Sedikit bekas pendukung Orde "Demokrasi Terpimpin" yang segigih Umar Said ini menuntut keadilan bagi korban penindasan Orde baru Soeharto.
Untuk itu penghargaan perlu diberikan kepadanya. Yang saya sayangkan - yang saya salahkan - adalah bahwa hingga sekarang dia, seperti juga hampir semua pendukung orde Demokrasi Terpimpin, TIDAK bersedia mengakui kesalahan dan kebiadaban orde Demokrasi Terpimpin yang adalah diktatur itu. --- In [email protected], "Umar Said" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tulisan ini juga disajikan dalam website > > http://perso.club-internet.fr/kontak) > > > > In memoriam : > > > > Soedjinah, pimpinan Gerwani > > dan pendukung Bung Karno > > > > > > Berikut di bawah adalah sekelumit dari riwayat hidup Soedjinah, seorang > wanita Indonesia yang dalam hidupnya dari sejak muda belia sudah ikut dalam > perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia, yang kemudian menjadi > pimpinan organisasi wanita yang terbesar di Indonesia, Gerwani. Soedjinah > dipenjara selama belasan tahun oleh rezim militer Orde Baru setelah > ditangkap dalam tahun 1967 karena ia aktif melakukan kegiatan-kegiatan > bersama sejumlah kawan-kawannya dalam gerakan PKPS (Pendukung Komando > Presiden Sukarno). > > > > Soedjinah, yang pernah beberapa tahun mewakili gerakan wanita Indonesia > dalam Gabungan Wanita Demokratik Sedunia (GWDS) dan ikut dalam berbagai > konferensi internasional, telah mengalami bermacam-macam siksaan selama > dalam tahanan militer, seperti halnya banyak wanita lainnya yang pernah > ditahan atau dipenjarakan selama bertahun-tahun oleh rezim Suharto dkk. > > > > Dengan menyimak sejenak riwayat hidupnya, yang berupa wawancara dengan HD > Haryo Sasongko (editor buku "Terempas Gelombang Pasang" karya Soedjinah, > terbitan ISAI) maka kita semua ingat kembali kepada kekejaman dan > kesewenang-wenangan rezim Suharto terhadap orang-orang kiri, termasuk > anggota dan simpatisan PKI dan pendukung Presiden Sukarno. > > > > Riwayat hidup Soedjinah, yang menggambarkan bagaimana ia telah berjuang > untuk bangsa, dan khususnya untuk kebangkitan dan kebebasan wanita > Indonesia, perlu diketahui oleh banyak orang, terutama generasi muda dewasa > ini dan di masa-masa yang akan datang.. Selain itu, penyajian secara singkat > kisah hiduppnya ini juga untuk mengingat kembali betapa besar kekejaman > rezim militer Suharto dkk terhadap ratusan ribu -- bahkan jutaan -- > orang-orang yang tidak bersalah apa-apa. > > > > Soedjinah, yang di harituanya sampai wafatnya -- terpaksa tinggal di > sebuah rumah jompo di Jakarta, hanyalah seorang dari begitu banyak > kader-kader, aktifis, dan pimpinan Gerwani, yang telah dipersekusi di > seluruh Indonesia. Sekarang ini masih banyak di antara mereka yang tetap > terus mengalami berbagai penderitaan sebagai eks-tapol. > > > > Mengingat itu semualah maka berikut ini disajikan wawancara dengan > Soedjinah, yang dilakukan oleh HD Haryo Sasongko dalam bulan Desember 2000, > yang selengkapnya adalah sebagai berikut. > > > > 1.. Umar Said > > > * * * * > > > > > > Tanggal 6 September 2007, SOEDJINAH telah meninggal dunia. Untuk mengenang > wafatnya tokoh wanita yang pernah terlibat dalam perjuangan fisik di masa > revolusi kemerdekaan dan perjuangan politik di masa prakemerdekaan, namun > nasib dirinya sendiri tidak merdeka sampai di akhir hidupnya, berikut > dikutip kembali sinopsis wawancara dengan SOEDJINAH, diangkat dari kumpulan > dokumen tentang Korban Tragedi '65. Karena wawancara dilakukan pada tahun > 2000, jadi tidak mencakup kisah SOEDJINAH ketika masuk ke rumah Jompo. > Semoga ada manfaatnya. (HD. Haryo Sasongko) > > > > « Menyaksikan dan merasakan hidup terjajah, Soedjinah terpanggil untuk ikut > bergerilya membantu Tentara Pelajar dan laskar-laskar lainnya yang berniat > mengusir penjajah. Karena tak tahan melihat darah, dia memilih sebagai > kurir. Selama Perang Kemerdekaan dia tak pernah absen, baik dalam menghadapi > Clash I atau Clash II. Usai penyerahan kedaulatan barulah dia kembali ke > sekolah, kuliah dan kemudian aktif di Pemuda Rakyat serta Gerwani. Dari > sana dia kemudian melanglang buana, menghadiri berbagai forum pertemuan > internasional. Namun tragedi 1965 membawanya masuk penjara dan disekap di > sana selama 16 tahun. Toh, di balik terali besi itu, dia terus melanjutkan > perjuangannya. Dia pun menulis pengalaman, puisi dan cerita pendek di kertas > yang dicurinya dari petugas penjara. Kini di masa tuanya, tanpa suami tanpa > anak, Soedjinah memanfaatkan kemampuannya berbahasa Inggris, Belanda dan > Jerman dengan menjadi penerjemah dan memberikan kursus di LSM maupun di > rumah kontrakannya. > > > > Ikut Bergerilya dan Melanglang Buana > > Sebagai anak pertama dari seorang Abdi Dalem Kraton Kasunanan Sala yang > lahir pada tahun 1929 ini, Soedjinah mendapat kesempatan mengecap > pendidikan HIS selama tujuh tahun sampai tamat yang kala itu sebenarnya > hanya terbuka bagi keluarga orang-orang Belanda atau keluarga bangsawan > saja. Hal itu terjadi karena Soedjinah "didekati" oleh seorang putera > Mangkubumi. Karena itu pula Soedjinah sudah menguasai bahasa Belanda sejak > masa kanak-kanak. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di MULO, namun kali > ini tidak sampai tamat karena baru menginjak tahun pertama Jepang datang. > Sehingga Soedjinah harus melanjutkan pendidikan di sekolah Jepang selama > tiga tahun dan selesai di masa penjajahan Jepang. > > > > Ketika itu Soedjinah mulai merasakan perlakuan penjajah Belanda maupun > Jepang yang sama-sama merendahkan bangsanya. Mula-mula dia harus memberi > hormat terhadap orang-orang Belanda dan kemudian terhadap orang-orang > Jepang. Sementara orang-orang pribumi tetap menjadi warga kelas tiga pada > strata yang paling bawah. Lebih-lebih Soedjinah sangat sakit hati karena > ketika itu dengan alasan untuk biaya perang Jepang menyita harta benda > milik rakyat pribumi seperti emas atau berlian sambil melakukan pemerasan > serta pelecehan seksual terhadap kaum wanita. > > > > Karena itu sejak Proklamasi Kemerdekaan Soedjinah menyambut gembira > dengan ikut serta di badan-badan perjuangan. Pada masa perang kemerdekaan > berkecamuk, Soedjinah pada tahun 1946-47 (Clash I) masuk dalam Barisan > Penolong sebagai kurir dan membantu logistik dapur umum di tengah medan > pertempuran yang terjadi antara lain di daerah Ampel dekat Salatiga hingga > Tengaran dekat Semarang. Dia bergaul akrab dengan para laskar pejuang muda > yang kebanyakan dari TP (Tentara Pelajar), antara lain dipimpin oleh Achmadi > yang di kemudian hari menjadi seorang menteri pada masa pemerintahan Bung > Karno. > > > > Pada Clash II yang berlangsung hingga tahun 1949, Soedjinah juga ikut > aktif bergerilya bersama tentara dan TP sampai di Bekonang dan tempat > tempat lain. Salah seorang pimpinannya yang masih diingat Soedjinah ialah > Soebroto yang di kemudian hari juga menjadi menteri. Ketika itu Soedjinah > berperan sebagai kurir antar pasukan gerilya yang berada di desa dan di > perkotaan. Siang malam harus jalan kaki menyusup di pedesaan untuk > menghindari patroli Belanda. > > > > Tahun 1950 ketika terjadi cease fire, Soedjinah kembali ke kota (Sala) > untuk melanjutkan sekolah sampai dapat menyelesaikan SMAnya di Yogyakarta > pada tahun 1952. Ketika itu Soedjinah pernah mendapatkan beasiswa untuk 5 > tahun. Dia manfaatkan beasiswa itu untuk masuk ke Universitas Gajah Mada di > fakultas sosial politik yang sayangnya hanya sampai tiga tahun saja karena > beasiswa sudah tidak ada lagi. Selanjutnya Soedjinah aktif di Pesindo yang > di kemudian hari menjadi Pemuda Rakyat dan juga di Gerwis yang di kemudian > hari menjelma menjadi Gerwani. Bahkan ketika Gerwis menyelenggarakan > Konferensi Nasionalnya yang pertama di Surabaya pada tahun 1951, Soedjinah > sudah ikut serta di mana ketika itu juga ada SK Trimurti sebagai salah > seorang ketuanya. Pada masa itu di samping Gerwis juga sudah ada organisasi > wanita Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang sudah berdiri > sejak 1946 dan Aisyiyah dari Masyumi. Sejak Konferensi Nasional yang pertama > itu, Gerwis sudah menjadi anggota Gabungan Wanita Demokratis Sedunia. > > > > Dalam Kongres Gerwis di Jakarta pada 1954, barulah namanya berubah > menjadi Gerwani dan sekretariatnya pun pindah dari Surabaya ke Jakarta > dengan Ketua Umum Umi Sardjono. Sejak itu pula Gerwani mengembangkan > sayapnya dan jumlah keanggotaannya terus meningkat di seluruh Indonesia. > Soedjinah semakin aktif di organisasi ini. Aksi-aksi menentang kenaikan > harga bahan pokok, pemerkosaan dan pelecehan seksual menjadi salah satu tema > perjuangan Gerwani yang banyak menarik simpati masyarakat wanita, sehingga > sebelum pecahnya tragedi 1965, Gerwani merupakan organisasi wanita terbesar > di Indonesia. > > > > Ketika pada tahun 1955 diselenggarakan Festival Pemuda Sedunia di Praha > Chekoslovakia, Soedjinah mengikutinya sebagai wakil dari Pemuda Rakyat. > Seusai Festival, Soedjinah mendapat tugas dari Gerwani untuk bekerja di > Sekretariat Gabungan Wanita Demokratis Sedunia yang berkedudukan di Berlin > Timur selama dua setengah tahun. Di sinilah puteri Abdi Dalem Keraton > Kasunanan Sala ini medapat banyak pengalaman dalam pergaulan dengan > wakil-wakil gerakan wanita berbagai negara, baik dari AS, negara-negara > Eropa Barat, Timur, Australia, Afrika maupun sesama negara-negara di Asia. > Ketika itu wanita Asia yang mengikuti kegiatan kewanitaan di forum > internasional baru dari India, China dan Indonesia. Selama aktif bekerja di > Berlin Timur itu, Soedjinah mendapat kesempatan pula untuk memperdalam > pengetahuan dalam bahasa Inggris dan Jerman yang dilakukannya seusai tugas > kantor. > > > > Dari Gerakan Wanita Demokratis Sedunia itu pula Soedjinah kemudian > mendapat tugas "melanglang buana" dengan mengikuti kongres-kongres di Eropa > seperti di Prancis, Denmark, Italia, Austria, Finlandia, Yugoslavia, Swedia > dan juga Uni Soviet dan China. Tahun 1957 Soedjinah baru kembali ke > Indonesia dan banyak membuat karya-karya jurnalistik berupa laporan > perjalanan yang pernah dilakukannya di berbagai suratkabar, di samping > menjadi penerjemah untuk bahasa Inggris, Belanda dan Jerman bagi tamu-tamu > asing yang mengunjungi sekretariat Gerwani. Di samping karya-karya > jurnalistik, untuk menambah pendapatan guna menopang biaya hidup (karena > dana dari organisasi tidak mungkin mencukupi), Soedjinah juga membuat > karya-karya sastra dengan menulis cerita pendek, esai atau puisi dan dimuat > di berbagai media. > > > > Tahun 1963 Soedjinah aktif sebagai penerjemah untuk perwakilan kantor > berita asing di Indonesia, antara lain Pravda (Uni Soviet) di samping dia > sendiri aktif menulis pemberitaan di suratkabar dalam negeri. Karena itu > Soedjinah sering juga keluar masuk Istana Merdeka dan bertemu tokoh-tokoh > nasional. Ketika diselenggarakan Kongres Buruh Wanita Internasional di > Rumania, Soedjinah ditunjuk oleh pimpinan Sobsi sebagai penerjemah untuk > delegasi Gerwani Indonesia. Selanjutnya mendapat undangan untuk mengunjungi > China. > > > > Haappp ... Lalu Ditangkap > > Aktivitasnya di DPP Gerwani di Bagian Penerangan dan Penerjemahan, > membuat dia harus sering tidur di kantor. Sampai kemudian, terjadilah > Peristiwa Gestapu dan dirinya bersama kawan-kawan lainnya ditangkap dalam > suatu penggerebegan yang dilakukan oleh suatu aparat keamanan. Padahal, > semua personil Gerwani sedang sibuk menyiapkan suatu acara, sehingga mereka > kaget ketika di siang hari tanggal 1 Oktober 1965 mendengar warta berita > tentang telah terjadinya peristiwa pembunuhan sejumlah jenderal di Lubang > Buaya dan juga tentang telah dibentuknya Dewan Revolusi untuk menggagalkan > rencana kudeta Dewan Jenderal. Mereka benar-benar tak tahu menahu tentang > hal itu. Konsentrasi mereka masih pada rencana penyelenggaraan Kongres > Gerwani. Terdorong keingintahuannya, Soedjinah pada hari itu pergi ke kantor > CC PKI dan ternyata kantor itu sudah dirusak massa. Soedjinah tak mau > kembali ke kantor DPP Gerwani, tetapi juga tak pulang ke rumah tempat > tinggalnya. Dia pilih berkeliling menyelinap dari tempat ke tempat untuk > mencari informasi lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. > > > > Dan informasi memang terus mengalir. Penangkapan-penangkapan telah > terjadi atas diri para tokoh Gerwani. Rumah yang ditempati Soedjinah dan > dalam keadaan sudah dikosongkan, juga kantor DPP Gerwani itu sendiri, > ternyata sudah dijarah. Dia menginap dari satu tempat ke lain tempat secara > sembunyi-sembunyi di rumah kenalan atau saudara. Tak pernah ada tempat yang > diinapinya sampai tiga malam berturut-turut. Pernah juga dia tinggal di > rumah mantan Kolonel Suwondo dari Divisi Brawijaya yang dikenalnya sebagai > pendukung Bung Karno. > > > > Di tengah situasi politik yang memanas, Soedjinah bersama sejumlah > kawannya yang sehaluan dalam mendukung Bung Karno sempat membuat buletin > bernama PKPS (Pendukung Komando Presiden Soekarno). Ketika itu Soeharto > sudah mencium adanya kegiatan tersebut dan siapa yang terbukti sebagai > pendukung Soekarno ditangkap. Selama dua tahunan, Soedjinah terus > "bergerilya" sambil menyebarkan buletin ini ke tengah masyarakat. Termasuk > ke kedutaan-kedutaan negara asing. Sampai akhirnya dia tertangkap pada 17 > Februari 1967 di rumah seorang kawan (yang juga ikut ditangkap) di daerah > Pasar Minggu Jakarta Selatan. > > > > Soedjinah dibawa ke suatu tempat mungkin sebuah sekolah tionghoa di > daerah Pintu Besi yang dijadikan semacam posko di Gunung Sahari Jakarta > Pusat - oleh petugas keamanan yang menangkapnya dan mulailah dia menyaksikan > bahkan mengalami sendiri berbagai bentuk penyiksaan yang amat kejam bahkan > banyak tahanan yang sampai mati dalam penyiksaan. Dia sendiri (seperti > kawan-kawan lainnya yang sama-sama tertangkap, antara lain Soelami, Soeharti > dan Sri Ambar) ditelanjangi dan dipukuli dengan rotan oleh delapan orang > tentara berbaju loreng. Seorang di antaranya, Letkol Acep, pimpinan di posko > tersebut, konon pernah dididik oleh CIA. Ketika kelihatan Soedjinah hampir > mati - dan dia memang pura-pura mati - barulah seorang tentara melerai agar > penyiksaan dihentikan sehingga tahanan dapat dibawa ke pengadilan. Padahal > di bagian belakang halaman gedung tempat penyiksaan itu sudah digali > lubang-lubang untuk mengubur mayat mereka yang mati disiksa. > > > > Soedjinah bersama tiga kawannya yang tidak sampai mati dalam penyiksaan > itu akhirnya dibawa ke tempat lain secara berpindah-pindah hingga lima kali > (yang masih diingat, Kodam Jayakarta, kantor CPM Guntur), untuk kemudian > ditahan di Penjara Wanita Bukitduri guna diajukan ke pengadilan karena > terbukti menerbitkan PKPS. Karena dianggap sebagai orang berbahaya, maka > Soedjinah dimasukkan ke sel khusus untuk diisolasi. Di Bukitduri inilah > Soedjinah bertemu dengan banyak kawan-kawan sesama Gewani, baik tingkat > pimpinan, aktivis hingga anggota biasa dan simpatisan. > > > > Di tempat ini pula dia bertemu dengan anak-anak perempuan muda yang > ditangkap di Lubang Buaya. Mereka berusia sekitar 14 tahunan sehingga dapat > dipastikan bukanlah anggota Gerwani, karena batas minimal usia agar bisa > menjadi anggota Gerwani adalah 18 tahun. Dari merekalah Soedjinah mendapat > kepastian bahwa tidak ada adegan mencungkil mata apalagi memotong alat > kelamin para jenderal. Mereka di sana karena ikut latihan sukarelawan > Dwikora dari Pemuda Rakyat dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. > Merekalah yang ketika ditangkap malah diperkosa oleh aparat yang > menangkapnya dan dipaksa untuk mengaku sebagai anggota Gerwani. Di antara > mereka yang menghadapi pemaksaan dan penyiksaan itu ada yang bernama Emi - > adalah pelacur muda yang masih buta huruf, dan baru saja bebas dari Penjara > Bukitduri sebulan sebelumnya akibat kasus kriminal. > > > > Di sel isolasi khususnya, Soedjinah tidak dapat berkomunikasi dengan > siapa pun karena tertutup rapat dan hanya ada lubang kecil untuk bernafas. > Sehari hanya diberi kesempatan keluar untuk "angin-angin" selama satu jam > dengan penjagaan ketat. Makanan hanya diberikan sekali sehari sekitar dua > sendok nasi saja atau jagung rebus sekitar 40-60 butir. Bila ada kesempatan > keluar sebentar, dia makan daun apa saja yang ada di dekatnya untuk menutup > rasa laparnya Dia diisolasi penuh di tempat ini selama 8 tahun, untuk > selanjutnya dipisah di sel isolasi untuk tahanan kriminal. Di sel ini > Soedjinah dapat mencuri-curi kesempatan agar bisa berdialog dengan tahanan > kriminal dan mendapatkan banyak informasi dari mereka tentang kenapa mereka > ditahan dan bagaimana pula perlakuan aparat penguasa terhadap tahanan > politik maupun tahanan kriminal selama di dalam selnya. > > > > Sementara itu pemeriksaan atas dirinya masih berjalan terus. Di antara > mereka yang melakukan pemeriksaan itu adalah bekas teman sekolah Soedjinah. > Ketika kemudian diajukan ke depan pengadilan di Pengadilan Jakarta Pusat > pada tahun 1975 (hanya empat orang anggota Gerwani yang ketika itu diajukan > ke depan pengadilan, yakni Soedjinah, Soelami, Soeharti dan Sri Ambar karena > terbukti menyebarkan buletin PKPS dan nyata-nyata menentang rezim > Soeharto-Nasution), seorang hakim yang mengadilinya adalah teman kuliahnya > ketika di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Hakim itu keponakan SK > Trimurti masih mengenal baik siapa Soedjinah - ketika itu menjadi terdakwa > II - yang kemudian divonisnya dengan hukuman 18 tahun. Vonis ini tidak > berubah ketika Soedjinah mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. Sesama > aktivis Gerwani lainnya yang juga mendekam di Penjara Bukitduri, seperti > Tanti Aidit, Ny. Mudigdo dan Umi Sardjono - semua pimpinan Gerwani - yang > bertemu dengan Soedjinah tidak ada yang diadili karena tidak ada bukti > apa-apa yang dapat diajukan ke depan pengadilan kecuali sebagai aktivis > Gerwani itu saja. > > > > Sekitar tahun 1980, dari Penjara Wanita Bukitduri Soedjinah dipindahkan > ke Penjara Tangerang. Di tempat inilah dia mendapatkan kesempatan untuk > menuliskan semua yang dialaminya selama di Penjara Bukitduri, termasuk > pengakuan sesama tahanan para gadis remaja yang tertangkap di Lubang Buaya > dan dipaksa mengaku sebagai anggota Gerwani itu di kertas-kertas yang > dicurinya. Ketika itu, karena mempunyai kemampuan melukis, Soedjinah diberi > tugas membuat disain untuk kain bordir yang akan dikerjakan sesama tahanan > wanita. Sebagai "disainer" tentu saja dia membutuhkan kertas dan pensil. Dan > inilah memang yang sesungguhnya dia cari. Sebagian kecil dari kertas yang > disediakan petugas penjara itu dia curi, disembunyikan, yang kemudian > dipakai untuk menuliskan catatan-catatan tentang pengalaman sesama tahanan, > juga puisi bahkan cerita pendek. Catatan yang ditulis di toilet di dalam > selnya ini kemudian diselundupkan lewat seorang wartawan dari Harian Sinar > Harapan (kini Suara Pembaruan) yang menyaru sebagai arsitek dan tukang > bangunan sehingga bisa sering datang mendekatinya. Tulisan yang dikumpulkan > oleh si wartawan itulah yang di kemudian hari diserahkan kembali kepada > Soedjinah sesudah dia bebas dan diterbitkan oleh Lontar sebagai buku. > > > > Di penjara Tangerang, Soedjinah memang sedikit mendapatkan kebebasan, > tidak dikurung dalam sel lagi. Namun tetap dengan baju biru karena statusnya > masih tetap "disamakan" dengan tahanan kriminal.Dia banyak memberikan > bimbingan dan pelajaran bahasa Inggris kepada para tahanan kriminal sehingga > mereka memanggilnya "mamie" kepada Soedjinah. Tahun 1983 dia baru dibebaskan > sehingga dia total menjalani hidup di belakang terali besi selama 16 tahun > dari 18 tahun yang harus dijalaninya. Di luar penjara, tidak berarti dia > benar-benar bebas merdeka. Di samping masih dikenai wajib lapor diri di > Kodim Jakarta Selatan sampai 1997, KTPnya juga diberi stigma "ET" sampai 14 > tahun kemudian dan tanda itu baru hilang setelah Soeharto lengser. > > > > Ketika dibebaskan, Soedjinah tinggal di rumah saudaranya Widodo yang > juga pernah mendekam di Pulau Buru yang berada di Gandul. Menyadari > dirinya tak mungkin bisa bekerja di instansi pemerintah berhubung > stigmatisasi pada KTPnya itu, maka untuk menghadapi hari-hari depannya > Soedjinah hanya bisa mengandalkan kegiatan memberikan les bahasa asing untuk > menghidupi dirinya. Dia mengambil sertifikat untuk penerjemah bahasa > Belanda di Erasmushuis selanjutnya dia mengambil sertifikat sebagai guru > bahasa Inggris di LIA. Dengan modal inilah Soedjinah menapaki hari-hari > kebebasannya dalam usia tua sebagai penerjemah dan guru bahasa Inggris di > sejumlah LSM, antara lain Kalyana Mitra dan Solidaritas Perempuan serta > Yasalira yang dikelola oleh Kartini Syahrir. > > > > Beberapa karya terjemahan telah dihasilkan pula, antara lain dari > tulisan Carmel Budiardjo dan sejumlah penulis dari Australia. Kini, > Soedjinah yang pernah mendapatkan Award dari Hawaii University dan Hamlet > Award karena ketekunannya untuk terus menulis meskipun berada di dalam > penjara, tinggal seorang diri di sebuah rumah sewa ukuran kecil yang harus > dibayarnya setiap bulan Rp 125.000,- Di rumah itu pula dia memberikan les > bahasa Inggris untuk beberapa orang sambil terus menulis buku. Agar bisa > lebih konsentrasi dalam menekuni pekerjaannya, dia tak mau repot-repot > memasak dan mencuci pakaian sendiri. Semua diserahkan kepada tetangganya dan > dia tinggal memberikan uang lelah kepada tetangganya itu. > > > > Kini dia sedang menunggu bukunya "Terhempas Gelombang Pasang" yang > berisi memori pribadinya selama dalam penahanan yang diterbitkan oleh ISAI > dan "Mereka yang Tersisih" (kumpulan 18 cerpen) yang diterbitkan dalam > bahasa Inggris oleh Yayasan Lontar. Dengan pengeluaran bulanan sekitar Rp > 500.000,- Soedjinah yang beragama Islam dan kini berusia 72 tahun ini masih > bisa menyisakan sedikit uang untuk membantu saudara-saudaranya di Sala yang > mengalami kesulitan mengarungi sisa hidupnya karena identitas mantan tapol > dan stigmatisasi pada KTPnya. Karena sikapnya yang suka menjalin keakraban > dengan tetangga, sejak bebas hingga kini Soedjinah tak pernah mengalami > kesulitan dalam mensosialisasikan diri di lingkungan masyarakatnya. Demikian > juga bila dia sekali waktu pulang ke Sala, kota kelahirannya. Para tetangga > menyambutnya dengan baik , lebih-lebih karena orangtuanya dulu dikenal > sebagai seorang guru mengaji. > > > > * * * > > > > > > > > > > > No virus found in this outgoing message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.485 / Virus Database: 269.13.6/991 - Release Date: 05/09/2007 > 14:55 > > > [Non-text portions of this message have been removed] > Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
