Tentang musik, Sang Bijak berpetuah:

Duduk aku disamping orang yang kucintai, dan kudengarkan kata-katanya.
 Jiwaku mulai mengembara di wilayah yang tak terbatas, dimana alam
tampak seperti mimpi, dan tubuh bagaikan sebuah penjara sempit. 

Suara kekasihku yang mengalun merdu memasuki relung hatiku.

Itulah musik, duhai Sahabatku, karena aku mendengarnya melalui nafas
panjang dari orang yang kucintai, dan melalui kata-kata itu, yang
setengah terucap di antara kedua bibirnya.  Dengan mata pendengaranku,
aku melihat hati kekasihku.

Sahabatku, musik adalah bahasa ruh.  Melodinya bagaikan hembusan angin
sepoi-sepoi yang membuat dawai-dawai bergetar dengan cinta.  Ketika
jari-jemari musik yang lembut mengetuk pintu perasaan kita, ia
membangunkan kenangan yang telah lama tersembunyi dalam kedalaman masa
lalu.  Nada-nada sedih musik membawa kita pada ingatan yang
menyedihkan, dan nada-nada tenangnya membawa kita kepada
kenangan-kenangan yang menyenangkan.  

Suara dawai-dawai membuat kita mencucurkan air mata saat ditinggal
sang kekasih, atau membuat kita tersenyum pada kedamaian yang telah
Tuhan anugerahkan kepada kita.  Jiwa musik adalah bagian dari ruh, dan
pikirannya adalah bagian dari hati.

Tatkala Tuhan menciptakan Manusia, Dia memberikan musik sebagai bahasa
yang berbeda dari segenap bahasa.  Dan manusia pertama menyanyikan
kemuliaan dalam hutan belantara.  Dia menarik hati para raja dan
memindahkan mereka dari singgasananya.

Jiwa kita bagaikan pohon yang lembut dalam dekapan angin kasih sayang
dari Sang Takdir.  Jiwa-jiwa bergetar dalam buaian semilir angin yang
berhembus sepoi-sepoi di pagi hari, dan menundukkan kepalanya dibawah
embun-embun surga yang jatuh.

Nyayian merdu kicau burung membangunkan manusia dari lelapnya, dan
mengundangnya untuk bergabung dalam mazmur kemuliaan menuju Kearifan
Abadi yang telah menciptakan kicau burung itu.  Musim yang demikian
membuat kita bertanya pada diri kita sendiri mengenai makna dari
misteri-misteri yang terkandung dalam kitab-kitab kuno.

Ketika burung-burung berkicau, apakah mereka memanggil bunga-bunga di
taman, atau apakah mereka tengah membicarakan pohon-pohon, atau apakah
mereka tengah menggemakan bisikan dari aliran sungai?  Karena manusia
dengan pemahamannya tidak dapat mengetahui apa yang tengah dibisikkan
oleh aliran sungai, atau apa yang ombak-ombak katakan saat mereka
menyentuh pantai dengan pelan dan lembut.

Manusia dengan pemahamannya tidak dapat mengetahui apakah yang
dikatakan oleh hujan ketika ia jatuh diatas daun-daun pepohonan, atau
ketika ia mengetuk kaca jendela.  Dia tidak bisa mengetahui apa yang
angin sepoi-sepoi katakan kepada bunga-bunga di taman.

Namun hati manusia dapat merasakan dan menggenggam makna-makna dari
suara-suara yang bermain dalam perasaannya.  Kearifan Abadi sering
berbicara kepada manusia dengan bahasa misterius.  Jiwa dan alam
berbincang bersama, sementara manusia berdiri tanpa berbicara dan kagum.



Kahlil Gibran

1883 - 1931



==============



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke