http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0902/30/0805.htm
 
 DALANGNYA PKI, SOEHARTO, CIA ATAU . . .
 
 DEMIKIAN beberapa baris terakhir sajak berjudul "Catatan Tahun 1965" yang
 ditorehkan penyair Taufik Ismail. Sajak itu pula yang dibacakan Harry Tjan
 Silalahi, anggota Dewan Kehormatan CSIS (Centre for Strategic and
 International Studies) untuk menggambarkan suasana tanah air tahun 1965,
 pada diskusi terbatas "Gerakan 30 September 1965" di Aula Redaksi HU Pikiran
 Rakyat, Kamis (26/9).
 
 Selain Harry Tjan, diskusi yang dibuka Wapemhared HU Pikiran Rakyat H.
 Widodo Asmowiyoto dan dipandu Redaktur Opini Abdullah Mustappa, diikuti pula
 sejarawan A. Mansur Suryanegara, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang
 Jawa Barat, Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S., dan peneliti LIPI, Dr. Asvi
 Warman Adam.
 
 Suasana konfrontasi yang mencapai puncaknya pada penculikan dan pembunuhan
 tujuh pahlawan revolusi itu, kata Harry Tjan, sebenarnya sudah dapat
 dirasakan jauh sebelumnya. Dia juga merasa yakin, peristiwa berdarah 30
 September 1965 atau kemelut yang traumatik itu merupakan perbuatan Partai
 Komunis Indonesia (PKI).
 
 Karena keyakinannya itu pula Harry menyayangkan kecenderungan penulis
 sekarang menghilangkan kata PKI menjadi G30S semata, bukan G30S/PKI. "Buat
 saya ini tidak benar sebab saya sangat yakin, tragedi berdarah itu kerjaan
 PKI," ujarnya.
 
 Meski demikian, sejauh mana keterlibatan PKI dalam peristiwa G30S masih
 menjadi persoalan. Apakah sebagai organisasi atau hanya terbatas pada
 orang-orang tertentu, sangat debatable. Akan tetapi, bila melihat sistem
 demokrasi sentralistik yang dianut PKI, kata Harry, harus dianggap bahwa
 secara mendalam PKI terlibat, walau barangkali keputusannya hanya berada di
 tangan Polit Biro; Ketua Aidit dan Biro Khususnya. Dengan demikian, kasihan
 nasib orang-orang kecil anggota PKI dan ormas-ormasnya seperti Sobsi,
 Gerwani, Pemuda Rakyat, BTI, yang menjadi korban karena percaya pada
 Demokrasi Sentralisme-nya PKI.
 
 "Penyebutan G30S dengan embel-embel kata 'PKI' didasari pemikiran, tidak
 mungkin itu bisa digerakkan oleh sebatas Kol. Untung. Tidak mungkin, karena
 ujung-ujungnya berada pada ideologi. Dalam lingkungan petinggi PKI, boleh
 jadi saat disetujui Aidit, otomatis menjadi keputusan partai. Apalagi dalam
 PKI itu dikenal istilah demokrasi sentralisme," ujarnya.
 
 Menurut Harry, peristiwa G30S/PKI itu dimulai ketika Manipol Usdek diterima
 sebagai haluan negara. Bung Karno lantas mulai mengarah ke kiri. Manipol
 Usdek menjadi arah revolusi yang kekiri-kirian, kemudian diperkuat dengan
 Resopim/RIL (Revolution, Ideology dan Leadership). Bung Karno pun praktis
 mengemudikan arah negara secara tunggal.
 
 Dalam suasana global berupa perang dingin yang memuncak, Bung Karno sangat
 gandrung terhadap New Emerging Forces, yang antinekolim,
 imperialisme-kapitalisme. Peluang ini dimanfaatkan PKI atau kelompok kiri.
 Mereka pun mempersiapkan dan melatih Pemuda Rakyat di Lubang Buaya dengan
 dalih mendukung Dwikora: Malaysia. Jargon "Ganyang Malaysia" yang banyak
 disuarakan saat itu, rupanya menjadi kedok bagi PKI untuk melakukan aksi
 terhadap rezim berkuasa.
 
 "Saya secara pribadi menangkap isyarat-isyaratnya. Kurang lebih seminggu
 sebelum peristiwa itu, saya bersama Pak Kasimo, Duriat dan Cosmas Batubara
 membicarakan hal ini dengan Menko Polkam Pak Nasution, juga dengan Pak
 Jusuf, Menteri Perdagangan. Jadi kalaupun tragedi itu terjadi bukan karena
 kita tidak tahu, tapi karena kita lengah. Kita tahu bakal ada sesuatu yang
 terjadi, tapi tidak tahu kapan itu terjadi," katanya.
 
 Walau demikian, Harry tidak setuju terhadap pembantaian terhadap anggota
 atau masyarakat yang dituduh PKI pasca-G30S, terutama yang terjadi di Jawa
 Timur dan Jawa Tengah. Sementara itu, di Jawa Barat, di bawah Pangdam
 Siliwangi Ibrahim Adji, penataan pasca G30S bisa dibilang tanpa menimbulkan
 korban jiwa. PKI pun bubar.
 
 Bandung memerah
 
 Selaku salah satu saksi dan pelaku sejarah saat itu A. Mansur Suryanegara
 mengungkapkan Bandung sempat diwarnai warna merah menjelang peringatan 10
 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1965. Bendera merah yang
 bertuliskan Nasakom memerahkan Bandung saat itu, bahkan bendera tersebut
 lebih menunjukkan komunis dengan menuliskan nasaKOM.
 
 Situasi seperti itu mendorong Mansur menghimpun kekuatan dan memimpin
 Gerakan Anti-Nasakom di Bandung. Setelah menjadi Sekretaris Umum Kesatuan
 Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), ia ikut pertempuran malam di Tugu
 Selamat Datang agar proses penghancuran komunis lebih cepat.
 
 Kendati demikian, ia mempertanyakan apakah peristiwa G30S betul-betul murni
 terjadi karena benturan kepentingan Angkatan Darat dengan komunis. Yang
 pasti, kata Mansyur, sebelum terjadi peristiwa G30S, Presiden Soekarno
 sempat berniat membubarkan HMI. Oleh karena itu, ia bersama rekan-rekannya,
 termasuk Amien Rais, menggagas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai
 suatu wadah tempat "hijrah" para mahasiswa jika Presiden Soekarno jadi
 membubarkan HMI.
 
 Mansur setuju di antara Soekarno dan Soeharto tidak pernah terjadi perbedaan
 pendapat. Soekarno juga bukan seorang komunis. Setelah terjadi G30S, Bung
 Karno ikut membalikkan komunis. Akan tetapi, ia melakukannya tidak secara
 langsung.
 
 "Filsafat Jawanya membuat dia menyerahkan hal itu kepada Soeharto.
 Soehartolah yang diberi Supersemar, suatu bahasa politik untuk Indonesia dan
 dunia internasional bahwa Soekarno tidak pernah membubarkan komunis
 melainkan Soeharto," tuturnya.
 
 Mengenai sosok Soeharto, Mansur menilai mantan presiden tersebut sebagai
 tokoh pembalik sejarah tahun 1966. Jiwa juang Soeharto adalah memberantas
 komunis. Bahkan ia dipandang sebagai penghancur komunisme yang paling besar
 di dunia.
 
 Menurut Mansur sekarang ini ada kesan tidak relevan lagi menilai Soeharto
 sebagai pahlawan karena anak-anaknya tidak benar. "Tidak bisa orang
 memenggal sejarah, pembaharu tidak mungkin memenggal sejarah. Soekarno
 menyebut diri pemimpin besar revolusi, pintar dengan filosofi kejawaan yang
 sangat tinggi. Soekarno adalah sipil yang berbaju jenderal (tentara),
 sebaliknya Soeharto adalah tentara yang berbaju sipil," katanya.
 
 Masih banyak misteri
 
 Sejarawan LIPI Dr. Asvi Warman Adam menilai meski sudah lama berlalu, G30S
 1965 masih menyimpan banyak misteri karena semasa pemerintahan Soeharto
 nyaris tidak ada riset baru di dalam negeri mengenai peristiwa itu, kecuali
 yang mendukung versi pemerintah.
 
 Menurut Asvi G30S bukan semata gerakan yang berlangsung dalam satu hari,
 melainkan sebuah trilogi yang saling terkait, yaitu peristiwa G30S sendiri,
 lalu pembantaian pascagerakan terhadap orang-orang kiri secara tidak
 manusiawi pada tahun 1965-1966, dan penahanan ribuan orang di pulau Buru.
 "Jadi jangan berhenti pada kejadian tahun 1965 saja," ujarnya.
 
 Asvi menolak pula istilah Gestapu yang dilansir Noegroho Notosoesanto (alm.)
 atau Gestok (Gerakan Satu Oktober) versi Soekarno. Gestapu mengambil istilah
 dari Gestapo pada zaman Hitler. "Saya juga tidak setuju pencantuman PKI pada
 G30S," tandasnya.
 
 Saat ini terdapat sejumlah versi terhadap peristiwa 30 September 1965, yaitu
 bahwa itu dilakukan para elite PKI, versi bahwa Soekarno juga terlibat,
 keterlibatan intelijen Amerika Serikat CIA, keterlibatan intelijen Inggris
 dan Australia, dan terakhir bahwa gerakan itu dilakukan Soeharto sendiri.
 
 Dia juga menilai tidak ada informasi baru dari dokumen CIA berkaitan
 peristiwa G30S yang dibuka tahun lalu karena telah berusia di atas 25 tahun.
 Terlebih lagi masih ada bagian-bagian dokumen yang ditutup tinta hitam.
 Penghitaman tersebut dengan alasan terkait dengan warga AS yang masih hidup.
 
 Hal yang baru adalah G30S tidak semata peristiwa yang berlangsung dalam satu
 hari, tetapi ada dampak sosial hingga sekarang. Peristiwa pada 1965 tersebut
 berbuntut pada pembantaian yang berlangsung hingga 1966, bahkan di Blitar
 (Jatim) pada 1968 masih ada Operasi Trisula yang menimbulkan korban jiwa.
 "Pembantaian itu harus diungkap dengan jelas. Ada operasi militer yang
 kebablasan," katanya.
 
 Yang patut dicatat, peristiwa pembantaian pasca-G30S itu tidak hanya terjadi
 pada anggota PKI. Bisa saja akibat dendam pribadi dan agar tidak dicap
 komunis. Oleh karena itu, sebagian ikut membunuh orang yang bukan komunis.
 Diakuinya, sedikit buku-buku yang mengungkap pembantaian pasca-G30S.
 
 Ia juga mempersoalkan proses penahanan ribuan tahanan politik di Pulau Buru.
 "Bayangkan, di Pulau Buru itu orang dicabut hak miliknya, tidak ada besuk,
 dicabut masa depannya dan mereka tidak memiliki kepastian kapan akan
 dibebaskan," ujarnya.
 
 Pulau Buru adalah penjara terbesar dalam sejarah Indonesia. Berdasarkan data
 tahun 1991, jumlah penjara di Indonesia 35 buah, jumlah penghuni mencapai 29
 ribu jiwa. Dari total itu sebanyak 10 ribu orang menghuni Pulau Buru atau
 sekira 1/3-nya. "Bayangkan berapa banyak penjara di sana," kata Asvi yang
 mengaku banyak orang menilai tulisannya mengenai G30S terlalu kekiri-kirian.
 
 Dia tidak menutup mata, peristiwa G30S telah menimbulkan trauma bagi
 putra-putri dan keluarga pahlawan revolusi yang menjadi korban. Menurut
 Asvi, Nani Sutojo, anak kedua jenderal Sutojo menyebut, penderitaan tidak
 bisa dipertukarkan. Asvi menilai penulisan buku oleh anak-anak pahlawan
 revolusi yang berjudul Kunang-kunang di Langit Malam merupakan salah satu
 upaya untuk melepaskan tekanan yang mereka alami selama ini.
 
 Buku itu juga menolak dua aspek yang diputarbalikkan oleh pelaku, Misalnya,
 mereka menyatakan wajah korban saat itu bersih. Tidak ada mutilasi atau
 penyiletan seperti yang ditulis media saat itu. Lantas aspek kedua yang
 ditolak adalah memoar Saelan yang mengaku menemukan sumur tempat para korban
 dibuang. Sayangnya, buku tersebut kurang menampilkan bagaimana keluarga
 korban menjalani kehidupan pascaperistiwa tersebut. Di sisi lain ada buku
 yang ditulis dr. Ciptaning yang berjudul Aku Bangga Menjadi Anak PKI.
 
 Dia dapat memahami trauma yang dialami keluarga para pahlawan revolusi yang
 menjadi korban G30S. Akan tetapi, trauma dan penderitaan lebih besar justru
 dialami keluarga korban pembantaian pasca-G30S, baik pelaku G30S, anggota
 PKI maupun orang-orang yang dicap sebagai PKI. "Trauma ini harus dibuka
 lebar-lebar supaya tidak ada dendam sejarah," katanya.
 
 Menurut Asvi memang diperlukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR)
 sebagai salah satu pintu untuk menyelesaikan masalah tersebut, meski
 diakuinya di berbagai negara tidak bisa selesai mutlak melalui komisi
 semacam itu. Akan tetapi, ini merupakan upaya mencoba berdamai dengan
 sejarah di tingkat nasional. KKR saat ini prosesnya sudah di Departemen
 Kehakiman dan HAM. Diyakini, ini tidak akan tuntas, tetapi paling tidak
 hal-hal yang tertutup itu dapat diungkapkan melalui pengalaman-pengalaman.
 
 Pelurusan sejarah yang berkaitan dengan peristiwa G30S, perlu dilakukan,
 bahkan amat perlu. Oleh karena itu, keberadaan KKR sangat penting, terlepas
 dari apapun hasilnya nanti. "Sebagai sejarawan, kita harus di tengah-tengah,
 meneliti apa yang bagus dan apa yang kurang bagus, dijelaskan apa adanya."
 
 Buku putih
 
 Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat, Dr. Hj. Nina Herlina
 Lubis, M.S., sependapat, lembaran sejarah nasional, khususnya mengenai
 peristiwa seputar G30S perlu ditulis ulang. Penulisan kembali (rewriting),
 khususnya untuk mengoreksi, meluruskan dan reinterpretasi berkaitan dengan
 data baru mengenai G30S.
 
 "Pada 30 Oktober tahun lalu, para sejarawan dari berbagai provinsi berkumpul
 di Bogor. Mereka sepakat akan menulis sejarah Indonesia yang baru," katanya.
 
 Menurut Nina, sekarang ini banyak kajian baru dari dalam dan luar negeri
 yang mengungkap data baru mengenai peristiwa G30S. Pada 30 September 2002
 juga akan diluncurkan buku berjudul Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam.
 Buku ini kumpulan tulisan putra-putri dan keluarga pahlawan revolusi korban
 G30S, tentang apa saja yang dialami dan disaksikan mereka pada 1 Oktober
 1965. Dia juga mengaku, sempat dihubungi putra D.N. Aidit yang kini berada
 di Kanada. Putra Ketua PKI tersebut sempat berkuliah di Pertambangan ITB
 angkatan 1973.
 
 Dalam waktu dekat, Masyarakat Sejarawan Indonesia akan mengeluarkan buku
 putih yang berisi enam peristiwa yang harus diluruskan pada periode Orba.
 Keenam peristiwa yang sudah dibuat draftnya adalah: Hari Lahir Pancasila 1
 Juni, Serangan Umum 1 Maret, G30S, Supersemar, Peristiwa Timor Timur dan
 Lahirnya Orde Baru.
 
 "Soal Supersemar, saksi yang masih hidup masih ada. Ada Harry Tjan, Jenderal
 Yusuf, dan Soeharto sendiri. Tapi siapa yang bisa membuka mulut kedua nama
 terakhir. Dalam sejarah, kolaborasi harus dilakukan tidak hanya satu sumber.
 Setelah Harry bicara, maka perlu juga ditanya Soeharto yang berusaha
 menutupi itu, dan tanya juga Yusuf yang berusaha menghindar," paparnya.
 Mengenai peristiwa G30S, kata Nina, sekarang ini paling tidak ada empat
 versi dalang yang berada di belakangnya. Orang mengatakan dalang yang
 pertama adalah PKI. Dalang kedua, Soeharto. Dalang ketiga Soekarno sendiri.
 Dalang keempat AS dan Inggris. "Empat kelompok pendapat ini ada
 kajian-kajiannya masing-masing," tutur Nina.
 
 Dengan adanya data dan visi baru, lanjutnya, maka reinterpretasi harus
 dilakukan, dan rewriting tentang G30S menjadi wajib sifatnya, agar
 masyarakat mendapat informasi sejarah yang mendekati kebenaran.
 
 Menurut dia, para sejarawan yang saat ini bisa menemukan kebebasan
 akademisnya kembali memang dituntut untuk bisa menggali sumber-sumber
 sejarah baru agar bisa melakukan reinterpretasi dan rewriting peristiwa
 tersebut.
 
 Sumber yang digali bukan saja sumber resmi pemerintah, tapi juga berbagai
 pihak, termasuk keluarga atau keturunan anggota PKI yang selama ini merasa
 menjadi korban ketidakadilan akibat adanya cap tidak bersih lingkungan.
 Sehingga mereka sulit mendapat pekerjaan atau aktivitas sosial lainnya.
 Tentu saja semua sumber itu harus diperlakukan sama, yaitu dengan
 memperhatikan metode kritis dalam sejarah. "Sebagai sejarawan, kita harus
 objektif dan menjauhkan sikap empati, kesedihan. Jangan memberikan value
 judgement. Analisis harus dilakukan secara kritis, karena para putra korban
 masih kecil saat peristiwa terjadi," ujarnya. (Tim PR)***
 
 
 DEMIKIAN beberapa baris terakhir sajak berjudul "Catatan Tahun 1965" yang
 ditorehkan penyair Taufik Ismail. Sajak itu pula yang dibacakan Harry Tjan
 Silalahi, anggota Dewan Kehormatan CSIS (Centre for Strategic and
 International Studies) untuk menggambarkan suasana tanah air tahun 1965,
 pada diskusi terbatas "Gerakan 30 September 1965" di Aula Redaksi HU Pikiran
 Rakyat, Kamis (26/9).
 
 Selain Harry Tjan, diskusi yang dibuka Wapemhared HU Pikiran Rakyat H.
 Widodo Asmowiyoto dan dipandu Redaktur Opini Abdullah Mustappa, diikuti pula
 sejarawan A. Mansur Suryanegara, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang
 Jawa Barat, Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S., dan peneliti LIPI, Dr. Asvi
 Warman Adam.
 
 Suasana konfrontasi yang mencapai puncaknya pada penculikan dan pembunuhan
 tujuh pahlawan revolusi itu, kata Harry Tjan, sebenarnya sudah dapat
 dirasakan jauh sebelumnya. Dia juga merasa yakin, peristiwa berdarah 30
 September 1965 atau kemelut yang traumatik itu merupakan perbuatan Partai
 Komunis Indonesia (PKI).
 
 Karena keyakinannya itu pula Harry menyayangkan kecenderungan penulis
 sekarang menghilangkan kata PKI menjadi G30S semata, bukan G30S/PKI. "Buat
 saya ini tidak benar sebab saya sangat yakin, tragedi berdarah itu kerjaan
 PKI," ujarnya.
 
 Meski demikian, sejauh mana keterlibatan PKI dalam peristiwa G30S masih
 menjadi persoalan. Apakah sebagai organisasi atau hanya terbatas pada
 orang-orang tertentu, sangat debatable. Akan tetapi, bila melihat sistem
 demokrasi sentralistik yang dianut PKI, kata Harry, harus dianggap bahwa
 secara mendalam PKI terlibat, walau barangkali keputusannya hanya berada di
 tangan Polit Biro; Ketua Aidit dan Biro Khususnya. Dengan demikian, kasihan
 nasib orang-orang kecil anggota PKI dan ormas-ormasnya seperti Sobsi,
 Gerwani, Pemuda Rakyat, BTI, yang menjadi korban karena percaya pada
 Demokrasi Sentralisme-nya PKI.
 
 "Penyebutan G30S dengan embel-embel kata 'PKI' didasari pemikiran, tidak
 mungkin itu bisa digerakkan oleh sebatas Kol. Untung. Tidak mungkin, karena
 ujung-ujungnya berada pada ideologi. Dalam lingkungan petinggi PKI, boleh
 jadi saat disetujui Aidit, otomatis menjadi keputusan partai. Apalagi dalam
 PKI itu dikenal istilah demokrasi sentralisme," ujarnya.
 
 Menurut Harry, peristiwa G30S/PKI itu dimulai ketika Manipol Usdek diterima
 sebagai haluan negara. Bung Karno lantas mulai mengarah ke kiri. Manipol
 Usdek menjadi arah revolusi yang kekiri-kirian, kemudian diperkuat dengan
 Resopim/RIL (Revolution, Ideology dan Leadership). Bung Karno pun praktis
 mengemudikan arah negara secara tunggal.
 
 Dalam suasana global berupa perang dingin yang memuncak, Bung Karno sangat
 gandrung terhadap New Emerging Forces, yang antinekolim,
 imperialisme-kapitalisme. Peluang ini dimanfaatkan PKI atau kelompok kiri.
 Mereka pun mempersiapkan dan melatih Pemuda Rakyat di Lubang Buaya dengan
 dalih mendukung Dwikora: Malaysia. Jargon "Ganyang Malaysia" yang banyak
 disuarakan saat itu, rupanya menjadi kedok bagi PKI untuk melakukan aksi
 terhadap rezim berkuasa.
 
 "Saya secara pribadi menangkap isyarat-isyaratnya. Kurang lebih seminggu
 sebelum peristiwa itu, saya bersama Pak Kasimo, Duriat dan Cosmas Batubara
 membicarakan hal ini dengan Menko Polkam Pak Nasution, juga dengan Pak
 Jusuf, Menteri Perdagangan. Jadi kalaupun tragedi itu terjadi bukan karena
 kita tidak tahu, tapi karena kita lengah. Kita tahu bakal ada sesuatu yang
 terjadi, tapi tidak tahu kapan itu terjadi," katanya.
 
 Walau demikian, Harry tidak setuju terhadap pembantaian terhadap anggota
 atau masyarakat yang dituduh PKI pasca-G30S, terutama yang terjadi di Jawa
 Timur dan Jawa Tengah. Sementara itu, di Jawa Barat, di bawah Pangdam
 Siliwangi Ibrahim Adji, penataan pasca G30S bisa dibilang tanpa menimbulkan
 korban jiwa. PKI pun bubar.
 
 Bandung memerah
 
 Selaku salah satu saksi dan pelaku sejarah saat itu A. Mansur Suryanegara
 mengungkapkan Bandung sempat diwarnai warna merah menjelang peringatan 10
 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1965. Bendera merah yang
 bertuliskan Nasakom memerahkan Bandung saat itu, bahkan bendera tersebut
 lebih menunjukkan komunis dengan menuliskan nasaKOM.
 
 Situasi seperti itu mendorong Mansur menghimpun kekuatan dan memimpin
 Gerakan Anti-Nasakom di Bandung. Setelah menjadi Sekretaris Umum Kesatuan
 Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), ia ikut pertempuran malam di Tugu
 Selamat Datang agar proses penghancuran komunis lebih cepat.
 
 Kendati demikian, ia mempertanyakan apakah peristiwa G30S betul-betul murni
 terjadi karena benturan kepentingan Angkatan Darat dengan komunis. Yang
 pasti, kata Mansyur, sebelum terjadi peristiwa G30S, Presiden Soekarno
 sempat berniat membubarkan HMI. Oleh karena itu, ia bersama rekan-rekannya,
 termasuk Amien Rais, menggagas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai 
suatu wadah tempat "hijrah" para mahasiswa jika Presiden Soekarno jadi
 membubarkan HMI.
 
 Mansur setuju di antara Soekarno dan Soeharto tidak pernah terjadi perbedaan
 pendapat. Soekarno juga bukan seorang komunis. Setelah terjadi G30S, Bung
 Karno ikut membalikkan komunis. Akan tetapi, ia melakukannya tidak secara
 langsung.
 
 "Filsafat Jawanya membuat dia menyerahkan hal itu kepada Soeharto.
 Soehartolah yang diberi Supersemar, suatu bahasa politik untuk Indonesia dan
 dunia internasional bahwa Soekarno tidak pernah membubarkan komunis
 melainkan Soeharto," tuturnya.
 
 Mengenai sosok Soeharto, Mansur menilai mantan presiden tersebut sebagai
 tokoh pembalik sejarah tahun 1966. Jiwa juang Soeharto adalah memberantas
 komunis. Bahkan ia dipandang sebagai penghancur komunisme yang paling besar
 di dunia.
 
 Menurut Mansur sekarang ini ada kesan tidak relevan lagi menilai Soeharto
 sebagai pahlawan karena anak-anaknya tidak benar. "Tidak bisa orang
 memenggal sejarah, pembaharu tidak mungkin memenggal sejarah. Soekarno
 menyebut diri pemimpin besar revolusi, pintar dengan filosofi kejawaan yang
 sangat tinggi. Soekarno adalah sipil yang berbaju jenderal (tentara),
 sebaliknya Soeharto adalah tentara yang berbaju sipil," katanya.
 
 Masih banyak misteri
 
 Sejarawan LIPI Dr. Asvi Warman Adam menilai meski sudah lama berlalu, G30S
 1965 masih menyimpan banyak misteri karena semasa pemerintahan Soeharto
 nyaris tidak ada riset baru di dalam negeri mengenai peristiwa itu, kecuali
 yang mendukung versi pemerintah.
 
 Menurut Asvi G30S bukan semata gerakan yang berlangsung dalam satu hari,
 melainkan sebuah trilogi yang saling terkait, yaitu peristiwa G30S sendiri,
 lalu pembantaian pascagerakan terhadap orang-orang kiri secara tidak
 manusiawi pada tahun 1965-1966, dan penahanan ribuan orang di pulau Buru.
 "Jadi jangan berhenti pada kejadian tahun 1965 saja," ujarnya.
 
 Asvi menolak pula istilah Gestapu yang dilansir Noegroho Notosoesanto (alm.)
 atau Gestok (Gerakan Satu Oktober) versi Soekarno. Gestapu mengambil istilah
 dari Gestapo pada zaman Hitler. "Saya juga tidak setuju pencantuman PKI pada
 G30S," tandasnya.
 
 Saat ini terdapat sejumlah versi terhadap peristiwa 30 September 1965, yaitu
 bahwa itu dilakukan para elite PKI, versi bahwa Soekarno juga terlibat,
 keterlibatan intelijen Amerika Serikat CIA, keterlibatan intelijen Inggris
 dan Australia, dan terakhir bahwa gerakan itu dilakukan Soeharto sendiri.
 
 Dia juga menilai tidak ada informasi baru dari dokumen CIA berkaitan
 peristiwa G30S yang dibuka tahun lalu karena telah berusia di atas 25 tahun.
 Terlebih lagi masih ada bagian-bagian dokumen yang ditutup tinta hitam.
 Penghitaman tersebut dengan alasan terkait dengan warga AS yang masih hidup.
 
 Hal yang baru adalah G30S tidak semata peristiwa yang berlangsung dalam satu
 hari, tetapi ada dampak sosial hingga sekarang. Peristiwa pada 1965 tersebut
 berbuntut pada pembantaian yang berlangsung hingga 1966, bahkan di Blitar
 (Jatim) pada 1968 masih ada Operasi Trisula yang menimbulkan korban jiwa.
 "Pembantaian itu harus diungkap dengan jelas. Ada operasi militer yang
 kebablasan," katanya.
 
 Yang patut dicatat, peristiwa pembantaian pasca-G30S itu tidak hanya terjadi
 pada anggota PKI. Bisa saja akibat dendam pribadi dan agar tidak dicap
 komunis. Oleh karena itu, sebagian ikut membunuh orang yang bukan komunis.
 Diakuinya, sedikit buku-buku yang mengungkap pembantaian pasca-G30S.
 
 Ia juga mempersoalkan proses penahanan ribuan tahanan politik di Pulau Buru.
 "Bayangkan, di Pulau Buru itu orang dicabut hak miliknya, tidak ada besuk,
 dicabut masa depannya dan mereka tidak memiliki kepastian kapan akan
 dibebaskan," ujarnya.
 
 Pulau Buru adalah penjara terbesar dalam sejarah Indonesia. Berdasarkan data
 tahun 1991, jumlah penjara di Indonesia 35 buah, jumlah penghuni mencapai 29
 ribu jiwa. Dari total itu sebanyak 10 ribu orang menghuni Pulau Buru atau
 sekira 1/3-nya. "Bayangkan berapa banyak penjara di sana," kata Asvi yang
 mengaku banyak orang menilai tulisannya mengenai G30S terlalu kekiri-kirian.
 
 Dia tidak menutup mata, peristiwa G30S telah menimbulkan trauma bagi
 putra-putri dan keluarga pahlawan revolusi yang menjadi korban. Menurut
 Asvi, Nani Sutojo, anak kedua jenderal Sutojo menyebut, penderitaan tidak
 bisa dipertukarkan. Asvi menilai penulisan buku oleh anak-anak pahlawan
 revolusi yang berjudul Kunang-kunang di Langit Malam merupakan salah satu
 upaya untuk melepaskan tekanan yang mereka alami selama ini.
 
 Buku itu juga menolak dua aspek yang diputarbalikkan oleh pelaku, Misalnya,
 mereka menyatakan wajah korban saat itu bersih. Tidak ada mutilasi atau
 penyiletan seperti yang ditulis media saat itu. Lantas aspek kedua yang
 ditolak adalah memoar Saelan yang mengaku menemukan sumur tempat para korban 
dibuang. Sayangnya, buku tersebut kurang menampilkan bagaimana keluarga korban 
menjalani kehidupan pascaperistiwa tersebut. Di sisi lain ada buku
 yang ditulis dr. Ciptaning yang berjudul Aku Bangga Menjadi Anak PKI.
 
 Dia dapat memahami trauma yang dialami keluarga para pahlawan revolusi yang
 menjadi korban G30S. Akan tetapi, trauma dan penderitaan lebih besar justru
 dialami keluarga korban pembantaian pasca-G30S, baik pelaku G30S, anggota
 PKI maupun orang-orang yang dicap sebagai PKI. "Trauma ini harus dibuka
 lebar-lebar supaya tidak ada dendam sejarah," katanya.
 
 Menurut Asvi memang diperlukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR)
 sebagai salah satu pintu untuk menyelesaikan masalah tersebut, meski
 diakuinya di berbagai negara tidak bisa selesai mutlak melalui komisi
 semacam itu. Akan tetapi, ini merupakan upaya mencoba berdamai dengan
 sejarah di tingkat nasional. KKR saat ini prosesnya sudah di Departemen
 Kehakiman dan HAM. Diyakini, ini tidak akan tuntas, tetapi paling tidak
 hal-hal yang tertutup itu dapat diungkapkan melalui pengalaman-pengalaman.
 
 Pelurusan sejarah yang berkaitan dengan peristiwa G30S, perlu dilakukan,
 bahkan amat perlu. Oleh karena itu, keberadaan KKR sangat penting, terlepas
 dari apapun hasilnya nanti. "Sebagai sejarawan, kita harus di tengah-tengah,
 meneliti apa yang bagus dan apa yang kurang bagus, dijelaskan apa adanya."
 
 Buku putih
 
 Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat, Dr. Hj. Nina Herlina
 Lubis, M.S., sependapat, lembaran sejarah nasional, khususnya mengenai
 peristiwa seputar G30S perlu ditulis ulang. Penulisan kembali (rewriting),
 khususnya untuk mengoreksi, meluruskan dan reinterpretasi berkaitan dengan
 data baru mengenai G30S.
 
 "Pada 30 Oktober tahun lalu, para sejarawan dari berbagai provinsi berkumpul
 di Bogor. Mereka sepakat akan menulis sejarah Indonesia yang baru," katanya.
 
 Menurut Nina, sekarang ini banyak kajian baru dari dalam dan luar negeri
 yang mengungkap data baru mengenai peristiwa G30S. Pada 30 September 2002
 juga akan diluncurkan buku berjudul Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam.
 Buku ini kumpulan tulisan putra-putri dan keluarga pahlawan revolusi korban
 G30S, tentang apa saja yang dialami dan disaksikan mereka pada 1 Oktober
 1965. Dia juga mengaku, sempat dihubungi putra D.N. Aidit yang kini berada
 di Kanada. Putra Ketua PKI tersebut sempat berkuliah di Pertambangan ITB
 angkatan 1973.
 
 Dalam waktu dekat, Masyarakat Sejarawan Indonesia akan mengeluarkan buku
 putih yang berisi enam peristiwa yang harus diluruskan pada periode Orba.
 Keenam peristiwa yang sudah dibuat draftnya adalah: Hari Lahir Pancasila 1
 Juni, Serangan Umum 1 Maret, G30S, Supersemar, Peristiwa Timor Timur dan
 Lahirnya Orde Baru.
 
 "Soal Supersemar, saksi yang masih hidup masih ada. Ada Harry Tjan, Jenderal
 Yusuf, dan Soeharto sendiri. Tapi siapa yang bisa membuka mulut kedua nama
 terakhir. Dalam sejarah, kolaborasi harus dilakukan tidak hanya satu sumber.
 Setelah Harry bicara, maka perlu juga ditanya Soeharto yang berusaha
 menutupi itu, dan tanya juga Yusuf yang berusaha menghindar," paparnya.
 Mengenai peristiwa G30S, kata Nina, sekarang ini paling tidak ada empat
 versi dalang yang berada di belakangnya. Orang mengatakan dalang yang
 pertama adalah PKI. Dalang kedua, Soeharto. Dalang ketiga Soekarno sendiri.
 Dalang keempat AS dan Inggris. "Empat kelompok pendapat ini ada
 kajian-kajiannya masing-masing," tutur Nina.
 
 Dengan adanya data dan visi baru, lanjutnya, maka reinterpretasi harus
 dilakukan, dan rewriting tentang G30S menjadi wajib sifatnya, agar
 masyarakat mendapat informasi sejarah yang mendekati kebenaran.
 
 Menurut dia, para sejarawan yang saat ini bisa menemukan kebebasan
 akademisnya kembali memang dituntut untuk bisa menggali sumber-sumber
 sejarah baru agar bisa melakukan reinterpretasi dan rewriting peristiwa
 tersebut.
 
 Sumber yang digali bukan saja sumber resmi pemerintah, tapi juga berbagai
 pihak, termasuk keluarga atau keturunan anggota PKI yang selama ini merasa
 menjadi korban ketidakadilan akibat adanya cap tidak bersih lingkungan.
 Sehingga mereka sulit mendapat pekerjaan atau aktivitas sosial lainnya.
 Tentu saja semua sumber itu harus diperlakukan sama, yaitu dengan
 memperhatikan metode kritis dalam sejarah. "Sebagai sejarawan, kita harus
 objektif dan menjauhkan sikap empati, kesedihan. Jangan memberikan value
 judgement. Analisis harus dilakukan secara kritis, karena para putra korban
 masih kecil saat peristiwa terjadi," ujarnya. (Tim PR)***
 

      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, 
when. 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke