Republika: Jumat, 09 Februari 2007
Jerman Bertabur Mualaf
Angst-Ridden German Mencari Jawaban dan Menemukannya di dalam Quran."
Demikian judul besar di Del Spiegel, harian terkemuka di Jerman, edisi 18
Januari 2007. Penulisnya, Lutz Ackermann, mengawalinya dengan mengisahkan
pria perlente bernama Kai Luhr.
Dengan bercelana jins dan jaket abu-abu bermerek, pria berwajah bersih
tanpa kumis dan janggut ini memasuki gerbang Masjid Berlin. Ackermann
mengira dia menuliskannya dengan kalimat "publik Jerman pasti menduga" Luhr
adalah utusan pihak gereja untuk hadir dalam dialog lintas agama yang kerap
digelar di masjid itu.
Tapi, ups, dia salah. Luhr bergegas menanggalkan jaketnya, dan mengambil
air wudlu. Dia merapatkan diri dengan barisan shalat -- di sebelahnya pria
bertampang Timur Tengah dengan janggut dan jubah putihnya.
Dalam catatan Ackermann, Luhr melakukan 33 gerakan dalam ibadahnya hari
itu. "Bahasa Arabnya sangat fasih ketika memanjatkan doa," tulisnya. Ia
hanya mengucap satu kalimat dalam bahasa Jerman, "Allah mendengar siapa
yang memohon pada-Nya, kabulkan doaku ya Tuhanku."
Kai Luhr adalah seorang dokter. Ia dan istrinya menjadi Muslim sejak dua
setengah tahun lalu. Seiring dengan pernyataan syahadatnya, ia mengganti
namanya menjadi Kai Ali Rashid dan istrinya menjadi Katrin Aisha L?hr.
Lelaki 43 tahun ini biasa mengikuti aktivitas keagamaan di sebuah masjid di
Frechen, dekat Cologne. Di situ pula ia mengikrarkan Islam sebagai agama
barunya. Bersama dengannya, seorang mantan petinju nasional Jerman dan
seorang insinyur juga turut bersyahadat.
Saat dikuntit Del Spiegel, Luhr usai menunaikan shalat Jumat dan shalat
sunah lain sebelumnya. "Anda akan menjumpai banyak Muslim kelahiran Jerman
di beberapa masjid di Berlin pada hari ini," ujar Luhr.
Luhr besar dalam tradisi Kristen yang ketat. Namun ia beruntung, keluarga
yang membaptisnya saat dia kanak-kanak itu adalah keluarga yang demokratis.
"Tak ada masalah saya memeluk agama ini," ujarnya.
Baginya, Islam adalah agama yang benar-benar baru. Ketika kecil hingga
remaja, ia yang besar di lingkungan kelas menengah di Berlin, mengaku tidak
pernah mengenal atau bahkan mendengar ada agama bernama Islam.
Persinggungan pertamanya dengan Islam adalah saat ia masuk universitas
untuk belajar ilmu kedokteran. Beberapa rekan kuliahnya adalah Muslim.
Namun saat itu ia belum tergerak mempelajari Islam.
Usai kuliah, ia membuka praktik sambil mengambil spesialisasi pengobatan
naturopatik di universitas yang sama. Saat penghasilannya mulai bagus, ia
menikahi pacarnya, Katrin, seorang penari profesional.
Hingga suatu hari, kedua pasangan ini mengalami kegelisahan dalam hidupnya.
Kejadian bermula saat suatu hari datang pasien dalam kondisi kritis ke
ruang praktiknya, akibat terjatuh saat pemancangan sebuah pilar. "Tiba-tiba
ada kekosongan dan keputusasaan dalam hidup kami," ujarnya.
Ia dan istrinya memutuskan untuk kembali menekuni agama yang telah lama
ditinggalkannya, Kristen. Bahkan, pasangan ini pun mempelajari Buddhisme
dan ajaran Dalai Lama. Tapi ia tak kunjung menemukan jawaban
kegelisahannya.
Ingin tampil beda
Menurut laporan Ackermann, proses penjalanan batin seorang Mualaf di Jerman
umumnya sama; mereka adalah penganut Kristen, yang menemukan kebingungan
tentang ajaran agamanya. Setelah mencari di banyak keyakinan, hati mereka
tertambat pada Islam.
"Memang ada beberapa ajaran yang membuat penganutnya malah jadi ragu dengan
kebenaran ajaran itu," ujar Mohammed Herzog, imam di Masjid Berlin yang
sebelumnya adalah seorang pendeta. Ia sendiri pernah mengalami kebuntuan
pemikiran, sampai akhirnya menemukan Islam tahun 1979.
Ia mengakui, jumlah mualaf di Jerman kini berlipat. Satu dasawarsa lalu,
jumlah mualaf baru di Masjid Berlin paling hanya 10 orang pertahun. "Kini
jumlahnya lebih dari dua kali lipatnya," ujar Herzog. Sebagian penganut
baru Islam adalah orang-orang seperti Luhr, dan sebagian lagi adalah ateis.
Sebuah kajian mengenai kehidupan Muslim di Jerman menunjukkan fenomena
pindah agama di kalangan masyakarat kelas menengah Jerman yang angkanya
cukup mencengangkan. Kendati media "rajin" memberitakan tentang terorisme
yang dikaitkan dengan Islam, kekerasan dalam rumah tangga Muslim, dan bom
bunuh diri, namun sedikitnya 4.000 warga negara Jerman menjadi Muslim
antara bulan Juli 2004 hingga Juni 2005, saat penelitian dilakukan.
Penelitian yang didanai Kementerian Dalam Negeri Jerman ini menyebut,
jumlah mualaf meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
"Justru di saat kebencian di Barat terhadap Islam makin memuncak," tulis
laporan itu.
Mereka berislam atas kesadaran sendiri, dan sebagian besar mualaf adalah
dari kalangan terpelajar. "Bila tiga tahun lalu kebanyakan converter adalah
wanita yang berpindah agama karena pernikahan, maka sekarang banyak juga
kaum pria dari kalangan kelas menengah Jerman yang beralih menjadi Muslim"
tulis laporan itu.
Hasil penelitian ini tak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang
dilakukan Monika Wohlrab-Sahr, seorang sosiolog agama. Bedanya, dia tak
hanya memotret fenomena ini di Jerman, tetapi juga Amerika Serikat. Di dua
negara ini, Islam tumbuh dengan pesat justru setelah Tragedi 11 September.
Menurut pengamatan Wohlrab Sahr, para mualaf sebelum berislam umumnya
mengalami "krisis personal" dan menemukan kedamaian justru dalam Islam,
agama yang dicap banyak orang sebagai agama teroris. Motifasi lainnya
adalah pencarian agama yang lebih "pas" buat dirinya. "Dia ingin beda dari
yang lain," ujarnya.
Dalam opini Wohlrab-Sahr, meski Kristen juga menawarkan kedamaian batin,
namun Islam lebih menarik sebagai jalan keluar dari keruwetan hidup. Hal
ini ditunjang dengan media yang terus-menerus memperdebatkan tentang
Muslim. "Islam menjadi makin menarik sebagai sebuah genuine alternative
tambah Wohlrab-Sahr.
Namun, alasan seseorang berislam tentu berbeda-beda, meski Wohlrab-Sahr
bilang mirip. Salim Abdullah ia menolak menyebutkan nama aslinya menyatakan
tertarik pada Islam karena ajaran ini paling jelas merinci tuntunan hidup
bagi umatnya. Sedangkan Luhr yang selalu membawa sajadah di mobil Alfa
Romeo GT terbarunya menyatakan, "Meski Islam dinilai mundur dari peradaban
Barat, namun ajarannya tetap relevan hingga saat ini."
Bagaimana para Mualaf menyesuaikan diri dengan lingkungannya setelah
menjadi Muslim? Dalam banyak hal, tak perlu disangkal, pasti terjadi
benturan. Islam mempunyai banyak aturan yang bertentangan dengan budaya
Barat. Sebut misalnya dalam penyikapan terhadap alkohol, seks bebas, dan
ibadah yang dalam sehari sampai lima kali jumlahnya.
Namun Wohlrab-Sahr menyatakan tidak ada kendala yang berarti. "Tergantung
bagaimana cara mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran," ujarnya. Menurut dia,
para mualaf ini tidak menunjukkan "kerepotan" harus beribadah lima kali
sehari.
Beda dengan persepsinya bahwa busana untuk beribadah umat Islam sangat
"ruwet" ia justru menemukan pada mualaf dengan gampang beribadah dengan
memakai celana jins atau busana yang biasa mereka kenakan sehari-hari.
"Bagi wanita, mereka hanya perlu menambahkannya dengan kaus kaki saja,"
ujarnya. Ia justru menyebut, Muslim yang dari lahir sudah berislam justru
lebih liberal.
Di akhir laporannya, Ackmenn memotret fenomena seperti yang diceritakan
Wohlrab-Sahr:
Suatu siang di sebuah kantor pengacara di Hamburg. Nils Bergner, pria
berusia 36 tahun, menjaga shalatnya sebanyak lima waktu, kendati kesibukan
kantor menyita waktunya. Di kantor itu, Bergner satu ruangan dengan
rekannya, seorang Muslim asal Turki bernama Ali Ozkan. Mereka kerap pergi
shalat Jumat ke masjid terdekat, namun di luar hari Jumat, Bergner lebih
sering shalat seorang diri. "Urusan pekerjaan selalu menyita waktu saya,"
ujar Ozkan, "Shalat pertama pukul 06.00, ...itu terlalu pagi bukan?
Cerita Ackmenn tak berhenti sampai di sini. Malam harinya, ia mengundang
dua nara sumber Muslimnya itu untuk makan malam di sebuah rumah makan.
Bergner menolak rumah makan pertama karena "menyajikan terlalu banyak bahan
haram."
Akhirnya mereka sepakat di sebuah rumah makan mentereng di pusat kota
Berlin. Makanan utama telah habis dilahap, kemudian pelayan datang membawa
desert berupa tiramisu. Bergner menolak. Alasannya, "Terima kasih. Dalam
resepnya, memakai alkohol." Ozkan mulai tak sabar dengan ulah sahabatnya.
"Ayolah, jangan terlalu serius," ujarnya sambil mengigit cake itu, "Makan
saja, tidak apa-apa. Alkohol hanya digunakan sebagai aroma."
Bergner mendelik. Dia tetap membiarkan tiramisunya tak tersentuh, sampai
mereka keluar dari rumah makan itu... n tri/del spiegel
.
Kepada kaum muslimin/muslimah saya berwasiat : Mencari seribu satu alasan untuk
memaklumi orang lain adalah cara melatih diri agar berprasangka baik kepada
orang beriman dan waspada terhadap orang zhalim, kafir dan musrik
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/