GALAMEDIA
Tanpa Izin Suami, Menjadi TKW di Arab Saudi (4)
Ternyata Istriku Sudah Berada di Jeddah
PADA edisi kemarin, Masjon, pria asal Cisaat, Sukabumi, menjemput
istrinya, Sri dan anaknya yang masih bayi, Asep, ke rumah mertuanya di Cianjur.
Setibanya di sana Jon, panggilan tukang ojek ini, tak menemukan istrinya,
kecuali anaknya. Ke mana sang istri dan apa yang terjadi? Ikuti kisah yang
ditulis H. Arya Rusli berikut ini.
BASA-BASI dengan kedua mertua dan paman istriku tak berlangsung lama. Tanpa
ditanya, ibu mertuaku menceritakan keberadaan istriku. Saat ini istriku yang
terdaftar dalam sebuah perusahaan Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI)
sebagai calon TKW, sedang dalam perjalanan menuju Arab Saudi. Istriku sudah
terbang ke Jeddah dua hari yang lalu, sebagaimana kabar yang disampaikannya via
SMS seseorang kepada adiknya atau iparku.
Bagai disambar petir di siang bolong mendapat kabar seperti itu. Sesaat
pandanganku gelap, aku terhenyak, seraya menyerahkan Asep kepada neneknya atau
ibu mertuaku. Yang membuatku kecewa, ternyata kepada ibunya, istriku mengaku
sudah mendapat izin dariku. Cerita itu kubantah dan kujelaskan bahwa aku sama
sekali tidak diberi tahu.
Kedua mertuaku saling pandang, selanjutnya mencoba membujukku untuk tenang.
Untung saja aku teringat dengan nasihat bibi di kampung, aku menarik napas
dalam-dalam, selanjutnya menuturkan betapa kecewanya aku karena sama sekali
tidak dimintai pendapat, apalagi minta izin. Kepada keduanya aku jelaskan,
kepergian seorang istri tanpa izin suami merupakan tindakan yang sangat
dilarang agama. Keduanya membenarkan pernyataanku seraya mengakui kesalahan
anaknya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, meskipun aku jelaskan bahwa kedua orangtuanya
ikut bertanggung jawab atas kepergian istriku. Mereka nyata-nyata ikut
mendukung dalam urusan administrasi, misalnya dengan menggunakan KTP Cianjur,
selain itu, tentu saja tidak disebutkan sudah bersuami. Karena kalau ketahuan
sudah bersuami, pasti minta izin tertulis dariku yang harus kutandatangani.
Dalam hal ini aku mencoba mendesak pertanggungjawaban keduanya, tapi kedua
mertuaku tak bergeming, seolah mengabaikan peringatanku.
Hal lain yang membuatku semakin yakin adalah kepergian istriku sebenarnya
didukung sepenuhnya oleh keluarganya. Aku tahu persis istriku sama sekali tidak
punya uang untuk modal awal dalam urusan administrasi, seperti untuk paspor,
tiket, dan biaya lain-lainnya. Belum lagi sepengetahuanku, harus ada uang
jaminan untuk perusahaan.
Ketika masalah ini kulontarkan kepada kedua mertuaku, lagi-lagi keduanya
mencoba berkilah. Meureun sieun teu satuju, jadi enggak berani minta izin
kepada Jon selaku suaminya, kata ibu mertuaku.
Bisa jadi memang demikian, tapi aku tetap tak mengerti dengan kepergian istriku
yang sama sekali tidak kuduga. Satu hal yang membuatku kecewa berat dan
bingung, kok tega-teganya ia meninggalkan Asep, anakku yang baru memasuki usia
lima bulan.
Kenapa tidak menunggu Asep besar sedikit, misalnya setelah berumur dua tahun
nanti, kataku dengan nada kecewa, ditimpali kedua mertuaku dengan kata-kata
yang seolah menimpakan semua kesalahan di pundak istriku. Selanjutnya keduanya,
juga pamannya yang sejak semula hanya diam, mencoba menghiburku dengan
harapan-harapan masa depan keluargaku jika nanti istriku sudah benar-benar
bekerja di Arab Saudi.
Cukup ampuh bujukan mereka, aku hanya terpaku dan mengangguk tanda ada secuil
harapan tersirat di hatiku untuk masa depan keluargaku, utamanya masa depan
anakku. Untuk sementara okelah, aku bisa mengerti dan mau mengerti dengan
tindakan istriku. Aku juga bersedia tidur semalam di rumah mertuaku, mengingat
aku begitu kangen dengan Asep yang sudah lebih dari sepuluh hari berpisah
denganku.
Aku bersyukur, karena dalam semalam menginap di rumah mertuaku, aku tidak
melihat adanya tanda-tanda bahwa mereka akan memisahkanku dengan istri atau
dengan anakku. Karena itu keesokan harinya ketika aku berpamitan untuk pulang,
aku menitipkan anakku Asep selama kira-kira seminggu karena setelah itu akan
kuambil dan kuasuh sendiri.
Meski ditahan oleh ibu mertuaku, aku bersikeras ingin pulang dengan pesan
seminggu lagi akan kembali untuk mengambil Asep. Aku jelaskan, bagaimanapun
Asep merupakan tanggung jawabku sebagai bapak kandungnya. Kuakui aku belum
mempunyai pekerjaan tetap, tapi aku bertekad mencari pekerjaan yang lebih
menjanjikan. Padahal di balik itu sebenarnya aku sangat khawatir dengan nasib
Asep yang masih bayi, sekalipun di tangan nenek nya sendiri. (bersambung)**
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/