GALAMEDIA
SABTU, 29 SEPTEMBER 2007

      Tanpa Izin Suami, Menjadi TKW di Arab Saudi (5)  
      Setelah Tiga Bulan, Baru Bisa Berkomunikasi Kembali  
     
      KEPERGIAN Sri, istri Mas Jono ke Arab Saudi, membuat pria asal Cisaat, 
Sukabumi ini kalang kabut. Pasalnya, istrinya itu tidak meminta izin pada Jon, 
panggilannya. Sementara itu, anaknya, Asep yang masih berusia lima bulan, 
dititipkan kepada ibu mertua Jon di Cianjur. Bagaimana kelanjutannya? Simak 
penuturan Jon kepada H. Arya Rusli berikut ini.  
     
TEKADKU sudah bulat, anakku Asep akan kuambil dari mertuaku. Banyak alasannya 
dan memang masuk akal. Pertama, Asep anak kandungku, tak seorang pun berhak 
membesarkannya selain orangtua kandungnya sendiri. Kedua, karena ibunya tidak 
ada, tentu aku sebagai ayah kandung bertanggung jawab sepenuhnya atas anakku. 

Ketiga, sebagai ayah, tak mungkin aku berjauhan dengan Asep karena bagaimanapun 
aku lebih tenang jikasetiap saat berdekatan dengannya sehingga perkembangannya 
selaluterkontrol. Ke empat, seandainya Asep terusberada bersama mertuaku, bisa 
jadi istriku yang bekerja di Arab Saudi akan mengi­rim biaya Asep kepada ibunya 
atau mertuaku, bukan kepadaku sebagai suaminya, mengingat Asep ada di mertuaku. 

Kelima, keberadaan Asep di neneknya atau mertuaku, dapat berakibat putusnya 
komunikasi antara aku dan istriku. Dan ini tak kuinginkan karena antara aku dan 
Sri masih resmi berstatus suami istri. Jika sampai terjadi, akibatnya bisa 
fatal dan mengarah pada ambruk nya rumah tangga kami. Berdasarkan lima alasan 
itu, ke depan aku mem prioritaskan untuk mengambil Asep dari Cianjur. 

Sekembalinya aku ke kampung halamanku di Cisaat, aku langsung minta pendapat 
bibi yang rumahnya dekat denganku. Sebagai bibi yang sangat dekat denganku dan 
sudah kuanggap pengganti almarhumah ibuku, aku menumpahkan semua kekesalanku 
padanya. Kuceritakan semua apa adanya, termasuk keberadaan istriku yang kini 
sudah di Jeddah. 

Bibi sangat terkejut, apalagi mengetahui kepergian Sri tanpa seizinku. Ia 
setuju sekali dengan tekadku untuk mengambil anakku Asep, apalagi ini 
menyangkut gengsi keluargaku. "Asep kedah dicandak Jon, ulah diengke-engke. 
Bagaimanapun kamu sebagai bapak kandungnya harus tanggung jawab penuh. Omat" 
pesan bibi.

Tak terasa sebulan telah berlalu, Asep sudah dua minggu bersamaku dan untuk 
sementara kutitipkan pada bibi dan sesekali diasuh Ipah, adikku yang tinggal di 
rumahku. Pikiranku sekarang agak tenang, apalagi akumulai bekerja menekuni 
profesiku sebagai tu­kang ojek. Hanya saja, kalau dulu aku mangkal di satu 
tempat, sekarang aku mangkal di beberapa tempat.Tentu sajauntuk itu aku harus 
mengeluarkan modal ekstra agar usahaku ini berjalan mulus.

Dua bulan berikutnya, akumendapat kabar dari adik iparku di Cianjur, katanya 
Sri mulai bekerja. Iparku juga memberi nomor telepon (HP) yang bisa 
menghubungkanku dengan istriku. Mendapat kabar itu, aku merasa terlahir 
kembali. Harapan untuk melanjut­kan rumah tanggaku, kembali terbuka lebar. 
Sejujurnya, sejak Sri meninggalkanku begitu saja, aku kalang kabut dan merasa 
sebatang kara, terlebihjika Asep menangis berkepanjangan seolah mencari ibunya. 

Segera saja aku menghubungi nomor HP tersebut dengan menggunakan HP bibiku. 
Tapi tak ada nada jawaban, meskipun kulangi berkali-kali, tetap saja tak ada 
jawaban. Sebetulnya aku tak mengerti dengan selisih waktuantara Arab Saudi 
dengan Indonesia atau persisnya antara Jeddah dengan Sukabumi. 

Belakangan baru kuketahui, sebetulnya terdapat selisih waktu 4-5 jam. Karena 
itu, bisa jadi saat aku menelepon Sri, waktunya tidak tepat, mungkin ia sedang 
tidur atau bekerja sehingga tidak mendengar suara HP. Selain itu aku tidak 
yakin Sri punya HP, jangan-jangan HP kenalannya atau entah siapa, aku tak 
begitu yakin.

Baru pada hari ketiga aku bisa menghu bungi Sri dan alhamdulillah aku mendengar 
langsung suara Sri, suara yang tidak pernah kudengar selama tiga bulan. 
Berbagai perasaan berbaur, sedih, rindu, dan juga terselip amarah. Tapi semua 
itu larut dalam kerinduan, ketika Sri menanyakan kondisi Asep sambil menangis 
terisak-isak.Ternyata istriku bekerja di Mekah, bukanJeddah. 

Akhirnya aku bangga karena istriku sudah bekerja dan berjanji akan mengirimiku 
uang untuk keperluan Asep. Aku juga bangga karena Sri berjiwa besar mau 
mengakui kesalahannya dan mohon maaf kepadaku atas kepergiannya itu. Tentu 
saja, semua amarah yang kupendam selama ini luntur ha nya sesaat setelah 
mendengar pengakuan jujurnya dan permintaan maafnya itu, apalagi Sri tak 
henti-hentinya menangis setelah mendengar jeritan manja Asep. (bersambung)**   



[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke