sedikit juga orang gila gadang-ota-nyali-kicil yg seperti jusfiq bin 
leiden ini, yg bermental hondje van mook, tapi urat malunya udah 
putus dan rajin sekali menjilat pantat ide kolonial.

untuk itu gelar sebagai pengkhianat bangsa musti diberikan pada 
jusfiq bin leiden.

hehehe...

pak umar itu wartawan kawakan garis kiri yg mendukung kemerdekaan 
republik indonesia, sedangkan jusfiq itu ada dibagian van mook, jadi 
gak cocok. 

--- In [email protected], "utusan.allah" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:


Sedikit bekas pendukung Orde "Demokrasi Terpimpin" yang segigih Umar
Said ini menuntut keadilan bagi korban penindasan Orde baru Soeharto.

Untuk itu penghargaan perlu diberikan kepadanya.

Yang saya sayangkan - yang saya salahkan - adalah bahwa hingga
sekarang dia, seperti juga hampir semua pendukung orde Demokrasi
Terpimpin, TIDAK bersedia mengakui kesalahan dan kebiadaban orde
Demokrasi Terpimpin yang adalah diktatur itu.


--- In [email protected], "Umar Said" <kontak@> wrote:
>
>  Tulisan ini juga disajikan dalam website
> 
> http://perso.club-internet.fr/kontak)
> 
> 
> 
>                            In memoriam :
> 
> 
> 
> Soedjinah, pimpinan Gerwani
> 
> dan pendukung Bung Karno
> 
> 
> 
> 
> 
> Berikut di bawah adalah  sekelumit dari riwayat hidup Soedjinah, 
seorang
> wanita Indonesia yang dalam hidupnya dari sejak muda belia sudah
ikut dalam
> perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia, yang kemudian menjadi
> pimpinan organisasi wanita yang terbesar di Indonesia, Gerwani.
Soedjinah
> dipenjara selama belasan tahun oleh rezim militer Orde Baru setelah
> ditangkap dalam tahun 1967 karena ia aktif melakukan kegiatan-
kegiatan
> bersama sejumlah kawan-kawannya dalam gerakan PKPS (Pendukung 
Komando
> Presiden Sukarno).
> 
> 
> 
> Soedjinah, yang pernah beberapa tahun mewakili gerakan wanita 
Indonesia
> dalam Gabungan Wanita Demokratik Sedunia (GWDS) dan ikut dalam 
berbagai
> konferensi internasional, telah mengalami bermacam-macam siksaan 
selama
> dalam tahanan militer, seperti halnya banyak wanita lainnya yang 
pernah
> ditahan atau dipenjarakan selama bertahun-tahun oleh rezim Suharto 
dkk.
> 
> 
> 
> Dengan menyimak sejenak riwayat hidupnya, yang berupa wawancara
dengan HD
> Haryo Sasongko (editor buku "Terempas Gelombang Pasang" karya 
Soedjinah,
> terbitan ISAI)  maka kita semua ingat kembali kepada kekejaman dan
> kesewenang-wenangan rezim Suharto terhadap orang-orang kiri, 
termasuk
> anggota dan simpatisan PKI dan pendukung Presiden Sukarno.
> 
> 
> 
> Riwayat hidup Soedjinah, yang menggambarkan bagaimana ia telah 
berjuang
> untuk bangsa, dan khususnya untuk kebangkitan dan kebebasan wanita
> Indonesia, perlu diketahui oleh banyak orang, terutama generasi muda
dewasa
> ini dan di masa-masa yang akan datang.. Selain itu, penyajian secara
singkat
> kisah hiduppnya ini juga untuk mengingat kembali betapa besar 
kekejaman
> rezim militer Suharto dkk  terhadap ratusan ribu -- bahkan jutaan --
> orang-orang yang tidak bersalah apa-apa.
> 
> 
> 
> Soedjinah, yang di harituanya � sampai wafatnya -- terpaksa 
tinggal di
> sebuah rumah jompo di  Jakarta,  hanyalah seorang dari begitu banyak
> kader-kader, aktifis, dan pimpinan Gerwani, yang telah dipersekusi 
di
> seluruh Indonesia. Sekarang ini masih banyak di antara mereka yang 
tetap
> terus  mengalami berbagai penderitaan sebagai eks-tapol.
> 
> 
> 
> Mengingat itu semualah maka berikut ini disajikan wawancara dengan
> Soedjinah, yang dilakukan oleh HD Haryo Sasongko dalam bulan
Desember 2000,
> yang selengkapnya adalah sebagai berikut.
> 
> 
> 
>   1.. Umar Said
> 
> 
>  *    *   *   *
> 
> 
> 
> 
> 
> Tanggal 6 September 2007, SOEDJINAH telah meninggal dunia. Untuk
mengenang
> wafatnya tokoh  wanita yang pernah terlibat dalam perjuangan fisik
di masa
> revolusi kemerdekaan dan perjuangan politik di masa prakemerdekaan,
namun
> nasib dirinya sendiri  tidak merdeka sampai di akhir hidupnya, 
berikut
> dikutip kembali sinopsis wawancara dengan SOEDJINAH, diangkat dari
kumpulan
> dokumen tentang Korban Tragedi '65. Karena wawancara dilakukan pada
tahun
> 2000, jadi tidak mencakup kisah SOEDJINAH ketika masuk ke rumah 
Jompo.
> Semoga ada manfaatnya. (HD. Haryo Sasongko)
> 
> 
> 
> � Menyaksikan dan merasakan hidup terjajah, Soedjinah terpanggil
untuk ikut
> bergerilya membantu Tentara Pelajar dan laskar-laskar lainnya yang
berniat
> mengusir penjajah. Karena tak tahan melihat darah, dia memilih 
sebagai
> kurir. Selama Perang Kemerdekaan dia tak pernah absen, baik dalam
menghadapi
> Clash I atau Clash II. Usai penyerahan kedaulatan barulah dia 
kembali ke
> sekolah, kuliah dan kemudian aktif di Pemuda Rakyat serta Gerwani.  
Dari
> sana dia kemudian melanglang buana, menghadiri berbagai forum 
pertemuan
> internasional. Namun tragedi 1965 membawanya masuk penjara dan
disekap di
> sana selama 16 tahun. Toh, di balik terali besi itu, dia terus
melanjutkan
> perjuangannya. Dia pun menulis pengalaman, puisi dan cerita pendek
di kertas
> yang dicurinya dari petugas penjara. Kini di masa tuanya, tanpa
suami tanpa
> anak,  Soedjinah memanfaatkan kemampuannya berbahasa Inggris,
Belanda dan
> Jerman dengan menjadi penerjemah dan memberikan kursus di LSM 
maupun di
> rumah kontrakannya.
> 
> 
> 
> Ikut Bergerilya dan Melanglang Buana
> 
>      Sebagai anak pertama dari seorang Abdi Dalem Kraton Kasunanan
Sala yang
> lahir pada tahun 1929 ini,  Soedjinah mendapat kesempatan mengecap
> pendidikan HIS selama tujuh tahun sampai tamat yang kala itu 
sebenarnya
> hanya terbuka bagi keluarga orang-orang Belanda atau keluarga 
bangsawan
> saja. Hal itu terjadi karena Soedjinah "didekati" oleh seorang 
putera
> Mangkubumi. Karena itu pula Soedjinah sudah menguasai bahasa Belanda
sejak
> masa kanak-kanak. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di MULO, namun
kali
> ini tidak sampai tamat karena baru menginjak tahun pertama Jepang
datang.
> Sehingga Soedjinah harus melanjutkan pendidikan di sekolah Jepang 
selama
> tiga tahun dan selesai di masa penjajahan Jepang.
> 
> 
> 
>      Ketika itu Soedjinah mulai merasakan perlakuan penjajah Belanda
maupun
> Jepang yang sama-sama merendahkan bangsanya. Mula-mula dia harus 
memberi
> hormat terhadap orang-orang Belanda dan kemudian terhadap orang-
orang
> Jepang. Sementara orang-orang pribumi tetap menjadi warga kelas tiga
pada
> strata yang paling bawah. Lebih-lebih Soedjinah sangat sakit hati 
karena
> ketika itu � dengan alasan untuk biaya perang � Jepang menyita 
harta
benda
> milik rakyat pribumi seperti emas atau berlian sambil melakukan
pemerasan
> serta pelecehan seksual terhadap kaum wanita.
> 
> 
> 
>     Karena itu sejak Proklamasi Kemerdekaan Soedjinah menyambut 
gembira
> dengan ikut serta di badan-badan perjuangan. Pada masa perang
kemerdekaan
> berkecamuk, Soedjinah pada tahun 1946-47 (Clash I) masuk dalam 
Barisan
> Penolong sebagai kurir dan membantu logistik dapur umum di tengah 
medan
> pertempuran yang terjadi antara lain di daerah  Ampel dekat Salatiga
hingga
> Tengaran dekat Semarang. Dia bergaul akrab dengan para laskar
pejuang muda
> yang kebanyakan dari TP (Tentara Pelajar), antara lain dipimpin oleh
Achmadi
> yang di kemudian hari menjadi seorang menteri pada masa pemerintahan
Bung
> Karno.
> 
> 
> 
>      Pada Clash II yang berlangsung hingga tahun 1949, Soedjinah
juga ikut
> aktif bergerilya  bersama tentara dan TP sampai di Bekonang  dan 
tempat
> tempat lain. Salah seorang pimpinannya yang masih diingat Soedjinah
ialah
> Soebroto yang  di kemudian hari juga menjadi menteri. Ketika itu
Soedjinah
> berperan sebagai  kurir antar pasukan gerilya yang berada di desa 
dan di
> perkotaan. Siang malam harus jalan kaki menyusup di pedesaan untuk
> menghindari patroli Belanda.
> 
> 
> 
>      Tahun 1950 ketika terjadi cease fire, Soedjinah kembali ke kota
(Sala)
> untuk melanjutkan sekolah sampai dapat menyelesaikan SMAnya di
Yogyakarta
> pada tahun 1952. Ketika itu Soedjinah pernah mendapatkan beasiswa
untuk 5
> tahun. Dia manfaatkan beasiswa itu untuk masuk  ke Universitas Gajah
Mada di
> fakultas sosial politik yang sayangnya hanya sampai tiga tahun saja
karena
> beasiswa sudah tidak ada lagi. Selanjutnya Soedjinah aktif di
Pesindo yang
> di kemudian hari menjadi Pemuda Rakyat dan juga di Gerwis yang di
kemudian
> hari menjelma menjadi Gerwani. Bahkan ketika Gerwis menyelenggarakan
> Konferensi Nasionalnya yang pertama di Surabaya pada tahun 1951,
Soedjinah
> sudah ikut serta di mana ketika itu juga ada SK Trimurti sebagai 
salah
> seorang ketuanya. Pada masa itu di samping Gerwis juga sudah ada
organisasi
> wanita Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang sudah 
berdiri
> sejak 1946 dan Aisyiyah dari Masyumi. Sejak Konferensi Nasional yang
pertama
> itu, Gerwis sudah menjadi anggota Gabungan Wanita Demokratis 
Sedunia.
> 
> 
> 
>       Dalam Kongres Gerwis di Jakarta pada 1954, barulah namanya 
berubah
> menjadi Gerwani dan sekretariatnya pun pindah dari Surabaya ke 
Jakarta
> dengan Ketua Umum Umi Sardjono. Sejak itu pula Gerwani mengembangkan
> sayapnya dan jumlah keanggotaannya terus meningkat di seluruh 
Indonesia.
> Soedjinah semakin aktif di organisasi ini. Aksi-aksi menentang 
kenaikan
> harga bahan pokok, pemerkosaan dan pelecehan seksual menjadi salah
satu tema
> perjuangan Gerwani yang banyak menarik simpati masyarakat wanita,
sehingga
> sebelum pecahnya tragedi 1965, Gerwani merupakan organisasi wanita
terbesar
> di Indonesia.
> 
> 
> 
>      Ketika pada tahun 1955 diselenggarakan Festival Pemuda Sedunia
di Praha
> Chekoslovakia, Soedjinah mengikutinya sebagai wakil dari Pemuda 
Rakyat.
> Seusai Festival, Soedjinah mendapat tugas dari Gerwani untuk 
bekerja di
> Sekretariat Gabungan Wanita Demokratis Sedunia yang berkedudukan di
Berlin
> Timur selama dua setengah tahun. Di sinilah puteri Abdi Dalem 
Keraton
> Kasunanan Sala ini  medapat banyak pengalaman  dalam pergaulan 
dengan
> wakil-wakil gerakan wanita berbagai negara, baik dari AS, negara-
negara
> Eropa Barat, Timur, Australia, Afrika maupun sesama negara-negara di
Asia.
> Ketika itu wanita Asia yang mengikuti kegiatan kewanitaan di forum
> internasional baru dari India, China dan Indonesia. Selama aktif
bekerja di
> Berlin Timur itu, Soedjinah mendapat kesempatan pula untuk 
memperdalam
> pengetahuan dalam bahasa Inggris dan Jerman yang  dilakukannya
seusai tugas
> kantor.
> 
> 
> 
>      Dari Gerakan Wanita Demokratis Sedunia itu pula Soedjinah 
kemudian
> mendapat tugas "melanglang buana" dengan mengikuti kongres-kongres
di Eropa
> seperti di Prancis, Denmark, Italia, Austria, Finlandia, Yugoslavia,
Swedia
> dan juga Uni Soviet dan China. Tahun 1957 Soedjinah baru kembali ke
> Indonesia dan banyak membuat karya-karya jurnalistik berupa laporan
> perjalanan yang pernah dilakukannya di berbagai suratkabar, di 
samping
> menjadi penerjemah untuk bahasa Inggris, Belanda dan Jerman bagi
tamu-tamu
> asing yang mengunjungi sekretariat Gerwani. Di samping karya-karya
> jurnalistik, untuk menambah pendapatan guna menopang biaya hidup 
(karena
> dana dari organisasi tidak mungkin mencukupi), Soedjinah juga 
membuat
> karya-karya sastra dengan menulis cerita pendek, esai atau puisi 
dan dimuat
> di berbagai media.
> 
> 
> 
>      Tahun 1963 Soedjinah aktif sebagai penerjemah untuk perwakilan
kantor
> berita asing di Indonesia, antara lain Pravda (Uni Soviet) di
samping dia
> sendiri aktif menulis pemberitaan di suratkabar dalam negeri. 
Karena itu
> Soedjinah sering juga keluar masuk Istana Merdeka dan bertemu
tokoh-tokoh
> nasional. Ketika diselenggarakan Kongres Buruh Wanita Internasional 
di
> Rumania, Soedjinah ditunjuk oleh pimpinan Sobsi sebagai penerjemah 
untuk
> delegasi Gerwani Indonesia. Selanjutnya mendapat undangan untuk
mengunjungi
> China.
> 
> 
> 
> Haappp ... Lalu Ditangkap
> 
>      Aktivitasnya di DPP Gerwani  di Bagian Penerangan dan 
Penerjemahan,
> membuat dia harus sering tidur di kantor. Sampai kemudian, 
terjadilah
> Peristiwa Gestapu dan dirinya bersama kawan-kawan lainnya ditangkap
dalam
> suatu penggerebegan yang dilakukan oleh suatu aparat keamanan.  
Padahal,
> semua personil Gerwani sedang sibuk menyiapkan suatu acara, sehingga
mereka
> kaget ketika di siang hari tanggal 1 Oktober 1965 mendengar warta 
berita
> tentang telah terjadinya peristiwa pembunuhan sejumlah jenderal di
Lubang
> Buaya dan juga tentang telah dibentuknya Dewan Revolusi untuk
menggagalkan
> rencana kudeta Dewan Jenderal. Mereka benar-benar tak tahu menahu
tentang
> hal itu. Konsentrasi mereka masih pada rencana penyelenggaraan 
Kongres
> Gerwani. Terdorong keingintahuannya, Soedjinah pada hari itu pergi
ke kantor
> CC PKI dan ternyata kantor itu sudah dirusak massa. Soedjinah tak 
mau
> kembali ke kantor DPP Gerwani, tetapi juga tak pulang ke rumah 
tempat
> tinggalnya. Dia pilih berkeliling menyelinap dari tempat ke tempat 
untuk
> mencari informasi lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya  telah
terjadi.
> 
> 
> 
>      Dan informasi memang terus mengalir. Penangkapan-penangkapan 
telah
> terjadi atas diri para tokoh Gerwani. Rumah yang ditempati 
Soedjinah dan
> dalam keadaan sudah dikosongkan, juga kantor DPP Gerwani itu 
sendiri,
> ternyata sudah dijarah. Dia menginap dari satu tempat ke lain tempat
secara
> sembunyi-sembunyi di rumah kenalan atau saudara. Tak pernah ada
tempat yang
> diinapinya  sampai tiga malam berturut-turut.  Pernah juga dia
tinggal di
> rumah mantan Kolonel Suwondo  dari Divisi Brawijaya yang dikenalnya
sebagai
> pendukung Bung Karno.
> 
> 
> 
>      Di tengah situasi politik yang memanas, Soedjinah bersama 
sejumlah
> kawannya yang sehaluan dalam mendukung Bung Karno sempat membuat 
buletin
> bernama PKPS (Pendukung Komando Presiden Soekarno).  Ketika itu 
Soeharto
> sudah mencium adanya kegiatan tersebut dan siapa yang terbukti 
sebagai
> pendukung Soekarno ditangkap. Selama dua tahunan, Soedjinah terus
> "bergerilya" sambil menyebarkan buletin ini ke tengah masyarakat.
Termasuk
> ke kedutaan-kedutaan negara asing. Sampai akhirnya dia tertangkap
pada 17
> Februari  1967 di rumah seorang kawan (yang juga ikut ditangkap) di
daerah
> Pasar Minggu Jakarta Selatan.
> 
> 
> 
>      Soedjinah dibawa ke suatu tempat � mungkin sebuah sekolah
tionghoa di
> daerah Pintu Besi yang dijadikan semacam posko di Gunung Sahari 
Jakarta
> Pusat - oleh petugas keamanan yang menangkapnya dan mulailah dia
menyaksikan
> bahkan mengalami sendiri berbagai bentuk penyiksaan yang amat kejam
bahkan
> banyak tahanan yang sampai mati dalam penyiksaan. Dia sendiri 
(seperti
> kawan-kawan lainnya yang sama-sama tertangkap, antara lain Soelami,
Soeharti
> dan Sri Ambar) ditelanjangi dan dipukuli dengan rotan oleh delapan 
orang
> tentara berbaju loreng. Seorang di antaranya, Letkol Acep, pimpinan
di posko
> tersebut, konon pernah dididik oleh CIA. Ketika kelihatan Soedjinah
hampir
> mati  - dan dia memang pura-pura mati - barulah seorang tentara
melerai agar
> penyiksaan dihentikan  sehingga  tahanan dapat dibawa ke pengadilan.
Padahal
> di bagian belakang halaman gedung tempat penyiksaan itu sudah digali
> lubang-lubang untuk mengubur mayat mereka yang mati disiksa.
> 
> 
> 
>     Soedjinah bersama tiga kawannya yang tidak sampai mati dalam
penyiksaan
> itu akhirnya dibawa ke tempat lain secara berpindah-pindah hingga
lima kali
> (yang masih diingat, Kodam Jayakarta, kantor CPM Guntur), untuk 
kemudian
> ditahan di Penjara Wanita Bukitduri guna diajukan ke pengadilan 
karena
> terbukti menerbitkan PKPS. Karena dianggap sebagai orang berbahaya, 
maka
> Soedjinah dimasukkan ke sel khusus untuk diisolasi. Di Bukitduri 
inilah
> Soedjinah bertemu dengan banyak kawan-kawan sesama Gewani, baik 
tingkat
> pimpinan, aktivis hingga anggota biasa dan simpatisan.
> 
> 
> 
>      Di tempat ini pula dia bertemu dengan anak-anak perempuan muda 
yang
> ditangkap di Lubang Buaya. Mereka berusia sekitar 14 tahunan
sehingga dapat
> dipastikan bukanlah anggota Gerwani, karena batas minimal usia agar 
bisa
> menjadi anggota Gerwani adalah 18 tahun. Dari merekalah Soedjinah
mendapat
> kepastian bahwa tidak ada adegan mencungkil mata apalagi memotong 
alat
> kelamin para jenderal. Mereka di sana karena ikut latihan 
sukarelawan
> Dwikora dari Pemuda Rakyat dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia.
> Merekalah yang ketika ditangkap malah diperkosa oleh aparat yang
> menangkapnya dan dipaksa untuk mengaku sebagai anggota Gerwani. Di
antara
> mereka yang menghadapi pemaksaan dan penyiksaan itu � ada yang
bernama Emi -
> adalah pelacur muda yang masih buta huruf, dan baru saja bebas dari
Penjara
> Bukitduri sebulan sebelumnya akibat kasus kriminal.
> 
> 
> 
>       Di sel isolasi khususnya, Soedjinah  tidak dapat berkomunikasi
dengan
> siapa pun karena tertutup rapat dan hanya ada lubang kecil untuk
bernafas.
> Sehari hanya diberi kesempatan keluar untuk "angin-angin" selama
satu jam
> dengan penjagaan ketat. Makanan hanya diberikan sekali sehari
sekitar dua
> sendok nasi saja atau jagung rebus sekitar 40-60 butir. Bila ada
kesempatan
> keluar sebentar, dia makan daun apa saja yang ada di dekatnya untuk
menutup
> rasa laparnya Dia diisolasi penuh di tempat ini selama 8 tahun, 
untuk
> selanjutnya dipisah di sel isolasi untuk tahanan kriminal. Di sel 
ini
> Soedjinah dapat mencuri-curi kesempatan agar bisa berdialog dengan
tahanan
> kriminal dan mendapatkan banyak informasi dari mereka  tentang
kenapa mereka
> ditahan dan bagaimana pula perlakuan aparat penguasa terhadap 
tahanan
> politik maupun tahanan kriminal selama di dalam selnya.
> 
> 
> 
>      Sementara itu pemeriksaan atas dirinya masih berjalan terus. Di
antara
> mereka yang melakukan pemeriksaan itu adalah bekas teman sekolah 
Soedjinah.
> Ketika kemudian diajukan ke depan pengadilan di Pengadilan Jakarta 
Pusat
> pada tahun 1975 (hanya empat orang anggota Gerwani yang ketika itu
diajukan
> ke depan pengadilan, yakni Soedjinah, Soelami, Soeharti dan Sri
Ambar karena
> terbukti menyebarkan buletin PKPS dan nyata-nyata menentang rezim
> Soeharto-Nasution), seorang hakim yang mengadilinya adalah teman
kuliahnya
> ketika di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.  Hakim itu � 
keponakan SK
> Trimurti � masih mengenal baik siapa Soedjinah - ketika itu menjadi
terdakwa
> II - yang kemudian divonisnya dengan hukuman 18 tahun. Vonis ini 
tidak
> berubah ketika Soedjinah  mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi.
Sesama
> aktivis Gerwani lainnya yang  juga mendekam di Penjara Bukitduri,
seperti
> Tanti Aidit, Ny. Mudigdo dan Umi Sardjono - semua pimpinan Gerwani -
yang
> bertemu dengan Soedjinah tidak ada yang diadili karena tidak ada 
bukti
> apa-apa yang dapat diajukan ke depan pengadilan kecuali sebagai 
aktivis
> Gerwani itu saja.
> 
> 
> 
>      Sekitar tahun 1980, dari Penjara Wanita Bukitduri Soedjinah
dipindahkan
> ke Penjara Tangerang. Di tempat inilah dia mendapatkan kesempatan 
untuk
> menuliskan semua yang dialaminya selama di Penjara Bukitduri, 
termasuk
> pengakuan sesama tahanan � para gadis remaja yang tertangkap di
Lubang Buaya
> dan dipaksa mengaku sebagai anggota Gerwani itu � di kertas-kertas 
yang
> dicurinya. Ketika itu, karena mempunyai kemampuan melukis, Soedjinah
diberi
> tugas membuat  disain untuk kain bordir yang akan dikerjakan sesama
tahanan
> wanita. Sebagai "disainer" tentu saja dia membutuhkan kertas dan
pensil. Dan
> inilah memang yang sesungguhnya dia cari. Sebagian kecil dari kertas
yang
> disediakan petugas penjara itu dia curi, disembunyikan, yang  
kemudian
> dipakai  untuk menuliskan catatan-catatan tentang pengalaman sesama
tahanan,
> juga puisi bahkan cerita pendek. Catatan yang ditulis di toilet di 
dalam
> selnya ini kemudian diselundupkan lewat seorang wartawan dari Harian
Sinar
> Harapan  (kini Suara Pembaruan) yang menyaru sebagai arsitek dan 
tukang
> bangunan sehingga bisa sering datang mendekatinya.  Tulisan yang
dikumpulkan
> oleh si wartawan itulah yang di kemudian hari diserahkan kembali 
kepada
> Soedjinah sesudah dia bebas dan diterbitkan oleh Lontar sebagai 
buku.
> 
> 
> 
>      Di penjara Tangerang, Soedjinah memang sedikit mendapatkan
kebebasan,
> tidak dikurung dalam sel lagi. Namun tetap dengan baju biru karena
statusnya
> masih tetap "disamakan" dengan tahanan kriminal.Dia banyak 
memberikan
> bimbingan dan pelajaran bahasa Inggris kepada para tahanan kriminal
sehingga
> mereka memanggilnya "mamie" kepada Soedjinah. Tahun 1983 dia baru
dibebaskan
> sehingga dia total menjalani hidup di belakang terali besi selama 16
tahun
> dari 18 tahun yang harus dijalaninya. Di luar penjara, tidak 
berarti dia
> benar-benar bebas merdeka. Di samping masih dikenai wajib lapor 
diri di
> Kodim Jakarta Selatan sampai 1997, KTPnya juga diberi stigma "ET"
sampai 14
> tahun kemudian dan tanda itu baru hilang setelah Soeharto lengser.
> 
> 
> 
>      Ketika dibebaskan, Soedjinah tinggal di rumah saudaranya �
Widodo yang
> juga pernah mendekam di Pulau Buru � yang berada di Gandul. 
Menyadari
> dirinya tak mungkin bisa bekerja di instansi pemerintah berhubung
> stigmatisasi pada KTPnya itu, maka untuk menghadapi hari-hari 
depannya
> Soedjinah hanya bisa mengandalkan kegiatan memberikan les bahasa
asing untuk
> menghidupi dirinya.  Dia mengambil sertifikat untuk penerjemah 
bahasa
> Belanda di Erasmushuis selanjutnya dia mengambil sertifikat sebagai 
guru
> bahasa Inggris di LIA. Dengan modal inilah Soedjinah menapaki hari-
hari
> kebebasannya dalam usia tua sebagai penerjemah dan guru bahasa
Inggris di
> sejumlah LSM, antara lain Kalyana Mitra dan Solidaritas Perempuan 
serta
> Yasalira yang dikelola oleh Kartini Syahrir.
> 
> 
> 
>      Beberapa karya terjemahan telah dihasilkan pula, antara lain 
dari
> tulisan Carmel Budiardjo dan sejumlah penulis dari Australia. Kini,
> Soedjinah yang pernah mendapatkan Award dari Hawaii University dan
Hamlet
> Award  karena ketekunannya untuk terus menulis meskipun berada di 
dalam
> penjara, tinggal seorang diri di sebuah rumah sewa ukuran kecil yang
harus
> dibayarnya setiap bulan Rp 125.000,-  Di rumah itu pula dia
memberikan les
> bahasa Inggris untuk beberapa orang sambil terus menulis buku.  Agar
bisa
> lebih konsentrasi dalam menekuni pekerjaannya, dia tak mau repot-
repot
> memasak dan mencuci pakaian sendiri. Semua diserahkan kepada
tetangganya dan
> dia tinggal memberikan uang lelah kepada tetangganya itu.
> 
> 
> 
>      Kini dia sedang menunggu bukunya "Terhempas Gelombang Pasang"  
yang
> berisi memori pribadinya selama dalam penahanan yang  diterbitkan
oleh ISAI
> dan "Mereka yang Tersisih" (kumpulan 18 cerpen) yang diterbitkan 
dalam
> bahasa Inggris oleh Yayasan Lontar. Dengan pengeluaran bulanan
sekitar  Rp
> 500.000,- Soedjinah yang beragama Islam dan kini berusia  72 tahun
ini masih
> bisa menyisakan sedikit uang untuk membantu saudara-saudaranya di
Sala yang
> mengalami kesulitan mengarungi sisa hidupnya karena identitas mantan
tapol
> dan stigmatisasi pada KTPnya. Karena sikapnya yang suka menjalin
keakraban
> dengan tetangga, sejak bebas hingga kini Soedjinah tak pernah 
mengalami
> kesulitan dalam mensosialisasikan diri di lingkungan masyarakatnya.
Demikian
> juga bila dia sekali waktu pulang ke Sala, kota kelahirannya. Para
tetangga
> menyambutnya dengan baik , lebih-lebih karena orangtuanya dulu 
dikenal
> sebagai seorang guru mengaji.
> 
> 
> 
> * * *




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke