http://www.suarapembaruan.com/News/2007/09/18/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Geoekonomi Pembangunan dan Globalisasi Daoed Joesoef Hingga menjelang akhir tahun '50-an abad yang lalu, semua ilmu pengetahuan, termasuk ekonomika (economics), menjadi tersudut karena tidak siap menanggulangi masalah pembangunan negeri terbelakang yang umumnya baru merdeka. Cabang ekonomika yang dijabarkan khusus untuk menangani masalah tersebut, ekonomika pembangunan (development economics), sebagai pengetahuan ilmiah tetap memegang aneka asumsi induknya. Begitu rupa hingga menjadi kumpulan pengertian yang logis bagi penalarannya sendiri tetapi abstrak bagi masalah riil human yang hendak ditanganinya. Ketika Hadiah Nobel untuk ekonomika diintroduksi di tahun 1969, banyak ekonom melihat hal itu sebagai penghargaan luar biasa bagi ilmu yang mereka kembangkan selama ini. Satu-satunya ilmu sosial yang disejajarkan dengan ilmu kealaman/eksakta yang bergengsi, mengingat tokoh-tokoh yang diutamakan mendapat hadiah ini sarjana yang mengolah teori-teorinya dengan sangat melibatkan matematika, menjadi mathematical economics atau econometry. Namun ada pula pemenang Nobel ekonomi yang tidak terlalu antusias melihat penalaran ekonomi yang menjadi semakin abstrak. Gunnar Myrdal, misalnya, menunjukkan kesukaran-kesukaran membebaskan ilmu ekonomi dari konflik-konflik nilai kalau ia mau diterapkan secara efektif. Sedangkan Amartya Sen menunjukkan bukti-bukti kecenderungan pengetahuan ilmiah itu mereduk- si kompleksitas dan keanekaragaman gejala-gejala sosial demi correctness penalarannya, bukan applicability-nya. Biar bagaimanapun ekonomika tergolong ilmu sosial, yang bertujuan tidak hanya mau memahami keadaan (masalah) human tetapi juga memperbaikinya. Lain dengan ilmu kealaman yang hanya bertujuan memahami keadaan, tidak berpretensi mencampuri jalannya alam. Anehnya tiga lembaga dunia yang diberi wewenang PBB mengurus masalah pembangunan negeri-negeri tertinggal, yaitu IMF, Bank Dunia dan WTO, memegang teguh ajaran standar ekonomika: semua manusia adalah homo economicus, pasar bekerja sempurna berhubung informasi sempurna bisa diperoleh setiap orang. Maka, pemerintah tidak usah ikut campur. Yang paling keliru adalah asumsi bahwa lingkungan adalah "a free commodity". Artinya, artinya, alam dilihat semata-mata sebagai pemasok resources dan tempat sampah dari sistem sosial. Jadi ketiga lembaga tersebut menjadi simbol dari suatu pemikiran dan suatu kebijakan unik, yaitu economic development in terms of income (GNP, GDP, average income). Sedangkan keadaan dan sebab keterbelakangan ekonomi Brasil lain dari India, Senegal, atau Indonesia, dan keadaan alaminya yang bisa diandalkan juga berbeda. Maka setiap negeri tertinggal kiranya membutuhkan ekonomika pembangunannya yang tersendiri. Padahal, lama sebelum pembangunan jalan dan lain-lain sistem komunikasi menembus batas-batas geografis, termasuk hukum Eropa, geografi sudah merupakan sebab primer dari variasi dalam kultur, ekonomi-politik dan organisasi sosial di kalangan rakyat yang mendiami dataran rendah dan tinggi serta pantai di Asia, Afrika, Amerika Latin, di mana pun. Dan sejauh ekonomi pembangunan digambarkan sebagai "perang" melawan kemiskinan dan kebodohan, makhluk yang serba belum berkembang ini berpijak di bumi. Maka baik di capitalist West maupun di socialist East, teori pembangunan telah membuat satu kekeliruan fundamental, yaitu mengabstrakkan ruang (space) begitu saja dalam penalaran keilmuannya. Ruang dalam arti geografi fisik dan geografi sosial. Padahal sekarang masalah geografis semakin menyibukkan diskusi publik, dari transmigrasi hingga mondialisasi, melalui urbanisasi dan lokasi/relokasi proyek pembangunan, pendudukan ruang publik oleh urban poor yang tercampak dari habitat alaminya. Ruang Sosial Bila pembangunan seharusnya dikaitkan dengan ruang maka pembangunan nasional, yang mencakup pembangunan ekonomi, dinyatakan in terms of social space, tidak lagi in terms of income, walaupun perhitungan income masih tetap dijalankan. Ruang menjadi modal sosial yang semakin penting dalam keseluruhan modal sosial yang diandalkan dalam proses pembangunan. Apalagi kita sedang berada di suatu momen historis di mana kemampuan bertindak, individual atau kolektif, menangani ruang cenderung meningkat. Ruang sosial itu bukanlah suatu substansi yang abstrak, tetapi suatu ruang hidup manusia yang konkret, diciptakan dalam konteks (pembangunan) suatu komunitas tertentu, lokal maupun nasional. Dalam dimensi objektif, material, kultural, dan spiritualnya, ruang sosial ini adalah produk transformasi alam melalui proses pikiran dan kerja manusia. Alam itu bisa berupa sungai, danau, daratan, pantai, lautan, hutan, dan lain-lain. Ruang sosial itu juga merupakan sebuah pementasan dari interaksi sosial dan direkayasa oleh penduduk dalam berbagai derajat intervensi/perubahan, dari mulai modifikasi yang terkecil (pembangunan gedung sekolah) yang dampaknya kecil saja pada lingkungan, modifikasi menengah (pembangunan kampus, waduk, kompleks industrial), sampai modifikasi terbesar (pembangunan kota, provinsi, pulau) yang pasti mengubah tata lingkungan. Secara filosofis pembangunan dalam arti ruang sosial ini diformulasikan sebagai suatu "gerakan komunitas" yang tak berkesudahan, selama proses mana komunitas yang bersangkutan menjadi terasa lebih adil, lebih manusiawi, lebih akseptabel bagi warganya. Dengan menghidupkan gerakan komunitas secara sadar ke dalam penalaran-nya berarti pembangunan itu secara implisit menghidupkan semangat dan praktik demokrasi di kalangan rakyat dan melalui ini, sekaligus membangun (kesadaran) politik. Sebab setiap ide ekonomi mengasumsikan adanya suatu tata politik tertentu. Dengan begitu politik dan ekonomi tidak hanya menjadi saling engage tetapi lebih-lebih saling commit. Pembangunan seperti itu mengharuskan adanya partisipasi penduduk setempat dalam pilihan dan pendirian proyek di permukimannya. Kalau berupa waduk, misalnya, sejak perencanaan rakyat di sekitar sudah diajak bicara, mengenai tujuan, dampak dan lebih-lebih opportunity costs bagi mereka, berdasarkan pandangan tradisional, kearifan lokal, dan/atau filosofi etnis. Artinya, mereka tidak hanya dijadikan penonton yang pasif. Pengikutsertaan rakyat inilah yang kiranya disebut participatory democracy dan pembangunan disebut participatory development. Penduduk dengan buminya dibuat manunggal, dijadikan senasib dengan ruang alami di mana mereka berada dalam dan selama proses pembangunan. Di samping budaya politik (demokrasi) pembangunan begini secara simultan dan spontan menumbuhkan pula berbagai budaya lain yang terkait: budaya komunikasi, ekonomi, hukum, artistik, bahkan budaya pengetahuan nalariah, karena lama-kelamaan ruang sosial ini bisa menjadi suatu learning society, yaitu dasar yang ideal bagi pembentukan civil society. Bila demikian konsep dan praktik pembangunan dalam artian ruang sosial berpotensi pula untuk menjalankan fungsi-fungsi politik, yaitu pendidikan politik, perekrutan politik, mendorong partisipasi politik warga, menyalurkan aspirasi, melaksanakan komunikasi politik dan kontrol politik di tingkat grass-root. Rakyat dibiasakan mendelegasikan wewenang tetapi tidak mendelegasikan tanggung jawab kepada politikus mana pun. Bung Hatta dahulu sering berujar, "Kami ingin membangun suatu dunia di mana setiap orang bahagia". Istilah "bahagia" tidak ada dalam kamus ekonomika, tetapi kekayaan/kemakmuran (wealth/welfare). Walaupun begitu "bahagia" dapat kiranya bermakna "to have more and to be more". Yang pertama untuk mengatasi kemiskinan dan yang kedua demi memupus kebodohan. Kemakmuran dan Sekuriti Bila demikian geopembangunan nasional, yaitu pembangunan dalam artian ruang sosial, secara konseptual mengarah kepada kedua masalah pokok human tersebut. Ia menarik rakyat berpartisipasi dalam berproduksi (to have more) yang sesuai dengan kondisi alaminya (geokultur) dan lingkungannya (geostrategi, misalnya dalam pembangunan desa-desa pantai), jadi demi kemakmuran dan sekuriti. Geopembangunan menuntut pemerintah mengikutsertakan rakyat dalam membicarakan proyek pembangunan. Jadi, mengangkat derajat pengetahuan/ kesadaran rakyat (geopolitik, geoeducation), demi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan rakyat (to be more). Dengan begitu ada perpaduan konkret antara pembangkitan nasionalisme dan usaha memperbaiki perikehidupan rakyat, secara materiil dan idiil. Penulis adalah pengamat geopembangunan nasional -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 18/9/07 [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
