Tidak bisa dipungkiri bahwa era kolonial meninggalkan banyak jejak yang
sulit di rubah untuk masa kini, karena secara tidak langsung era kolonial
sudah membuat dasar dari sebuah kepribadian suatu kelompok masyarakat.

Didalam era kolonial, di dunia boleh dibilang Inggris adalah raja nya,
disusul oleh oleh kerajaan lain, Belanda, Perancis, Portugal dan spanyol.

Asia bisa dibilang dikuasai oleh 3 kerajaan besar Inggris, Belanda dan
Portugal.
Sampai berubahnya kerajaan menjadi sebuah negara maka daerah kolonial nya
bisa dibilang banyak yang menginduk ke mantan penjajahnya.

Untuk Asia kita bisa ambil contoh 3 negara yang berlainan proses menuju
kemerdekaan dan ditambah 1 wilayah yang memang di sewa untuk masa seratus
tahun. Indonesia dibawah Belanda, Malaysia dibawah Inggris, India dibawah
Inggris, dan Hongkong disewa Inggris.

Malaysia sebagai sebuah kumpulan dari kesultanan menjadi sebuah negara
dibawah naungan Inggris, sedang India memerdekakan sendiri tanpa banyak
meninggalkan pertumpahan darah, Indonesia yang mengalami banyak pertumpahan 
darah dan juga segala macam intrik yang bisa dibilang tak berkesudahan.

Hal hal yang paling jelas peninggalan kolonial di semua wilayah Asia, bisa
dibilang bisa dilihat di bidang transportasi, karena dengan adanya fasilitas
transportasilah pada akhirnya sebuah negara bisa melihat masa depannya,
karena bidang transportasi sebagai salah satu alat mobilitas yang paling
penting untuk melancarkan segala gerak gerik masyarakat di sebuah negara,
tanpa fasilitas transportasi, maka bisa dibilang sebuah negara tidak akan
bisa mengikuti perubahan yang terjadi di dunia.

Inggris dalam hal ini jauh lebih berwawasan dibandingkan dengan imperialis
lain, dimana transportasi menjadi salah satu bagian yang dijadikan dasar
kepentingan kolonialism, terlihat dari jejak negara mantan jajahannya
semisal India dengan transportasi bawah tanah yang 'njilimet', demikian juga
Hongkong yang biarpun dalam status di sewa, maka subway menjadi salah satu
alat transportasi yang terus dikembangkan biarpun sadar bahwa beberapa saat
lagi sudah menjadi hak negara RRT.
Bandingkan dengan Indonesia, dimana transportasi semua diatas tanah dengan
tata ruang lebih mementingkan kepada tempat hunian dibandingkan dengan jalan
( bisa dilihat jejak sejarah Jakarta sejak bernama Batavia sampai sekarang
boleh dibilang untuk jalan tidak berkembang ), entah karena penjajah melihat
jumlah penduduk hanya untuk sesaat sehingga tidak diperhitungkan pertambahan
penduduk yang berkembang cukup pesat dalam kurun waktu sekian tahun, entah
memang hal tersebut disengaja agar masyarakatnya tidak bisa berkembang untuk
akhirnya melebihi kemampuan si penjajah itu sendiri.

Transportasi Trem di Batavia adalah satu kenangan yang sudah tak berbekas
lagi, karena berganti menjadi bus dan opelet, padahal sejak Indonesia
merdeka bisa dibilang tidak sedikit orang pintar yang duduk di kabinet baik
di jaman Soekarno ( yang ini sulit diminta pertanggungjawabannya, karena
situasi dibawa ke dalam era perang dingin antar blok kapitalis dan
komunis ), namun demikian Soekarno sebagai seorang Insinyur sudah mampu
melihat situasi dan kondisi ibukota Jakarta yang 'kurang ideal untuk menjadi
sebuah ibukota', maka dibentuklah kota baru di pulau Kalimantan dengan nama
Palangkaraya dengan rancang bangun sebuah kota untuk masa depan dan tetap
tidak memiliki rancang bangun untuk subway, dan di era Soeharto bidang
transportasi bisa dibilang menjadi stagnant, dimana pengembangan masih tetap
sama semua bertumpu kepada kendaraan mobil dimana disatu sisi menjadi solusi
cepat dan murah, disisi lain meninggalkan kesulitan mengelola transportasi
dan hal ini ternyata berlaku secara nasional pula.

Kembali kepada era Kolonial Inggris bisa dibilang sadar bahwa membuat
fasilitas subway saling menguntungkan, sedang Belanda lebih melihat
Operation Cost termurah yang malah di amin kan oleh penerus bangsa.

Akibatnya terlihat di kota kota besar di Indonesia, bisa dibilang mobilitas
manusia sehari hari banyak terbuang percuma di jalan an yang terkena macet
dengan solusi tambal sulam.
Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya mengalami hal yang sama, dan hal
ini diperparah pula dengan dasar infrastruktur untuk perkereta apian yang di
anak tirikan.

Saat ini Jakarta sebagai Ibukota sebuah negara bisa dibilang sudah dalam
kondisi kritis untuk bisa dikatakan sebagai ibukota dari sebuah negara
berdaulat, karena infrastruktur tarnsportasi tambal sulam tanpa mau sadar
untuk melakukan perubahan ke masa depan, jauh berbeda dengan Bangkok yang
sebelumnya terkenal karena sumber macet dan sekarang sudah memiliki solusi
yang mengarah menjadi lebih baik.

Hal ini tidak terlihat nyata ketika masa era Soeharto masih berkuasa, semua
ini terjadi sebelum reformasi dan bila kita kembali ke era tersebut untuk
melihat perkembangan infrastruktur transportasi memiliki sebuah kelebihan
yang saat ini malah menjadi hilang, "taat hukum" itulah kelebihan dan
menjadi solusi untuk mengatasi ke semrawutan infrastruktur transportasi di
Indonesia, biarpun pada akhirnya akan tetap menjadi masalah, minimal dengan
taat hukum didalam berkendaraan, pemerintah masih mampu untuk mengatasi
kekeliruan pola pikir peninggalan penjajah yang hanya mementingkan operation
cost sesaat dimasa depan yang boleh dibilang hanya bisa dihitung dalam
hitungan tahun.

Semoga kota kota besar di Indonesia dengan adanya otonomi daerah melihat
peluang tidak populer untuk menjadi populer dimasa depan demi kebaikan kita
semua.......perbaiki Infrastruktur Transportasi, bila investasi subway
mengalami banyak kendala, mengapa tidak meng aktifkan lagi sistim kereta api
dalam kota seperti di era Batavia ?, dimana selain tidak memakan banyak
lahan, dan bisa dipakai bersamaan dengan kendaraan biasa.

Semoga......

sur.



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke