Genduk Mus in the deep of sorrow,sebab Pendeta Yahudi itupun 
Bersyahadat      

Rabu, 31 Oktober 2007 

Awalnya, kedatangan Shimon, seorang Rabbi Yahudi di Islamic Forum 
membuat curiga. Siapa sangka, Shimon justru tertarik Islam dan 
mengucapkan syahadat
 
M. Syamsi Ali 
 
Seminggu menjelang Ramadan lalu, kelas the Islamic Forum nampak lebih 
ramai dari biasanya. Mungkin karena banyak di antara muallaf itu 
ingin lebih mendalami puasa, baik dari segi hukum-hukum yang terkait 
maupun makna-makna hakikat dari puasa itu. Hampir semuanya wajah lama 
atau murid-murid lama, baik muallaf maupun non Muslims, yang telah 
mengikuti diskusi Islam di forum tersebut lebih dari 3 bulan. Tapi 
nampak juga beberapa wajah yang belum aku kenali sama sekali.
 
Salah satu wajah baru itu adalah seorang pria putih dengan janggut 
pendek yang terurus rapih. Duduk di pinggiran ruangan, dan nampak 
memperhatikan dengan seksama tapi terlihat cuwek. Aku sangka bahwa 
orang ini adalah seorang Muslim karena wajahnya mengekspresikan 
persetujuan dengan setiap poin yang kusebutkan siang itu. Tapi, 
nampak dingin dan sepertinya tidak nampak bahwa dia tertarik dengan 
penjelasan saya itu.
 
Saya memang memulai penjelasan saya dengan sejarah puasa kaum-kaum 
terdahulu. Merujuk pada kata-kata "kamaa kutiba 'alalladzina min 
qablikum" (sebagaimana telah diwajibkan atas kaum-kaum sebelum kamu), 
saya kemudian merujuk kepada beberapa fakta sejarah puasa umat-umat 
terdahulu, termasuk kaum yahudi. Di saat saya intens menjelaskan ayat 
ini, tiba-tiba dia tersenyum dan mengangkat tangan.
 
"Yes Brother!" sapa saya. "Can I say something?" tanyanya. Tentu 
dengan senang saya menyetujuinya. Dia kemudian meminta maaf karena 
tiba-tiba masuk ke kelas ini tanpa permisi. "I feel I did some thing 
impolite", katanya. "Oh no, this forum is open for every person, and 
doesn't require any registration. You are in the right place on the 
right time", jawabku.
 
"What did you want to say Brother? But let me ask you first, what is 
your name?", tanyaku. "Sorry, I am Shimon!", jawabnya.
 
Dia kemudian menjelaskan puasa dari perspektif Yahudi. Dengan sangat 
lancar dan seolah berceramah dia bersungguh-sungguh menjelaskan 
sejarah dan makna puasa dari pandangan ajaran Yahudi. Mendengarkan 
penjelasan itu, hampir semua yang hadir terkejut. Melihat situasi 
itu, sayapun bertanya: "Sorry Brother, are you a Muslim or not? And 
why do you know a lot about Judaism?".
 
Sedikit gugup dia kemudian mengatakan: "Imam, actually I am a Rabbi. 
I was ordained Rabbi two years ago". Mendengarkan penjelasannya itu 
rupanya membuat banyak peserta ternganga. Baru pertama kali kelas the 
Forum for non Muslims ini ditangani seorang Rabbi (pendeta Yahudi). 
Apalagi dalam penjelasannya tentang puasa itu seperti mendakwahkan 
ajarannya. Sehingga wajar kalau ada yang curiga kalau-kalau dia 
datang untuk sebuah misi.
 
Saya kemudian menyapah dengan ramah dan mengatakan: "Welcome to our 
class sir!". Tapi untuk menenangkan para peserta saya menyampaikan 
kepadanya bahwa saya sudah seringkali terlibat dialog dengan pendeta-
pendeta Yahudi, seraya menyebutkan beberapa Rabbi senior di kota New 
York . Mendengarkan nama-nama itu, rupanya cukup mengagetkan bagi 
dia. "All those are very respectful Rabbis!" katanya. "Yes, I am 
fortunate to have known them and be known by them!" kataku.
 
Saya kemudian menyampaikan terima kasih atas penjelasan-penjelas 
annya mengenai puasa di agama Yahudi. "It's almost similar to ours. 
The only thing that you guys keep changing it throughout the 
history". Mendengar itu, nampaknya dia setuju dan hanya mengangguk.
 
Saya kemudian melanjutkan penjelasan saya mengenai hukum-hukum puasa. 
Murid-murid muallaf, dan bahkan non Muslim yang hadir hari itu memang 
ingin tahu bagaimana menjalankan ibadah puasa. Tanpa terasa, 
penjelasan mengenai puasa itu memakan waktu lebih 2 jam. Akhirnya 
tiba sesi tanya jawab.
 
Rupanya tidak terlalu banyak hal yang ditanyakan oleh peserta dan 
waktu masih ada sekitar 45 menit. Maka kesempatan itu saya pergunakan 
untuk menjelaskan agama dan umat Yahudi dalam perspektif Al-Quran dan 
sejarah. Bahwa memang Al-Quran menyinggung secara gamblang sikap 
orang-orang Yahudi terdahulu, mulai sejak nabi Ya'kub hingga nabi-
nabi kaum Israil lainnya, termasuk umat nabi Musa A.S.
 
Sejarah pergulatan politik, agama, kultur dan budaya antara kaum 
Muslimin dan kaum Yahudi di Madinah, termasuk bagaimana awal 
terbentuknya Piagam Madinah. Saya kemudian menjelaskan bagaimana 
toleransi Rasulullah S.A.W di Madinah dengan fakta-fakta sejarah yang 
akurat. Bagaimana Umar bin Khattab memberikan keluasan bagi kaum 
Yahudi untuk kembali menetap di Jerusalem setelah diusir oleh kaum 
Kristen. Bagaiman penguasa Islam di Spanyol memberikan "kesetaraan" 
(equality) kepada seluruh rakyatnya, termasuk kaum Yahudi. Bahkan 
bagaimana penguasa kaum Muslim di bawah Khilafah Utsmaniyah menerima 
pelarian Yahudi dari pengusiran dan "inquisasi Spanyol" kaum Kristen 
di Spanyol.
 
Penjelasan-penjelas an saya itu rupanya tidak bisa diingkari oleh 
Shimon. Rupanya mereka juga tahu fakta-fakta sejarah itu. Bahkan 
sebenarnya kebanyakan buku-buku sejarah toleransi Islam kepada umat 
Yahudi itu justeru ditulis oleh mereka yang non Muslim dan bahkan 
mereka yang beragama Yahudi sendiri. Saya bahkan mengutip pernyataan 
Kofi Annan, mantan Sekjen PBB, dalam sebuah acara interfaith di PBB 
tahun lalu.
 
Tanpa terasa 30 menit berlalu. Di akhir-akhir pertemuan itu, tiba-
tiba Shimon sekali lagi dengan tatapan mata yang nampak acuh, 
mengangkat tangan. "Yes Brother, any comment?", pancingku. "Yes, I 
think what you just said, for us Jews, are well known", katanya. Dia 
kemudian berbicara panjang lebar mengenai upaya penyembunyian fakta-
fakta sejarah itu. Dan pada akhirnya dia mengakui bahwa bagi mereka 
yang murni masih mengikuti ajaran Yahudi seharusnya percaya kepada 
risalah terakhir dan nabinya.
 
Saya kemudian memotong pembicaraan Shimom, seraya bercanda: "If so, 
do you consider yourself a genuine Jew or not". Dia sepertinya 
tertawa, tapi nampaknya karena kepribadian dia yang memang kurang 
tersenyum dan nampak seperti cuwek, dia menjawab: "To be honest with 
you, I believe that this is the religion of Moses". He came with the 
same mission that Mohamed brought around 15 centuries ago", tegasnya.
 
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, saya tanya lagi: "So you believe 
that Mohammed is a messenger and prophet of God and his teaching is 
the true teaching of God?", tanya saya. Dengan tenang dia 
menjawab: "I am sure about that. But I really don't know what to do".
 
"Brother Shimon", basically you are a Muslim. What you need to do is 
simply you need to formalize your faith with the presence of 
witnesses", jelasku.
 
Mendengarkan itu, dia nampak tersenyum tapi melihat raut wajahnya dia 
sepertinya cuwek. Tapi karena sejak awal memang demikian, saya yakin 
bahwa cuwek itu bukan berarti tidak serius, tapi memang itulah 
kepribadiannya. Tiba-tiba dia bertanya: "And how to do that?". Saya 
menengok pada peserta lainnya yang juga ikut senang mendengarkan 
percakapan itu, lalu menjawab: "Brother, it's very easy. What you 
need to do right know is that you must confess that there is no god 
worthy of worship but Allah, and that Muhammad is His Prophet and 
Messenger. Are you ready?" tanyaku.
 
Setelah dengan mantap menjawab "yes", saya kemudian mengatakan kepada 
peserta lainnya yang hampir semuanya muallaf, "be witnesses for 
Allah!". Maka, dengan suaranya yang lantang, Rabbi Shimon resmi 
mengucapkan "Syahadaaten", diikuti kemudian oleh pekikan takbir para 
peserta Forum Islam yang kebanyakan wanita itu. Dan Ramadan kemarin 
adalah awal Ramadan baginya dengan puasa penuh secara Islam.
 
Kemarin siang, Sabtu 27 Oktober, setelah kelas selesai, Shimon 
mendekati dan berbisik: "I don't know if this is an appropriate 
question to ask", katanya. "What is that?", tanyaku. "Who was that 
lady sitting to your right side, and is she married?", tanyanya. "Why 
is the question?" tanyaku lagi. "I think it is the time for me to be 
serious in my life. I need a wife", katanya serius.
 
"Ok Brother Shimon. I really forgot whom that you are talking about. 
But let me know next week", jawabku. "Sorry Imam if that is 
considered inappropriate to ask". "Oh not at all. It is in fact an 
important thing to ask. And believe me, it is also my responsibility 
to help you in this regard. We will talk next Saturday about it", 
kataku sambil meninggalkan kelas.
 
Alhamdulillah, semoga mantan pendeta Yahudi ini dikuatkan dan dan 
dijadikan da'I yang tangguh bagi kebenaran di masa depan. Amin!
New York , 29 Oktober 2007
 
* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. 
Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di 
www.hidayatullah.com
 
Shalom,
tawangalun.



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke