http://www.commongroundnews.org/edition.php?sid=1&lan=ba#21682

            1) Meninggalkan "Negara Islam Indonesia": Berbincang dengan 
Mataharitimoer
            Ayu Arman 
     
        
      Jakarta-Sepuluh tahun lebih "bersembunyi" di bawah tanah setelah keluar 
dari gerakan Negara Islam Indonesia (NII), Mataharitimoer muncul kembali ke 
publik dengan sebuah novel otobiografinya yang menghentak, Jihad Terlarang, 
Cerita dari Bawah Tanah. Dalam novel itu, Eddy Prayitno alias Mataharitimoer 
menguraikan berbagai visi dan metode NII dalam mengimplementasikan hukum Islam.

      AA: Judul buku Anda, "Jihad Terlarang", menggelitik banyak orang untuk 
membacanya, terutama di masa terorisme global ini ketika kata "jihad" 
diidentikkan dengan "terorisme". Apa maksud Anda dengan judul tersebut? 

      M: Kata "jihad" menggambarkan apa yang orang-orang NII sadari sebagai 
Jihad fi Sabilillah, sebuah perjuangan untuk menegakkan hukum Allah dalam 
bentuk negara Islam. Seburuk apa pun persepsi orang lain terhadap mereka, tetap 
saja mereka menyatakan diri sedang berjihad di Jalan Allah. Jihad mereka ingin 
menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Tentu saja hal ini mengancam 
stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebab itu ia menjadi 
"terlarang". 

      AA: Apa sesungguhnya yang mendorong Anda menulis novel tersebut?

      M: Dulu, ketika saya keluar dari NII, teman-teman saya bertanya-tanya, 
kenapa saya keluar (murtad), padahal karier pergerakan saya begitu cemerlang? 
Jawaban saya: "Saya berjanji, pada saatnya nanti, saya akan menulis sebuah buku 
yang menjelaskan secara utuh mengapa saya harus pergi dari lingkungan 
pergerakan Islam ini." JANJI itulah yang mendorong saya menulis Jihad Terlarang.

      AA: Dalam "Jihad Terlarang", Anda menyebutkan masih dilanda trauma atas 
kekerasan yang dilakukan oleh anggota-anggota NII. Apa bukan trauma itu, yang 
membuat Anda mengangkat pena?

      M: Jika saya masih dendam, mungkin yang saya lakukan akan lebih parah 
dari sekedar bikin novel. Bisa jadi saya akan membongkar rahasia dan keberadaan 
pentolan NII. Tapi itu tak saya lakukan. Masalah trauma, sejujurnya saat ini 
pun saya masih trauma dengan metode kekerasan pergerakan tersebut. Saya pernah 
diteror, difitnah, dipukuli, disekap, bahkan disogok oeh mereka agar saya tak 
keluar. 

      AA: Apa visi dan misi NII sesungguhnya?

      M: Negara berdasarkan Islam dan hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan 
hadis. Terus terang saja, visi dan misi NII seperti dinyatakan oleh Sang Imam, 
Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo tahun 1949, saat Indonesia vakum dari 
pemerintahan akibat Perjanjian Renville, sangat ideal bagi saya. Visi beliau 
mengenai negara Islam terinspirasi oleh piagam Madinah yang diresmikan oleh 
Nabi Muhammad SAW. Selama masa Nabi, Madinah merupakan negeri yang adil baik 
terhadap orang Islam, Yahudi, Nasrani, dan siapa pun yang hidup pada masa itu. 

      AA: Apa penyelewengan NII saat ini terhadap visi Kartosuwirjo? 

      M: Penyelewengan yang paling prinsipil adalah mereka melakukan banyak 
tindakan yang merusak citra Islam. Mereka menganggap hanya kelompok merekalah 
yang representatif terhadap kebenaran, terhadap Islam. Mereka sulit menerima 
kritik dan mengandalkan kekerasan ketimbang dialog. Ini menumbuhkan pandangan 
yang keliru terhadap Islam sebagai agama yang memberikan kasih sayang bagi 
seluruh dunia (rahmatan lil 'alamin). 

      AA: Apakah konsepsi negara Islam kompatibel dengan demokrasi?

      M: Islam tak bisa dibandingkan dengan demokrasi karena demokrasi hanyalah 
bagian kecil dari pola interaksi rakyat-pemerintah saja. Demokrasi hanyalah 
salah satu solusi bagi pemerintahan otoriter atau negara-negara yang dipimpin 
oleh pemimpin otoriter. Demokrasi bisa jadi sesuai dengan Islam, namun bukan 
berarti Islam itu demokratis. Islam sangat menghargai dan menjamin keberadaan 
dan kepentingan rakyat yang plural, namun tidak menjadikan rakyat sebagai 
sumber kebenaran yang bagaimanapun bisa membawa pada totalitarianisme atas nama 
kehendak rakyat . 

      AA: Jika memang konsepsi negara Islam itu baik, benar, ideal dan bisa 
dilaksanakan, apakah kita harus pula mengekspornya sebagaimana Barat mengekspor 
"demokrasi"? 

      M: Islam adalah agama yang terbuka terhadap inovasi. Islam bisa menerima 
dan mengadaptasi konsepsi demokrasi dari Barat dengan berbagai catatan. Lantas, 
apakah Barat mau terbuka dan "mengimpor" Islam? Yang ideal menurut saya adalah, 
siapa pun kita, apa pun latar belakang ideologi kita, mestinya kita tetap 
bergandengan tangan, bukan saling merendahkan. Dalam Al-Quran, surah Al-Hujurat 
(49) ayat 13, disebutkan bahwa Allah menciptakan perbedaan gender, suku, ras, 
dan bangsa, untuk saling mengenal dan menghormati. Bukan untuk saling 
bercerai-berai dan angkat senjata. 

      AA: Apakah demokrasi tak bisa membawa keadilan dan kedamaian? 

      Mau demokrasi, teokrasi, ataupun nomokrasi, tetap saja tergantung dari 
kejujuran dan kebaikan hati manusianya. Terhadap konsep negara Islam sendiri, 
apakah keadilan, persamaan, persaudaraan, dan kesejahteraan rakyatnya terjamin? 
Negara mana itu? Saya belum pernah tahu faktanya.

      AA: Anda tidak takut diteror, diculik, atau bahkan dibunuh karena munulis 
novel ini? 

      Entah apakah dampak itu akan terjadi atau tidak, saya tak tahu. Saya 
hanya berharap kelompok seperti NII mereka lebih bijaksana terhadap kritik. 
Tetapi jika mereka merasa terusik, saya menyadari segala resiko yang harus saya 
hadapi. Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan pasti ada resikonya.

      ###

      * Ayu Arman adalah seorang jurnalis freelance tinggal di Jakarta, mantan 
editor sebuah majalah muslimah terbesar di Indonesia. Artikel ini 
disebarluaskan oleh Layanan Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di 
www.commongroundnews.org.

      Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 11 September 2007, 
www.commongroundnews.org 
      Telah memperoleh hak cipta. 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke