refleksi: Apakah  pertemuan presiden SBY dengan presiden Bank Dunia bermaksud 
membicarakan untuk nama Pak Harto dicoret dan korupsinya tidak dusut 
selanjutnya? Hal ini bisa diduga dengan melihat  lancar proses  penangan 
penguasa NKRI sekarang  terhadap kasus Pak Harto yang dihirukpikukkan sebelum 
pemberitaan dari the UN Stolen Asset Recovery Initiative tentang posisi Pak 
Harto sebagai koruptor nomor wahid dalam skala dunia.


HARIAN ANALISA
Edisi Kamis, 20 September 2007

Presiden SBY Akan Bertemu Presiden Bank Dunia 
Untuk Bicarakan Harta Soeharto 

Jakarta, (Analisa) 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sela-sela kunjungan kerjanya ke New York, 
Amerika Serikat, pada 22-26 September 2007, dijadwalkan akan bertemu dengan 
Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick. 

Pertemuan Presiden RI dengan Bank Dunia tersebut untuk membicarakan temuan Bank 
Dunia menyangkut mantan Presiden Soeharto yang menempati urutan pertama daftar 
pemimpin politik dunia yang diperkirakan mencuri kekayaan negara dalam jumlah 
besar selama kurun waktu beberapa puluh tahun terakhir. 

"Presiden Yudhoyono dijadwalkan akan bertemu Presiden Bank Dunia. Hanya meminta 
kejelasan bagaimana rencana mereka dalam masalah ini," kata Menlu Hassan 
Wirajuda menjawab wartawan usai mengikuti rapat kabinet terbatas di Kantor 
Presiden Jakarta, Rabu (19/9). 

Sebelumnya, diberitakan bahwa mantan Presiden Soeharto menempati urutan pertama 
daftar pemimpin politik dunia yang diperkirakan mencuri kekayaan negara dalam 
jumlah besar selama kurun waktu beberapa puluh tahun terakhir. 

Daftar tersebut tercantum dalam buku panduan yang dikeluarkan oleh PBB dan Bank 
Dunia bersamaan dengan peluncuran Prakarsa Penemuan Kembali Kekayaan Yang 
Dicuri (Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative) di Markas Besar PBB, New York, 
Senin (17/9). 

Peluncuran Prakarsa dihadiri oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon, Presiden Bank Dunia 
Robert B Zoellick, dan Direktur Kantor PBB untuk masalah Obat-obatan terlarang 
dan Kejahatan (UNODC) Antonio Maria Costa, serta para pejabat tinggi sejumlah 
negara anggota PBB, termasuk Deputi Watap RI untuk PBB, Adiyatwidi Adiwoso, dan 
Direktur Perjanjian Internasional Deplu RI, Arif Havas Oegroseno. 

Menlu Hassan Wirajuda mengatakan, pemerintah juga akan menugaskan Tim "Raising 
and Recovery" yang dalam satu dua hari ini akan ke Washington DC, Amerika 
Serikat, untuk berbicara dengan pihak Bank Dunia guna mendapat kejelasan 
mengenai konsep yang dikeluarkan Bank Dunia tersebut. 

"Kita juga akan berbicara mengenai latihan mengenai pencarian dan pengembalian 
aset negara sebab hal itu tidak mudah, perlu keahlian dan pengetahuan. Dalam 
hal ini Bank Dunia menawarkan itu," katanya. 

Anggota Tim "Raising and Recovery" yang dibentuk sejak beberapa bulan lalu itu, 
kata Menlu, terdiri dari unsur Kejaksaan Agung, Deplu, Kepolisian dan instansi 
terkait lainnya. 

Mengenai apa yang diungkap Bank Dunia tersebut, Menlu Hassan Wirajuda 
mengatakan, hal tersebut merupakan inisiatif dari Bank Dunia dan PBB untuk 
membantu negara-negara berkembang yang mengalami persoalan dengan larinya harta 
pemodal dari negara mereka ke negara maju akibat korupsi. 

Karena itu, lanjutnya, upaya Bank Dunia itu diharapkan dapat membantu 
mengembalikan harta, dana, yang lari ke luar negeri. 

"Ini lebih merupakan kampanye pada tingkat global, tetapi bagi kita kalau upaya 
itu efektif, maka akan membantu dalam melakukan 'asset recovery' atau 
mengembalikan dana-dana dari Indonesia yang lari ke luar negeri," katanya. 

Menurut Menlu, apa yang dilakukan Bank Dunia itu penting karena tidak mudah 
mengembalikan harta yang dikorupsi dan disimpan di luar negeri. 

"Tentu memerlukan dukungan masyarakat Internasional. Pihak Bank Dunia pasti 
juga tahu bahwa Indonesia secara umum mengalami persoalan dengan larinya 
dana-dana yang di korupsi ke luar negeri," tambahnya. 

Menlu menambahkan, Bank Dunia mempunyai jaringan dengan berbagai bank di negara 
lain terutama di negara maju sehingga diharapkan dapat mempengaruhi bank-bank 
asing agar lebih terbuka dalam membuka dana-dana yang sifatnya dari hasil 
korupsi. 

"Mudah-mudahan dengan inisiatif Bank Dunia ini, bisa membantu. Kita belum jelas 
inisiatifnya tetapi niatannya adalah untuk membantu negara berkembang," 
katanya. (Ant


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke