http://mulyanihasan.wordpress.com/2007/07/16/petani-tua-dari-lereng-burangrang/
   
  Samsir:  “I love People and My Country”
   
  Oleh Mulyani Hasan
   
  Di masa tua, ia memilih menyingkir ke lereng Burangrang. Sesekali ia turun  
gunung untuk menyapa zaman dan memberi petuah politik. 
   
  Ini bukan kisah seorang pahlawan. Ia hanya seorang prajurit yang berusaha 
tetap lurus, meski para pemimpinnya ingkar terhadap cita-cita perjuangan 
kemerdekaan. Semula cita-cita itu adalah melindungi dan mencerdaskan segenap 
bangsa Indonesia.
   
   “Panggil aku Samsir saja,” kata lelaki tua itu ketika seorang anak muda 
menyapanya. “Ini memang terdengar aneh, tapi kita harus membiaskan bersikap 
egaliter.”  Sore itu hujan membasahi tembok-tembok Ultimus, toko buku yang 
pernah dituding memfasilitasi aktivisme kaum sosialis. Di sana, biasanya Samsir 
membunuh waktu. Samsir suka sekali ngobrol. Siang atau malam, asalkan tersedia 
kopi aroma hitam kental dan rokok kretek.  
   
  Tubuhnya ringkih, berkacamata bulat tebal, sebagian rambutnya sudah rontok di 
bagian depan. Sering tampil dengan kemeja, lengkap dengan ikat pinggang dan 
celana katun. 
   
  Tongkat setinggi pinggangnya setia menyanggah kedua kakinya yang merapuh.  
  Untuk ukuran orang yang berusia 81 tahun, dia tergolong kuat. Pergi 
kemana-mana sendiri menggunakan kendaraan umum. Keluhan penyakitnya hanya satu, 
nyeri otot di pangkal paha.  
   
  Samsir Muhammad, seorang aktivis kemerdekaan. Ia pernah duduk di Konstituante 
dan MPRS merancang Undang-Undang Negara Indonesia, sebelum kemudian 
disingkirkan oleh Soekarno. Setelah kekuatan politiknya sirna, Samsir menyusuri 
sunyi dari penjara ke penjara dan terakhir dibuang Soeharto ke Pulau Buru. 
   
  Samsir dibuang setelah pecah konflik politik di tahun 1965, yang acap disebut 
Gerakan 30 September (G 0 S). Ia dianggap berdosa lantaran aktivitasnya di 
dalam tubuh Barisan Tani Indonesia, sebuah organisasi yang berafiliansi dengan 
Partai Komunis Indonesia (PKI).   
   “Saya tidak akan menuntut atas apa yang saya alami,” katanya lirih. “Saya 
terjun ke dalam pergolakan proklamasi dan ambil bagian mengangkat senjata 
melawan Belanda untuk sebuah Indonesia yang berdaulat seperti yang diamanatkan 
UUD 45 dan tidak berhasil. Kalau berhasil kan tidak begini Indonesia. Ini 
adalah konsekuensi  dari proses yang dikelirukan oleh para pemimpin.”     
   
  *** 
   
  Di lereng gunung Burangrang, utara kota Cimahi, Samsir tinggal. Keadaan 
sekeliling terlihat asri. Ada jalan setapak menuju rumahnya, sekira  500 meter 
dari jalan raya. “Saya ini homeless, kamu gak tahu ya? Sungai Cikapundung aja 
tau kalo saya homeless,” guraunya. Rumah itu milik seorang teman Samsir yang 
telah meninggal dunia. Ukurannya hampir sama dengan tipe 36 perumahan umum. 
Ventilasinya minim.
   
  Sebuah kamar ukuran 2 x 3 meter didiami Samsir. Ada banyak buku di sana dan 
sebuah mesin tik manual di meja tuanya. Suara duet Dewi Yul dan Broery Pesolima 
mengisi ruangan itu. “Di sini airnya jernih ya, bung” kata saya, sekadar 
membuka percakapan. 
   
  “Iya, tapi harus beli,” jawabnya. 
   
  “Lho ini kan lereng gunung?”lanjut saya. 
   
  “Kamu lupa ya di negara mana kamu hidup. Padahal dalam undang-Undang Dasar, 
sudah jelas. Kau baca pasal 33.  Makanya pelajari lah undang-undang 45 itu.” 
   
  Samsir adalah benih tunggal dari pasangan yang menikah karena tuntutan adat 
Bukit Tinggi. Ia lahir di Kampung Sungai Puar pada 30 Mei 1926. Ibunya bernama 
Sadian. Ayahnya bernama Muhammad.  Pasangan ini menikah karena dijodohkan oleh 
orang tua. Samsir tidak pernah tahu apa pekerjaan ayahnya, sebab, ketika ia 
berumur 3 tahun, orang tuanya bercerai dan Samsir dibawa oleh sang ibu ke tanah 
Jawa.  Sadian lantas menikah lagi dengan Beram Sutan Rumah Panjang, seorang 
antiekereij (ahli barang-barang antik).
  Dialah sosok ayah yang Samsir kenal. Mereka tinggal di Bandung. Lalu pindah 
ke Jakarta, pindah lagi ke Bandung dan menetap hingga kini. Dari Beram, Sadian 
memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan bernama Muchlis dan Tuti. 
Muclis sangat mengidolakan Samsir. Kemana Samsir pergi, diam-diam Muchlis 
mengikutinya. Ia sangat ingin menjadi seperti kakaknya.  Sedangkan Tuti cacat 
fisik dan mental sejak lahir. Kelak, ketika Samsir dibuang ke Pulau Buru, 
Muhclis sangat tertekan. Mentalnya kacau, sehingga ibunya terpaksa mengirimya 
ke Rumah sakit Jiwa di Cimahi. Samsir kecil mengenal pendidikan formal di 
Holands Indlansche School (HIS) di Bandung.
   
  Sekolah tingkat dasar yang didirikan tahun 1914 oleh pemerintah kolonial 
untuk pribumi. Sekolah ini mengajarkan ilmu pengetahuan dan bahasa Belanda. 
Samsir sering pindah-pindah sekolah jika tak senang dengan gurunya. Ia  tak 
melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya. Tapi  pernah mendapat ajaran 
pesantren di Tasikmalaya. 
   
   “Saat itu, balatentara Jepang berhasil menaklukan pemerintah Belanda, dan 
berbuat lebih kejam kepada rakyat. Itulah sebabnya saya tidak mau disekolahkan 
di sekolah yang diadakan oleh Jepang.”  
   
   Samsir mulai mengendus politik ketika usianya 17 tahun. Ia sering bertandang 
ke pertemuan-pertemuan partai politik. Saat itu Soekarno sedang 
gencar-gencarnya melakukan penyadaran politik anti kolonial kepada pribumi 
melalui Partai Nasional Indonesia (PNI). Samsir diam-diam berada di antara 
orang-orang itu dan menyimak pidato-pidato Soekarno, seorang aktivis pergerakan 
yang kelak menjadi presiden pertama Republik Indonesia. 
  Keyakinannya melawan kolonialisme, diperkukuh oleh wejangan-wejangan sang ibu.
   
  “Raja adil, raja disembah, raja lalim, raja disanggah,” demikian kata sang 
ibu yang dituturkan kembali oleh Samsir. 
   
  Kesadaran para pemuda untuk memerdekakan diri dari penjajahan saat itu sudah 
mengalir deras. Organisasi-organisasi pelajar seperti Baperpi (Badan Perwakilan 
Pelajar Indonesia) dan PPP (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) bersatu dan 
terbentuklah asrama Menteng 31 pada penghujung tahun 1942.  
   
  Para penggeraknya yakni Sukarni, Chaerul Saleh, A.M Hanafi, Ismail Wijaya, 
Soekarno, Moch.Hatta, Muhammad Yamin, Iwa Kusumasumantri, Amir Syarifudin dan 
Moch. Djembek. Dari pihak Jepang yang membantu adalah Prof. Beki H Shimizu. 
Mereka melakukan agitasi, memberi masyarakat  pelajaran-pelajaran politik dan 
agama.  Dari kawasan Menteng inilah sperma proklamasi mengkristal.
   
  Meski hanya berumur satu tahun, namun gerakan ini banyak memberi perubahan 
dan penyadaran terhadap kaum muda.  Samsir salah satu pemuda itu. Samsir gemar 
membaca buku. Saat itu peredaran buku di tanah air sangat bebas. Pemerintah 
kolonial tidak membatasi apalagi melarang peredaran buku-buku apapun. Sejak di 
sekolah dasar, murid-murid pribumi diwajibkan mengunjungi perpustakaan oleh 
guru-guru dari Belanda. Das Kapital karangan Karl Marx misalnya, Samsir temukan 
di musieum. 
   
  Banyak cara mendapatkan buku. Pekerjaan ayah yang seorang ahli barang antik 
itu, sangat menguntungkan Samsir. Sang ayah, biasa membeli perabotan 
orang-orang Belanda yang akan pulang ke negerinya setelah berpuluh-puluh tahun 
hidup di Indonesia. Nah, di antara barang-barang itu, buku termasuk barang yang 
dijual. Namun, Samsir tangkas mengamankan buku-buku itu sebelum dijual lagi 
oleh sang ayah.  
   
  ***  
   
  Proklamasi tinggal menanti hari. Sejumlah tokoh pemuda merumuskan dan 
memandatkan pembacan proklamasi kepada Soekarno dan Hatta. Samsir pengagum dua 
tokoh ini. 
   
  Bersama pemuda lainnya, ia terus mendesak proklamasi. Kepercayaan lalu 
berubah menjadi kekecewaan ketika Soekarno dan Hatta sebagai presiden Republik 
Indonesia dan wakilnya  berkompromi dengan Belanda. Perjanjian itu disebut 
dengan perjanjian Linggarjati. Ditandatangani 1946, satu tahun setelah 
proklamasi kemerdekaan. Semua partai mendukung keputusan Soekarno dan Hatta 
termasuk Partai Komunis Indonesia (PKI). “Dua tokoh itu pantas dihargai dan 
dihormati atas perjuangannya melawan kolonial. Tapi rupanya mereka tergelincir 
justru pada saat memegang kekuasan,” kata Samsir. Perjanjian ini dinilai 
menghianati proklamasi. Bagi Samsir, proklamasi bukan hanya memerdekaan Jawa, 
Madura dan Sumatera seperti yang disepakati dalam perjanjian Linggarjati. 
Proklamasi itu adalah kemerdekaan bangsa-bangsa yang dijajah oleh Belanda. Dari 
kekecewaan itu, lahirlah sebuah kelompok dimana Samsir bergabung. Kelompok itu 
awalnya bernama Laskar Rakyat Jakarta Raya. Lalu berganti nama menjadi
 Laskar Rakyat Jawa Barat yang berpusat di Cirebon. Chaerul Saleh yang nantinya 
menjadi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) termasuk dalam 
kelompok ini. Kelompok ini mempublikasikan sebuah media yang terbit setiap 
minggu, bernama Godam Jelata. Salah satu artikel yang dimuatnya berjudul “Anti 
Linggarjati sampai Mati.” 
   
  Soekarno rupanya tidak senang. Mereka dijadikan target operasi penangkapan. 
Mereka tetap utuh menjadi kelompok yang menentang Linggarjati. Lari ke gunung 
dan hutan-hutan di Jawa Barat menghindari sergapan pasukan Soekarno. Ternyata 
Belanda ingkar terhadap perjanjian itu dengan melakukan agresi militer. 
Lagi-lagi Soekarno dan Hatta melakukan kompromi melalui perjanjian Renville. 
Berbeda dengan Linggarjati yang menimbulkan pro dan kontra, perjanjian Renville 
umumnya ditentang oleh rakyat Indonesia dan partai-partai politik. PNI dan 
partai Masyumi tegas menolak perjanjian itu.   
   
  Anti Renville memicu keras terbentuknya Negara Islam Indonesia di abwah 
kepemimpinan Kartosuwirjo, pentolan Masyumi.  Januari 1948, lebih dari seratus 
orang perwakilan organisasi Islam yang ada di Jawa Barat mengadakan konferensi 
di Pangwedusan, Cisayong, Tasikmalaya. Mereka melihat kekosongan kekuasaan di 
wilayah itu. Kasman, komandan teritorial Sabilillah, mempertimbangkan kekutan 
besar antara blok Barat dan blok Timur.  
   
  Kasman mengusulkan pendirian Negara Islam.  “Kalau mengikuti Rusia, kita akan 
digempur Amerika. Begitu pula sebaliknya. Karena itu kita harus mendirikan 
negara baru, yaitu negara Islam. Berdirinya negara Islam akan menyelamatkan 
negeri ini,”kata Kasman, sebagaimana dikutip Kholid O Santosa dalam bukunya 
Jejak-Jejak Sang Pejuang Pemberontak. Pemerintah RI yang berpusat di 
Yogyakarta, sudah semakin gawat. Belanda menudukkan kota itu hanya dalam waktu 
enam jam saja. Soekarno dan Hatta ditangkap lalu dibuang ke Bangka.
   
  Agar terhindar dari kekosongan kekuasaan, Soekarno dan Hatta memberi perintah 
kepada Menteri Kemakmuran, Sjarifuddin Prawiranegara, untuk membentuk 
pemerintahan di Sumatera. Berdirilah kemudian Pemerintah Darurat Revolusi 
Indonesia (PDRI).  Melihat kondisi kacau ini, Kartosoewirjo menyerukan perang 
suci melawan Belanda kepada seluruh umat Islam Indonesia.  
   
  Rakyat bangkit melawan Belanda, seperti yang terjadi di Jawa Barat. Mereka 
berkelompok di hutan hutan dan desa-desa. Seperti Angkatan Pemuda Indonesia 
(API), Laskar Tanah Merah, Laskar Wanita Indonesia atau Laswi yang kini 
dijadikan nama sebuah jalan di kota Bandung. “Rakyat di Bandung, berbondong 
bondong mengungsi ke arah selatan kota. Mereka meninggalkan rumah dan harta 
bendanya karena tak sudi diam di tempat yang sudah dikuasai Belanda.” 
   
  “Itulah pengorbanan rakyat, yang tak pernah dihargai oleh para pemimpinnya. 
Siapa yang mengingat pengorbanan mereka?,” ujar Samsir. “Dan melupakan mereka 
adalah sebuah dosa.” 
   
  Di mana Samsir saat itu? Ia bergabung dengan TNI, dan diangkat menjadi kepala 
staf divisi Bambu Runcing. Ia bergerilya di pedalaman hutan Jawa Barat.  Ketika 
lari ke Garut, Samsir bertemu dengan seorang gadis bernama Rosmiati yang kelak 
menjadi istrinya.  
   
  Pertemuan ini berawal dari penyamaran Samsir di rumah orang tua Rosmiati. 
Samsir berpura-pura menjadi pengungsi yang kehilangan orang tuanya. Samsir 
terpaksa berlindung di rumah warga, karena menderita demam tinggi.  Saat itu, 
siapa saja yang ketahuan menyembunyikan anggota TNI, terancam dibunuh oleh 
serdadu Belanda. Samsir sekuat tenaga menyusun skenario, agar sandiwaranya 
berjalan mulus hingga badannya pulih dari demam. Tapi, sandiwara Samsir gagal 
sebelum usai.
   
  Rosmiati menemukan dokumen-dokumen soal pengangkatan Samsir sebagai perwira 
TNI  di bawah lipatan kasur tempat Samsir berbaring.  “Sedang cari orang tua 
ya,” tanya Rosmiati kepada Samsir, menyindir. Samsir mengangguk gugup, sambil 
memastikan apa maksud pertanyaan gadis itu. Rosmiati memperlihatkan dokumen 
itu, tanpa perkataan lebih lanjut.
   
   “Tolong jangan bocorkan hal kepada siapapun. Aku tak ingin keluargamu 
mendapat susah gara-gara keberadaanku.” Rosmiati hanya berlalu.
   
  Tapi gadis itu benar-benar menjaganya. Kejadian itu awal dari berseminya 
kecambah-kecambah cinta di antara mereka. Pertemuan selanjutnya terjadi di 
Bandung, namun kedua orang tua mereka tak merestui hubungan itu. Diam-diam, 
mereka sering melakukan pertemuan.
   
  Orang tua si perempuan mengetahui hubungan mereka. Rosmiati dipindahkan dari 
Univesitas Padjajaran ke Universitas Indonesia di Jakarta. Padahal Rosmiati 
harus menyelesaikan dua studi, hukum dan ekonomi. Ketika mengetahui Samsir juga 
dipindah tugaskan ke Jakarta, Rosmiati dipindahkan lagi ke Bandung.  Delapan 
tahun menjalin hubungan rahasia, akhirnya pasangan ini bisa menikah atas restu 
orang tua.
   
  “Kalau kau bersedia menikah denganku, kau harus siap miskin!,”kata Samsir 
kepada gadis itu.Lalu gadis itu menjawab, “Makan singkong juga hidup.” 
   
  ***
   
   “Aku maunya jadi TNI bukan tentara RIS,” kata Samsir kepada Chaerul Saleh. 
Ketika itu pasukan TNI disarankan bergabung dengan tentara RIS atau Republik 
Indonesia Serikat.  Dalam Konferensi Meja Bundar, pihak Indonesia menyepakati 
pembentukan RIS.  
   
  Samsir menanggalkan semua lencana TNI demi pendiriannya yang tak sudi 
mengakui negara RIS. Sedangkan teman-temannya bergabung dengan tentara RIS. 
Samsir manfaatkan masa vakum dalam pemerintahan untuk mengorganisasikan kaum 
tani. Ia mendirikan Sarikat Tani Indonesia atau Sakti, bersama Burhan, Sidiq 
Kertapati, Soedjono, Sasongko dan Abdul Salam. Markasnya di Cisarua.  
   
  Awalnya organisasi ini bersebrangan dengan Barisan Tani Indonesia atau BTI, 
sebuah organisasi yang berafiliansi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).  BTI 
mempunyai tujuan nasionalisasi tanah, sedangkan Sakti tujuannya mengadakan 
tanah untuk kaum tani. Namun, belakangan BTI mengubah haluan organisasinya 
dengan apa yang diperjuangkan oleh Sakti. Keputusan ini setelah pemimpin PKI, 
D.N Aidit mengeluarkan pernyataan yang berjudul Hari Depan Gerakan Tani.  Kedua 
oraganisasi ini melebur dalam satu bendera BTI. 
  Ada pengalaman menarik.  Waktu itu tahun 1962. Samsir mendapat undangan dari 
organisasi tani Kuba untuk hadir pada sebuah pertemuan. Samsir sudah menjabat 
sebagai Sekretaris umum BTI. Dari Jakarta pesawat membawa Samsir ke Praha. Di 
sana ia harus menunggu pesawat yang terbang ke Havana.
   
  Samsir tak pegang uang satu dolar pun. Ketika tiba di Havana, ia diboyong ke 
hotel Leviera, sebuah hotel yang berdiri di tepi pantai. Tak tahan ingin 
merokok, ia memungut puntung dari tong sampah yang biasanya berdiri depan lift. 
Malam kedua, seseorang mengejutkannya pada tengah malam buta. 
   
  “Che bisa bertemu malam ini,” ujar panitia itu dalam bahasa Inggris.
   Saat itu Che Guevara menjabat sebagai menteri pembangunan. Samsir dan semua 
peserta pertemuan, bergegas menuju gedung yang disiapkan untuk pertemuan. Dari 
arah pintu aula yang membelakangi forum, Che muncul dengan baju militer dan 
pistol di pinggangnya. Sehelai handuk kecil sengaja dilipat di pundaknya.
   
  “Dia memang gagah sekali. Sebelum menyapa kami, dia mencuci mukanya di 
westafel di samping pintu,” kata Samsir mengenang. 
   
  “Selamat pagi,” sapa Che. 
   
  “Revolusi Kuba adalah revolusi rakyat,” kata-kata pertama Che di depan forum 
dalam bahasa Spanyol. Samsir mengisahkannya kembali.
   
   “Ketika masih bertempur dengan Batista, apa yang paling diperlukan?” tanya 
Samsir kepada Che dalam bahasa Spanyol campur Inggris. 
   
  Che terbahak dan menjawab singkat dalam bahasa Spanyol. “Sapatos,” katanya.
  Dalam bahasa Indonesia berarti sepatu.
   
  “Meski pegang senjata, tanpa bersepatu kakimu akan tertusuk pohon tebu dan 
tidak akan bisa menembak,” ujar Che. Samsir tertawa mengenangnya.
   
  “Saya kira jawabannya sesuatu yang bersifat ideologis, eh ternyata sepatu.”
  Kuba adalah daerah monokultur. Sebagian besar lahan perkebunannya ditanami 
tebu.  Samsir bertanya lagi. “Kenapa di Kuba orang bebas pegang senjata. Apakah 
tidak khawatir timbul kerusuhan?” “Kekhawatiran itu hanya ada di kepala 
borjuis,” jawab Che.
   
  “Jika hanya tentara yang memegang senjata, maka jika tentara besar kepala, 
rakyat tak bisa apa-apa. Tapi jika rakyat pegang senjata, rakyat akan 
mengecilkan kepala tentara yang besar kepala.”  
   
  Saat berpisah, Che membagi-bagikan cerutu kepada semua peserta pertemuan dan 
berkata: “Teman-teman, rakyat akan menang.”
   
  Samsir sangat senang menerima cerutu itu, apalagi sudah beberapa hari tak 
merokok. Sebelum ke Kuba, Samsir hadir dalam konferensi perdamaian Asi Pasifik 
di Tiongkok. Di sana  Mao Tze Tung berkata kepada Samsir bahwa tani itu sangat 
penting. Lalu Samsir diundang dalam perayaan revolusi Oktober di Moskow. Stalin 
menjadi bintang dalam perayaan itu. Masa itu, PKI sedang berjaya di bawah 
pimpinan Aidit. PKI menjadi partai komunis terbesar di dunia setelah Partai 
Komunis Tiongkok dan Partai Komusnis Uni Soviet.  
   
  BTI sebagai salah satu organisasi di bawah naungan PKI, memegang peranan 
penting dalam soal pengaturan kepemilikan tanah dan pertanian. Mewakili BTI, 
Samsir duduk di Konstituante, lembaga yang bertujuan merumuskan Undang-Undang 
Negara Indonesia.
  Ia ditunjuk sebagai salah satu perumus Undang-Undang Pokok Agraria atau UUPA. 
Ada 11 orang dalam tim ini yang mewakili organisasi tani plus perwakilan dari 
Departemen Agraria. 
  “Rujukan UUPA adalah UUD 1945 pasal 33, di mana amat jelas bahwa negara itu 
bukan pemilik tanah dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, tapi 
negara menguasai untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujar Samsir.  
   
  Dalam undang-undang itu batas kepemilikan tanah sawah lima hektar. Lebih dari 
itu kelebihannya diambil oleh negara dan dibagikan kepada petani miskin. 
Sosialisasi undang-undang ini disusul dengan pembentukan pengadilan Land Reform 
di setiap daerah.
   
   “Aku juga bodoh, ketika undang-undang itu dibuat, tidak berpikir bagaimana 
dan siapa yang akan menjalankan.”
   
   “Karena kalau melimpahkan tugas itu kepada pemerintah daerah, sama saja 
bohong. Pemerintah derah kebanyakan adalah para pemilik tanah. Tentu mereka tak 
ingin kehilangan tanahnya.” “Baru kepikiran sekarang,” katanya. 
   
  ***  
   
  Ketika pagi merenggut malam 30 September 1965, Samsir menjenguk mertua di 
Bandung. Ia tak tahu kejadian semalam. Kota tiba-tiba senyap. Hujan turun 
dengan lembut. Tentara mondar-mandir tak karuan.  Dari suara radio yang merana 
berkumandang pidato. Kabinet didemisionerkan, lalu berita tentang pembentukan 
dewan revolusi. Samsir mencari-cari tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Ia 
tandangi gedung MPRS yang dulu bermarkas di Gedung Merdeka, Bandung. Lalu 
markas BTI di Jalan Pasirkaliki. Tapi jawabannya sama. Kosong.  Saat-saat 
mengerikan telah terjadi. Beberapa jenderal terbunuh, yang kemudian disusul 
oleh pembersihan terhadap eksponen PKI. Sampai saat ini belum diketahui pasti 
siapa sesungguhnya aktor dibalik pembunuhan para jendral di malam 30 September 
itu. Soeharto menyeting isu bahwa PKI lah yang bersalah.  
   
  Satu bulan berikutnya. Di sebuah rumah teman ketika percakapan baru saja 
dimulai dan cangkir kopi belum mendingin. Segerombol tentara mendobrak pintu.  
Samsir tak bisa meloloskan diri.
   
  “Dasar komunis. Komunis. Pembunuh. Penghianat. Tukang congkel mata orang.”  
kata-kata itu serta merta mengiringi siksaan demi siksaan.
   
  “Bagaimana bisa terjadi? PKI itu kan massanya banyak. Uangnya juga banyak. 
Kok bisa habis? Pasti  ada yang salah,” kata Samsir.
   
  Kedua matanya membulat. Penjara  riuh saat Samsir mengerang sakit di sudut 
kamar bertelali. Luka lebam di sekujur tubuhnya, membuatnya roboh, ambruk, tak 
berdaya. Tiga lapis gelondongan karet timbaan menghantam tubuhnya bertubi-tubi. 
Samsir dipenjara di markas Kepolisian Daerah Jawa Barat di Bandung. Ia 
ditempatkan secara khusus terpisah dari narapidana lainnya.  Tapi pada saat 
bergulat dengan maut, gara-gara disiksa itu, Bandi seorang napi pencuri, 
memboyong Samsir ke kamar mandi lalu ditenggelamkan beberapa kali ke dalam 
sebuah bak besar.
   
  “Entahlah, justru setelah ditenggelamkan itu, badanku terasa lebih 
bugar,”kenang Samsir. Mulutnya menggernyit .
   
  Setelah beberapa bulan, ia dipindah ke Kebon Waru, lalu ke Nusakambangan dan 
terakhir diasingkan ke Pulau Buru. Samsir meninggalkan orang tua, adik, istri 
dan seorang anak perempuan yang masih balita. Anak itu tak sempat mengenali 
Samsir, karena ketika ia lahir, Samsir sudah dipenjara. Rosmiati merawat 
putrinya dengan baik. Ibu dan anak ini menyewa sebuah rumah kecil di gang 
sempit di Jakarta. Setiap hari Rosmiati bekerja menjadi penerjemah di kantor 
berita Rusia di Jakarta.
   
  Beberapa tahun kemudian ia menjadi jurnalis di kantor berita yang sama. 
Profesinya ini memungkinkan Rosmiati berupaya mencari tahu tentang nasib suami 
dan ribuan tapol lainnya. “Saya pernah dibawa mama ke Kebon Waru, tapi mama gak 
bilang kalau papa dipenjara,” kata Dian Sari intanti, putri Samsir yang kini 
berusia 42 tahun.    
   
  *** 
   
  Awal tahun 1979. Pertemuan yang mengharukan. Seorang gadis berlari dari 
samping ibunya. Loncat dan merangkul sang ayah yang asing. Ribuan tahanan 
politik dipulangkan dari Pulau Buru.  Dian Intanti sudah tumbuh remaja. Sudah 
pasti, rumor mengenai sang ayah sudah mampir ditelinganya. Entah baik. Entah 
buruk. “Papa itu orangnya asik, gak kolot. Tapi saya tak kenal sosok papa. 
Kaget,  tiba-tiba ada orang di rumah selain mama dan saya yang berlama-lama.” 
Setelah pertemuan itu, sikapnya berubah. Ia membuka jarak. Tapi Samsir tak 
berusaha menjelaskan apapun. “Suatu kesadaran yang diterima dari orang lain, 
akan berbeda dengan kesadaran yang timbul dari diri sendiri,” katanya.   Tapi 
Samsir punya tekad kuat. Ia ingin membahagiakan istri, anak dan orang tua.  
   
  “Saya berikrar lima tahun saja kesempatan membahagiakan mereka. Selama ini 
saya ini gak pernah ngasih uang.”
   
  Ini bentuk kompromi bagi Samsir.  
   
  Bagi para mantan tapol, belum ada kebebasan yang sesungguhnya. Mereka 
dibatasi dalam berbagai hal. Pekerjaan, aktivitas, semuanya harus serba lapor. 
Sampai suatu ketika Samsir bertemu dengan seorang kawan lama bernama Isman. Dia 
adalah salah satu pendiri organisasi kepemudaan, Kosgoro. Isaman memberi 
kepercayaan kepada Samsir untuk mengelola percetakan. Mula-mula percetakan itu 
kecil, hanya mengerjakan beberapa order. Tapi Samsir terus belajar dan bekerja 
keras. Ia yang membersihkan mesin-mesin dekil dan tua.  Menurut Samsir tugas 
seorang manager adalah bukan profit making, tapi sebaliknya. Perusahaan harus 
menguntungkan orang lain. Sehingga perusahaan dibutuhkan oleh orang lain atau 
konsumen. Prinsip itu membawa Samsir pada keuntungan melimpah.  Hanya dalam 
beberapa tahun saja penghasilannya mencapai 26 juta. Kemampuan berbisnis  
banyak disukai orang. tender-tender besar diraih.  Perusahaan-perusahaan lain 
meminang Samsir sebagai direkturnya. 
   
  “Dari pengalaman ini, saya berpikir bahwa tidak ada manusia satu pun di dunia 
ini yang mampu melihat dirinya sendiri. Kita membutuhkan cermin, dan Isman 
adalah cermin bagi aku.”
   
  Sesuai janji, ia membelikan sebuah rumah untuk ibu dan istri. Selera dan 
ukuran diserahkan kepada masing-masing. Istrinya memilih rumah di 
Tegalega-Bandung. Luas tanahnya 4.500 m2. Terdapat air terjun buatan di 
belakang rumah, yang disekat dengan dinding kaca dari ruang makan. Furniturnya 
terbuat dari kayu Jepara, sesuai dengan selera sang istri. Sebuah ruangan 
disediakan khusus untuk menyimpan koleksi lukisan dan patung.  Kehidupan Samsir 
benar-benar mewah. Batik keris, parfum, mobil, kian akrab dengan anak dan 
istrinya.  “Orang-orang eks PKI bilang aku ini borjuis,” kenang Samsir. Lima 
tahun target Samsir sudah tercapai. Tak ada alasan lagi terus-terusan mengeruk 
uang. Tahun 1985, Samsir mundur dari jabatan direktur perusahaan. Berhenti dari 
kehidupan elit. Semuanya ia tanggalkan, gaya hidup mewah, jabatan dan gaji. Ia 
hanya mempersiapkan deposito secukupnya. Sedangkan istrinya masih setia pada 
dunia bahasa.
   
  Ketidaksukaan putrinya menjadi-jadi setelah mengetahui Samsir berhenti jadi 
direktur. 
  “Papa bodoh,” katanya. 
   
  Sepuluh tahun kemudian, Samsir dan istri sepakat menjual rumah mewah itu, 
setelah putrinya beranjak ke Universitas Indonesia. Harganya 200 juta, sebagian 
diberikan kepada anaknya, sebagian lagi dibelikan rumah mungil di Cimahi. Tak 
lama dari itu, pada 1996, istri tercinta meninggal dunia. Satu persatu 
keluarganya meninggal. Rumah terakhirnya pun dijual.  Tinggalah putri 
satu-satunya. Ada tiga  cucu, buah putrinya dengan seorang pilot. 
   
  Mereka hidup di Jakarta, sementara Samsir menghabiskan masa tuanya di Lereng 
Burangrang, di sebuah rumah kawan lama.  
   
  Kenapa memilih miskin? 
   
  “Because I love people and my country,”air matanya berderai.  



      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke