SUARA MERDEKA
Sabtu, 29 September 2007

Mengenang Tragedi 1965 
  a.. Oleh FS Swantoro 
TRAGEDI berdarah 1965 sampai sekarang masih menyisakan misteri. Konflik politik 
PKI vs TNI-AD ini menjadi noda hitam politik Indonesia. Diperkirakan sejuta 
warga sipil terbunuh dalam konflik itu. 

Pertanyaannya siapa dalang di balik peristiwa itu? Apa motif tragedi tersebut 
dan berapa korban yang mati sia-sia? Pertanyaan itu meski telah muncul 42 tahun 
silam, sampai sekarang menjadi misteri yang belum terungkap.

Ada beberapa versi tragedi itu. Pertama, versi resmi pemerintah seperti "Buku 
Putih" terbitan Sekretaris Negara (1994) atau tulisan Nugroho dan Ismail Saleh 
(1968), menyebutkan tragedi 1965 dilakukan PKI. Melakukan kudeta dengan 
merekrut perwira TNI-AD untuk menghancurkan Jenderal TNI-AD yang ingin merebut 
kekuasaan. Kedua,versi seperti ditulis Anderson dan McVey dikenal Cornell 
Paper. Disebutkan, upaya pemberontakan adalah urusan intern TNI-AD versus PKI 
yang terlibat secara insidental. 

Versi ketiga, terwakili Harold Crouch (1999) menyebutkan upaya kudeta merupakan 
usaha bersama PKI dengan perwira TNI-AD pembangkang. Tiap kelompok punya motif 
berbeda menghancurkan Dewan Jenderal.

Awal September 1965 muncul rumor yang menyebutkan PKI melancarkan isu Dewan 
Jenderal akan merebut kekuasaan pada 5 Oktober 1965. Susunan Kabinet Dewan 
Jenderal yang dicatat dalam Buku Putih itu hampir sama dengan yang diungkap 
Letkol Untung dan Nyono, Ketua CC PKI. Munculnya isu Dewan Jenderal itu sampai 
sekarang masih misterius, pelakunya tak pernah terkuak.

Isu itu dipicu merosotnya kondisi kesehatan Presiden Soekarno. Diperkirakan 
Bung Karno bisa meninggal mendadak jika tidak mendapat perawatan intensif. 

Dua pekan kemudian muncul pamflet mengungkap detail rapat PKI, membahas 
kemungkinan mengambil alih kekuasaan andai kata Bung Karno meninggal. Isi 
pamflet itu menimbulkan kecemasan di kalangan perwira AD, karena memuat daftar 
nama jenderal yang akan dihabisi. Sebaliknya, PKI mendapat pamflet gelap berisi 
rencana Dewan Jenderal untuk merebut kekuasaan dan mengeksekusi elite PKI. Ini 
konflik PKI VS TNI AD yang menegangkan. 

Dua minggu sebelum meletusnya G-30-S/PKI, Dubes AS di Jakarta, Marshall Green 
minta CIA meningkatkan propaganda menyerang Bung Karno. Laporan intelijen 
Inggris menyiarkan berita menyesatkan. Muncul berita tentang kapal bermuatan 
senjata China untuk PKI sedang berlayar menuju Jakarta. (Ralph McGehee; The 
Indonesian Massacres and the CIA). Mantan veteran CIA itu menyebut ada rekayasa 
disinformasi. Kemudian dibuat dokumen palsu hingga sulit dibedakan dengan yang 
asli, seperti dokumen tentang daftar nama jenderal yang akan dibunuh. CIA 
berhasil menimbulkan ketegangan antara PKI dengan TNI-AD yang menjadi pemantik 
penyulut tragedi.

PKI Versus TNI-AD 

Puncak konflik politik ketika kelompok perwira dipimpin Letkol Untung, 
menyodorkan anggota Dewan Jenderal kepada Bung Karno. Namun atas perintah Syam 
Kamaruzaman Dewan Jenderal itu harus dieksekusi. Syam yang disebut tokoh 
"misterius" menurut berbagai versi, pernah menjadi kader PSI, dan menjadi intel 
Kodam Jaya yang disusupkan PKI. Dia mengaku kepada aparat yang memeriksa dalam 
suatu penyidikan, Syam adalah kader kepercayaan DN Aidit untuk membentuk Biro 
Khusus yang tugasnya menginfiltrasi TNI-AD. 

Anehnya, tak satu pun jajaran anggota Politbiro PKI mengetahui Biro Khusus itu 
dan di mana Syam berada. Suatu hal yang sama misteriusnya dengan Aidit yang 
dieksekusi TNI-AD di Boyolali. Eksekusi itu menutup kemungkinan pembuktian Biro 
Khusus PKI.

Peter Dale Scott, melihat banyak kejanggalan. Dalam siaran di RRI, Letkol 
Untung mengatakan Presiden Soekarno aman di bawah lindungan Dewan Revolusi. 
Padahal Bung Karno berada di Halim Perdana Kusuma. 

Dalam susunan Dewan Revolusi Letkol Untung sama sekali tidak pernah menyebut 
Bung Karno terlibat tragedi 1965. Anehnya di seberang RRI adalah markas Kostrad 
yang tidak pernah tersentuh. Sama seperti Biro Khusus PKI peran Letkol Untung 
sulit diketahui. Ia sama seperti Aidit dieksekusi dalam pelariannya di Jawa 
Tengah. 

Sedangkan Kol Latief dalam pledoinya menyebut dekat dengan Mayjen Soeharto dan 
sudah dua kali menyampaikan informasi mengenai rencana kudeta Dewan Jenderal 
itu. Namun, Soeharto tidak memberi reaksi karena sedang menunggui Tommy anaknya 
yang sakit di RS Gatot Subroto. Latief disebut sebagai orang kedua setelah 
Letkol Untung, dalam pledoinya, "Dewan Jenderal itu ada dan ingin menggulingkan 
Bung Karno".

Pengungkapan kembali tragedi ini penting, bisa memulihkan penderitaan sejuta 
rakyat yang pernah disiksa atas tuduhan terlibat G-30-S/PKI, tanpa tahu 
kesalahannya (11). 

--- FS Swantoro, peneliti pada Soegeng Sarjadi Syndicate, Jakarta.


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke