http://www2.dw-world.de/indonesia/panorama/1.229539.1.html

Peraih Nobel Mendiskusikan Perubahan Iklim

Kanselir Jerman Angela Merkel mengundang peraih hadiah nobel dari
berbagai bidang ke Potsdam untuk berdiskusi soal perubahan iklim.

Masalahnya sudah diketahui. Bumi makin panas. Solusinya tidak rumit:
manusia harus mereduksi emisi gas rumah kaca. Hanya saja, penerapan
solusi ini sampai sekarang tetap bermasalah. Karena manusia bertindak
sebaliknya. Mereka makin lama memproduksi makin banyak gas rumah
kaca, terutama di negara-negara industri kaya. Mengapa? Alasannya
sederhana: penduduk bumi tidak mau meninggalkan alat-alat yang
mengeluarkan gas rumah kaca. Ketua komisi iklim PBB, Rajendra
Pachauri menerangkan, apa yang perlu dilakukan.

Rajendra Pachauri: „Jika kita ingin membatasi meningkatnya suhu udara
2 sampai 2,4 derajat Celcius, kita hanya bisa mengijinkan emisi
karbondioksida meningkat sampai tahun 2015. Lalu sampai tahun 2050
kita harus mereduksi emisi karbondioksida sebanyak 50 sampai 85
persen. Ini tugas yang sangat berat. Tapi kita harus menyadari, jika
kita tidak melakukan apa-apa, dampaknya akan mengerikan."

Orang tidak perlu meraih hadiah nobel untuk memahami masalahnya. Tapi
memang, perundingan tentang reduksi gas rumah kaca bisa jadi rumit.
Misalnya kalau setiap pihak saling berhitung apa yang harus mereka
lakukan. Peraih hadiah nobel perdamaian dari Kenya, Wangari Maathai:
„Apa yang harus kita kita bicarakan adalah soal keadilan karbon. Saya
senang mendengar bahwa di sini kita berbicara tentang etika. Kita
tidak hanya berbicara tentang tanggung jawab, melainkan juga soal
sikap yang fair dan tindakan yang adil."

Jadi, kanselir Jerman Angela Merkel mulai berhitung.

Angela Merkel: „Jika kita lihat situasinya, tingkat emisi dunia
adalah 4 ton per kapita. Jika sampai 2050 angka ini ingin direduksi
sampai setengahnya, artinya 2 ton per orang. Di Eropa, rata-rata
tingkat emisi adalah 9 ton per orang. Di Jerman 11, di Amerika
Serikat 20 ton. Di Cina 3,5 ton per orang."

Kalau harus adil, artinya Amerika Serikat perlu mereduksi 90% emisi
karbondioksida, Jerman 80%. Sedangkan Cina, yang ingin mendongkrak
pertumbuhan ekonominya dalam dekade-dekade mendatang, harus berusaha
mereduksi emisi karbondioksida sampai 50%. Tapi bisa diragukan,
apakah negara-negara ini mau menerima argumentasi dengan angka-angka
tersebut. Jadi, kanselir Jerman Angela Merkel mempromosikan sistem
jual berli emisi karbondioksida.

Angela Merkel: „Jika kita menerapkan sistem sertifikasi ini, dan
semua orang katakanlah punya hak emisi yang sama, artinya orang India
misalnya masih punya banyak sertifikat emisi, yang mereka tidak
perlukan. Nah, orang India bisa mendapat uang dengan menjual hak
emisinya. Lalu, dengan uang yang didapat, bisa melakukan investasi di
sektor teknologi untuk mereduksi emisi."

Sistem jual beli dengan sertifikat sudah diberlakukan di Uni Eropa.
Tapi sistem ini juga sering dikritik. Para peraih nobel di Potsdam
tampaknya menyambut gagasan itu. Jerman ingin membawa tema jual beli
emisi ini ke konferensi iklim di Bali Desember mendatang.





Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke