Refleksi:  Jago-jago korupsi memang rajin beribadah. Agaknya mereka beribadah 
hanya sebagai tirai berkonsultasi dengan boss mafia Alibaba. 

Juara dunia kelas wahid dalam bidang korupsi dari Indonesia, memang rajin 
sekali beribadah, mendirikan institusi agama untuk menjadi pilar pendukung 
kekuasaan kleptokratiknya. Untuk mengalabui Allah, malah dengan uang korupsi 
mau membangun mesjid di luar, seperti di Bosnia. Agaknya dimaksudkan supaya 
Allah mencatat dan ingat usahanya ini, agar kelak bila nafas habis seperti auto 
mogok premanen, tidak dilempar ke neraka, melainkan mendapat tempat istimewa 
dengan service malaekat-malaekat nan cantik bin sexy di dunia seberang. 

http://www.gatra.com/artikel.php?id=108074


Korupsi Ibadah


Banyak penyeru menekankan pentingnya ibadah sebagai cara memerangi korupsi. 
Pernahkah terpikir bahwa pengamalan ibadah yang salah justru bisa menyuburkan 
korupsi?

Akar terdalam dari tindakan korupsi adalah korupsi terhadap peribadatan. 
Al-Quran mengisyaratkan hal ini sebagai pangkal kecelakaan. "Maka celakalah 
orang-orang yang salat; yang lalai dalam salatnya; yang hanya pamer saja; yang 
tidak memberikan pertolongan."

Lebih dari tujuh dekade yang lalu, Mohandas K. Gandhi menengarai adanya ancaman 
yang mematikan dari "tujuh dosa sosial". Satu di antaranya adalah "peribadatan 
tanpa pengorbanan". Dalam Hikayat Florentin, Machiavelli menandai "kota korup" 
dengan sejumlah ciri. Antara lain, pemahaman keagamaan penduduk "berdasarkan 
kemalasan, bukan kesalehan".

Yang ia maksudkan adalah keagamaan yang menekankan aspek formal dan ritual 
ketimbang pengembangan esensi ajaran. Memuja "insan pembual daripada insan 
pekerja", memperindah tempat ibadah daripada menolong yang papa. Modus 
keagamaan seperti ini, menurut dia, "Membuat orang tak lagi beramal saleh, yang 
mengantarkan penduduk menjadi mangsa empuk tirani politik dan modal."

Membicarakan hal ini penting di bulan Ramadan yang padat ibadah. Alangkah 
malangnya jika peringatan Rasulullah menimpa kita, "Betapa banyak yang berpuasa 
yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."

Untuk tidak tergelincir dalam praktek korupsi terhadap ibadah, kita perlu 
menangkap pesan moral dari setiap peribadatan. Salah satu pesan moral puasa 
adalah menahan diri agar perut kita tidak menjadi kuburan bagi orang lain.

Pesan ini, pertama, dialamatkan kepada golongan pemimpin. Mengapa? Rasulullah 
mengingatkan, "Tidak akan tersucikan suatu umat selama si lemah tidak dapat 
menuntut dan memperoleh kembali haknya yang dirampas oleh orang yang kuat tanpa 
rasa takut."

Terhadap golongan ini, puasa mengajarkan penghayatan rasa lapar, untuk 
membangkitkan rasa kasih sayang dan tanggung jawab bagi rakyatnya. Dalam hal 
ini, Sayidina Ali menasihatkan, "Tanamkanlah kasih sayang di hatimu terhadap 
rakyatmu, dan perlakukanlah mereka secara lemah lembut. Dan janganlah 
sekali-kali engkau menjadikan dirimu seperti binatang buas, lalu engkau 
menjadikan rakyatmu sendiri sebagai mangsamu."

Kedua, pesan itu juga ditujukan kepada golongan elite. Mengapa? Imam Ali 
mengingatkan, "Sesungguhnya rakyat yang berasal dari golongan elite ini adalah 
yang paling memberatkan wali negeri dalam masa kemakmuran, paling kecil 
memberikan bantuan pada saat terjadi musibah, paling tidak menyukai keadilan, 
paling banyak permintaannya secara terus-menerus, tetapi paling sedikit rasa 
terima kasihnya bila diberi, paling lambat menerima alasan bila ditolak, dan 
paling lemah kesabarannya bila berhadapan dengan berbagai bencana."

Terhadap golongan ini, puasa mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah merasa 
"puas" hingga bisa "puasa" (menahan diri). Puasa juga mengajak mereka untuk 
berzuhud: "tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan-Nya kepadamu" (Q.S. 
57:23), dengan menumbuhkan empati terhadap yang papa dan nestapa.

Dengan demikian, puasa mengajak kita untuk melampaui ego-ego personal menuju 
kesadaran transpersonal. Di keluhuran kesadaran transpersonal, kehidupan 
dialami sebagai pola interkoneksi yang tak terputus. Kesadaran seseorang dan 
keterlibatannya langsung dengan kehidupan berkembang dari pernik-pernik 
eksistensi sehari-hari menuju eksistensi kosmik yang lebih luas.

Dalam keluasan kesadaran kosmik, timbul kesediaan untuk membuka diri penuh 
cinta untuk yang lain, serta ketabahan untuk menghadapi ketidakpastian di 
tingkat permukaan hidup sehari-hari. Tak mengherankan, riset baru yang 
dilakukan ahli-ahli ilmu saraf dan psikologi menunjukkan bahwa orang-orang yang 
melakukan puasa dan meditasi (secara benar) lebih sadar, kurang stres, lebih 
positif, dan lebih sehat.

Orang-orang dalam kesadaran transpersonal (makrifat) pada gilirannya akan 
memiliki kesadaran hakikat. Suatu bentuk kesadaran rabaniyah yang 
menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dengan alam semesta; 
aktif hadir pada saat sekarang dan bersentuhan secara utuh dengan apa yang ada 
di sini.

Dengan semangat rabaniyah, timbul keinsafan akan tanggung jawab kepemimpinan. 
Seperti sabda Nabi Muhammad, "Setiap kamu pemimpin dan setiap pemimpin pasti 
akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." Tanggung jawab 
kepemimpinan ini pada gilirannya bukan saja menuntut perhatian keluar, tetapi 
terlebih dulu harus menengok ke dalam, mengasah diri sendiri.

Mawas diri merupakan kewajiban pertama seorang pemimpin, "Apa yang kuharap dari 
anakku, sudahkah kuberikan teladan baginya. Apa yang kuharap dari rakyatku, 
sudahkah kupenuhi harapan mereka," demikian kata Lao Tzu.

Orang yang sadar dirinya akan memahami Tuhannya. Dan orang yang memahami 
kebesaran Tuhannya akan menyadari bahwa semakin besar bukan kian serakah dan 
bahaya bagi yang lain, malah memberikan ruang hidup bagi keragaman yang lain. 
Seperti keluasan langit yang mampu memberi ruang bagi matahari, bulan, bintang, 
dan semua yang terkait dengannya.

Semoga puasa kita terbebas dari korupsi ibadah!

Yudi Latif
Doktor Sosiologi Politik, Direktur Eksekutif Reform Institute
[Perspektif,Gatra Nomor 45 Beredar Kamis, 20 September 2007

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke