KOMPAS
Sabtu, 25 Agustus 2007
Peradaban Kita di Periode Stagnasi
Budaya Menerabas Jadi Salah Satu Penghambat
Jakarta, Kompas - Perjalanan peradaban modern Indonesia cenderung mengalami
stagnasi. Salah satu faktor penghambat utama adalah karena budaya menerabas
masih tumbuh subur, yang ujung-ujungnya menafikan kerja keras dan kreativitas.
"Padahal, sebuah bangsa yang tidak peduli terhadap kerja dan karya kreatif anak
bangsanya sendiri, dalam perjalanan waktu, akan sulit diharapkan mampu
melakukan terobosan untuk mempercepat kemajuan," kata cendekiawan Ahmad Syafii
Ma'arif di Jakarta, Jumat (24/8).
Dalam seminar bertajuk "Mendorong Pembukaan Cakrawala Baru Bidang Penciptaan
dan Pemikiran" yang diselenggarakan Akademi Jakarta, Syafii Ma'arif mengutip
pandangan Bertrand Russel, filsuf Inggris, yang membedakan stagnasi dengan
kemajuan. Periode stagnasi ialah periode orang merasa tidak berdaya.
Sebaliknya, periode kemajuan ditandai suasana saat orang merasa
prestasi-prestasi besar menjadi mungkin dan karena itu mereka ingin menjadi
bagian di dalamnya.
Di tengah kecenderungan tumbuh suburnya budaya menerabas, yang sejak tahun
1970-an sudah dilontarkan oleh antropolog Koentjaraningrat, Syafii Ma'arif
mengaku masih melihat ada titik terang. Sebab, meski sedikit, masih ada manusia
kreatif di Indonesia yang tidak terlalu bergantung pada negara walaupun
kemudian mereka hidup serba kekurangan.
"Munculnya sejumlah kecil nama-nama baru di dunia seni (teater, sastra, tari,
lukis), sejarah, ilmu dan teknologi, serta pemikiran kebudayaan setidaknya
masih memberikan harapan bahwa bangsa ini belum kehilangan kehidupan," tutur
Syafii Ma'arif.
Menurut dia, tugas ke depan adalah bagaimana agar geliat kreativitas di seluruh
Nusantara dalam berbagai suku bangsa dijadikan sebagai sebuah gelombang besar
yang dahsyat sehingga sebuah bangsa yang utuh, beradab dan kreatif, serta
berdaulat menjadi kenyataan. "Bukan sekadar bayangan serta kebanggaan yang
semu," ujarnya.
Sejarawan sekaligus aktivis Jaringan Kerja Budaya, Hilmar Farid, menambahkan,
sebetulnya banyak orang Indonesia yang menghasilkan produk kebudayaan, mulai
dari penerbitan berbagai buku, karya film yang belakangan mulai bergeliat,
sastra, serta produk pemikiran.
"Hanya saja, belum ada karya yang solid dianggap mewakili zaman ini," ujarnya.
Bagi Hilmar, permasalahannya bukan pada kreativitas yang tidak ada, melainkan
tidak adanya kritik yang baik serta teliti. (MZW/ine)
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/