--- In [EMAIL PROTECTED], "Kaka Suminta" <suminta@> wrote: > > Salam, > > Kalimat pertama saya ditujukan untuk mengingatkan bahwa penjajahan bukan > hanya fisik sebagimana terjadi sebelum abad 20 berakhir. tetapi juga > penjajahan lanjutan yang terjadi akibat konflik kepentingan antara kelompok > dan bangsa. Benang merahnya masih kita lihat sampai saat ini. >
Ini omongan kosong yang nggak jelas juntrungnya... Apa sih yang disebut sebagai 'penjajahan lanjutan yang terjadi akibat konflik kepentingan antara kelompok dan bangsa." Kata-kata kosong yang tidak bermakna.. Kebiasaan buruk orang Indonesia yang suka cuap-cuap kayak murai kesiangan... Indonesia itu dudel duwel, aantara lain, karena penduduknya bermayoritas Islam tipikal yang rata-rata dungu-dungu kayak kerbau... Demennnya menghabiskan waktu untuk zikir serta bikin onar dan bukannya mikir. Nggak lama lagi mereka juga akan berbut ria menghamburkan uang untuk naik haji. Tiap tahun disekitar dua ratus ribu mereka yang rame-rame melempari setan di padan gpasir sono sembari menghabiskan uang berjuta-juta... Coba kalau mereka kumpulkan uang itu untuk membangun rumah sakit atau sekolah yang berkwalitas... Saya ulang: bila Indonesia dedel duwel begini maka salah satu sebabnya adalah karena Indonesia telah kena laknat sebagai negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia. > Tetapi justru dalam kalimat kedua saya menegaskan bahwa hanya dengan > kekuatan diri kita sendiri, akan dapat mengatasi permasalahan yang kita > hadapi dan bahkan bisa memberikan kontribusi untuk membangun tatanan dunia > yang lebih adil. > > Tanpa mengurangi rasa hormat Saya atas upaya sekolah yang diprakarsai oleh > kelelompok tertentu, saya tidak sependapat dengan adanya dikotomi dan > stereotype terhadap keagamaan dan kelompok. Lebih jauh yang saya maksud > pendidikan adalah dalam arti luas termasuk demokratisasi, pembangunan > pemerintahan yang bersih dan penghormatan dan pemajuan HAM. > > Tentang Cina anda bisa membaca China Undercover, di balik kemajuan pesar > China. Untuk India saya sepakat dengan anda, dengan catatan tidak jauh-jauh > amat dengan Indonesia. > > Wassalam > > On 10/21/07, JASP <jasp@> wrote: > > > > At 10:08 AM 10/21/2007, you wrote: > > > > >Bom waktu itu adalah kesenjangan dan kesalahan pendidikan secara > > >menyeluruh yang diterapkan oleh penjajah. Dan kini kita melihat > > >hasil buah karyanya, termasuk di Indoensia dan negara dunia ketiga > > >lainya. Beberapa perkecualian juga tidak terlepas dari design penjajah > > tadi. > > > > > > > > > > > >Tetapi kita tidak mungkin hanya meratapi dan menyalahkan Belanda > > >atas keterpurukan kita > > > > Sudah merdeka 60 tahun, kok masih menyalahkan penjajah ? Karena kita > > menjadikan negara terkorup paling hebat ! Bayangkan koruptor diangkat > > menjadi menteri, diangkat menjadi gubernur, diangkat menjadi Hakim > > agung, diangkap menjadi Komisi Yudikatip .... apa masih mau > > menyalahkan Belanda ? > > > > Ada pendidikan sekolah Katolik yang terbukti bagus .... dipersulit > > dan direkayasa mau dihancurkan ... > > > > Kenapa Cina dan India mampu melejit yah ? Karena orangnya rajin dan > > ulet .... lha kita ? > > > > > --- End forwarded message --- Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
