http://www.tribun-timur.com/view.php?id=48822&jenis=Opini
Rabu, 12-09-2007
Salam Tribun
Antisipasi Ancaman Kekeringan
KEKERINGAN lahan dan kelangkaan air kembali mencemaskan petani dan
masyarakat pedesaan. Sejak Juli hingga Agustus 2007, ratusan hingga ribuan
hektare lahan sawah di berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa
Barat, dan Nusa Tenggara Barat sudah mengalami kekeringan. Sebagian besar
tanaman padi mengalami puso atau gagal panen. Petani tak bisa berharap banyak
terhadap hasil panen padi.
Departemen Pertanian menyatakan, hingga 31 Juli 2007, luasan kekeringan
tanaman padi sudah mencapai 15.386 hektare. Dalam mengantisipasi kelangkaan air
pada musim kemarau, departemen pertanian meminta petani yang memperoleh air
dari saluran irigasi sektor III dan IV untuk menunda penanaman padi.
Penundaan tanam bertujuan memutus siklus hama dan penyakit tanaman yang
sering memanfaatkan musim kering. Kebijakan menunda tanam tidak akan mengurangi
target produksi beras nasional hingga akhir tahun sebesar 58,1 juta ton gabah
kering giling. Pasokan air dari saluran irigasi untuk persawahan di sektor III
dan IV akan diupayakan tetap lancar dengan pengaturan yang lebih baik.
Kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, setiap tahun, menjadi
bencana yang tak terhindarkan. Keadaan yang sangat merugikan petani itu tidak
hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara Asia yang lain, kekeringan juga
selalu membuat petani padi resah. Mereka tidak bisa memanen tanaman padinya.
Di Filipina, untuk mengatasi masalah tersebut, ilmuwan pada lembaga
penelitian padi internasional (IRRI), berusaha mengembangkan varietas padi yang
dapat beradaptasi pada situasi kekeringan dan kelangkaan air. Teknologi yang
memampukan padi tumbuh di lahan kering tanpa genangan air disebut sistem padi
aerobik.
Tanaman padi aerobik sudah dikembangkan secara luas di Cina dan Brasil.
Kapasitas produksi padi aerobik mencapai empat ton sampai enam ton padi per
hektare. Penanaman dan pemeliharaan padi aerobik juga sederhana, sama dengan
cara menanam gandum atau jagung, yakni dengan metode penyemaian langsung.
Di Indonesia, dalam mengatasi kekeringan di musim kemarau, pemerintah
membuat hujan buatan. Hujan yang mampu meningkatkan debit dan permukaan air,
terutama di waduk-waduk pemasok air irigasi. Memang, sejumlah teknologi sudah
diperkenalkan seperti teknik penanaman padi yang mampu bertahan dalam kondisi
air minim, yakni System of Rice Intensification.
Namun, sebagai negara dengan lahan pertanian yang luas dan mayoritas
penduduknya petani, penelitian dan pengembangan tanaman pangan seharusnya
menjadi fokus utama perhatian pemerintah. Bayangkan, IRRI di Filipina sudah
sampai pada persilangan jenis padi aerobik tropis agar produktivitasnya tinggi,
kendati pasokan air minim. Kekeringan atau kelangkaan air tak lagi menghantui
petani setiap tahun. (*
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/