itu, ataukah seorang dewa yang harus disembah, dilayani dan dirawat 
dan kalau perlu disuapi. Jika keberpihakkan pemimpin terhadap rakyat tidak 
tergambar, gambaran yang terjadi mengapresiasikan pemimpin yang menjadikan 
rakyat sebagai objek martoc (tumbal tanah) kelanggengan kekuasaan.

      Manusia tercipta sebagai mahluk rasa, karsa, dan jiwa. Untuk menjadi 
manusia utuh, haruslah memberdayakan rasa, terutama rasa malu, rasa tanggung 
jawab, mengapa gubernur dan DPRD Riau selalu ke Jakarta, malah ke luar negeri, 
sedang rakyat terserak. Haruskah mencaci dan memaki sebagai mula untuk 
berbicara. Mengapa tidak pro aktif. Haruskah kami selalu berburuk sangka dulu 
pada pemimpin dan wakil kami. Kemiskinan itu ada di Riau bukan Jakarta, kita 
punya gedung yang mewah mengapa harus di hotel-hotel seolah-olah kita adalah 
negeri warga tak beratap. 

      Haruskah rakyat bertumpah tangis dan darah dulu baru tuan-tuan yang 
terhormat mau bertindak walau kadang hanya dalam bentuk lips service belaka. 
Bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati. Bagaimana dengan efsiensi dan 
alokasi penggunaan anggaran, bukankah menjadi omong kosong jika kita meminta 
dana bagi hasil sumber daya alam, sementara pengalokasian dana yang ada saja 
tidak jelas peruntukannya bagi kesejahteraan rakyat. Menjadi suatu asumsi yang 
wajar jika pusat menolaknya, karena tidak menyentuh pada akar dan nilai yang 
akan dibangun. Karena akan menjadi tanda tanya besar, dana yang ada sekarang 
cukup besar tapi sedikit yang berubah, orang Riau yang miskin makin bertambah. 
Tak percaya lihatlah, pengaruh urbanisasi hanya 1,25 persen terhadap 
peningkatan jumlah kaum miskin dan pengangguran dan itu pun hanya ada di pusat 
kota. Sementara di tepian Sungai Siak, desa-desa, terutama di pinggiran kampung 
Sakai dan Talang Mamak mereka masih miskin, tertindas dan teraniya. 

      Jika memang keberpihakkan itu masih ada, maka mari kita beriring langkah 
menyatu hati bersama turun menatap hati rakyat, Gubernur, DPRD Riau pulanglah 
dan sadarlah. Mengapa kita tidak mengambil contoh yang baik Magapacal Arroyo 
meninggalkan sidang di Eropa dan ia pulang dengan lebih memprioritaskan untuk 
menjemput rakyatnya yang dideportasi. Sekelumit contoh kecil sikap 
kepemimpinan, yang harus menumbuh kembangkan sikap dengan penuh prioritas 
terhadap masalah rakyat yang dipimpinnya. 

      Kembalilah pada lisensi moral sebagai manusia yang beramanah untuk 
memimpin sebagai pelayan rakyat, legitimasi rakyat, bukan pada tahta, tapi pada 
keteladanan dan kepedulian kepada rakyat yang dipimpin. 

      Objektivitas dari suatu perencanaan akan menjadi tepat dan berguna jika 
penempatan dan perencanaannya itu benar-benar didasari oleh lingkup peristiwa 
dan intensitas keperluan rakyat yang dipimpin. Bukan bait-bait kata yang 
dirangkai sebagai pemanis, tapi bait kata sebagai reaksi, perintah, dan 
pertolongan pada rakyat. 

      Jika benar adanya keberpihakkan itu maka, tiada lagi ada 
kesewenang-wenangan, dan penanganan tragedi demi tragedi di Riau selalu tidak 
efektif karena menjadikan rakyat sebagai kaum yang kalah dan menjadikannya 
sebagai komoditi kaum pembersih sekaligus penabur debu. Belum pernah terdesir 
berita angin pemimpin benar-benar membela rakyat, karena suatu alasan klise 
investasi. Sehingga rakyat selalu berasumsi dan bergalau hati ke mana dan ada 
apa dengan para pemimpin dan wakil-wakil kami, apakah semua telah menjadi kaum 
hipokrit yang berjanji lalu mengingkari, menginjak tanpa kaki, mengais tanpa 
hati. 

      Berbagai sumpah, kias dan sindir telah terucap. Berbuih-buih mulut 
berucap, akan sikap dan tindak untuk mengingat rakyat. Akankah keberpihakan 
pada rakyat?***

      M Kapitra Ampera SH MH, praktisi hukum tinggal di Pekanbaru.  


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke