http://www.suarapembaruan.com/News/2007/09/27/Sorotan/sorot01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Rumitnya Memajukan Pendidikan di Maluku 
 


Pengantar

Pendidikan di Provinsi Maluku menyisakan masalah yang sangat rumit. Sayangnya 
masalah ini tidak menjadi perhatian serius kalangan pelaksana teknis dan 
Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku. Mereka yang berada di daerah perbatasan dan 
kawasan terpencil di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), misalnya, belum 
mendapat perhatian penuh. 

Ada sekolah harus dibubarkan, dan para siswanya kembali ke masyarakat dengan 
capaian pendidikan hanya tingkat sekolah dasar (SD). Mereka tidak dapat 
melanjutkan pendidikan akibat tidak adanya guru yang mengajar di 
sekolah-sekolah tersebut. Untuk mengetahui lebih jauh persoalan itu, 
Koresponden SP, Vonny Litamahuputty menuliskannya dalam sorotan kali ini. 

Pendidikan bermutu untuk mewujudkan insan Indonesia cerdas dan kompetitif hanya 
sebuah slogan yang entah kapan diwujudkan di Provinsi Maluku. Bupati Maluku 
Tenggara Barat (MTB) ikut pesimistis karena gerakan untuk memajukan pendidikan 
di MTB terasa hambar. 

Beberapa desa di Kabupaten MTB, seperti Wetar, Damer, dan Moa Labobar sama 
sekali tidak memiliki guru. Sehingga, pendeta yang bertugas di daerah-daerah 
tersebut harus bekerja sebagai pelayan Tuhan dan pengajar. Umumnya 
sekolah-sekolah di sana hanya memiliki satu-dua guru. 

Pendidikan di tingkat menengah pertama jelasnya, kondisinya juga mirip. Tingkat 
serapan untuk pendidikan SD-SMP tidak lebih dari 40 persen. Enam puluh persen 
anak-anak di MTB terpaksa drop out dan kembali ke masyarakat dengan tingkat 
pendidikan SD. Dapat dibayangkan akibatnya bagi proses pembangunan di kabupaten 
itu. 

Yang lebih menyedihkan lagi ada kebijakan membangun sekolah menengah kejuruan 
(SMK) di Kabupaten MTB sebanyak 18 SMK. Dengan sebaran yang cukup 
mencengangkan, ada penempatan di daerah terpencil, SMK dengan fasilitas sangat 
minim kemudian dengan guru yang hanya 1-2 orang. Inilah realitas pendidikan di 
MTB. 

Memang, ada beberapa SD dan SMU/SMK yang layak. Itu tidak ada datanya. 
Pemerintah provinsi dan kabupaten bekerja, tanpa memiliki data dasar yang 
memadai, akibatnya terjadi tumpang tindih. Misalnya, satu sekolah ada anggaran 
dari kabupaten, ada anggaran dari provinsi, bahkan ada anggaran dari pusat. 
Tumpang tindih seperti inilah yang menimbulkan masalah. Pemerintah kabupaten 
(pemkab) sedang menghimpun data mengenai kondisi prasarana pendidikan di 
kabupaten tersebut. 


Dilema 

Bupati MTB Bitzael Sylvester Temmar mencontohkan, ada salah satu SMA dan satu 
SMK yang didirikan di satu desa, sedangkan desa lain dengan alasan tertentu 
tidak mau menyekolahkan anak di sekolah tersebut. 

"Yang terjadi adalah proporsi murid terhadap kelas di SMK tersebut, satu kelas 
terdiri dari 5-6 murid, demikian juga di SMA. Itu dipersulit dengan sarana dan 
prasarana yang tidak memadai, guru hanya 2-3 orang. Ini mesti kita duduk 
bersama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku dan Pemkab MTB. Dilema bagi 
saya, kalau tutup ada reaksi dari masyarakat, tidak tutup jadi beban," katanya. 

Keadaan begini, tiba-tiba ada keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi (PT) 
di MTB. Ini kemudian memperumit masalah, karena tanpa izin operasional, PT ini 
beroperasi, yang pada gilirannya ketika ditertibkan, lalu nasib mahasiswa itu 
seperti apa. 

Masalahnya bisa menjadi sederhana jika semua pihak membuka dialog, bagaimana 
menyelesaikan masalah mendirikan PT ini. Dia mencontohkan, setelah pengelola PT 
mengalami kesulitan mengurus izin perpanjangan di departemen, baru pemkab 
didatangi. Bupati tidak bisa berbuat apa-apa. 

Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu dan Wakil Gubernur Maluku, MA 
Latuconsina mengakui adanya kelambanan pemprov dalam menangani masalah 
pendidikan. Masalah tersebut terjadi karena letak geografi wilayah Maluku yang 
terdiri dari daerah-daerah kepulauan, cukup sulit untuk dijangkau. Ditambah 
lagi dengan letak pulau-pulau terdepan, yang wilayahnya belum bisa disinggahi 
menggunakan transportasi modern. 

Soal dana pendidikan, sebenarnya tidak memiliki masalah serius. Sebab, untuk 
anggaran tahun 2007 di Maluku, telah ditetapkan Dana Alokai Umum (DAU) sebesar 
Rp 400 miliar. Tahun ini, Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 150 miliar, 
masih ditambah dana dekonsentrasi dari sebagian dana Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Negara (APBN) untuk Maluku sebesar Rp 6,2 triliun. Ini berarti dana 
pendidikan di Maluku ada kenaikan signifikan dari tahun ke tahun. 

Itu bisa dilihat dengan data statistik yang dimiliki pemprov. Di mana dana 
pendidikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada tahun 2005 
berkisar pada 7 persen, tahun 2006 sebesar 9,6 persen, dan tahun 2007 sebesar 
12 persen, tambahnya. 

Berbagai regulasi baru di bidang pendidikan dikeluarkan, tetapi justru semakin 
banyak yang menilai tidak akan memberikan harapan, terutama bagi masyarakat 
kecil yang tidak mampu. Apalagi warga seperti di Kabupaten MTB. Pendidikan 
dasar saja masih jauh dari harapan, bagaimana mungkin rencana strategis 
pendidikan baru yang bertumpu pada tiga pilar. Peningkatan dan penguatan akses 
pendidikan, peningkatan relevansi dan daya saing mutu pendidikan, serta 
peningkatan tata kelola dan citra publik pengelola pendidikan, dapat terwujud 
di Maluku baru sebatas mimpi. Di MTB, membayangkan tiga pilar ini saja belum. 


Buta Aksara 

Dalan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 dan Rencana 
Strategis Pendidikan Nasional 2005-2009, serta Inpres Nomor 5 Tahun 2006, pada 
akhir tahun 2009, angka buta aksara usia 15 tahun ke atas tersisa 5 persen atau 
7,7 juta orang. Provinsi Maluku, tidak tergolong buta aksara yang masuk dalam 
10 provinsi buta aksara tertinggi di Indonesia, namun masih terdapat lima 
kabupaten yang terdapat angka buta aksara tertinggi, di antaranya Kabupaten 
Buru, Seram Bagian Timur (SBT), Seram Bagian Barat (SBB), Maluku Tengah 
(Malteng), dan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra). 

Ismail Titapele, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Maluku mengatakan, 
untuk Kota Ambon, berdasarkan laporan dari wali kota, tidak ada lagi buta 
huruf. Ini merupakan langkah maju yang harus ditingkatkan dan menjadi contoh 
bagi kabupaten lain untuk dapat memberantas buta aksara. Upaya pencapaian 
target, bukan perkara mudah. 

"Karena itu, komitmen dan peran serta dari berbagai komponen bangsa dalam 
mendukung upaya pencepatan penuntasan buta aksara harus terus 
ditumbuhkembangkan," ujarnya. 

Langkah awal yang harus dibenahi adalah menghentikan politisasi pendidikan. Ini 
akar persoalan yang terjadi di MTB. Mau menempatkan kepala sekolah harus orang 
yang memiliki hubungan politik atau hubungan keluarga dengan siapa yang 
mengambil kebijakan. Pada peristiwa politik, guru-guru itu disuruh jadi pion 
politik. 

"Kondisi guru di Maluku saat ini cukup memprihatinkan, baik dari sisi kualitas 
maupun kuantitas. Di Kota Ambon ada beberapa wilayah tertentu yang mengalami 
penumpukan guru, sementara di wilayah lain mengalami kekurangan tenaga, bahkan 
sampai mencapai angka 1.000. Padahal, Kota Ambon merupakan sentral dari 
Provinsi Maluku," kata anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) 
Maluku, Mercy Barends. 

Di Ambon saja sudah begitu, bagaimana jadinya di daerah terpencil. Pada wilayah 
terpencil, ada satu sekolah yang hanya dipegang satu tenaga guru yang berperan 
sebagai kepala sekolah dan pengajar untuk seluruh kelas. 

"Masalah tenaga guru di Maluku ini, sebenarnya sudah berada pada posisi ambang 
kritis. Masalah kekurangan tenaga guru ini diakibatkan karena beberapa hal, di 
antaranya kondisi geografis, keterbatasan APBD untuk mengangkat tenaga guru 
kontrak menjadi PNS serta good will dari para guru itu sendiri untuk mau 
menjalankan tugas di daerah-daerah terpencil," katanya. 

Menyinggung tentang ketersediaan sarana dan prasarana dari guru yang bertugas 
di daerah-daerah terpencil, Barends mengatakan, itu perlu kebijakan dari 
pemerintah karena bukan hanya karena fisik seperti rumah dinas, melainkan juga 
insentif bagi mereka. Perlu kebijakan pemerintah terkait dengan insentif guru. 

Ada satu guru bisa mendapatkan sampai Rp 2,5 juta, ini suatu hal yang sangat 
luar biasa jika dilihat dari APBD yang sangat terbatas. Dia berharap ada solusi 
dan pikiran yang baik dalam menuntaskan masalah tersebut dalam semangat 
ke-Maluku-an sehingga masalah yang dihadapi dapat terintegrasi, tanpa ego-ego 
wilayah. Ismail mengatakan, untuk mengatasi kekurangan tenaga guru di Maluku 
secara keseluruhan, akan dilakukan rasionalisasi supaya tidak terjadi 
penumpukan guru pada suatu kabupaten, kecamatan atau wilayah tertentu. Hal ini 
dilakukan karena terjadi penumpukan tenaga guru yang diperkirakan sekitar 800 
sehingga permasalahan kekurangan guru menjadi masalah yang cukup ruwet. 

Sementara itu, Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Institusional Universitas 
Pattimura (Unpatti), Tanwey Gerson Ratumanan menjelaskan, mutu pendidikan di 
Maluku sangatlah memprihatinkan. Pada program studi IPA, Maluku berada pada 
urutan 32 dari 33 provinsi, dengan penguasaan materi 43,45 persen, sedangkan 
pada program studi IPS, Maluku berada pada urutan 33 dari 33 provinsi dengan 
penguasaan materi 42 persen, katanya. 

Penurunan tersebut harus disikapi serius, baik pemprov, Diknas Maluku maupun 
kabupaten/kota, PT, dan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) sebagai pilar 
yang harus saling sinergi, bekerja lebih terorganisasi secara baik dan 
terencana dan saling koordinasi dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. 

"Saya mengusulkan untuk bisa diperbaiki yaitu membangun koordinasi dan 
komunikasi yang lebih baik dan sekarang sudah mulai terbangun antarprovinsi, 
antardinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, PT, dan LPMP," katanya. 

Ada beberapa faktor penting yang memberikan kontribusi besar terhadap rendahnya 
kualitas pendidikan. Faktor guru, disebabkan jumlah dan sebaran guru di Maluku 
sangat kurang dan besarnya tidak proporsional atau tidak merata. Di 
daerah-daerah terpencil kurang sekali jumlah gurunya, katanya. 

Dikatakan, kualitas guru di Maluku sangat rendah. Guru SMA menguasai bahan ajar 
70 persen, guru SMP menguasai materi 60 persen, sedangkan guru SD di bawah 50 
persen. Faktor lain adalah prasarana dan media pembelajaran masih kurang, 
dengan distribusi yang tidak merata dan terbatas. 

Banyak sekali perencanaan di tingkat provinsi dan kabupaten yang tidak padu, 
tidak sinergi, kadang-kadang terputus. Apa yang direncanakan provinsi, tidak 
dilanjutkan kabupaten. Implementasinya, program kurang produktif. Masih ada 
pendekatan-pendekatan proyek dan bukan orientasi pada kualitas. Masih banyak 
guru dari jumlah guru di Maluku sebanyak 21.000 yang belum mengikuti pelatihan 
dan sekitar 30 persen yang belum tersentuh pelatihan, terutama di daerah 
pinggiran. 




--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 27/9/07 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke