Sebenernya saya nulis begituan untuk menuhi permintaan tolong Siti
yang kebingungan soal kemungkinan Islam dijadikan landasan
berdemokrasi. Secara prinsip keliatannya Siti sudah paham. Hanya saja
dia kurang lebar membuka mata & hatinya terhadap situasi sekitar
sehingga teks-teks buku yang tersedia di benaknya kurang bisa
menjawab.
Begitu juga untuk pertanyaan-pertanyaan di bawah, sebetulnya nggak
perlu terlalu ketat memeluk (atau dipeluk?) pemikiran yang
sedikit-sedikit Tuhan; sedikit-sedikit Allah, dalam mencari jawaban.
Santai aja seperti di pantai waktu menikmati sea, sun, sand, smile, &
sex (bagi yang mampu :) Boleh berenang-renang, cuma jemuran, main
pasir, adu cengengesan, atau borong semuanya sekaligus. Bebas. Wong
demokratis kok, dengan segala konsekuensinya...
Masalahnya barangkali, jangankan orang awam seperti kita, presenter
ccc sekaliber Siti pun rupanya belum bisa membebaskan diri dari paham
demokrasi ala Barat yang dimanifestasikan dengan suara terbanyak.
Malah, sering juga kita lihat kaliber-kaliber gede lain yang memasang
embel-embel: suara demos adalah suaranya Tuhan (pasti bener).
Mbel! Nggaklah, nggak bener kalau demokrasi malah mempersempit ruang
gerak hingga tinggal seputaran "tuhan" & "pasti bener". Banyak fakta
yang membuktikan bahwa suara terbanyak nggak ada hubungannya dengan
tuhan apalagi kebenaran. Contohnya, Bush cilik & SBY (untuk menyebut 2
fakta terdekat).
Demokrasi bukanlah soal pergantian pemimpin secara Barat. Juga bukan
swastanisasi perusahaan dan terbukanya pasar bebas (sebagaimana
persyaratan yang dipenuhi Indonesia & negara berkembang lainnya ketika
dapat pengakuan Barat sebagai negara demokratis). Bukan, demokrasi
bukan sesempit itu. Demokrasi terlalu luas untuk dipahami cuma dengan
pemikiran Barat yang strukturalis itu. Padahal, singkatnya, demokrasi
"hanya" menjamin kebebasan seluas-luasnya (bukan sebebas-bebasnya)
bagi setiap orang untuk berpendapat dalam kaitan dengan kepentingan
umum.
Dengan kata lain, demokrasi menjamin kebebasan masyarakat untuk
menemukan jawaban atas masalah-masalah yang mereka hadapi. Jawaban
yang berdasar pada kebutuhan masyarakat itu sendiri dengan melalui uji
kemungkinan lewat dialog, diskusi, juga perdebatan publik. Musyawarah.
Memang, musyawarah bisa menguras tenaga, pikiran, dan waktu
(tergantung rumitnya soal), tetapi hasil akhir yang dicapai merupakan
buah dari ikhtiar bersama dalam mencari titik temu.
Kalau prinsip ini sudah dipahami dengan baik, maka soal berapa lama si
pemimpin menjabat, apa ukuran benar-salah, atau perlukah orang miskin
dipenjara, dlsb. tinggal bergantung pada kebutuhan masyarakat itu
sendiri, bukan bergantung pada Tuhan, apalagi kebutuhan Barat. Dan,
untuk lancarnya urusan, masyarakat bisa menetapkan hasil musyawarahnya
dengan membuat "syariat" yang dipatuhi bersama (dalam bentuk
undang-undang).
Bahwa masyarakat 'X' misalnya, bersepakat menetapkan syariat
kepemimpinan 5 tahun; membolehkan nyolong mangga; atau menggantung
orang miskin, itu sepenuhnya urusan mereka. Masyarakat 'X' itu
sendirilah yang bakal menanggung manfaat & mudharatnya. Kalau dirasa
lebih banyak mudharatnya, maka dipersilakan berunding lagi dan lagi
dengan argumen-argumen yang lebih cerdas, pandangan yang lebih luas,
serta pemahaman yang lebih dalam.
Bahwa Islam identik dengan musyawarah, itu lantaran Islam "bersikukuh"
mempertahankan hakikat manusia di atas dunia yakni, belajar; berpikir;
berpendapat; berbuat. Musyawarah bukanlah privilege Islam. Tetapi
Islam memang mempertahankan privilege seluruh umat manusia ini.
Barat juga mengenal musyawarah ("lobby"). Sayangnya, berunding bagi
mereka adalah untuk menggalang atau mempengaruhi pendapat orang demi
memenangkan voting. Betul, itu memang urusan mereka. Mau memanfaatkan
jalan musyawarah untuk keperluan apa, itu urusan mereka - pun untuk
menangkapi musuh demi mempertahankan penjajahan :) Tetapi,
menyeragamkan demokrasi dalam wujud adu banyak suara yang dianut
Barat, jelas-jelas bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri.
Artinya kan, Barat ngajari yang enggak-enggak kepada dunia (:
Coba, menyeragamkan saja sudah tidak demokratis, apalagi suara
terbanyak yang bahkan kurang dari 50% kok lantas dibolehkan berkuasa
100% atas hajat hidup orang banyak? Nyata benar kan kemiripannya
dengan bentuk minoritas absolut.
Sekali lagi, nggak ada masalah samasekali kalau bentuk masyarakat kuno
begitu memang cocok buat mereka. Tetapi menyeragamkan bentuk kuno itu
ke seluruh dunia bukan saja aneh, itu jelas-jelas merupakan langkah
antidemokrasi. Sebab, yang namanya demokrasi hendaknya menyerupai air.
Bentuknya mengikuti tempat.
From: "wiro414sableng" [EMAIL PROTECTED]
: Menarik juga membaca sistem pemerintahan syariat ala mas dipo ini.
: Boleh di-share dong bagaimana mekanisme pergantian pemimpinnya?
:
: Setiap berapa tahun? atau tidak ada batasan waktu, selama
: pemimpinnya 'benar'?
:
: Apa ukuran 'benar' dan 'tidak benarnya'?
: Apa ukuran kesalahan yang kadarnya biasa dan yang kadarnya berat,
: sehingga sudah saatnya diganti?
: Siapa2 saja yang menentukan?
: Bagaimana menentukan pemimpin berikutnya, mengingat ini adalah
: kedaulatan Tuhan? Bagaimana kalu ada 2 atau lebih yang 'merasa.\'
: mendapatkan kedaulatan dari Allah?
:
: dst, sebenarnya masih banyak pertanyaan2 lanjutan, sementara ini
: dulu deh.
:
: wiro
:
: --- "dipo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
: > Islam itu multidimensi, bukan sekedar 'agama' semata. Pada matra
: > agama bisa saja Islam terlihat kaku; segala bentuk peribadatannya
: > didasarkan pada syariatnya (agama mana yang nggak begini?). Tetapi
: > di dalam peribadatan pun, Islam masih mensyariatkan untuk
: > mengganti pimpinan (imam) yang melakukan kesalahan, dengan siapa
: > pun yang mampu & bersedia di antara makmum yang hadir. Jadi, tidak
: > benar kalau Islam dibilang menekankan kekuasaan cuma di tangan
: > orang tertentu. Kepemimpinan Islam secara syariat maupun hakekat
: > berada di tangan umat. Itu sebabnya Islam tidak memerlukan seorang
: > pemimpin struktural di kancah lokal, nasional, maupun
: > internasional.
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/