SUARA MERDEKA
Sabtu, 29 September 2007

STUDI Banding Gerakan Sosiokultural di Eropa (1) 
Dari Malapraktik Kedokteran hingga Solusi Nonhukum

       
      SM/Triyanto Triwikromo HIDUP SEHAT: Hak untuk mendapatkan hidup sehat 
menjadi persoalan utama orang-orang Eropa.(35)   
     
Selama dua minggu (10-23 September) Program Magister Hukum Kesehatan Unika 
Soegijapranata mendapat undangan dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat di 
Eropa untuk memahami gerakan-gerakan sosiokultural di sana. Undangan tersebut 
dimanfaatkan juga untuk melakukan studi banding mengenai hukum kesehatan di MSc 
Health Economics, Policy, and Law, Erasmus University of Rotterdam (Belanda) 
dan Master of Bioetics Erasmus Mundus Catholic University of Leuven (Belgia). 
Berikut laporannya.

SALAH besar jika ada yang menganggap gerakan-gerakan sosiokultural di Eropa 
untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik telah selesai. Beberapa ideologi 
-antara lain komunisme- boleh saja bangkrut, tetapi perjuangan untuk memuliakan 
manusia dari berbagai bidang tetap saja menjadi kegairahan yang tak mati-mati. 
Kapitalisme -yang antara lain menggila di "industri" rumah sakit dan 
pendidikan- mungkin sulit dihapuskan, tetapi perlawanan terhadap "penyakit 
modern" yang bisa-bisa menenggelamkan Eropa itu, tetap saja digelorakan.

Salah satu pengindustrian "rumah sakit" misalnya, melahirkan sesuatu yang jika 
di Indonesia disebut sebagai malapraktik kedokteran. Terutama di Belanda, 
bahkan jadi isu besar. 

Karena itu, bukan hanya menjadi perhatian dokter dan penegak hukum, masalah 
pelik itu juga hadir sebagai tema perbincangan sehari-hari masyarakat.

Tak ayal, muncullah pertentangan pendapat antarmereka. Karena kian meruncing, 
hampir-hampir tak ada jalan keluar memadai untuk menuntaskan persoalan itu 
secara hukum. Yang juga jadi problem serius, tabrakan peran antarorganisasi 
profesi dalam penyelesaian kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan pelayanan 
kesehatan pun tak terhindarkan. 

Ini bukan simpulan asal-asalan. Baik Prof Dr Agnes Widanti (ketua Program 
Magister Hukum Kesehatan Unika Soegijapranata) maupun Dr Martin Buijsen (pakar 
hukum kesehatan yang juga Direktur Program Erasmus University of Rotterdam) 
mengungkapkan hal senada dalam diskusi "Problem Penyelesaian Masalah-masalah 
Hukum Kesehatan" di Rotterdam beberapa waktu lalu.

Jalan Keluar

Apakah benar-benar tak ada jalan keluar? "Di Indonesia biasanya diupayakan 
kerja sama antara Ikatan Dokter Indonesia dengan penegak hukum, terutama 
polisi, untuk menyelesaikan masalah malapraktik tanpa melalui prosedur hukum. 
Apakah hal sama juga dilakukan di Belanda?" tanya Widanti.

"Ya, di Belanda penyelesaian-penyelesaian kasus-kasus hukum yang berkaitan 
dengan pelayanan kesehatan memang lebih sering melalui kompromi atau 
negosiasi," jawab Buijsen.

Ini menimbulkan masalah di Indonesia dan Eropa. Akan tetapi bukan tidak mungkin 
dilakukan kerja sama untuk menanggulangi masalah serupa. Dalam diskusi yang 
juga melibatkan dr Sofwan Dahlan (pakar bioetik) dan Endang Wahyati SH MH 
(dosen hukum) akhirnya Widanti mengusulkan agar para penegak hukum (jaksa, 
hakim, polisi, dan pengacara) untuk mengikuti "program belajar bersama" di 
Indonesia maupun di Eropa. Mengenai bea siswa diusahakan oleh Unika 
Soegijapranata dan Erasmus University of Rotterdam. 

Selain itu, juga dibicarakan kerja sama di bidang pengembangan akademik dan 
sumber daya manusia dalam bentuk riset, pengembangan kurikulum, dan penyertaan 
mahasiswa dalam peminatan mata kuliah tertentu. "Saya kira agar berjalan lancar 
kedua pemerintah juga harus turut serta menyukseskan program ini," kata 
Buijesen. 

Perbincangan gayeng tak hanya berhenti pada masalah malapraktik kedokteran. 
Topik-topik lain semacam patient right (hak pasien), patient safety 
(keselamatan pasien), dan hospital by law (hukum kerumahsakitan) juga mendapat 
perhatian serius. Pendek kata di Eropa pun masalah-masalah itu masih menjadi 
pekerjaan rumah besar yang membutuhkan solusi-solusi terbaik. 

"Karena itu diperlukan gerakan sosial budaya luar biasa di bidang hukum 
kesehatan untuk mencapai tahapan yang ideal," ujar Widanti seusai diskusi.

Bea Siswa 

Kunjungan ke Master of Bioetics Erasmus Mundus Catholic University of Leuven, 
Belgia, juga kian menegaskan betapa cara-cara memperlakukan hidup dan kehidupan 
di Eropa perlu dipelajari dengan seksama. "Di berbagai belahan dunia bioetik 
merupakan pendekatan intelektual baru yang merupakan perkembangan ilmu 
pengetahuan, terutama biologi dan ilmu kedokteran. Perkembangan biologi dan 
ilmu kedokteran menimbulkan masalah etis yang luar biasa," kata dr Sofwan 
Dahlan. 

"Karena itu etika moral dan hukum penjaga benteng kemanusiaan," kata Dr Pascal 
Borry, peneliti posdoktoral dari Catholic University of Leuven dalam diskusi 
terbatas di universitas itu.

Sepanjang yang bisa diamati, di Eropa benturan etika dan moral dalam bentuk 
dilema, biasanya terjadi apabila ada benturan peradaban, nilai, dan norma dalam 
pengertiannya. Tidak jarang ada benturan keyakinan pada individu atau 
sekolompok orang. Intinya, bertolak dari diskusi itu Pascal Borry mewakili 
Direktur Program Paul Schotmans menyepakati penyediaan bea siswa penuh dari 
untuk mahasiswa Unika Soegijapranata yang berminat pada bidang kajian Bio 
Medical Etics, kerja sama di bidang pengembangan staf, pengembangan kurikulum, 
dan riset bersama. Kerja sama ini juga melibatkan University of Pandova Italia 
dan Radboud University Nijmegen Belanda yang juga berada di bawah naungan 
Erasmus Mundus. "Realisasasi kerja sama dengan kedua universitas itu diusahakan 
bisa terealisasi pada tahun akademik 2008-2009," jelas Widanti.

Pertanyaan yang muncul: dalam era serba-Amerika, masih mungkinkah orang 
berpaling ke Eropa? (Triyanto Triwikromo-35)


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke