http://groups.yahoo.com/group/proletar/post?act=forward&messageNum=192789
--- In [email protected], "hadjar_wish" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Dan tetap saja Sudirman itu kerjanya lari dari satu desa ke desa yang
lain...

Simatupang dan Nasution setali tiga uang...

Dan tetap saja Belanda terpaksa berunding karena diancam Amerika...

Saya tambahkan (dan ini kita suka lupa): idee Indonesia merdeka itu
telah disetujui oleh ratu Wilhelmina sejak masa Perang Dunia ke II.

Yang menjadi masaalah setelah Jepang bertekuk lutut adalah:  Indonesia
dibawa ke alam merdeka dengan dipimpin oleh (bekas) kolaborator 
fascist Jepang Sukarno Hatta atau oleh oleh orang lain.

Agar jeals: kita sebut sebagai "perang kemerdekaan" itu sebenarnya
bukan perang untuk merebut kemerdekaan, karena prinsip kemerdekaan
Indonesia itu telah disetujui oleh Belanda; yang diperangkan adalah
masaalah: merdeka dibawah pimpinan kolaborator fascist Jepang atau
merdeka dibawah pimpinan orang yang BUKAN kolaborator fascist Jepang.

Sejajar dengan itu, Perjanjian Linggarjati dan Renville juga mengakui
prinsip kemerdekaan Indonesia.. 

Kita tidak tahu apa yang (akan) terjadi bila yang memimpin Indonesia 
ke alam merdeka itu van Mook atau Syahrir atau Tan Malaka misalnya,
yang kita tahu adalah bahwa Indonesia hancur karena kemerdekaan
Indonesia dipimpin oleh kolaborator fascist Jepang Soekarno & Hatta.

Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi bila RIS tetap
dipertahankan dan tidak dibubarkan oleh kolaborator fascist Jepang
Soekarno.... 

Sekali lagi: yang telah membawa Indonesia ke alam dedel duwel sekarang
ini adalah para kolaborator fascsist Jepang + serdadu didikan Jepang
atau didikan Belanda kayak Nasution + stalinis PKI....

Ah, coba perusahaan asing tidak dinasionalisasi oleh para kolabarotor
 fascist Jepang + TNI + stalinis PKI..  

Ah coba orang orang Belanda dan Indo yang masih tinggal di Indonesia
tahun lima puluhan tidak diusir dari Indonesia oleh kolaborator
fascist Jepang Soekarno....




--- In [EMAIL PROTECTED], Endiarto Wijaya <art_wijaya@> wrote:

          
    
    Pak/ Mas,
  
  Terserah Sampeyan mau berpendapat bagaimana. Itu hak Sampeyan.
Mungkin  Sampeyan  pakar  sejarah militer  atau ahli  strategi  yang 
mumpuni. Saya hanya orang awam yang sedikit  dengar dan sedikit baca.
Sekedar tambahan dari saya :
  
  1) Umumnya, struktur perlawanan gerilya terdiri dari dua sayap :
sayap  militer dan sayap politik. Di Indonesia, perjuangan gerilya
45-50 tentu  sudah kita pahami benar terdiri dari sayap militer (TNI)
dan para  diplomat yang melakukan perjuangan sebagai bagian dari sayap
politik.  Bagaimana dengan Vietnam era Jenderal Giap? Jenderal Giap
melancarkan  gerilya guna mendukung perjuangan diplomatik yang
memperjuangakan  kemerdekaan Vietnam. Tanggal 8 Mei 1954 dijadwalkan
akan terjadi  perundingan di Geneva dan ini mendorong Jend. Giap untuk
melancarkan  aksi  pengepungan Dien Bien Phu.
  
  2) TNI melakukan perjuangan dengan sebagian besar mengandalkan pada
 kekuatan sendiri. Senjata yang dipakai seadanya (mulai dari keris, 
geranat gombyok hingga peluncur mortir rakitan yang mudah melengkung).
 Amunisi terbatas. Kemampuan logistik pun mengandalkan penuh pada 
bantuan rakyat. Bedakan dengan pasukan Jenderal Giap yang dibantu oleh
 China dengan berton-ton amunisi, bahan bakar serta artileri berat. 
Kalau tidak percaya, cari saja referensi tentang pertempuran Dien Bien
 Phu. Bagaimana dengan pasukan Pak Dirman? Berapa artileri berat yang
 dipunyai TNI? Jangankan artileri berat, mortir yang bagus saja 
kebanyakan mortir portable  peninggalan Jepang "Tekidanto" yang 
kecil. Senjata beratpun kebanyakan "Watermantel" yang mudah panas. 
Hampir tak ada artileri yang bisa diandalkan. Dari sedikit fakta ini 
saja dapat disimpulkan betapa berat perjuangan Pak Dirman yang sakit 
parah itu. Wajar jika Pak Dirman beserta TNI melancarkan taktik 
sembunyi dari satu tempat
 ke tempat lain sambil menyerang (taktik yang  biasa dalam perang
gerilya).
  
  3) Jenderal Giap dikenal sangat dipengaruhi ajaran-ajaran Mao Zedong
 dan mengaplikasikan teori gerilya Mao dalam melancarkan perangnya. 
Secara pokok, ada tiga cara gerilya  Mao. Pertama, melancarkan
propaganda. Kedua, melancarkan serangan-serang gangguan. Ketiga, 
melakukan pertempuran konvensional untuk pengepungan kota atau 
menjatuhkan lawan. Bagaimana dengan TNI? Sejauh yang saya ketahui, TNI
 mengaplikasikan serangan-serangan gerilya (pertempuran non 
konvensional/ low intensity attack) yang dapat "melelahkan" dan 
"menggerogoti" kekuatan Belanda. Ini disinergikan dengan perjuangan 
Diplomasi. Cara demiikian didasarkan pada berbagai pertimbangan
seperti  minimnya amunisi dan senjata. Lain dengan pasukan Vietnam
yang banyak  dibantu China.
  
  Mohon maaf jika ada yang tidak tepat dalam uraian saya di atas. Saya
 awam dalam sejarah militer dan hanya ingin sekedar ikut
berpartisipasi  dalam milis saja. Jika ada rekan milis yang mumpuni,
mohon pencerahan.
  
  Terakhir saya hanya ingin mengutip kata-kata Sun Tzu: "Anda bisa
menang  jika mengetahui kemampuan sendiri dan kemampuan
lawan".Jenderal  Sudirman dan Jenderal Giap sama-sama mengetahui
kekuatan masing-masing  dan kekuatan lawan. Kedua tokoh itu
melancarakan taktik yang  disesuaikan dengan kekuatan yang mereka
miliki dan kekuatan musuh yang  mereka hadapi.
  
  Wassalam,
  
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  
             Re: Dwi fungsi dimana-mana....                     
Posted by:      "hadjar_wish"              hadjar@                
                            hadjar_wish                              
          Wed Feb 21, 2007 9:06 am        (PST)                      
     
    
    Jadi, beda dengan Vo Nguyen Giap, Sudirman itu nggak punya Dien Bien
    Phu, nggak pernah mengepung tentara Belanda.
    
    "Ambarawa" itu nggak sebandinglah dengan "Dien Bien Phu".
    
    Kerjanya lari dari satu desa ke desa yang lain...
    
    Seperti juga jendral Nasution...
    
    Atau jendral Simatupang.. .
    
    Berbeda dengan Perancis yang dipaksa berunding oleh Viet Minh karena
    terkepung di Dien Bien Phu, Belanda dipaksa Amerika berunding dengan
    Indonesia karena dipaksa Amerika yang mengancam untuk tidak membantu
    Belanda dengan Marshal Plan.
       
    
                
---------------------------------
 Découvrez une nouvelle façon d'obtenir des réponses à toutes vos
questions ! Profitez des connaissances, des opinions et des
expériences des internautes sur Yahoo! Questions/Réponses.

--- End forwarded message ---

--- End forwarded message ---




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke