Penerapan Busway bisa dibilang adopsi dari kota Bogota, yang 
membedakannya......

- Bogota menyediakan lahan perumahan murah untuk masyarakat urban/miskin
- Bogota menyediakan lahan trotoar dengan lebar diatas 1 meter
- Bogota menyediakan lahan penghijauan terutama di daerah yang
  curam/gawir sungai dengan situasi untuk tempat masyarakat umum relax
  ada bangku permanen dengan penerangan yang cukup
- Pembangunan Mall di batas i ketat.
- Koordinasi antar instasi dari mulai birokrat, eksekutip sampai legislatif 
sangat
  baik ( biarpun diawal mendapat tekanan masyarakat luas, site plan dibentuk
  dengan sangat baik )

Semua itu dilakukan dalam kurun waktu periode Gubernur baru naik jabatan, 
dan beberapa tahun di awal pemerintahannya mendapatkan banyak kritik, baik 
dari kelompok masyarakat atas maupun bawah ( yang bawah kena gusur ), dan 
mendekati akhir masa jabatannya posisi menjadi terbalik, dimana masyarakat 
Bogota kembali mendukung penuh Gubernurnya, karena merasakan manfaat yang 
sangat berguna dengan gerakan yang bisa dibilang revolusioner.

Berbeda dengan Jakarta, dimana biarpun melakukan adaptasi mirip dengan 
bogota, bisa dibilang semua dasar/hakekat perubahan tidak dipenuhi, semisal
pembebasan lahan sangat dipaksakan, penggusuran masyarakat urban/kecil tidak 
diberikan alternatif memuaskan, studi kelayakan tidak melibatkan masyarakat 
yang notabene menjadi pelaku dan pemilik kota Jakarta.

Hasilnya sudah bisa diduga, proyek Busway pada akhirnya akan membuat situasi 
dan kondisi tidak menjadi lebih baik, dan malah menambah jumlah pengangguran 
terselubung, semisal jasa angkot yang akan bertambah kembang kempis karena 
mulai berkurangnya pengguna angkot, yang notabene banyak yang akan bangkrut 
karena setoran sulit tercapai ( apa iya mengikuti trend menghilangkan oplet 
di tahun 70-an ? ), dan yang sulit diatasi adalah penyempitan jalan di jalan 
jalan protokol tanpa dibarengi dengan keputusan ideal jumlah kendaraan yang 
bisa melewati jalan tersebut, dan bila akan memakai pola kota Singapore 
dengan aturan kendaraan pribadi yang boleh lewat juga tidak akan 
menghilangkan masalah utama, dimana ketersediaan lahan yang bisa dibilang 
super sempit dengan perkembangan dan mobilitas masyarakat yang sudah 
terlanjur diatas batas toleransi. ( seharusnya pengatur tata ruang sadar 
akan hal ini ).
Dan sampai saat ini solusi ku "paksakan" untuk ditertibkan pengguna jalan 
raya, mulai dari yang namanya pasar tumpah ( Senen ), sampai berhenti di 
sembarang tempat.
Disaat liburan Lebaran Jakarta bisa dibilang menjadi lengang, dibalik itu 
bila diperhatikan maka sudah terlihat botle necknya dimana persimpangan, 
didepan mall, tetap macet dan kemacetan akan menjadi panjang begitu Jakarta 
hidup kembali.
Khusus Pondok Indah ....aneh, karena jalan raya Ciputat jauh lebih 
membutuhkan trayek Busway dibandingkan dengan masyarakat Pondok 
Indah.....ada apa pula dibalik semua ini ?, Pondok Indah bisa dibilang 
pemekaran Jakarta di tahun 70an dengan tujuan untuk menciptakan wilayah 
hunian yang nyaman,...entah mengapa malah jadi ada busway di jalan yang 
nyaman dan sempit tersebut...Dik Pendiii aya aya waeeeeeee....

sur.
----- Original Message ----- 
From: "JASP" <[EMAIL PROTECTED]>
>
>
> Penerapan Busway di Jakarta
>
> Elceem mengadakan poling di Forum Apakabar, yang maksudnya untuk 
> mengetahui seberapa banyak pembaca Apakabar yang setuju dengan Busway atau 
> tidak setuju. Yang menjadi persoalan bukan adanya Busway , apalagi 
> transportasi masal. Yang menjadi masalah ialah penerapannya ! Apakah 
> penerapannya sudah sesuai dengan kaidah-kaidah transportasi masal. Jadi 
> bukan adanya Busway, apalagi adanya transportasi masal. Pola kerja yang 
> sembarangan tanpa perencanaan matang, tanpa rincian detail yang teliti, 
> serta tanpa mengerti jelas rancangan penggunaan anggaran mempersulit 
> pekerjaan raksasa pembangunan Busway, suatu transportasi masal yang 
> mungkin saja akan berguna. Dengan mencermati sepak terjang suatu 
> perusahaan raksasa macam Transjakarta yang cara kerjanya menghasilkan 
> keambur-adulan lalu lintas serta berakibat kemacetan dimana-mana, 
> menunjukkan bahwa perusahaan ini memang sepertinya petualangan untuk 
> mengeduk dana yang besar. Sulit dipercaya bahwa pada saat kita membutuhkan 
> angkutan masal , pada saat kita membutuhkan penanganan lalu lintas dengan 
> kemacetan luar biasa, ada perusahaan macam Transjakarta yang tak jelas 
> organisasi kerjanya dan tak jelas profil managemen perusahaan yang sangat 
> vital ini. Inilah bentuk kesemberonoan, bentuk ketidak mampuan suatu 
> perusahaan yang seyogyanya sangat penting bagi masa depan lalu lintas di 
> DKI.
>
> Siapakah profil-profil pemilik saham Transjakarta ? Siapakah profil 
> pengelola Transjakarta ? Agaknya ini perlu dikemukakan karena kita 
> menginginkan orang-orang berkaliber, bermoral dan berkarakter serta 
> memiliki kemampuan dalam pengelolaan masalah angkutan masal. Kalau tidak, 
> atau suatu perusahaan yang mungkin saja dikelola oleh petualang yang cuma 
> bertujuan mengeduk keuntungan tanpa kemampuan, tanpa potensi serta yang 
> lebih celaka tanpa memiliki moral dalam berbisnis, Jakarta akan dihadapkan 
> kepada kehancuran sistim lalu lintas yang memang sangat rumit. Hal ini 
> perlu dijelaskan agar tudingan bahwa Transjakarta adalah perusahaan 
> petualangan bisa ditempis dan masyarakat menjadi tenang karena ada 
> pembangunan yang dilakukan dengan layak dan transparan. Keragu-raguan akan 
> kemampuan Transjakarta haruslah ditepis dengan menjelaskan siapa-siapa 
> orang yang berada di posisi pengelola, pemiliki saham, dan sebagainya. 
> Bukankah penduduk DKI memiliki hak serta kewajiban melakukan kontrol atas 
> dana yang mereka keluarkan dalam bentuk  pembayaran pajak-pajak PBB , 
> pajak tahunan kendaraan bermotor serta pajak-pajak lainnya , pajak-pajak 
> lainnya yang masuk kedalam kas DKI ?
>
> Sampai saat ini masih belum diketahui berapa besar sebenarnya yang 
> sesungguhnya setuju dengan penerapan Busway dan seberapa besar yang tak 
> setuju . Yang tampak sekarang ialah banyaknya suara yang tak setuju dengan 
> penerapan Busway karena berbagai alasan. Tetapi pemilih yang ada sekarang 
> ialah pemilih yang kondisi memiliki komputer dan berlangganan internet 
> sendiri tentunya, sebab dengan  libur besar banyak Apakabarian yang sangat 
> tergantung dari internet kantor jelas belum memberikan suaranya.
>
> Meskipun suara mendukung dan suara menentang cukup besar dalam persaingan 
> di Apakabar dengan suara-suara keras membela dan menentang, tampaknya 
> Busway tetap menjadi masalah yang harus terus didiskusikan agar mampu 
> membantu pemikiran mengenai transportasi masal yang dibutuhkan di Jakarta 
> dan selanjutnya dikembangkan kekota-kota lain agar masalah kemacetan besar 
> seperti yang ada di Jakarta bisa ditanggulangi dengan lebih baik.
>
> Kenapa tak setuju dengan penerapan Busway ala Transjakarta ? Karena 
> terlalu banyak " bolongnya " , misalnya masalah " bottle neck ", masalah 
> jalur yang terlalu dipaksakan untuk Busway , sedangkan jalur yang ada 
> sangat minimal. Sehingga kejadian macet yang kelewatan tak dapat 
> dihindarkan. Kemacetan Jakarta sudah sangat kronis, jelas membutuhkan 
> penanggulangan yang nggak asal jadi saja. Membutuhkan penyelesaian yang 
> sistimatis dan komprehensip. Pembentukan perusahaan harus jelas, 
> penggunaan dana pemerintah juga harus jelas serta harus ada pemikiran 
> alternatip, penyelsaian jangka pendek tanpa memikirkan jangka menengah dan 
> jangka panjangnya jelas bukan suatu pemecaham masalah. Pemborosan yang 
> tampak kasat mata , merupakan ciri pemborosan yang menguntungkan kelompok 
> atau pribadi.
>
> Ada  indikasi bahwa " pemaksaan " dalam membangun Koridor serta dalam 
> penggunaan dana Pemda, sehingga menjadikan kita berpikir apakah perusahaan 
> macam Transjakarta layak menguasai proyek dengan pola kerjanya yang nggak 
> beres ? Siapakah pemilik perusahaan raksasa Transjakarta ? Apakah pemegang 
> saham, pengurus ( direksi dan komisaris ) adalah orang-orang bermoral 
> serta berpengalaman dalam menjalankan perusahaan transportasi masal ukuran 
> Jakarta ?
>
> Ada contoh-contoh bahwa perusahaan Transjakarta tidak profesional, 
> misalnya menggunakan kontraktor yang melakukan ancaman pengerahan 1500 
> preman untuk menghancurkan pemrotes yang merupakan perwakilan penduduk 
> Pondok Indah. Kemudian perwakilan penduduk PI mempertanyakan adanya Amdal 
> yang ternyata tak dimiliki oleh kontraktor jelas merupakan ketidak 
> profesionalan suatu perusahaan raksasa yang mengelola dana ratusan milyar 
> Rupiah. Bagaimana bisa terjadi ? Kini ada masalah lain ialah permintaan 
> perwakilan penduduk PI agar disertakan dalam menyelesaikan Amdal, bukan 
> secara gelap-gelapan membuat Amdal dengan menunjuk Konsultan jadi-jadian, 
> konsultan antah berantah. Jadi terlalu banyaknya rekayasa menjadikan kita 
> mempertanyakan kemampuan perusahaan semacam Transjakarta memimpin proyek 
> raksasa angkutan masal. Demikian juga dengan cara kerja Dinas Perhubungan 
> DKI , maupun Dinas Pekerjaan Umum DKI yang kacau balau dan banyaknya ekses 
> dari Dinas Perhubungan maupun Dinas PU - DKI menunjukkan bahwa Kepala 
> Dinas tak layak menduduki jabatan tersebut.
>
> Sudah sepantasnya pola kerja dipertanyakan karena tak adanya "pengaman " 
> atau " sistim kontrol " dalam menjalankan management perusahaan raksasa 
> yang namanya PT Transjakarta.
> 



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke