Penganggur Meningkat Diwlilayah RI Yang Menjadi Shariah Islam !!! Pengangguran dan kriminal meningkat drastis disemua wilayah Indonesia yang Pemda-nya memaksakan berlakunya Syariah Islam. Banyak preman2 yang mendaftarkan diri menjadi polisi Syariah. Namun pemda mempersyaratkan bahwa polisi Syariah harus berasal dari penduduk kelurahan ybs. Kalo dulu dizaman kejayaan GolKar para pemuda berebutan menjadi anggauta karang taruna agar bisa mengutib sumbangan dari masyarakat maupun pengusaha2 lokal, maka sekarang menjadi polisi Syariah membuka lahan baru bagi para pengangguran yang jumlahnya makin banyak. Semua calon polisi Syariah dididik dulu di mesjid yang terdekat. Akibat banyaknya peminat yang ingin menjadi polisi Syariah maka wajar kalo pungutan2 pun berlangsung ketat. Mulai dari cuma 500 ribu sekarang sudah ada yang berani membayar 5 juta agar bisa menjadi polisi Syariah.
Polisi Syariah bukanlah polisi melainkan penduduk biasa yang harus paham AlQuran dan diketahui menjalankan rukun Islam secara ketat. Ditambah lagi mereka harus melalui pendidikan kilat di mesjid. Gajinya bervariasi dan dana untuk gaji polisi Syariah bukanlah berasal dari kas Pemda melainkan para polisi Syariah wajib memungut sumbangan dari rumah kerumah maupun semua pengusaha lokal yang ada diwilayah ybs. Hal ini tidaklah mudah, sering terjadi keributan karena ada rumah yang sudah membayar tetapi ditagih lagi. Sistem management polisi Syariah banyak meniru sistim perhansipan, namun pembagian dana yang terkumpul tidak jelas sangat tertutup dan setiap polisi Syariah hanya menerima seadanya yang didapatkan kalo beruntung bisa dapat tambahan dari mengutib mereka yang dituduh melanggar Syariah seperti wanita yang pulang kemalaman atau suami isteri yang boncengan motor kelupaan membawa surat kawinnya, semuanya menjadi uang tambahan bagi polisi Syariah yang menindaknya. Bukan jarang, tuduhan itu di-cari2, meng-ada2 sehingga pertengkaran sering terjadi. Situasi wilayah Syariah ini menjadi makin tidak tenang, kebanyakan masyarakat yang non-Islam yang cuma mengontrak rumah disana sudah meninggalkan wilayah itu, sedangkan mereka yang memiliki rumah berusaha menjualnya untuk pindah kewilayah yang bukan Syariah Islam. Harga rumah jatuh, banyak yang mau jual tapi susah ada pembelinya. Hampir semua penduduk diwilayah berSyariah ini pengangguran semua, kalopun ada pegawai biasanya pegawai negeri dari PLN, Bank Eksim, ataupun dari pegawai Pemda. Selebihnya cuma duduk2 menunggu rezeki kalo ada wisatawan domestik datang akan dikerumuni untuk dibantu ini dan itu. Tidak jarang wisatawan2 domestik yang tinggal dihotel didatangi wanita2 muda yang sewaktu masuk kekamar sang wisatawan mendadak digerebek oleh polisi Syariah. Tentu kalo hal ini berhasil terjadi maka juga menjadi penghasilan tambahan. Karena penduduk yang bukan Islam jumlahnya makin sedikit, maka pengusaha2 muslim pun sekarang menjadi bulan2an para polisi Syariah. Seorang haji yang baru pulang menutup warungnya pulang bersama isterinya, mendadak dihadang polisi Syariah yang langsung menanyakan surat nikahnya. Untung sang haji membawanya, dan ternyata isterinya yang ke 8. Polisi Syariah melepaskannya tetapi tentunya pak haji tak lupa memberi bekal uang kopi secukupnya untuk ketiga orang polisi Syariah yang rajin ini. Ekonomi pemda makin parah, kebetulan ada issu Islam sesat, tambahlah tembakan baru bagi polisi Syariah. Sebuah pengajian digerebek semua makanan yang ada disita, kemudian penyelenggara pengajian di interogasi untuk meyakinkan mereka bukan Islam aliran sesat. Berbagai kejadian tidak banyak diberitakan, tetapi ada kalanya beritanya masuk ke koran namun tidak dikatakan sebagai akibat berlakunya Syariah Islam. Di Merdeka Online diberitakan seorang buruh bangunan ditangkap dan digiring oleh polisi Syariah Islam untuk kemudian diteruskan ke pos polisi dengan tuduhan menculik seorang gadis dibawah umur. Setelah diperiksa dipos polisi, ternyata gadis ini adalah pacar dari sang buruh bangunan ini dan gadis ini tidak dibawah umur karena gadis ini sudah berusia 19 tahun. Buruh bangunan dan gadis ini memang nginep dihotel atas kemauan bersama, namun sekelompok polisi Syariah mendatangi dan memaksa orang tua gadis ini untuk menuduh si buruh bangunan sebagai penculik. Namun tuduhan itu akhirnya gagal karena polisi mendapatkan pengakuan gadis itu bahwa tindakannya benar2 atas kemauan sang gadis yang mencintai sang buruh itu. Keadaan belum selesai, gagal menuduh sebagai penculik sang orang tua dipaksa untuk menuntut bahwa laki2 buruh bangunan itu membawa anak gadisnya tanpa seizin orang tuanya sehingga tetap dikenakan pasal2 tuntutan berat yang juga termasuk berzinah dengan bukan muhrimnya. Entah bagaimana akhirnya, yang pasti uang simpanan milik sang buruh harus ditumpahkan kering untuk membayar polisi Allah ini dan juga PolRI yang menjadi backingnya. Kalo kita bandingkan dengan polisi Syariah di Arab Saudia, mereka semuanya digaji oleh kerajaan, bahkan masyarakat warganegara Arab Saudia tanpa bekerja sekalipun mendapatkan uang jaminan dari pemerintah, sekolah gratis hingga universitas, kesemuanya ini karena jumlah kekayaan kerajaan Arab yang berasal dari minyaknya melebih dari biaya kebutuhan hidup masyarakat Arab yang jumlahnya cuma beberapa juta saja. Wajar kalo rakyat Arab tak perlu kerja, kebanyakan pekerja2 yang di Arab Saudia bukanlah orang2 Arab Saudia melainkan warganegara lain dari negara2 tetangganya termasuk juga orang2 Indonesia. Jadi sulit untuk mencari teladan management penggajian polisi Syariah di Indonesia apalagi pemerintah pun mengalami krisis ekonomi yang sangat berat sehingga tak memungkinkan mengatasi penggajian polisi Syariah ini. Meskipun kondisi Syariah Islam morat marit, para pendukung Syariah Islam tetap berusaha memaksakan pemda2 tetangganya untuk juga memberlakukan hukum Syariah dipemda ybs. Gampang sekali memaksakan berlakunya Syariah Islam, namun yang sulit justru mamanage penggajian polisi Syariah yang tentunya tidak bisa gratis. Polisi Syariah makin menjadi beban masyarakat meskipun tidak pernah ada keluhan yang dilontarkan. Seluruh masyarakat cuma mencaci maki dalam hatinya saja, karena kalo sampai keluhan keluar dari mulut mereka, bisa2 dituduh murtad, kafir, dll yang dipastikan akan menjadi lebih susah lagi hidup mereka, dan menjadi alasan yang baik untuk menjarah harta benda mereka sebagai penganut Islam sesat. Ny.Muslim binti Muskitawati. Menyampaikan teriakan penduduk diwilayah Pemda yang ber-Syariah. Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
