Tetap saja ngga ada buktinya! juga tentang peran "saya...saya..."
yang lainnya itu. Umar Said yg ada di milis ini juga ngga mengkonfirmnya.
Apa mau dikata, berbual-bual saja.
"utusan.allah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"Dan saya bisa bilang - Umar said jadi saksi - saya adalah salah
seorang Indonesia pertama di luar negeri yang membawa masaalah
Pramudya yang ketika itu ditahan di pulau Buru..."
--- In [email protected], PAREWA PAREWA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> "saya yg mengusulkan J. Sartre..." ngga ada buktinya dalam
> dokumen sejarah manapun!
> Berbual-bual saja orang ini kayak katak yg sedang menggembungkan
> badannya hingga merasa sebesar kerbau
>
> "utusan.allah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dan saya bisa bilang - Umar said jadi saksi - saya adalah salah
> seorang Indonesia pertama di luar negeri yang membawa masaalah
> Pramudya yang ketika itu ditahan di pulau Buru...
>
> Tahun 72 kami kumpulkan tanda tangan intelektuil Perancis (seniman,
> filsuf dll.) untuk menuntut dibebaskannnya Pramudya dan tahanan
> politik di pulau Buru dan kamp konsentrasi lainnnya.
>
> Saya yang mengusulkan agar J.P. Sartre mengirimnya mesin tik KE Buru..
>
> Saya yang ikut melansir idee Pramudya dicalonkan untuk mendapat hadiah
> Nobel (kami rapat di rumah seorang mahasiswa di Leiden ketika itu
> sekarang guru besar di Amerika dan dihadiri antara laian oleh mendiang
> Jacques Leclerc dan seorang teman dari Swedia)
>
> Dan ini tidak menghalangi saya untuk mengeritik kelakuan dan
> kezbejatan Pramudya ketika dia mempergunakan Bintang Timur untuk
> mempersekuSi seniman lain yang tidak disukainya..) saat lawan
> politiknya tidak punya kesempatan untuk mempertahankan diri.
>
> Pramudya itu tetap saja bertabiat fascist..
>
> --- In [email protected], "heri latief" <herilatief@> wrote:
> >
> > MA'AF: Atas Nama Pengalaman
> >
> >
> > oleh Pramoedya Ananta Toer
> >
> > Sejak 17 Agustus 1945 aku menjadi warganegara Indonesia,
> > sebagaimana halnya dengan puluhan juta orang penduduk Indonesia
> > waktu itu. Waktu itu umurku 20. Tetapi aku sendiri berasal dari
> > etnik Jawa, dan begitu dilahirkan dididik untuk menjadi orang
> > Jawa, dibimbing oleh mekanisme sosial etnik ke arah ideal-ideal
> > Jawa, budaya dan peradaban Jawa. Kekuatan pendidikan yang
> > dominan dan massal adalah melalui sastra, lisan dan tulisan,
> > panggung, musik dan nyayian, yang membawakan cuplikan-cuplikan
> > dari Mahabharata: sebuah bangunan raksasa yang terdiri dari
> > cerita falsafi dan tatasusila, acuan-acuan religi, dan dengan
> > sendirinya resep-resep sosial dan politik. Enerzi, dayacipta,
> > pergulatan, telah dikerahkan berabad, melahirkan candi-candi dan
> > mythos tentang para raja yang sukses, dan mendesak dewa-dewa
> > setempat menjadi dewa-dewa kampung. Untuk itu "jutaan" manusia
> > sepanjang sejarah etnikku terbantai. Tentu saja tidak angka
> > resmi bisa ditampilkan. Yang jelas, sejalan dengan pendapat
> > pakar Cornell, Ben Anderson, klimaks Mahabharata adalah "mandi
> > darah saudara-saudara sendiri". Memang pada jamannya sendiri
> > bangsa-bangsa lain juga pernah mengalami peradaban dan budaya
> > 'kampung' demikian. Yang berhasil keluar dari kungkungannya,
> > jadilah bangsa yang merajai dunia.
> >
> >
> > Pada awal abad 17 masyarakat Belanda menghimpun dana untuk
> > membiayai pelayaran-pelayaran mencari rempah-rempah, melintasi
> > sejumlah samudra dan menghampiri sejumlah benua. Di negeriku,
> > beberapa belas tahun kemudian, tepatnya pada 1614, raja Jawa
> > yang paling kuat dan berkuasa, raja pedalaman, generasi kedua
> > dan raja ketiga Mataram, Sultan Agung, justru menghancurkan
> > negara bandar dagang Suarabaya, hanya karena membutuhkan
> > pengakuan atas kekuasaannya. Ironi histori Jawa termaktub di
> > sini: pada waktu Belanda mengelilingi dunia mencari
> > rempah-rempah, Surabaya suatu bandar transit rempah-rempah yang
> > sama untuk konsumsi internasional dihancurkan oleh seorang raja
> > pedalaman Jawa, Sultan Agung.
> >
> >
> > Mataram sendiri adalah kerajaan kuat kedua di Jawa yang
> > menyingkiri laut karena tidak ingin menghadapi kedahsyatan
> > Portugis di laut. Sultan Agung ini juga yang gagal total
> > menghalau koloni kecil Belanda di Batavia pada 1629. Kekalahan
> > itu membuat Mataram kehilangan Laut Jawa, laut pelayaran
> > internasional pada masanya. Untuk menghilangkan malu yang
> > diderita, untuk memperthankan kewibawaan Mataram, para pujangga
> > etnik Jawa berceloteh, bahwa pendiri Mataram, ayah Sultan Agung,
> > mempersunting puteri Laut Selatan (pulau Jawa), Nyi Roro Kidul.
> > Untuk menyatakan, kata Prof. H. Resink, bahwa Mataram masih
> > punya keterlibatan dengan laut.
> >
> >
> > Dalam kronik etnik Jawa, Sultan yang satu ini diagungkan begitu
> > tinggi dengan membuang segala faktor yang memalukan. Juga dalam
> > pengajaran sejarah dalam Republik Indonesia sekarang. Orang akan
> > membelak bila mengikuti materi tertulis orang Barat tentang dia.
> > Sedang pendiri Mataram, Sutawijaya, dengan dalih ingkar janji
> > sebagai didendangkan oleh para pujangga etnik Jawa, marak jadi
> > raja setelah membunuh ayah angkat yang membesarkannya, yang
> > memberinya fasilitas sebagai seorang pangeran. Kronik yang
> > diwariskan pada kami tidak pernah ada yang menyinggung tentang
> > nurani, yang nampaknya memang tak terdapat dalam pembendaharaan
> > bahasa Jawa.
> >
> >
> > Diawali dengan kekalahan Sultan Agung, hilangnya kekuasaan atas
> > jalur dagang di L. Jawa, beroperasinya kapal-kapal meriam Barat,
> > golongan menengah Jawa, yang senyawa dengan pemilikan kapal dan
> > pedagang antar-pulau serta internasional terhalau dari
> > bandar-bandar dan tergiring ke pedalaman, menjadi mundur, dan
> > terjatuh dalam kekuasaan satria pedalaman dan ikut mundur.
> >
> >
> > Namun para pujangga pengabdi sistim kekuasaan, menyingkirkan
> > kenyataan yang menggejala ini. Setelah Sultan Agung marak,
> > Mataram ke 4 justru bersahabat dengan Belanda. Para pujangga
> > tetap tidak mengambil peduli. Nyai Roro Kidul, justru dibakukan
> > sebagai kekasih setiap raja Mataram, generasi demi generasi,
> > dikembangkan kekuasaannya sedemikain rupa sehinggga menjadi
> > polisi. aneh tapi nyata bahwa semua ini terjadi sewaktu Jawa
> > praktis mulai memeluk Islam. Penyebaran agama baru ini tidak
> > disertai peradabannya sebagaimana halnya dengan hindusisme,
> > karena praktis sebgai akibat sekunder dari terhalaunya para
> > pedagang Islam dari jalur laut oleh kekuatan Barat yang Nasrani,
> > kelanjutan dari penghalauan atas kekuasaan Arab di Semenanjung
> > Iberia. Dapat dikatakan penyebaran Islam di Jawa adalah akibat
> > sekunder dari gerakan Pan-Islamisme internasional pada jamannya.
> >
> >
> > Lebih mengherankan lagi bahwa pada waktu tulisan ini dibuat,
> > Nyai Roro Kidul telah dianggap menjadi kenyataan. Sebuah hotel
> > di pantai selatan Jawa Barat menyediakan kamar khusus untuk Dewi
> > Laut Selatan tersebut. Bagaimana bisa terjadi suatu negara yang
> > berideologi Pancasila, dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai
> > silanya yang pertama menerima kehadiran seorang dewi laut,
> > kekasih para raja Mataram. Para pujangga tidak pernah teringat
> > bahwa dengan kekuasaan tanpa batas Dewi Laut Selatan, Mataram
> > tidak pernah menang dalam konfrontasinya dengan kekuasaan Barat
> > yang datang dari ujung dunia.
> >
> >
> > Sejak kegagalan Sultan Agung, Jawa tetap terkungkung dalam
> > peradaban dan budaya 'kampung', ditelan mentah-mentah oleh
> > Belanda selama 3 1/2 abad. Sungguh tragi-komedi yang mengibakan.
> > Sedang Belanda datang hanya dengan kekuatan sebiji sawi, bangsa
> > berjumlah kecil, negeri kecil, di ujung utara dunia, setelah
> > melintasi Samudera Atlantik, Hindia, Pasifik. Juga dalam perut
> > kekuasaan Belanda, Jawa tetap memuliakan peradaban dan budaya
> > 'kampung'nya dengan klimaks 'kampung'nya: "mandi darah
> > saudara-saudara sendiri", sampai 1965-66. .... Dan karena sudah
> > tidak dalam perut kekuasaan Eropa lagi, jelas pembantaian
> > mencapai skala tanpa batas.
> >
> >
> > Penjajahan Belanda, ataui Eropa, atas negeriku telah banyak
> > meredam klimaks-klimaks ini. Tanpa penjajahan, negeriku akan
> > tiada hentinya mencucukan darah putera-puterinya. Perebutan
> > tempat kedua setelah Belanda dalam kekuasaan administrasi di
> > Jawa dalam pertengahan abad 18, yang konon mengucurkan
> > seperempat dari jumlah penduduk wilayah kerajaan Jawa. Sedang
> > seorang pangeran yang mendapat tempat ketiga setelah Belanda,
> > Mangkunegara I, baru-baru ini malahan diangkat menjadi pahlawan
> > nasional. Maka itu seorang wisatawan mancanegara yang mempunyai
> > pengetahuan tentang Jawa dan Indonesia akan mengangguk mengerti
> > mengapa dalam tahun 80-an menjelang akhir abad 20 ini patung
> > para Satria Pandawa berangkat perang naik kereta perang di Jalan
> > Thamrin, Jakarta. Itulah patung dalam babak klimaksnya
> > Mahabharata, "mandi darah saudara-saudara sendiri".
> >
> >
> > Dalam penjajahan selama 3 1/2 abad kekuatan etnikku tidak pernah
> > menang menghadapi kekuatan Eropa, di semua bidang, terutama
> > bidang militer. Para pujangga dan pengarang Jawa, sebagai bagian
> > dari pemikir dan pencipta dalam rangka peradaban dan budaya
> > 'kampung' menampilkan keunggulan Jawa, bahkan dalam menghadapi
> > Belanda, Eropa, Jawa tidak pernah kalah. Cerita-cerita
> > masturbasik yang dipanggungkan, juga yang tertulis, juga cerita
> > lisan dari mulut ke mulut, menjadi salah satu penyebab aku
> > selalu bertanya: mengapa etnikku tidak mau menghadapi kenyataan?
> > Sedikit pengetahuan yang kudapatkan dari sekolah dasar dan
> > sedikit bacaan dari literatuir Barat, mula-mula tanpa kusadari,
> > makin lama makin kuat, membuat aku melepaskan diri dari
> > peradaban dan budaya 'kampung' asal etnikku sendiri. Sekali lagi
> > maaf. Di luar Jawa pernah suatu kekuatan etnik menang mutlak
> > atas Eropa. Itu terjadi di Ternate pada 1575. Portugis diusir
> > dari bentengnya dan menyerah. Karena ini tidak terjadi di Jawa,
> > tentara yang menyerah itu tidak dibikin mandi darahnya sendiri,
> > tetapi digiring ke pantai, diperintahkan menunggu sampai
> > dijemput armada Portugis. Dan karena terjadi jauh di luar Jawa,
> > di Maluku, tidak pernah disinggung dalam mata pelajaran sejarah
> > resmi sampai 1990 ini. Mungkin perlu waktu sampai seorang
> > peneliti asing menerbitkan karyanya. Atau mungkin sudah pernah
> > terbit hanya aku saja yang tidak tahu.
> >
> >
> > Sekiranya dahulu aku terdidik suatu disiplin ilmu, misalnya ilmu
> > sejarah, aku akan lakukan penelitian yang akan menjawab: mengapa
> > semua ini terjadi dan terus terjadi. Tetapi aku seorang
> > pengarang dan pendidikan minim, jadi bukan materi-materi
> > historis yang kukaji, tetapi semangat-semangatnya, yang kumulai
> > dengan tetralogi Bumi Manusia, khusus menggarap arus-arus yang
> > datang dan pergi dalam periode Kebangkitan Nasional Indonesia.
> > Dan jadilah kenyataan baru, kenyataan sastra, kenyataan hilir,
> > yang asalnya adalah hulu yang itu juga, kenyataan historis.
> > Kenyataan sastra yang mengandung di dalamnya reorientasi dan
> > evaluasi perdaban dan budaya, yang justru tidak dikandung oleh
> > kenyataan historik. Jadinya karya sastra adalah sebuah thesis,
> > bayi yang memulai perkembangannya sendiri dalam bangunan-atas
> > kehidupan masyarakat pembacanya. Dia sama dengan
> > penemuan-penemuan baru di segala bidang, yang membawa masyarakat
> > selangkah lebih maju.
> >
> >
> > Sengaja kuawali dengan thema Kebangkitan Nasional
> > Indonesia--yang walau terbatas di bidang regional dan nasional
> > namun tetap bagian dari dunia dan umat manusia--setapak demi
> > setapak juga kutulis pada akar historinya, yang untuk sementara
> > ini belum siap terbit, atau mungkin tidak akan bisa terbit.
> > Dengan demikian telah kucoba untuk dapat menjawab: mengapa
> > bangsaku jadi begini, jadi begitu. Maka juga aku tidak menulis
> > sastra hiburan, tidak mengabdi pada status quo, bahkan berada di
> > luar dan meninggalkan sistem yang berlaku. Akibatnya memang
> > jelas: dianggap menganggu status quo dalam sistem yang berlaku.
> > Dan karena menulis adalah kegiatan pribadi--sekalipun pribadi
> > adalah juga produk seluruh masyarakat, masa sekarang dan masa
> > lalunya--konsekwensinya pun harus dipikul sendirian. Dan kalau
> > ada simpati datang padanya, darimana pun datanganya, bagiku itu
> > suatu nilai lebih, yang sebenarnya tak pernah masuk dalam
> > hitunganku. Untuk itu tentu saja kuucapkan terimakasih.
> >
> >
> > Sebelum sampai pada tetralogi, telah kutulis sejumlah karya yang
> > semua bakalnya bermuara padanya. Dalam kurun ini pun sudah mulai
> > permusuhan dari kalangan yang pada masa itu sedang giat memburu
> > status quo. Dan mengherankan, bahwa pada mulanya karya-karya itu
> > disambut dengan cukup baik, bahkan beberapa kali malah
> > mendapatkan hadiah penghargaan. Terutama semasa demokrasi
> > terpimpin dalam tahun-tahun akhir 50-an dan paroh pertama 60-an
> > periode doktrin Trisakti--berdaulat di bidang politik, berdikari
> > di bidang ekonomi, berpribadi di bidang kebudayaan--suatu
> > doktrin universal bagi negara nasionalis di manan pun berada,
> > namun menjadi momok bagi negara-negara padat modal yang haus
> > ladang usaha di seluruh muka bumi. Sejarah mengajarkan banyak
> > tentang kekuasaan modal. Bangsa-bangsa merdeka diubah menjadi
> > bangsa kuli, orang-orang lugu dibentuk menjadi komprador,
> > pengangguran diubah menjadi pembunuh bayaran dengan sergam dan
> > tanda pangkat, rimba-belantara diretas-retas dengan
> > infrastrktur, kota-kota, pelabuhan, muncul dari tiada atas
> > perintahnya, tenaga kerja disedotnya dari mana saja,
> > sampai-sampai dari dusun yang tak pernah terdengar jelas
> > namanya. Pemerintah dari sekian banyak negara dibuatnya hanya
> > jadi pelaksana kemauannya, dan bila sudah tak dihekendakinya,
> > dijatuhkannya. Itu cerita yang membosankan, yang menjadi bagian
> > pengalaman banyak bangsa di dunia, dan pengalaman setiap orang
> > yang memikul akibatnya bersama-sama, baik yang mendapatkan
> > keuntungan darinya mau pun yang dirugikan olehnya. Dan setiap
> > pengalaman bagi seorang pengarang menjadi fondasi bagi proses
> > kreativitasnya, tak perduli pengalaman itu indrawi atau pun
> > batiniah.
> >
> >
> > Apakah Indonesia dengan kemerdekaannya akan menyesuaikan diri
> > dengan kekuasaan modal yang tidak berkebangsaan itu atau akan
> > menentangnya seperti selama itu dibuktikan dengan revolusi 1945?
> > Sudah sejak tahun-tahun revolusi, Soekarno menolak tawaran
> > monopoli dari Ford dengan imbalan pembangunan jalan raya
> > trans-Sumatra-Jawa. Dalam perkembangan semasa kemerdekaan
> > nasional, dia juga yang mengenyampingkan alternatif penyesuaian:
> > blok kapitalis dan blok komunis. Bukan suatu kebetulan bila dia
> > jugalah yang melahirkan istilah Dunia Ketiga. Apa pun keberatan
> > orang tentang sejumlah kelemahannya, jelas ia mempunyai faktor
> > intern keindonesiaan prima. Ia tak menghendaki negaranya menjadi
> > hemesphere blok mana pun. Dan Indonesia semakin terperosok dalam
> > kesulitan ekonomi. Dalam kesulitan ekonomi luar biasa ini aku
> > memberikan dukunganku, dan dengan sendirinya ikut mendapatkan
> > bagian dari kesulitan tersebut. Dukungan juga datang dari hampir
> > semua organisasi dan gerakan, termasuk gerakan yang mendukung
> > untuk menjatuhkan Soekarno. Dalam masa ini LEKRA mengangkat aku
> > jadi anggota plenonya. Orang bilang organisasi ini adalah
> > organisasi mantel PKI. Sampai sekarang pun aku masih heran,
> > mengapa apa saja yang bersangkutan dengan PKI dicap sebagai
> > sesuatu yang jahat. Yang jelas partai ini kontestan pemilihan
> > umum yang tampil sebagai salah satu pemenang, bukan partai
> > bandit tanpa idealisme. Artinya partai itu bukan kekuatan yang
> > sudah berkuasa dan menerapkan sistim kekuasaannya. Perlu
> > kukedepankan soal kekuasaan, karena yang ini cenderung membuat
> > orang jadi bandit, apalagi kalau puluhan tahun dipegangnya, dan
> > tanpa pernah berkenalan dengan semangat Verlichting, Aufklarung,
> > masih terkungkung dalam peradaban dan budaya 'kampung'.
> >
> >
> > Puluhan tahun sebagai warganegara Indonesia dengan tanah airnya
> > yang berupa jajaran gunungapi dan penduduknya yang berupa
> > sebaran gungapi lainnya, setiap waktu bisa meletus tanpa
> > pemberitahuan, membuat bawahsadar penuh sesak dengan pengalaman
> > indrawi dan batini.
> >
> >
> > Dalam penahanan selama 14 tahun 2 bulan, terampas dari semua dan
> > segala, semua pengalaman yang telah lalu aku renungkan dari
> > bawah larsa militer yang menginjakku. Semua menjadi lebih jelas,
> > bahwa semua itu hanya pengalaman alamiah belaka, suatu lingkaran
> > setan histori dari peradaban dan budaya 'kampung' tanpa
> > reorientasi ke dalam atau pun ke luar. Sedang kelahiran apa pun
> > yang dinamakan Orde Baru ini tidak lain dari ulangan kejadian
> > sejarah pada dasawarsa kedua abad 13, dimythoskan oleh pujangga
> > Jawa beberapa abad kemudian sebagai legenda Gandring.
> >
> >
> > Seorang pemuda, digambarkan sebagai berandalan, memesan keris
> > pada seorang empu keris bernama Gandring. Pemesan itu, Ken Arok,
> > membunuhnya sebelum keris itu usai. Tentu saja semua dilakukan
> > dengan rahasia. Senjata tajam itu secara rahasia pula
> > dipinjamkan pada Kebo Ijo, yang ke mana-mana pamer dengan keris
> > pinjaman, dan bertingkah seakan miliknya sendiri. Pada suatu
> > kesempatan Ken Arok mencurinya dan dengannya ia membunuh
> > penguasa Singasari. Kebo Ijo dihukum mati dan Ken Arok
> > menggantikan Tunggul Ametung sebagai penguasa. Empu Gandring,
> > sebelum menghembuskan nafas penghabisan, sempat menyatakan
> > kutukan: "Arok, anak dan cucunya, 7 raja, akan terbunuh oleh
> > keris itu!" Memang sejarah membuktikan beberapa raja terbunuh,
> > tidak sampai 7, namun pola dari kedua dasawarsa abad 13 tersebut
> > terjadi dan terjadi tanpa tercatat, dalam berbagai varian. Dan
> > dalam abad 20 ini, masih tetap di Jawa, Empu Gandring tersebut
> > menitis dalam di;-Soekarno, sang pandai Pancasila.
> >
> >
> > Anak desa Pangkur ini (sampai abad 20 di Jawa hanya ada satu
> > desa dengan nama ini, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi) tidak
> > pernah diberitakan mendapatkan pendidikan standard semasanya.
> > Yang diberitakan adalah ia putera Brahma, Ciwa, dan Wisnu
> > sekaligus. Yang jelas ia anak cerdik, pemberani, dan pandai.
> > Mungkin karena pendidikan standardnya minim, boleh jadi malah
> > nihil, dengan lindungan para dewa utama, dengan kekuasaan di
> > tangan, telah menutup babak Hindu Jawa dan mengawali babak Jawa
> > Hindu. Candi makam terbesar di Jawa Timur, Kagenengan, adalah
> > candi makamnya, sekalipun sekarang sudah tak ada sosok bentuknya
> > lagi.
> >
> >
> > Ken Arok abad ke 13 datang padaku waktu aku dalam pengasingan di
> > Buru. Tanpa Buru barang tentu ia takkan temukan aku, dan dia
> > akan tinggal terkerangkeng dalam legenda. Para dewa utama abad
> > 13 itu masih tetap dewa utama abad 20, penguasa modal,
> > teknologi, informasi. Hanya, waktu kutulis kisah Arok dan Dedes
> > dalam pengasingan di Buru, penampilannya aku persolek dengan
> > tafsiran baru agar dapat keluar dari kerangkeng legenda.
> >
> >
> > Tentu saja akan ada yang tidak setuju dengan pikiran ini. Dan
> > memang aku tak mengharapkan persetujuan siapa pun. Sebaliknya
> > siapa pun dapat pikirannya masing-masing, apalagi kalau yang
> > bersangkutan tidak pernah diperlakukan seperti diriku, khususnya
> > 10 tahun dibuang dan kerjapaksa di Buru. Seorang sesama
> > tapol--sudah tak teringat olehku siapa namanya--mengajukan
> > pertanyaan: apakah siklus Arok tidak bisa digantikan dengan
> > gambaran lain? Bisa, dan setiap orang bisa membuatnya untuk
> > dirinya sendiri bila punya perhatian, kepentingan dan kemauan,
> > asal tidak melupakan pola peradaban dan budaya 'kampung' yang
> > itu-itu juga, lingkaran setan, yang hanya bisa diputuskan oleh
> > reevaluasi atasnya, Verlichting, Aufklarung, yang menghasilkan
> > kreativitas yang menjebol plafonnya sendiri.
> >
> >
> > Tentu saja Orde Baru akan menanggapi dengan klisenya: itu
> > pembelaan untuk PKI. Itu hak Orde Baru untuk membela diri. Yang
> > jelas, pada masanya partai ini sah, legal, salah satu kontestan
> > pemenang dalam pemilu, dan karenanya juga mempunyai beberapa
> > orang menteri dalam kabinet. Dia takkan mengkup kemenangannya
> > sendiri. Kup cenderung dilakukan oleh partai yang kalah dalam
> > pemilu, bahkan tidak ikut pemilu.
> >
> >
> > Dr. J. Krom pernah menyatakan, bahwa petualangan Arok sebelum
> > berkuasa merupakan "schelman roman". Betul. Juga betul, bahwa
> > dalam konsep kekuasaan a la Jawa, dan mungkin juga pada bangsa
> > dari etnis-etnis lain di dunia dengan peradaban dan budaya
> > 'kampung'nya, hanya kekuasaan adikodrati saja yang memungkinkan
> > sesuatu bisa terjadi, maka maraknya seseorang di singgasana
> > kekuasaan hanya terjadi dengan ridlanya. Ini satu lagi acuan
> > ideal-ideal dan peradaban Jawa tentang kekuasaan. Kekuasaan
> > adalah ridla Tuhan dan kalau sudah dicapai, jadilah ia orang
> > kedua sesudah Tuhan. Dengan kekuasaan, semua kejahatan akan
> > terbasuh, bahkan dibenarkan, halal. Selanjutnya menyusul
> > tulisan dan ucapan dari mereka yang ikut mendapatkan keuntungan
> > darinya.
> >
> >
> > Pernah didongengkan padaku semasa kecil, juga dari bacaan, bahwa
> > yang jahat akan dikalahkan oleh yang baik. Yang tidak pernah
> > didongengkan: yang baik dengan sendirinya juga akan dikalahkan
> > oleh yang jahat. Suatu mata rantai yang sambung-menyambung.
> > Kalau rangkaian itu tidak ada, tak tahu lagi orang mana yang
> > baik dan mana yang jahat. Suatu lingkaran setan yang tak
> > habis-habisnya.
> >
> >
> > Sebagai pengarang tentu saja dilontarkan padaku pertanyaan yang
> > tidak kalah klisenya: apakah akan menulis tentang masa sekarang?
> > Kan sudah banyak menulis tentang masa lewat yang sudah jadi
> > sejarah? Lagi pula yang sekarang toh juga sejarah, sejarah
> > kontemporer?
> >
> >
> > Memang banyak dan akan semakin banyak sarjana menerbitkan
> > penelitiannya tentang berbagai aspek Orde Baru. Mereka banyak
> > membantu kita dalam memahami banyak hal. tetapi sebagai pribadi
> > dan pengarang yang ikut memikul beban perubahan, aku
> > memandangnya dengan timbangan nasional. Era Soekarno dengan
> > Trisaktinya tak lain sebuah thesis. Orde Baru antithesis. maka
> > itu bagiku memang belum bisa ditulis, suatu proses yang belum
> > bisa ditulis secara sastra, belum merupakan suatu keutuhan
> > proses nasional, karena memang masih menuju pada sinthesisnya.
> >
> >
> > Masih di Buru, seorang wartawan Indonesia yang bertingkah-laku
> > sebagai jaksa, mengajukan pertanyaan, apakah aku tidak menaruh
> > dendam terhadap Orde Baru? Ini adalah proses nasional, bukan
> > urusan dendam pribadi. Apa yang kami ceritakan cuma pencerminan
> > tingkat peradaban dan budaya kita sendiri. Kemajuan dan
> > keanekaragaman teknologi, statistik pembangunan ataupun hutang
> > luar negeri, peningkatan infrastrukutr perhubungan dari warisan
> > kolonial, perusakan hutan dan paket banjir tahunan, semua
> > menduduki tempat sebagai rias antithesis dalam proses nasional.
> > Semasa kolonial, Belanda mengekspor pembunuh bayaran berbedil,
> > berseragam dan dengan pangkat-pangkat militer, untuk menaklukkan
> > dan mengendalikan luar Jawa dan Madura. Baru pada 1904, dan
> > sporadis sebelum itu, Belanda mengirimkan orang Jawa tanpa bedil
> > ke luar Jawa-Madura, tapi dengan pacul. Nampaknya kenal betul
> > peta demografis dan geografis Indonesia sehingga dapat menarik
> > kesimpulan klasik yang bisa diambil keuntungannya. Dan Belanda
> > nampaknya juga tahu, para penggantinya tidak akan dapat berbuat
> > lain kecuali meneruskannya; bukan lagi menduduki tempat sebagai
> > ria thesis atau pun antithesis, nampaknya sebagai kodrat yang
> > terbawa oleh kelahiran Indonesia.
> >
> >
> > Satu ironi lagi: Indonesia, yang secara politis dan
> > administratif dipersatukan oleh Soekarno tanpa pertumpahan
> > darah--sebuah fenomena khusus dalam sejarah umat manusia--harus
> > dipertahankan persatuan dan kesatuannya dengan tradisi kolonial,
> > yaitu dua macam export dari Jawa: pembunuh bayaran berbedil dan
> > orang Jawa berpacul. Dengan tradisi seperti itu, Indonesia
> > mempunyai cacat genetik yang parah. Semaoen--penasihat pribadi
> > Presiden Soekarno--pernah memberikan terapi untuk cacat genetik
> > itu: pindahkan ibukota keluar dari Jawa, ke Palangkaraya, di
> > Kalimantan Tengah. Tetapi Semaoen almarhum sudah tidak sempat
> > mengalami apa yang terjadi dengan hutan-hutan di Kalimantan
> > sekarang. Mengunyah masalah ini dalam sastra sudah pasti
> > membutuhkan waktu lama dan belum tentu memuaskan pengarang mau
> > pun pembacanya. Dan kondisi peradaban dan budaya 'kampung' akan
> > menempatkan pengarangnya jadi sasaran kekuasaan yang merasa
> > terancam kemapanannya. Tentu saja yang dimaksud adalah para
> > pengarang yang coba-coba membuat penilaian dan penilaian kembali
> > peradaban dan budaya 'kampung' yang telah memapankan selapisan
> > golongan atas dalam masyarakatnya. Juga para cendikiawan, juga
> > kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang telah cerah,
> > tetapi terutama adalah para pengarangnya, karena profesinya
> > tidak terikat pada sesuatu disiplin ilmu. Kepeduliannya pada
> > pengekspresian kesedaran dan bawahsadarnya pribadi, para
> > penguasa--artinya pembesar, bukan pemimpin--sibuk membuat kordon
> > penyelamat kemapanannya. Pengarang dengan demikian, sebagai
> > pribadi yang hanya punya dirinya sendiri, mendapatkan tekanan
> > terberat. Namun apa pun perlakuan yang ditimpakan padanya,
> > pengalaman pribadinya adalah juga pengalaman bangsanya, dan
> > pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya.
> > Sebagian, kecil atau besar atau seluruhnya, akan membuncah dalam
> > tulisan-tulisannya dan akan kembali pada bangsanya dalam bentuk
> > kenyataan baru, kenyataan sastra. Hakikat fiksi karenanya adalah
> > juga hakikat sejarah.
> >
> >
> > Apabila sebagai pengarang harus kutangguhkan begitu banyak
> > ketidakadilan di tanahair sendiri, penganiayaan lahir-batin,
> > perampasan kebebasan dari penghidupan, hak dan milik, penghinaan
> > dan tuduhan, bahkan juga perampasan hak untuk membela diri
> > melalui mass-media mau pun pengadilan, aku hanya bisa mengangguk
> > mengerti. Sayang sekali kekuasaan tak bisa merampas harga diri,
> > kebanggaan diri, dan segala sesuatu yang hidup dalam batin siapa
> > pun.
> >
> >
> > Kekuatiran akan terganggunya kemapanan, yang sejak masa kolonial
> > dikenal sebagai "rust en orde" dan diindonesiamerdekakan menjadi
> > "keamanan dan ketertiban" tidak jarang melahirkan
> > tuduhan-tuduhan menggelikan.
> >
> >
> > Baik sebelum mau pun selama di Buru dakwaan yang terus-menerus
> > disemburkan Orde Baru adalah: hendak mengubah Pancasila dan
> > Undang-Undang Dasar 45, tanpa pernah mengajukan pembuktian.
> > Biasanya diucapkan di depan appel atau sewaktu santiaji alias
> > indoktrinasi. Salah satu sila dari Pancasila adalah Kemanusiaan
> > Yang Adil dan Beradab. Untuk ukuran kemanusiaan, tanpa tambahan
> > adil dan beradab pun, perlakuan mereka terhadap kami cukup
> > memuakkan, bahkan menjijikkan. Dakwaan merubah UUD? Pernah
> > sekali waktu seorang perwira aku dengar bersumbar: Timor Timur?
> > Uh, dalam dua hari bisa kami atasi. Dan benar, Timor Timur
> > kemudian dicaplok, bagian timur P. Timor yang tak pernah diklaim
> > oleh para pendiri Republik yang menyusun UUD 45 itu. Dari dua
> > dakwaan itu tanpa ragu membuat aku membikin kesimpulan: apa yang
> > dituduhkan itu justru apa yang mereka lakukan atau ingin
> > lakukan. Karena sejumlah kejadian cocok dengan kesimpulan,
> > kadang aku cenderung untuk menilainya sebagai rumus. Tapi
> > kemudian kuperlunak menjadi: apa yang terucapkan sebagai X
> > adalah minus X.
> >
> >
> > Dalam percakapan pribadi beberapa pejabat menyayangkan
> > keanggotaanku pada LEKRA. Jadi menurut gambaran orde Baru, LEKRA
> > adalah organisasi kejahatan. Sampai sekarang pun aku tak pernah
> > menyesal menerima pengangkatan sebagai anggota pleno LEKRA,
> > kemudian diangkat jadi wakil ketua Lembaga Sastra, dan salah
> > seorang pendiri Akedemi Multatuli, semua disponsori LEKRA.
> > Malahan aku bangga mendapat kehormatan sebesar itu, yang takkan
> > diperoleh oleh setiap orang, dan tidak mengurangi kebanggaanku
> > sekiranya benar ia organisasi mantel PKI. Semua itu sudah lewat,
> > tetapi belum menjadi sejarah, karena sebagai proses belum
> > menjadi kebulatan sinthetik. Pada waktu aku masih di Buru
> > ternyata orang pertama LEKRA dan orang pertama Lembaga Sastra
> > sudah lama bebas. Sekiranya aku bukan pengarang, boleh jadi
> > semua perlakuan yang menjijikkan itu tidak akan aku alami.
> > Tetapi pada segi lain, semua yang aku alami merupakan bagian
> > dari fondasi kepengaranganku untuk masa-masa mendatang,
> > sekiranya umur masih memungkinkan dan kesehatan fisik mau pun
> > mental masih bisa diandalkan.
> >
> >
> > X minus X memang membantu aku dalam memahami Orde Baru, yang
> > mereka anggap akan abadi dalam kebaruannya. Sebagai tapol
> > angkatan terakhir yang akan meninggalkan P. Buru, kami masih
> > harus melakukan korve membuat dua macam surat pernyataan sekian
> > salinan, menyatakan tidak akan menyebarkan Marxisme, Leninisme,
> > Komunisme, momok yang mereka bikin-bikin sendiri untuk menjadi
> > ketakutannya sendiri. Surat lain adalah pernyataan, bahwa
> > sebagai tapol kami telah diperlakukan secara wajar di P. Buru.
> > Secara hukum, surat-surat korve tersebut memang surat dagelan,
> > tetapi dengannya kami bisa membeli nomor untuk embarkasi ke
> > kapal yang berangkat ke Jawa. Betapa indahnya sekiranya
> > surat-surat korve itu tersimpan baik dalam arsif negara.
> > Kertas-kertas itu akan jadi bagian sejarah betapa sekian manusia
> > Indonesia telah membuat topeng dan jubah malaikat kesucian untuk
> > para penguasa dan kekuasaannya. Seorang pemimpin tidak
> > membutuhkan jubah dan topeng.
> >
> >
> > Di dermaga pelabuhan Namlea, di mana kapal "Tanjungpandan" sudah
> > siap mengangkut, 500 orang angkatan terakhir yang akan
> > diberangkatkan pulang ke Jawa sudah meninggalkan daratan.
> > Tinggal beberapa belas di antara kami, termasuk aku. Letkol
> > Lewirisa komandan kamp terakhir datang padaku dan bilang tanpa
> > ditanya tanpa diharapkan: "Pram, pelayaran akan langsung ke
> > Jakarta." Itu berarti X minus X, kami, rombongan beberapa belas
> > orang tidak menuju ke Jakarta. Baru kami boleh naik ke kapal dan
> > dikucilkan dari yang lain-lain.
> >
> >
> > Kamp kerja paksa yang kami tinggalkan semula dinamai Tefaat,
> > tempat pemanfaatan tenaga kerja kami, sisa hidup kami, dengan
> > harus membiayai hidup, perumahan, jaringan jalanan ekonomi dan
> > lingkungan, membuat sawah dan ladang dari padang ilalang dan
> > hutan, dan masih harus memberi makan para serdadu yang menjaga
> > kami, masih ditambah dengan pembunuhan terhadap sejumlah dari
> > kami. Menurut korve tulis, itu harus dinyatakan wajar. Juga
> > mereka yang tewas dalam kerjapaksa untuk mendapatkan uang. Juga
> > pembayaran pajak oleh tapol yang melakukan pertukangan dan
> > kerajinan tangan. Untuk siapa dan kepada siapa tidak jelas.
> > Menurut korve tulis ini juga harus dinyatakan wajar. Dan
> > bangunan-bangunan, puluhan banyaknya, besar dan kecil, dengan
> > peralatan rumahtangga, semua dibangun dan dibiayai oleh tapol,
> > juga harus dianggap wajar bila dijual pada instansi lain tanpa
> > ganti rugi pada tapol. Juga perampasan begitu saja sapi-sapinya.
> > Dan semua ini memang sedang menuju pada sejarah, tapi belum
> > sejarah. Masih panjang lagi daftarnya. Semua kebanditan, besar
> > dan kecil akan terpulang pada bangsa ini, bangsaku, yang
> > melahirkan suatu kekuasaan macam ini. Bukan maksudku mendirikan
> > dunia utopi dengan bangsa ini, menduduki bagian dunia dengan
> > tanpa cacat--bangsa-bangsa lain pun punya segi gelapnya--yang
> > aku maksudkan adalah bangsa ini belum melahirkan cercah
> > kecerahan, Verlichting, Aufklarung. Para brahmin tetap masih
> > menduduki tempat sebagai asesori kekuasaan kasta satria, yang
> > hidup dari dan untuk kekuasaan semata, karena memang tidak
> > produktif apalagi kreatif, seperti sebelum datangnya
> > kolonialisme. Tidak mengherankan bila ribuan naskah isinya
> > berputar sekitar ke"hebat"an para satria dalam membunuh yang
> > dianggap lawannya, dan ribuan lagi naskah yang isinya resep
> > tentang hidup bahagia (dalam alam kehidupan sumpek) dan
> > nasihat-nasihat berkelakuan indah dan baik (dalam alam kehidupan
> > banditisme), tentang alam gaib dan teknik berhubungan dengannya
> > (dalam suasana belum lagi mengenal lingkungan sendiri).
> >
> >
> > Apa yang dikatakan letkol Lewerisa tepat minus X. Kami beberapa
> > belas orang sebelum kapal sampai ke Jakarta, diturunkan di
> > Tanjungperak, Surabaya, untuk disimpan di pulau penjara Nusa
> > Kambangan, di selatan Jawa. Hanya karena jasa pers
> > internasional, yang meributkannya, akhirnya kami sampai ke
> > Jakarta, memasuki penjara baru yang lebih longgar. Dalam tahanan
> > kota sejak akhir 1979 sampai 1991, tanpa suatu keputusan
> > pengadilan mana pun. Banyak terjadi korban tuduhan baru, yang,
> > sebagai pengarang tentu saja memperkaya materi yang harus
> > diendapkan. Setidak-tidaknya, membuat sejarah hidup pengarang
> > menjadi semakin panjang.
> >
> >
> > Dalam tahanan kota dengan kebebasan nisbiah dapat kuikuti koran
> > dalam dan luar negeri. Tuduhan ternyata datang berantai dari
> > Indonesia sendiri sampai dari bagian-bagian Asia Timur dan
> > Eropa: semasa Soekarno aku melarang terbit sejumlah buku sesama
> > pengarang. Aku menteror para pengarang Indonesia yang tidak
> > sepikiran dengan artikelku "Yang Harus Dibabat dan Harus
> > Dibangun". Bahkan seorang tokoh sastra terkemuka, memberikan
> > kuliah pada suatu universitas negeri, menyatakan telah dipecat
> > karena ulahku. Kebetulan tokoh tersebut, seperti halnya sejumlah
> > yang lain, semasa revolusi justru menjadi pejabat pada dinas
> > balatentara pendudukan Belanda, sebagian lain, karena umurnya,
> > barangtentu tidak menyertai revolusi.
> >
> >
> > Pecat-memecat dari sesuatu jabatan bukan urusanku, dan memang
> > tidak pernah. Tuduhan-tuduhan itu hanya tabir asap terhadap apa
> > yang mereka sendiri telah dan ingin lakukan. Pada hari-hari awal
> > peristiwa 1965 merekalah yang menteror dan menghancurkan seluruh
> > kertasku, termasuk naskah Panggil Aku Kartini Saja jilid III dan
> > IV, Kumpulan Karya Kartini, Wanita Sebelum Kartini, Kumpulan
> > Cerpen Bung Karno, 2 jilid terakhir trilogi Gadis Pantai, Sebuah
> > Studi tentang Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Studi Percobaan
> > tentang Sejarah Bahasa Indonesia. Sedang direktur Balai Pustaka
> > menjawab atas permintaaanku untuk menarik kembali 2 jilid sastra
> > Pra-Indonesia, mendapat jawaban: telah dibakar atas permintaan
> > atasan.
> >
> >
> > Seorang tokoh sastra penting yang semasa Orla menempatkan diriku
> > sebagai lawan, pernah menyampaikan nama-nama tokoh sastra
> > penting dewasa ini yang ikut menyerbu ke rumahku pada 1965
> > tersebut. Malahan sebelum menyerbu telah mendapat pesan dari
> > tokoh sastra generasi lebih tua agar mengambilkan naskah
> > Ensiklopedi Sastra Indonesia yang sedang aku susun.
> >
> >
> > Pada awal tahun 80-an Beb Vuyk di Belanda melancarkan tuduhan,
> > LEKRA mengirimkan 'knokploeg' untuk menghajar lawan-lawannya. Di
> > antara kurbannya adalah musikolog Bernard Ijzerdraat. Di Belanda
> > isyu tentang pengiriman knokploeg nampaknya tetap hidup sampai
> > menjelang akhir 1991. Waktu terakhir kali Beb Vuyk datang ke
> > Indonesia dan menemui musikolog tersebut, ia mendapat sangkalan
> > darinya. Namun ia tak pernah merevisi tuduhannya. Sebaliknya
> > beberapa anggota LEKRA telah mereka bunuh, di antaranya adalah
> > pematung nasional Trubus dalam perjalanan ke Jakarta memenuhi
> > panggilan Presiden Soekarno. Sampai sekarang tidak ada yang
> > pernah mengaku bertanggungjawab, juga atas pembunuhan ratusan
> > ribu saudaranya sendiri. Memang beda dari apa yang dinamai kaum
> > teroris di Utara, begitu beraksi begitu menyatakan dirinya yang
> > bertanggungjawab, mereka tidak memerlukan topeng atau pun jubah
> > malaikat. Jangankan pembunuhan massal, pencurian
> > sekecil-kecilnya adalah kejahatan, dan semua itu bisa terjadi
> > hanya karena peradaban dan budaya 'kampung', peradaban dan
> > budaya masyarakat bangsa-bangsa yang terasing, merasa tidak aman
> > dan terancam karena ulah sendiri, dan topeng dan jubah kesucian
> > menjadi seragam parade yang mengasyikkan untuk dipanggungkan
> > dalam drama-komik.
> >
> >
> > Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tugas mengelola semua materi
> > yang belum selesai itu dalam suatu karya sastra. Bukan
> > mencerminkan atau memantulkan kejadian-kejadian, karena sastra
> > tidak bertugas memotret, tetapi mengubah kenyataan-kenyataan
> > hulu menjadi kenyataan sastrawi, yang membawa pembacanya lebih
> > maju daripada yang mapan.
> >
> >
> > Apakah sikap demikian sikap subversif, atau kriminal? Itu pun
> > terserah pada tuan-tuan yang berkuasa, yang mempunyai serdadu,
> > polisi, dan perangkat administratif. Tindakannya tak lain dari
> > apa yang tingkat peradaban budayanya bisa berikan. Sekiranya
> > lebih maju dari takaran peradaban dan budayanya, semoga
> > demikian, boleh jadi itu suatu isyarat positif, kutukan 7
> > turunan Gandring tidak akan berlaku sampai 2 generasi, karena
> > babak sinthesis sedang di ambang pintu. Yang jelas, semua yang
> > telah terjadi akan abadi dalam ingatan bangsa ini dan umat
> > manusia sepanjang abad, tak peduli orang suka atau tidak. Para
> > pengarang akan menghidupkannya lebih jelas dalam karya-karyanya.
> > Para pembunuh dan terbunuh akan menjadi abadi di dalamnya
> > daripada sebagai pelaku sejarah saja. Topeng dan jubah suci akan
> > berserakan.
> >
> >
> > Sekali lagi, maaf.
> >
> >
> > Jakarta, November 1991.
> >
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
Yahoo! Answers
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/