----- Original Opinion ----- Oleh Kartono Mohamad http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/03/opini/3936293.htm ===================== : > : Indonesia adalah negara penghasil tembakau dan rokok yang ingin : menjadikan industri rokok sebagai industri unggulan. Untuk diekspor? : Tentu tidak karena banyak negara yang kian ketat membatasi impor : rokok. Jadi untuk konsumsi dalam negeri. Pemerintah, misalnya, : enggan menaikkan cukai rokok dan memilih meningkatkan produksi untuk : dapat meningkatkan pendapatan dari rokok (Kompas, 20/9/2007). : Tujuannya, bagaimana pendapatan negara naik dan rakyat miskin dapat : membeli rokok. :
Saya suka bagian ini. Coba kita tukar "industri rokok" di atas dengan "industri otomotif", maka ketemu sudah jawaban dari penyebab kemacetan jalan (serta tingginya tumpukan data kesengsaraan lain, mulai dari kredit mobil / motor, pencurian kendaraan, sampai kecelakaan lalulintas). Sebuah pola bisnis & keuangan pemerintah yang dijalankan dengan penuh ketidak-bertanggungjawaban. Boleh jadi pemerintah cuma memanfaatkan masyarakat yang kecanduan ja'im. Tetapi, memutar bisnis untuk menggerogoti uang rakyat adalah penghisapan yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Bagaimanapun juga pemerintah punya kewajiban - dan hak - untuk menjaga citranya sebagai abdi yang menentramkan masyarakat. Bukan sebagai preman, bukan sebagai penjajah, dan bukan juga sebagai penganut paham kenegaraan yang diperintah orang-orang kaya / pencari kekayaan (aristokrat). Oleh karena itu, yang terpenting dalam situasi seperti ini adalah peran para ilmuwan & akademisi dalam mendampingi rakyat yang dibiarkan menjadi pecandu. Mendampingi untuk menggugah kesadaran masyarakat sekaligus mengoreksi nilai buruk yang diulang-ulang pemerintah - secara akademik, pemerintah yang ngotot mempertahankan nilai-nilai buruk jelas gagal dalam "UAN"! Kaum ilmuwan juga hendaknya jangan terlalu ngilmiah ala text-book. Alhasil, kesadarannya sendiri lenyap dan kurang awas bahwa penyebab kemacetan adalah kendaraan yang jumlahnya terus bertambah. Hilangnya kesadaran akan realita ini amat mudah dimanfaatkan para elit politik untuk membenturkan masyarakat yang adu pengetahuan seputar "pucuk" peristiwa; bukan tentang "akar" masalahnya. Sehingga pendapatan elit tetap naik apalagi keterdesakan rakyat terus dijawab melalui kemudahan-kemudahan memperoleh kredit kendaraan bermotor. Lewat tulisan itu, tampaknya dr. Kartono mulai melanjutkan tradisi kalangan dokter yang pernah menggugah bangkitnya kesadaran sekaligus membidani lahirnya bangsa ini. Selanjutnya, silakan para akademisi berlomba menemukan kecocokan pola industri rokok tadi pada industri-industri lain, atau pada apapun jua yang berujung pada ketidakpedulian elit politik terhadap kesejahteraan rakyat & ketahanan nasional, alias kecanduan kursii wave of power (yang tentu lebih dahsyat dari jenmanii anthurium wave of love) .... Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
