Campuraduk juga perasaan saya membaca pernyataan seperti itu dari 
orang pemerintah. Gembira, karena sudah terlalu lama pemerintah bicara 
industri melulu dari sektor modal & teknologi asing (sepatu, pesawat, 
kulkas, mobil dlsb, yg juga dibikin di banyak negara). Terharu, karena 
pemerintah akhirnya mau menoleh ke kekuatan rakyat sendiri. Sekaligus 
was-was, karena cetusan-cetusan di tengah jalan begini biasanya cuma 
bagian dari kampanye rejim menjelang akhir masa jabatan.

Lepas dari semua itu, kita menuntut keseriusan pemerintah menjalankan 
itikadnya ini agar menjadi muara bagi jutaan perajin & pegiat 
seni-budaya di Indonesia. Ya, di sektor inilah sesungguhnya kekuatan 
(industri) kita. Kekuatan yang melekat pada jiwa, kepribadian, dan 
ketrampilan bangsa. Kekuatan khas yang tidak dimiliki orang lain 
(Malaysia sekalipun) serta memiliki daya saing yang lebih jelas 
ketimbang industri kulkas dlsb itu yang negara lain juga pada bikin.

Sejak jaman Ali Sadikin, Indonesia memang menggeber industri khas 
bernama 'pariwisata' melalui Konperensi PATA. Sayangnya, pada 
konperensi tahun 1974 & 1991 kita cuma menari di gendang orang yang 
cuma mengenal Bali; sedangkan pada konperensi tahun 2003 kita kelewat 
sibuk memulihkan Bali seusai bom; dan Maret barusan lagi-lagi Bali, 
lagi-lagi Bali. Seolah Indonesia adalah sebuah kabupaten di Bali. 
Padahal, nasionalisme masyarakat Bali juga mengharapkan daerah lain 
bisa menikmati berkah alam & budaya setempat.

Jelas & gamblang bahwa penggarapan industri pariwisata kita terlalu 
terfokus pada pembangunan "pintu gerbang" semata. Pemerintah 
sepertinya orgasme memandangi gerbang yang kinclong, sementara para 
tetamu lebih suka menghabiskan waktu (dan doku) dengan berkeliaran di 
pekarangan, meja makan, pasar - dan tentu saja butuh kakus nyaman.

Semangat 'kemasan' yang nyata-nyata mengabaikan 'isi' tsb. aslinya 
mencontoh dari negara-negara yang bangun masyarakatnya bertipe 
struktural. Mereka berhasil karena negaranya sudah kuat secara 
finansial (dari hasil kolonial) untuk memoles isi kemasan. Sedangkan 
di kita, semangat "kemasan" masih ditopang utang, sehingga kemasan 
bukan untuk mencitrakan isi melainkan lebih untuk menggendutkan kocek. 
Alhasil, pada prakteknya sering berkonotasi menjebak, bahkan menipu, 
ketimbang melayani. Etos semacam ini harus segera ditinggalkan kalau 
tidak mau orang-orang meninggalkan kita.

Memang, harus diakui kita kurang begitu jago urusan kemas-mengemas. 
Ditambah dengan pemerintahan yang tak kunjung mengenal masyarakatnya 
yang berbangun kultural, maka lengkaplah penderitaan kita sebagai 
bangsa yang tidak punya nilai jual apapun selain kemiskinan.

Kita berharap, dalam waktu tidak terlalu lama akan datang pemerintahan 
yang memahami kekuatan bangsa sendiri. Bangsa yang terdiri dari 
masyarakat kultural pemilik aneka ragam alam yang patut dilindungi 
sebagai aset, dan terus dikembangkan sebagai identitas bangsa. 
Identitas yang menjadi isi dari kemasan berlabel "INDONESIA". Tidak 
lagi seperti selama ini, di mana banyak produk tekstil, kulit, 
elektronik dsb. yang dikemas dengan label "Hong Kong"; "Taiwan"; 
maupun "London-Paris-New York" serta "Hadramaut"; demi menembus pasar 
sendiri. Sekalipun begitu, ini menjadi bukti bahwa kemas-mengemas 
merupakan urusan yang relatif lebih gampang dibanding membuat isi yang 
orisinal (bahasa kunonya: "character building").

Oleh karena itu, fokus kebijakan pemerintah mendatang tidak bisa tidak 
harus kembali ke pembangunan karakter bangsa. Silakan tengok dan 
dengarkan suasana hati rakyat terutama khalayak muda pemilik masa 
depan. Hanya dengan membangun karakter budaya unggulan, bangsa ini 
dapat kembali sejajar dengan bangsa-bangsa lain.


From: "holyuncle" <[EMAIL PROTECTED]>

: Jakarta sees future for creative industries
: By John Aglionby
:
: Published: October 25 2007 01:43 | Last updated: October 25 2007
: 01:43
:
: Indonesia wants to more than double the creative industries'
: contribution to the national economy in the next few years through
: aggressive development of the country's rich, but largely untapped,
: artistic traditions and cultural heritage.
:
: Mari Pangestu, the trade minister, says the creative industries
: contribute about 4.75 per cent of Indonesia's $400bn (£195m) gross
: domestic product.

[...]

: Yudhi Soerijoatmodjo, the head of a team at the British Council
: helping to develop Indonesia's cultural industries, said the country
: had spent the past three decades focusing on securing investment in
: labour-intensive, low-end manufacturing rather than on product
: design and branding. But when it had ventured into creative
: industries it had found success.
:
: Mr Yudhi said a good example was the music and related mobile phone
: ringtone industry. "Eighty per cent of music sales in Indonesia are
: now from local artists," he said. "And bands have found they can
: make masses of money from just one song by making it into a mobile
: phone ring tone."
:
: Samson, a local rock band, made $1.8m from downloads last year.
:
: "The lack of co-ordination between government ministries is the big
: problem," Mr Yudhi said. "If everybody can work in a co-ordinated
: way the challenges can be overcome because there's a lot of buzz in
: the local media and society."
:
: Andrie Trisaksono, who started designing automated teller machines
: on a scrap of paper four years ago and turned a $4,000 loan into a
: multi-million-dollar company, said the government needed to
: address "economic creativity" issues.
:
: "If they can make it easier to do business here and attract
: investment then our creative industries could be extraordinary," he
: said.
:
:
http://www.ft.com/cms/s/0/53199d60-8285-11dc-a5ae-0000779fd2ac.html?nclick_check=1







Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke