REPUBLIKA
Kamis, 08 Nopember 2007

Trialog Peradaban 

Oleh : Azyumardi Azra 


"Children of Abraham: A Trialogue of Civilizations". Saya beruntung diundang 
mengikuti konferensi ini, yang diselenggarakan Harvard University, persisnya 
Weatherhead Center for International Affairs dan Harvard Divinity School pada 
21-24 Oktober lalu. 'Anak-anak Ibrahim' tak lain adalah para pengikut tiga 
agama; Yahudi, Kristen, dan Islam. 

Sejumlah ahli agama dan masyarakat Yahudi, Kristen, dan Islam memaparkan 
makalah mengenai berbagai aspek keagamaan dan kemasyarakatan 'children of 
Abraham', anak-anak Nabi Ibrahim. Termasuk di antaranya William Graham, Dekan 
Fakultas Divinity Harvard; Moshe Ma'oz, guru besar emeritus Hebrew University, 
Jerusalem; Harvey Cox, teolog Harvard; Sari Nusaibeh, profesor filsafat dan 
rektor Universitas al-Quds, Jerusalem; Muhammad el-Hawary, guru besar pemikiran 
Yahudi pada Universitas Ain Syams, Kairo; Diana Eck, guru besar Perbandingan 
Agama, Harvard University; Azyumardi Azra --satu-satunya dari Asia-- dan 
beberapa pembicara lain. 

Konferensi ini, hampir pasti, bukan yang pertama. Sejumlah konferensi serupa 
telah berlangsung sejak 1980-an dengan pasang dan surutnya. Pada awal 1980-an 
tersebut, almarhum Profesor Isma'il Raji Faruqi, guru besar di Temple 
University, Philadelphia, termasuk salah satu dari sedikit ahli yang 
memperkenalkan istilah 'Trialogue of Abrahamic Faiths' yang kemudian dia tulis 
menjadi buku yang utuh. Ismail Faruqi, seorang Palestina, melihat pembicaraan 
segi tiga di antara para pengikut agama Nabi Ibrahim, sangat esensial untuk 
terciptanya perdamaian di kawasan Palestina-Israel, juga di muka bumi secara 
keseluruhan. 

Hal ini dengan mudah bisa dipahami. Konflik berlanjut di Timur Tengah antara 
Israel dan Palestina, baik langsung maupun tidak, melibatkan para penganut 
ketiga agama Nabi Ibrahim. Konflik itu memang terjadi di Timur Tengah; tetapi 
dampaknya terasa di tempat lain, di mana terdapat penganut ketiga agama 
tersebut. Sebab itu, percakapan di antara ketiga agama (trialog) diharapkan 
dapat menumbuhkan saling pengertian dan toleransi yang pada gilirannya 
mendatangkan perdamaian.

Dalam makalah berjudul 'Trialogue of Abrahamic Faiths: Towards the Alliance of 
Civilizations', saya melihat 'Abrahamic Faiths' yang dalam Alquran disebut 
sebagai 'millah Ibrahim' memiliki banyak kesamaan dan afinitas; lebih dari itu, 
ketiganya juga berbagi sejarah yang sama. Tetapi, tentu saja, masing-masing 
agama Nabi Ibrahim tersebut unik dalam dirinya sendiri. Lagi pula, para 
penganut ketiga agama itu ibarat kakak-adik, juga terlibat dalam persaingan, 
kecemburuan, konflik, dan bahkan perang.

Setelah Peristiwa 11 September 2001, hubungan penganut ketiga agama cenderung 
memburuk. Ketegangan meningkat antara Barat --yang terutama mencakup penganut 
agama Yahudi dan Kristen-- pada satu pihak dengan kaum Muslimin pada pihak 
lain. Peningkatan konflik tersebut, bagi sejumlah kalangan seolah membenarkan 
skenario 'perbenturan antara peradaban-peradaban', seperti digagas ahli politik 
Harvard, Samuel Huntington, pada akhir 1990-an.

Memang, konflik antara Dunia Muslim dan Kristendom pernah terjadi pada masa 
klasik dan pertengahan, ketika kekuasaan Islam menguasai Semenanjung Iberia dan 
Eropa Timur. Konflik ini meningkat dengan terjadinya Perang Salib (1095-1250); 
dan pada 1492 kekuatan Kristen Eropa berhasil menguasai kembali Semenanjung 
Iberia; mereka kemudian melakukan inquisisi terhadap kaum Muslimin. Banyak 
Muslimin dan orang-orang Yahudi menyelamatkan diri ke kawasan Muslim Afrika 
Utara dan wilayah Muslim lain di Arabia.

Tetapi, seperti dikemukakan banyak sejarawan, khususnya Richard Bulliet (2004), 
hubungan para penganut ketiga agama ini lebih dari sekadar persaingan, konflik 
dan perang. Hubungan di antara ketiga agama sesungguhnya penuh jalin dan 
kelindan; tidak hanya pada tingkat kitab suci masing-masing agama itu, tetapi 
juga pada tingkat peradaban. Pada kenyataannya, hubungan yang berkelindan 
tersebut menghasilkan saling pengaruh dan saling memperkaya peradaban, tidak 
hanya di Timur Tengah, tapi juga di Eropa dan selanjutnya ke wilayah lain.

Karena itu, pada masa sekarang dan akan datang, perlu penciptaan sebuah 
peradaban yang disebut Bulliet sebagai 'Islamo-Judeo-Christian civilization'. 
Kerangka ini didasarkan kenyataan, kemajuan peradaban sekarang ini bukan hanya 
bersumber dari 'Judeo-Christian civilization', tetapi juga melibatkan 
kontribusi yang tidak bisa diabaikan dari peradaban Islam. Di sinilah perlunya 
penciptaan dan penguatan kembali naratif baru tentang aliansi peradaban di 
antara 'anak-anak Nabi Ibrahim'. Jika ini bisa dihasilkan, pastilah kita hidup 
dalam dunia dan peradaban lebih damai.


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke