http://www.gatra.com/artikel.php?id=107373

Menteri Dalam Negeri
Satu Menteri Dua Kompetensi

Pasar politik bergairah. Sejumlah nama beken beredar di arena bursa calon 
Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Ada nama Mardiyanto, Sutiyoso, M. Yasin, E.E. 
Mangindaan, hingga Siti Nurbaya. Akhirnya bursa kandidat yang menghangat selama 
sepekan itu ditutup Selasa lalu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan Mardiyanto, Gubernur Jawa 
Tengah, sebagai Mendagri menggantikan Muhammad Ma'ruf yang sakit sejak akhir 
Maret lampau. Kali ini, presiden menutup rapat nama kandidat yang dipilih 
hingga detik terakhir. Prosesi pemanggilan terbuka calon menteri, seperti pada 
dua reshuffle sebelumnya, tidak tampak.

Spekulasi pun terus berlangsung sampai injury time. Meski pelbagai informasi 
dan analisis sudah lama menempatkan Mardiyanto sebagai calon kuat, tidak ada 
yang berani terbuka memastikannya. Di Semarang, sinyal bakal dipilihnya 
Mardiyanto sudah terasa Selasa pagi dalam sidang DPRD Jawa Tengah. Ketua DPRD 
Murdoko, pada saat memberi sambutan, secara berkelakar menyapa Mardiyanto 
sebagai "Pak Mendagri".

Sejumlah sumber menyebutkan, Mardiyanto sudah ditelepon istana pada Selasa 
pagi. Tapi, usai rapat DPRD, Mardiyanto belum berterus terang. Kepada pers, 
Mardiyanto hanya menekankan agar presiden segera mengumumkan. "Biar semua 
plong," kata lulusan Akabri 1970 itu. "Kalau saya jadi, ya, alhamdulillah, 
garis tangan. Tidak jadi juga alhamdulillah."

Diam-diam, Selasa siang, Mardiyanto terbang ke Jakarta, didampingi ajudan. 
Sorenya, sekitar pukul 17.00, ia bertemu presiden. Habis magrib, presiden 
mengumumkan. Pelantikan Mardiyanto sebagai menteri dilangsungkan Rabu siang 
pekan ini.

Nama Mardiyanto sebenarnya pernah mencuat sejak menjelang reshuffle tahap 
kedua, Mei lalu. Namun Ma'ruf yang jatuh sakit sejak akhir Maret tak langsung 
diganti. Presiden beralasan, memberi kesempatan tiga bulan pada tim dokter 
untuk membuat laporan kesehatan Ma'ruf. Tapi para analis menilai SBY menghargai 
jasa Ma'ruf sebagai tim sukses.

Bagi kalangan dekat presiden, pilihan SBY pada Mardiyanto sebenarnya tak goyah. 
Suara-suara di luar istana saja yang memunculkan beragam nama. Ketua Fraksi 
Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, pernah memetakan tiga model kandidat. Kalau 
presiden mau pembantu dengan loyalitas tinggi, ada M. Yasin atau E.E. 
Mangindaan.

Jika sosok populer tetapi berisiko politik, menurut Priyo, ada Sutiyoso atau 
Ryaas Rasyid. Bila ingin yang kalem dan berpengalaman, ada Mardiyanto. 
Sementara itu, Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddiq menjagokan Sutiyoso. Ketua FKB 
Effendy Choirie menyebut Mahfud MD.

Performa Mardiyanto di "pasar politik" sempat dikesankan mengempis ketika Senin 
lalu ada demo penolakan dari sejumlah mahasiswa. Mereka menuding Mardiyanto 
yang sempat diperika KPK sebagai saksi yang terindikasi korupsi. Demonstran 
sempat diterima Dewan Pertimbangan Presiden. Toh, presiden tetap memilih 
Mardiyanto.

Pilihan pada Mardiyanto ditakar bukan sekadar karena faktor pengalaman dan 
kompetensi. Kalau sekadar itu, Siti Nurbaya (mantan Sekjen Depdagri) dan 
Sutiyoso (Gubernur DKI Jakarta) juga tidak kalah. Sekjen KNPI yang juga mantan 
tim sukses SBY, Munawar Fuad, menyebut Mardiyanto memberi keuntungan strategis 
lain pada SBY, terkait agenda pemilihan presiden 2009.

Jawa Tengah adalah lumbung suara yang amat berharga. Jumlah pemilihnya terbesar 
kedua setelah Jawa Timur. Kalau Jawa Timur, SBY optimistis bisa mengendalikan 
suara daerah kelahirannya itu, sebagaimana pada saat pemilihan presiden 2004. 
Tapi Jawa Tengah, yang dikenal sebagai basis PDI-P, merupakan areal perlawanan 
sengit.

Pada pemilihan presiden putaran pertama 2004, Megawati menang di Jawa Tengah. 
Baru pada putaran kedua, SBY membalik kemenangan, meski tipis. Mega mendapat 
6,2 juta suara, SBY memperoleh 6,7 juta suara. Dari 35 kabupaten/kota, SBY 
unggul di 20 tempat. Bila ingin mulus melenggang di 2009, Jawa Tengah harus 
jadi prioritas genggaman.

Dengan menggandeng Mardiyanto yang sudah dua periode jadi gubernur, SBY 
berpeluang memperkuat pengaruh di Jawa Tengah. Sekaligus memperlemah basis 
Megawati dan PDI-P. Mardiyanto sendiri ketika jadi gubernur juga diusung PDI-P. 
Bergabungnya Mardiyanto ke kabinet bisa terhitung kerugian politik bagi PDI-P.

Langkah SBY merekrut "kader" partai lain (PDI-P) itu, menurut Munawar Fuad, 
khas gaya SBY. Mirip proses rekrutmen Gubernur Bengkulu, Agusrin Najamuddin. 
Pada saat pencalonan, diusung PKS. Namun, sebulan setelah terpilih, Agusrin 
hijrah jadi Ketua Demokrat.

Arti penting Jawa Tengah bagi SBY juga terbaca dengan tingginya frekuensi 
kunjungan SBY ke provinsi itu setahun terakhir. Sepengamatan Gatra, pernah 
sebulan lebih dari dua kali. Pernah pula sekadar untuk peresmian pabrik skala 
kecil.

Bukan hanya pengaruh di Jawa Tengah, menurut Munawar, Mardiyanto juga memberi 
keuntungan lain buat SBY dalam hal pengaruhnya pada asosiasi provinsi 
se-Indonesia. Itu bisa mengimbangi pengaruh Sutiyoso, yang jadi ketua asosiasi. 
Gubernur Jakarta ini, selain masuk bursa calon Mendagri, juga diprediksi bakal 
jadi pesaing berat dalam laga pemilihan presiden 2009.

Buat Sutiyoso, pos Mendagri tentu strategis untuk terus manggung di pentas 
nasional. Ia berkali-kali menyatakan siap memberi loyalitas penuh bila 
dipercaya jadi Mendagri. Seolah untuk menepis analisis bahwa keberadaannya bisa 
jadi ancaman politik bagi SBY.

Langkah Sutiyoso menerima doktor kehormatan dari Universitas Diponegoro 
(Undip), Semarang, beberapa waktu lalu, juga bisa dibaca untuk memberi pesan 
politik bahwa Sutiyoso yang kelahiran Semarang juga punya basis di Jawa Tengah. 
Undip saja, perguruan tinggi terkemuka di Jawa Tengah, memberi doktor 
kehormatan kepada Sutiyoso, bukan Mardiyanto.

Agenda Depdagri dua tahun ke depan cukup menumpuk. Tapi, menurut Sekjen 
Depdagri Diah Anggraeni, ini tidak berarti bahwa selama tidak ada menteri 
definitif dalam lima bulan terakhir, lantas garapan Depdagri terbengkalai. 
"Sistem tetap jalan," katanya. Menteri adalah pemegang kebijakan. "Hal-hal 
teknis dilakukan sekjen dan dirjen," Diah menambahkan.

Diah menyebut Mendagri ad interim telah bekerja sangat efektif. Banyak 
pekerjaan rumah yang bisa dirampungkan Widodo. Misalnya pembahasan RUU DKI 
Jakarta dan penyiapan empat paket RUU politik yang kini sudah diserahkan ke 
DPR. Begitu pula, pembahasan PP 8/2003 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang 
sudah berlarut-larut kini diganti dengan PP 41/2007.

"Juga diselesaikan PP 37/2007 tentang Administrasi Kependudukan," kata Diah. 
Selain peraturan perundangan, ada 16 daerah hasil pemekaran yang dapat 
dibentuk. Disusul pelantikan beberapa kepala daerah baru. Sedangkan sisa agenda 
yang harus diteruskan Mendagri baru, antara lain, sisa penyelenggaraan pilkada 
dan daerah pemekaran.

Paket RUU politik kini masuk tahap pembahasan bersama DPR. Tindak lanjut 
putusan Mahkamah Konstitusi tentang pencalonan perseorangan juga memerlukan 
regulasi segera. Tapi Diah optimistis, semua itu bisa diselesaikan. Bagi Diah, 
menopang kepemimpinan Mardiyanto bukan hal baru, karena ia pernah menjadi Humas 
Pemda Jawa Tengah.

Asrori S. Karni, Bernadetta Febriana, dan Imung Yuniardi (Semarang)
[Nasional, Gatra Nomor 42 Beredar Kamis, 30 Agustus 2007

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke