hehehe...,

akhirnya emang musti dibongkar arsip2 lama. inilah "modalnya" para 
sastrawan manikebu: diasuh oleh wiratmo soekito.

berapa umurnya gm di taon 1963? 

itung ajalah, gm lahir taon 1941, jadi gm itu berumur 22 taon waktu 
ikut tandatangan manikebu, sekarang umrnya 66, lalu apa gm pernah 
terpikir bahwa pembantaian tragedi 1965 itu juga bisa dibilang atas 
usaha dari manikebuis, dan gm artinya ikut menghancurkan para 
buadayawan indonesia yg pengikut bung karno?

ah, makin ngeri aja bah! lumuran darah sejarah 65 masih ada sampai 
hari ini di hati para manikebuis.

--- In [EMAIL PROTECTED], "sautsitumorang" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

CATATAN SAUT SITUMORANG:

PERHATIKAN PERNYATAAN GM INI:

"Salah satu inspirasi Manifes Kebudayaan adalah "gerakan" sastra yang 
terjadi di Uni Soviet dan Eropa Timur itu. 

Doktrin "realisme sosialis" berakar pada Marxisme-Leninisme yang 
meletakkan Partai di atas segala-galanya Manfes Kebudayaan menentang 
itu. Kalau mau mencari sambungan Manifes Kebudayaan dengan dunia 
pemikiran sebelumnya, mungkin orang apat menemukannya pada pemikiran 
Marxis yang tidak menerima Utopianisme dan kemahakuasaan Partai."

CANGGIH MEMANG RETORIKA GM!
MANIFES KEBUDAYAAN PUN SUDAH JADI "MARXIS", WALO MARXIS "YANG TIDAK 
MENERIMA UTOPIANISME DAN KEMAHAKUASAAN PARTAI"!!!

GIMANA DENGAN POSISI MILITER MELALUI WIRATMO SOEKITO DALAM TERJADINYA 
MANIFES KEBUDAYAAN TSB? KOK GAK ADA DISINGGUNG? BUKANKAH WIRATMO 
SOEKITO OTAK MANIFES PARA ANTI-LEKRA INI? SIAPA "WIRATMO SOEKITO"?

HEBAT "PEMBACAAN" GM ATAS MANIFES KEBUDAYAANNYA.
PEMBACAAN ABAD 21 UNTUK ISU ABAD 20.
MANIFES KEBUDAYAAN SEBAGAI KIRI BAU, EH SALAH, KIRI BARU!!!

HAHAHA... 




--- In [EMAIL PROTECTED], radityo djadjoeri <radityo_dj@> 
wrote:

Di bawah ini adalah petikan wawancara tertulis yang saya lakukan 
dengan Goenawan Mohamad, yang jawabannya saya terima pada tanggal 25 
Agustus 2007 yang lalu. Rencananya saya akan menggunakannya sebagai 
bahan tesis saya, akan tetapi petikan wawancara ini saya kira 
bemanfaat untuk dibaca, mengingat debat ramai di beberapa mailing 
list di internet akhir-akhir ini.

Salam,
   
  A. Kurnia

  ----------------------------------------------------------------

Pertanyaan: Ada yang mengatakan bahwa polemik atau pertentangan yang 
berlangsung di internet sekarang ini merupakan terusan pertentangan 
antara Manikebu dan Lekra di tahun 1960-an?


GM: Tidak benar. Sejarah itu tak berulang. 

Pertentangan antara Manifes Kebudayaan dan "realisme sosialis" di 
awal tahun 1960-an merupakan produk khas masa itu. Ketika itu 
asas "realisme sosialis" hendak diberlakukan bagi semua ekspresi 
kesenian dan pemikiran di Indonesia, dengan dimotori oleh Lekra . 
Kekuasaan politik yang tak dapat diabaikan pengaruhnya waktu itu, 
yakni PKI, mendukungnya.

Manifes Kebudayaan disusun dan diumumkan sebagai reaksi atas itu. 
Yang ditentang Manifes Kebudayaan adalah asas "politik sebagai 
panglima", jika itulah yang dianggap jadi soko guru "realisme 
sosialis". Sebab "politik sebagai panglima" dalam prakteknya berarti 
kekuasaan politik-lah � tepatnya Partai -- yang mengendalikan 
kesenian. 


Sekarang tidak ada "realisme sosialis" yang seperti itu. Tidak ada 
Partai yang seperti PKI. 

"Realisme sosialis" itu sendiri produk kekuasaan politik tahun 1930-
an di Uni Soviet. Ia dirumuskan oleh pengarah kebudayaan yang bekerja 
untuk Stalin. Tapi beberapa tahun setelah Stalin meninggal dan de-
Stalin-isasi terjadi, posisi "realisme sosialis" merosot. Juga 
wibawanya tidak pernah tinggi. Di negeri sosialis Eropa Timur, karena 
doktrin itu bersifat represif dalam kehidupan seni, ia ditentang. 
Para sastrawan pembangkang lahir. Antara lain Vaclac Havel, yang 
kemudian jadi Presiden Cheko.

Perlu diingat, Manifes Kebudayaan disusun di tahun 1963 � setelah 
kami melihat bahwa sosialisme dapat diperjuangkan tanpa 
doktrin "realisme sosialis". Di masa itu, di Uni Soviet terbit 
majalah sastra Novy Mir dan muncul penyair bebas seperti Yevtushenko 
dll. Mereka tak mengikuti doktrin "realisme sosialis". 

Salah satu inspirasi Manifes Kebudayaan adalah "gerakan" sastra yang 
terjadi di Uni Soviet dan Eropa Timur itu. 

Doktrin "realisme sosialis" berakar pada Marxisme-Leninisme yang 
meletakkan Partai di atas segala-galanya Manfes Kebudayaan menentang 
itu. Kalau mau mencari sambungan Manifes Kebudayaan dengan dunia 
pemikiran sebelumnya, mungkin orang apat menemukannya pada pemikiran 
Marxis yang tidak menerima Utopianisme dan kemahakuasaan Partai. 

Latar belakang yang seperti itulah yang tidak ada sekarang. Sekarang 
ini, dengan lenyapnya "realisme sosialis" di mana-mana, bahkan di 
Cina yang masih dikuasai Partai Komunis, Manifes Kebudayaan tidak 
relevan lagi.


Pertanyaan: Banyak yang mengatakan generasi sastrawan yang sekarang 
menganggap asas "seni untuk rakyat" masih terus penting untuk melawan 
asas "seni untuk seni". 

GM: Debat di sekitar "seni untuk seni" sudah selesai di tahun 1930-an 
dalam polemik antara Sanusi Pane dan S. Takdir Alisyahbana. Manifes 
Kebudayaan sendiri tidak menerima asas "seni untuk seni". 

Sayang, sekarang ini banyak yang bicara tentang "Manikebu" tetapi tak 
pernah membaca sendiri manifesto itu. Maka terjadi kesalahan besar, 
misalnya ketika dkatakan bahwa "Manikebu" itu serta merta 
mendukung "humanisme universal". 

Saya anjurkan supaya kalau mau bicara tentang Manikebu, teksnya perlu 
dibaca kembali dengan seksama. Akan kelihatan juga bahwa teksnya 
adalah hasil khas masa tahun 1960-an.

_________________________________

Manifesto Kebudayaan
Dari Wikipedia Indonesia


Manifesto Kebudayaan adalah konsep kebudayaan nasional yang 
dikeluarkan oleh para penyair dan pengarang pada 17 Agustus 1963. 
Manifestasi ini dilakukan guna melawan dominasi dan tekanan dari 
golongan kiri, dengan ideologi kesenian dan kesusastraan realisme 
sosial yang dipraktekkan oleh seniman-seniman yang terhimpun dalam 
Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Manifesto Kebudayaan juga dijuluki 
oleh pihak kiri sebagai Manikebu.

Pencetus manifestasi ini adalah Wiratmo Soekito, dan ditandatangani 
antara lain oleh Arief Budiman, Taufik Ismail dan Goenawan Mohammad.

Diilhami oleh semangat humanisme universal yang pertama kali 
dinyatakan lewat Surat Kepercayaan Gelanggang, Manifesto ini 
menyerukan, antara lain, pentingnya keterlibatan setiap sektor dalam 
perjuangan kebudayaan di Indonesia. Manifesto itu sendiri tidak 
menjabarkan dengan terinci langkah-langkah apa yang perlu diambil 
untuk memperjuangkan "martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di 
tengah masyarakat bangsa-bangsa". Sehingga bisa dikatakan butir-butir 
yang disampaikan sebenarnya sama sekali tidak berlawanan dengan 
semangat yang hidup pada jaman itu: keinginan "menyempurnakan kondisi 
hidup manusia".

Mungkin satu-satunya prinsip yang membedakan adalah penolakan mereka 
terhadap hubungan antara kebudayaan dan kekuasaan - posisi Sutan 
Takdir Alisjahbana dalam "Polemik Kebudayaan" 1930an. Dengan 
demikian, posisi Lekra yang mendahulukan pemajuan kebudayaan rakyat 
demi pembebasan kaum tertindas: buruh dan tani, dilihat sebagai upaya 
politisasi gerak kebudayaan. Ini dianggap mengancam supremasi prinsip-
prinsip estetika dan menjerumuskan karya seni pada alat propaganda 
politik yang sarat dengan slogan-slogan verbal belaka.
   
  Silakan kirim komentar Anda ke: mediacare@
   
   


e-mail: radityo_dj@  
  blog: http://mediacare.blogspot.com





Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke