AA Gym, The Phenomenon

Oleh: [EMAIL PROTECTED]

        Siapa tak kenal Abdullah Gymniastar alias Aa Gym?
Saya yakin, 99 persen pembaca menyatakan kenal. Semua
kalangan, dari kalangan elit sampai yang bersandal
jepit mengetahui siapa itu Aa Gym. Semua usia, yang
masih remaja maupun yang sudah berumur banyak pasti
menyukai petuah-petuah dan tausiah-tausiah yang beliau
sampaikan. Bahkan penggemarnya terkadang bukan hanya
dari kaum muslimin saja. Mereka yang non-muslim pun
banyak yang menyukai ceramah-ceramahnya. 

        Bahan baku ceramahnya memang tidak sulit-sulit amat
untuk dicerna. Beliau selalu menghadirkan topik-topik
yang menyentuh hati, baik ketika membicarakan masalah
sosial, ekonomi, kultural, politik, hingga masalah
aqidah sekalipun. Tak heran beliau membuat semacam
“merek dagang” (trade mark) yang disebut Manajemen
Qalbu. 

        Karena yang menjadi sasaran dakwahnya adalah “hati”,
yang nota bene dimiliki oleh seluruh lapisan manusia,
maka penggemarnya pun tak hanya dari mereka yang rajin
ke masjid. Pengagumnya bukan cuma bapak-bapak yang
berpakaian “koko”, berpeci putih ketika pergi ke
masjid atau, ibu-ibu berjilbab di kala hari raya.
Kalangan radikal, yang tak mau bernegosiasi dengan
kata “kafir”, “Israel” dan Yahudi pun ikut larut
ketika beliau berpidato. Bahkan musuhnya kaum radikal,
yaitu, orang-orang yang malas beribadah, dan
melegalkan kemalasan itu dengan label liberalism, atau
para pengikut kaum liberal, menilai Aa Gym adalah
tokoh yang bisa menjembatani “clash” di antara sesama
kaum muslimin.

        Di dunia internasional pun nama Aa Gym pernah mampir
ke Gedung Putih, ketika penghuni gedung itu, mbah
bush,  mengundangnya untuk melakukan monolog (bukan
dialog) di Bali beberapa tahun yang lalu. Tapi
pencipta dan pelantun lagu Jagalah Hati ini, memilih
untuk tidak datang, dari pada melukai hati kaum
muslimin yang lagi geram melihat sepak-terjang orang
amerika yang satu itu. 

        Begitulah sosok Aa Gym. Kemunculannya begitu
tiba-tiba menjadi sukses dalam segala hal. Jalan
hidupnya menjadi panutan para bapak-bapak, rumah
tangganya yang harmonis menjadi tolok ukur sebuah
keluarga bahagia, ibu-ibu berlomba untuk menjadi “the
best” bagi suami dan anak-anaknya, seperti “teteh”nya
Aa. Para pengusaha selalu menggunakan
motivasi-motivasi bisnisnya. Instansi-instansi
pemerintah tak jemu mengundang beliau untuk memberi
motivasi dan siraman rohani para pegawai dan stafnya.
Beberapa muballigh malah tak malu-malu meniru
penampilan Aa Gym, meletakkan huruf “Aa” di depan nama
mereka, menggantikan titel “Kyai” dan “ustadz”. Tentu
saja dengan tujuan supaya “dagangan” mereka lebih
laris. Supaya lebih meyakinkan lagi, “Aa-Aa” itu juga
memakai sorban yang kedodoran.

        Pokoknya apa pun yang dijalankan Aa Gym, memancing
orang untuk menirunya dan pasti mengundang selera,
mendatangkan massa, dan tentu saja, uang. Bermodalkan
figur itulah, imperium bisnisnya merambah segala
sektor. Bagaikan cerita-cerita dalam sebuah film
Holywood, di mana peran utamanya selalu mendapatkan
akhir yang berbahagia, a very-veru happy ending.
Itulah kisah Aa Gym.

        Kenapa sosok Aa Gym menjadi begitu fenomenal?
Bukankah beliau orang yang biasa-biasa saja? Coba
lihat pendidikannya. Apa beliau lulusan pondok
pesantren terkenal? Apa beliau pernah kuliah di Mesir,
Malaysia, atau Harvard? Atau, apa ada alumni IAIN
Ciputat yang pernah duduk satu bangku dengannya? 

        Banyak lulusan pesantren terkenal, tapi tidak
menghasilkan apa-apa. Banyak lulusan Al Azhar, tapi
hanya berpikir untuk diri sendiri. Banyak yang
bersekolah di University Kebangsaan Malaysia tapi
pulang kampung, ilmunya tidak terpakai. Ribuan
penyandang gelar sarjana Ciputat, tapi kemudian hanya
berkutet di tempat tidur. Tidak sedikit mereka yang
sekolah di negri Barat, tapi pulang ke negri sendiri
malah jadi tikus-tikus berdasi.

        Aa Gym muncul ketika bangsa ini sedang dilanda
berbagai macam goncangan. Secara politis, ekonomis,
budaya, bahkan keyakinan, bangsa Indonesia masih
tergolong bangsa yang rentan, tidak punya pendirian.
Mana yang dianggap enak dihati, itulah yang diikuti.
Tidak peduli benar atau salah. Gaya hidup dan cara
berpakaian boleh ala bule; serba ketat dan agresif
secara seksual. Tapi begitu masuk waktu sholat, dengan
wajah tanpa berdosa memasuki musholla. Ketika
mendengar khotbah Jum’at, para hadirin sidang jamaah
Jum’at yang berbahagia manggut-manggut mendengar
khutbah sang khatib. Merasa diri sudah paling berhak
mencium bau sorga ketika sudah berada di masjid.
Sementara aspek-aspek sosial-horizontal terabaikan.
Kesewenang-wenangan terhadap alam, hewan dan
lingkungan dilestarikan. Sebab pulang dari masjid,
semua ilmu yang dimilikinya digunakan untuk kesenangan
pribadi. Tak peduli akibatnya tetangga kelaparan atau
mendapat sengsara.

        Kita masih sebatas menghadirkan “masjid” di
lingkungan masjid. Untuk menghadirkan “masjid” di
pasar tempat kita belanja sayuran, atau di mall tempat
kita menghamburkan uang, atau di kantor tempat kita
meniti karir, sangatlah sulit. Apatah lagi
menghadirkan “masjid” di jalan raya. Di mana para
pengguna jalan biasanya cenderung lebih kuat
egosentris. Para pengguna jalan dikurung dalam
kaleng-kaleng kotak yang disebut mobil dan motor.
Seolah merasa diri mereka lebih istimewa dibandingkan
yang di luar kaleng.

        Ketika gas dipacu, seolah jalan raya adalah milik
kita sendiri. Kita musti yang harus berada paling dulu
di depan.  Andrenalin kita memacu otak, menyingkirkan
budaya dan tata krama, di atas kendaraan bermesin.
Sumpah serapah terucap ketika ada yang mengganggu atau
menghalangi laju kendaraan kita. Orang menyebrang pun
kita klakson kuat-kuat supaya menyingkir. Roda tak
boleh berhenti, sampai tujuan tercapai.

        Di tengah-tengah kultur bangsa Indonesia yang labil
itulah, sosok Aa Gym muncul memberi siraman rohani
yang selama ini belum pernah terdengar, sejak Buya
Hamka meninggal dunia. Didukung oleh budaya bangsa
yang “lebih suka mendengar” daripada “membaca”, maka
kehadiran Aa Gym adalah “Right person in the right
place”. Beliau muncul akibat dari sebuah usaha yang
tak mengenal lelah dan putus asa. Jalan dakwahnya
terlahir dari ketulusan, kejujuran, yang disampaikan
dengan gaya rendah hati, tidak angkuh apalagi
menggurui. Beliau tak malu-malu menyatakan bahwa
dirinya masih dalam tahap belajar setiap kali
menyampaikan kuliah. Tak ada rasa merasa bahwa dirinya
lah yang paling benar.

        Tapi sayangnya, tausiah – tausiah Aa Gym hanya
berlaku ketika beliau sedang “show” saja. Padahal pada
kenyataannya, lebih banyak setan di jalan raya, pasar,
atau mall. Tapi kita lebih suka melupakan nasehat dan
saran-saran Aa Gym ketika berada di tempat-tempat tsb.
Kita justru terhanyut pada saat hati kita diketuk Aa
Gym. Kita menangis pada saat Aa Gym berdo’a. Tapi kita
tertawa-tawa ketika saudara-saudara kita menderita.
Demikian kuatnya pengaruh “manajemen qalbu” yang
disampaikan Aa Gym. Tapi ternyata hanya sebatas pada
saat kita menikmatinya saja.  

        Para pengagum Aa Gym seperti juga para penggemar
artis. “Fans” Aa Gym tidak jauh beda dengan para fans
Dewa, Padi, Gigi, Ungu dan group-group musik lainnya.
Melantunkan nyanyian, yang penting enak di dengar, dan
nyaman di hati ketika disimak. Setelah lagu usai,
rusuh kembali melanda jiwa.

        Menanggapi fenomena itu, rumah-rumah produksi
sinetron, berlomba memasukkan Aa Gym dalam agenda
mereka sebagai salah satu selebriti, yang tak
bosan-bosan “dikunyah” penonton TV. Tak
sungkan-sungkan mereka mendudukkan seorang Motivator
Spiritual tsb sejajar dengan para artis yang selalu
digosipkan dengan skandal-skandal alat kelamin,
seperti, Ahmad Dhani dan istrinya, Rhoma irama dan
Angel Alga, Peterpan dan groupnya, Inul dan pantatnya.

        Menanggapi gejala itu, saya pernah berseloroh pada
kawan saya, ketika ada “show” Aa Gym di kota saya,
“Coba kalau Aa Gym jadi sopir angkutan, atau tukang
ojek, atau kuli bangunan, apa beliau masih bisa
mempraktekkan nasehat-nasehatnya? Apa beliau bisa
bersabar dan tidak mengumpat, ketika sedang asyik
menyetir bus kota, tiba-tiba ada sepeda motor
menyebrang. Atau masihkah beliau gigih sesuai
nasehatnya, ketika menjadi tukang ojek, menunggu
penumpang tak muncul-muncul, tapi ketika muncul malah
diserobot ojeker lain? Apakah beliau masih bisa
melafazkan kata-kata toyyibah ketika menjadi kuli
bangunan yang tersengat matahari, dan diterpa hujan di
kala kehujanan? Tak ada seorang pun yang tertarik
melirik, apalagi memberinya bantuan?”

        Hanya perlu beberapa bulan untuk menemukan jawaban
tsb. Ketika tiba-tiba saja beliau ditinggalkan para
penggemarnya gara-gara berpoligami, beliau tidak
kehilangan semangat sebagai motivator hati. Tentu saja
kali ini sambutannya tidak seheboh dulu. Foto-fotonya
tidak lagi menghiasi media massa. Tulisannya tak lagi
dimuat surat-surat kabar lokal dan interlokal.
Senyumnya yang fotogenik tak lagi menghiasi
rumah-rumah jamaahnya. Ibu-ibu pengajian merasa
cemburu karena dimadu. Imperium bisnisnya hampir
collaps karena konsumen kecewa.

        Di sinilah ke-ikhlasan seorang da’i diuji, ketika
umatnya meninggalkannya karena menerapkan syariat
Allah. Sungguh ironi yang menyesakkan dada. Gara-gara
“kawin lagi” itulah peluru mematikan yang menohok Aa
Gym. 

        Di tengah realita bahwa orang sukses selalu digoda
wanita dan lebih banyak terjerumus dalam lembah
perzinaan, Aa Gym lebih memilih untuk mengalihkan
godaan itu dengan jalan yang diridloi agama. 

        Tapi masyarakat ternyata lebih suka melihat Aa Gym
berkolaborasi dengan setan, seperti para pejabat dan
orang-orang sukses lainnya. Masyarakat lebih suka
menerima Aa sebagai bhiksu yang “suci” dan tak boleh
menyentuh wanita. Masyarakat lebih suka melihat Aa
sebagai “pendeta” yang diharamkan mempunyai istri.
Sehingga di mata mereka, Aa Gym adalah figur yang
tetap mereka idolakan. Tak peduli berapa pun wanita
simpanan Aa, yang penting jangan “khianati” perasaan
umat. Begitulah barangkali semboyan mereka.

        Keberhasilan Aa Gym adalah buah dari suatu kesabaran
dalam berdakwah, yang berazaskan ketulusan, kejujuran,
bahkan cenderung terlalu polos. Sementara methode
penyampaiannya adalah irama yang sopan, santun malah
sangat-sangat bersahaja. Sehingga ketika beliau
mendapat “panggilan” untuk bermain seperti yang
dimainkan oleh para publik figur, orang-orang kaya dan
terkenal, seperti berjudi, madat dan main wanita,
beliau lebih baik “membakar” jari-jarinya. Beliau
tidak mau atau terlalu polos untuk terjun ke dunia
begituan.

        Padahal kalau dia mau, katakanlah tidur dengan artis
paling cantik dan terkenal, dia pasti akan
mendapatkannya. Dan kalau Aa punya “nyali” seperti
politisi dan pejabat, saya yakin, orang-orang yang
memergokinya akan memakluminya, dan memaafkannya. 
Seandainya pun ada pers hendak memberitakan affair
itu, sang redaktur pasti mikir 7 putaran dulu. Lalu
bila jadi dimuat, maka para “fans” Aa Gym pasti
melempari kantor redaksi tsb dengan batu, kayu, sandal
butut, telur busuk, dan bom molotov.

        Tapi ternyata sebagian besar penggemar Aa memang
betul-betul penikmat sementara terhadap lagu-lagu yang
dilantunkannya. Dalam melaksanakan syariat, mereka
masih memilah dan memilih yang mana yang enak untuk
“indera” mereka saja. Melaksanakan haji, seperti juga
ketika merasa kebelet pipis. Sebab jalan yang ditempuh
terkadang bukan jalan yang dihalalkan. Membabi buta
tak melihat kemampuan diri sendiri. Melaksanakan
sholat, seperti orang yang kebelet sekali hendak
melaksanakan buang hajat. Sikut kanan, sikut kiri,
begitu selesai sholat, perasaan mereka lega, seperti
selesai buang hajat besar di toilet.

        Tak heran, ketika Aa Gym kawin lagi, mereka merasa
dikhianati. Karena kepuasan mereka bukan pada tegaknya
syariat Allah, tapi syariat nafsu mereka sendiri.

Wassalam

Bersambung





      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs


Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke