Sekedar tambahan informasi:

Saya dulu koresponden Tempo di negeri Belanda, di ajak oleh Fikri Jufri.

Saat bersamaan saya juga 'medewerker' (wartawan lepas) harian Belanda
NRC-Handelsblad.

Tulisan saya di Tempo suka di rewrote oleh redaksi di Jakarta, seperti
laporan saya tentng sidang IGGI di tulis kembali oleh mereka sehingga
isinya tidak banyak beda dengan laporan dari Kompas yang muji-muji
pemerintah Indonesia.

Tulisan saya di NRC-Handelsblad tentang Indonesia Timor-Timur, juga
selalu kritis terhadap pemerintah Indonesia.

Nah sekalinya KBRI sewot, karena bertentangan dengan apa yang
dikatakan Sudomo, Timor-Timur saya bilang belum amat. Diplomat yang
menilpon saya adalah saudara sepupu Fikri Jufri.

Kelanjutannnya: (ini menurut Fikri), Departemen Penerangan memanggil
Gunawan Muhamad dan meneyuruh memberhentikan saya sebagai koresponden
 Tempo.

Dan Gunawa menerima perintah itu tanpa protes.

Ketika cerita ini saya sampaikan di mailing list "apakabar" di zaman
John, Gunawan bilang saya bukan koresponden Tempo tapi stringer,
padahal tiap orang bisa membaca di colofoon Temppo bahwa saya
koresponden. Ketika saya bantah omongan Gunawan itu dia hanya bilang
(saya kutip dari ingatan): bertengkar dimuka umum hanya menguntungkan
Soeharto.

Dan dia, tentu saja, tidak membantah apa yang saya katakan.

--- In [EMAIL PROTECTED], JASP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Resensi
> Main Mata dengan Kekuasaan
> 
> " WARS WITHIN " , merupakan salah satu tulisan sangat bagus mengenai 
> Pers Indonesia dan pembungkamannya. Sekaligus juga merupakan salah 
> satu tulisan yang patut dicermati betapa korupsi melanda Indonesia 
> dan betapa kekuasaan Habibie dan ICMI yang merupakan salah satu 
> penyebab " hancurnya " Tempo dan pengkhianatan wartawannya karena 
> kepentingan , entah ideologi ataupun pengaruh kekuasaan.
> 
> Tempo yang idealismenya tinggi akhirnya toh bertekuk lutut karena 
> kompromi mengenai hidupnya majalah tersebut dan penghidupan keluarga 
> insan pers PT Tempo. Ada juga ceritera mengenai pertikaian Marii 
> Muhamad yang dikenal sebagai pejabat idealis berwacana Nasionalis 
> yang bertikai dengan Habibie yang dikenal sebagai barangkali salah 
> satu " penghancur " ekonomi Indonesia dengan skandal kapal murah yang 
> menghabiskan dana 1 Milyar USD , investasi industri Dirgantara yang 
> menghabiskan dana USD 2 milyar . Luar biasa " kapal keruk Habibie " 
> ini dan sampai hari ini Dirgantara Indonesia tetap menyisakan banyak 
> kesengsaraan dan juga masih dalam masalah berat.
> 
> Apakah Tempo bersalah sehingga kehilangan idealismenya ? Mungkin juga 
> banyak kesulitan dan banyak pertentangan dalam menyelamatkan hak 
> hidup sehingga " keterpaksaan " membuat Tempo berkompromi. Buku " 
> Wars Within " merupakan tulisan yang mengharuskan kita memikirkan 
> lagi mengenai mati hidupnya pers Indonesia !
> 
> 
> Penulis: Janet Steele, @2005
> Penerbit: EQUINOX dan ISEAS, xxxiv + 328 halaman
> 
> Menelisik seluruh halaman buku ini, versi Indonesia diluncurkan akhir 
> bulan lalu, kelihatanlah batang tubuh Tempo pekat berbalur kompromi, 
> untuk tidak mengatakan berserah diri kepada kekuasaan. Ketika akan 
> menurunkan laporan mengenai peristiwa Tanjung Priok, September 1984, 
> misalnya, penulis masalah nasional, Susanto Pudjomartono (SP), yang 
> punya hubungan erat dengan L.B. Moerdani (LBM), ternyata lebih dulu 
> minta izin kepada Panglima ABRI itu. Kedekatan dengan penguasa 
> seperti itu bisa menimbulkan polarisasi sikap politik di kandang 
> wartawan sendiri. Semacam "perang" kepentingan muncul dalam "episode
Priok".
> 
> Reporter (ketika itu), Bambang Harymurti (BH), memiliki rekaman 
> pidato Amir Biki, yang jadi pemicu demonstrasi dan pertumpahan darah 
> selepas salat subuh itu, tidak serta-merta menyerahkan tape kepada 
> SP. Sebab ada kecemasan "kemungkinan SP akan menunjukkannya kepada 
> LBM". Sikap kompromistis, supaya bisa bertahan hidup, ini dipaparkan 
> dalam kisah panjang yang ditulis Janet Steele dari George Washington 
> University bahwa Tempo adalah "an independent magazine in Soeharto's 
> Indonesia" ternyata tak lebih dari sebuah sinisme yang tidak disengaja.
> 
> Setelah menikmati kehidupan pers yang relatif bebas sejak terbit pada 
> awal Maret 1971, Tempo pertama kali dibredel tahun 1982. Pemimpin 
> Redaksi Goenawan Mohamad (GM), dalam rapat yang diliputi suasana 
> resah, dengan muka tegang menyerukan: "Tiarap...!" Strategi 
> kelangsungan hidup dirancang, dan wartawan dianjurkan melobi para 
> pejabat pemerintah. GM sendiri, bagaikan penyair-pertapa turun 
> gunung, mendekati Menteri Sekneg Moerdiono. Mereka acapkali terlihat 
> main tenis. Sikap menenggang penguasa menyebabkan banyak berita yang 
> diketahui wartawan harus ditelan sendiri. Kata SP, "Hanya lima atau 
> 10 persen yang bisa kami laporkan. Memantau berita (jadi) lebih 
> penting dibandingkan menulis."
> 
> Mengagumkan, juga bikin tercengang, untuk apa dan dikemanakan 
> berita-berita itu kalau memang tak bisa dimuat? Disimpan di dalam 
> file? Dioper ke wartawan-wartawan asing yang beroperasi di sini? 
> Dijadikan bahan tawar-menawar? Atau mau ditulis kelak di suatu masa? 
> Tak ada jawaban. Karena Janet yang sedang jatuh hati rupanya tidak 
> tergoda bertanya mengenai cacat yang satu ini.
> 
> Tanpa pesaing yang berarti, Tempo bergelimang kemakmuran. Tahun 1993, 
> GM mengumumkan niat mundur sebagai pemimpin redaksi, dan melimpahkan 
> tanggung jawab kepada orang nomor dua, wartawan flamboyan Fikri Jufri 
> (FJ). Penulis masalah ekonomi dan bisnis yang tajam dan memikat ini 
> adalah kutub yang lain. Dia tak punya pengikut, apalagi pengagum, 
> sebagaimana GM. Niat GM untuk "lengser" menimbulkan guncangan pada 
> biduk yang sedang berlayar laju. "Kalau ini adalah bagian dari 
> strategi, maka orang yang berada di atas seharusnya tidak berdiri di 
> pihak siapa pun. Goenawan adalah orang yang semacam itu. Tetapi Fikri 
> tidak. Jadi, inilah yang telah menggoyang keseimbangan," urai BH.
> 
> Kata-kata bersayap GM tentang "cita-cita kita yang sama mengenai 
> jurnalistik", yang dia ucapkan dalam rapat persiapan 15 Januari 1971, 
> kurang dari dua bulan sebelum Tempo terbit (6 Maret 1971), telah 
> terbang disapu angin lalu. Para wartawan yang dianjurkan melobi 
> kanan-kiri ternyata telah lupa pulang ke rumah sendiri. Yang menuntun 
> mereka bukan lagi "cita-cita kita yang sama", melainkan Paduka Tuan 
> yang menjadi teman dekat sekaligus sumber berita dan gantungan hidup 
> di masa depan yang tidak pasti. Para wartawan terperangkap dalam 
> kutub-kutub lobi mereka. Masing-masing wartawan tambah merapat dengan 
> lobi dan kian mendurhakai tuan mereka.
> 
> Adapun di luar, laut gonjang-ganjing. Tahun 1988, Soeharto menggeser 
> LBM dari Panglima ABRI menjadi Menteri Hankam. Tahun 1993, jabatan 
> yang kurang penting itu dicopot pula. Walaupun tak terbuka, LBM 
> dikabarkan telah memihak suara publik "di bawah tanah" dan bersikap 
> kritis terhadap Soeharto. "Pembangkangan" tokoh militer ini mendorong 
> Soeharto cari dukungan kalangan muslim, dengan Ketua Ikatan 
> Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), B.J. Habibie, sebagai perlambang.
> 
> Pada 11 Juni 1994, Tempo menurunkan laporan utama tentang pertikaian 
> di pemerintahan seputar pembelian 39 kapal perang bekas dari Jerman 
> Timur. Harga belinya dianggap tidak pantas serta konflik Menteri 
> Ristek B.J. Habibie dengan Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad. Beberapa 
> perwira tinggi, terutama dari Angkatan Laut, tidak setuju pembelian 
> armada kapal bekas itu dan menganggap Habibie menggerogoti wewenang
mereka.
> 
> Menurut FJ kepada penulis tinjauan buku ini, Tempo memutuskan laporan 
> itu karena "uang rakyat yang tidak kecil telah disalahgunakan". 
> Itulah, katanya, pertimbangan rapat redaksi memilih, bukan kemauannya 
> sendiri. Tetapi wartawan Tempo Agus Basri, penulis laporan utama 
> mengenai Habibie dan ICMI, beberapa pekan sebelumnya kepada Janet 
> Steele menyebutkan, dipilihnya topik kapal perang rongsokan dari 
> Jerman Timur itu "punya maksud tertentu".
> 
> Menurut Agus lagi, ketika tersiar kabar, satu dari kapal perang butut 
> itu tenggelam dalam pelayaran ke Indonesia, FJ jingkrak-jingkrak 
> bersyukur dan berteriak sinis, "Alhamdulillah!" Kelihatannya tak ada 
> lagi yang lebih menyakitkan FJ daripada tuduhan kedekatannya pada LBM 
> sebagai penyebab bencana pembredelan. Penyair yang dia kagumi, kawan 
> seperjuangannya sendiri, GM, ikut meningkahi suara gendang yang 
> menggiring Fikri hingga terpojok.
> 
> Agus Basri memoleskan warna yang buruk pada wajah teman sejawatnya 
> sendiri, dengan menceritakan bahwa Max Wangkar, yang menulis laporan 
> utama, "punya masalah dengan Habibie". Max, katanya, Kristen, lulusan 
> sekolah teologi. Dengan "analisis" pandir seperti itu, menurut Janet, 
> jelaslah suasana dalam majalah itu sungguh telah dipenuhi racun dan
bisa.
> 
> ***
> 
> Wars Within hanya terpikat pada penggalan kedua dan terakhir dari 
> sejarah Tempo. Sumbernya, selain GM, terlalu terpusat pada BH, yang 
> sebenarnya baru tampil di babak kedua dari perjalanan hidup majalah 
> itu. Memang, sebelum 1980-an, benturan dengan kekuasaan tidak begitu 
> sengit. Tetapi peperangan melawan birokrasi internal cukup seru. 
> "Raksasa" seperti Christianto Wibisono dan Usamah (karena kasus 
> pemberitaan dan keuangan) sampai terjungkal. Dan di atas segalanya, 
> orang setangguh sastrawan-wartawan Bur Rasuanto pun tak cukup kuat 
> untuk bertahan.
> 
> Edisi pertama Tempo dicetak 12.500. Terjual habis. Terbitan kedua 
> dilipatduakan. Habis! Awal 1980-an, tirasnya berkisar 160.000. 
> Kemajuan pesat ini tidak diikuti manajemen yang baik. Jadwal terbit 
> selalu telat. Bur, yang memimpin majalah itu ke dalam, kelimpungan 
> menghadapinya. Berbagai kiat dilakukannya. Pernah ada "hadiah" 
> sebulan gaji untuk yang paling produktif. Tapi, karena protes dari 
> wartawan yang kalah, permainan itu distop.
> 
> Bur yang berdarah Komering itu tak tahan melihat naskah-naskah yang 
> menumpuk. Di kantor cikal-bakal Tempo, Jalan Senen Raya, di seberang 
> pegadaian sekarang, suatu hari yang nahas, Bur menyambar naskah yang 
> menganggur. Dia memang penulis cepat. Tulisan yang dirampungkannya 
> itu dia turunkan. Redaktur bersangkutan melapor kepada GM bahwa Bur 
> menabrak prosedur. GM "ngalemin" si tukang protes.
> 
> Bur jadi naik darah. "Ah, kau juga...," katanya berang, seraya 
> melayangkan segelas kopi ke muka GM. Tapi luput, gelas itu pecah 
> membentur dinding! GM tak tepercik setetes pun. Seminggu setelah 
> "gelas terbang" itu, rapat besar digelar di Gedung Pembangunan Jaya, 
> Jalan Thamrin, Jakarta. Eric Samola, pemimpin umum, menegaskan "tak 
> ada harta milik perusahaan, sekecil apa pun, yang boleh dirusak". 
> Esoknya, dan untuk selamanya, Bur Rasuanto sudah tidak bersama 
> majalah itu lagi.
> 
> Janet juga tidak menyinggung "idealisme" Tempo yang begitu memikat 
> pada mulanya. Laporan-laporannya sering tidak ditemukan di koran atau 
> media lain. Bahkan sempat jadi sumber berita bagi koran terpandang: 
> Kompas, Sinar Harapan, The Straits Times Singapura, kantor berita AFP 
> dan Reuters. Namun, melalui satu rapat di Wisma Tempo, Sirnagalih, 
> dekat Puncak Pass, "bendera" kebanggaan itu diturunkan. Tak seperti 
> biasa, GM membuka rapat dengan naskah di tangan. Intinya, perubahan 
> orientasi, dari majalah yang dinanti-nanti karena beritanya eksklusif 
> menjadi majalah yang "mengekor". Beberapa wartawan menentang 
> pembalikan haluan itu. Dengan segelintir oposisi dan floor yang 
> mengamini GM, maka tumbanglah sudah "bendera" Tempo. Dia tinggal 
> hanya sedikit lebih berharga dari rangkuman kliping koran.
> 
> Enam tahun Janet melakukan penelitian untuk proyeknya ini. Mungkin 
> masih ada kesalahan yang kurang berarti dalam kisahnya tentang 
> sepenggal sejarah pers dari satu negeri yang jauh. Dan dia menulisnya 
> dengan empati, sementara orang lokal, terutama orang Tempo sendiri, 
> belum sempat berpikir menuliskan riwayatnya sendiri yang begitu kaya 
> dan sarat dengan ironi.
> 
> Martin Aleida
> Wartawan Tempo 1971-1984
>




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke