--- In [EMAIL PROTECTED], ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Inilah sulitnya kebebasan media di tanah air, semua serba di 
sensor, belum ada unsur demokrasi dalam banyak bidang terutama dalam 
hal komunikasi, tekanan2 terhadap kebebasan jurnalistik dan media 
adalah salah satu cara mereka utk membodohi rakyat, menutupi 
keburukan para pemimpin mereka, tidak adil, tetapi itulah kenyataan 
nya, saya yakin semua tayangan yg berbau politik hrs melalui 
penyaringan yg begitu ketat...


***Lha emangnya anda tidak baca "Seharusnya Adnan Buyung Nasution 
sebagai salah satu pembicara juga di segmen 3 tapi Abang (demikian 
ABN dipanggil) pulang dengan kesal, tidak mau jadi nara sumber 
karena melihat bagaimana Rosi wawancara Moerdiono yang mengelu 
elukan Suharto sebagai bapak pembangunan" ?

***Si Abang seharusnya tidak lari dari kesempatan emas itu, 
menujukkan klaim anda "salah satu cara mereka utk membodohi rakyat, 
menutupi keburukan para pemimpin mereka, tidak adil, tetapi itulah 
kenyataan nya" bukan isapan jempol. Tingkah laku Abang malah 
perlihatkan betapa un-professional-nya.


>   Sejak dulu saya gak pernah melihat ada siaran yg begitu lugas 
dan berani dalam membeberkan sisi buruk pemerintah, inilah kelemahan 
pemerintah kita, tidak suka dikritik, tidak suka keterbukaan, tidak 
suka ditantang.....


***Kenapa tidak salahkan rakyat yang memilih di pemilu ?


>   Sialnya pemerintah kita punya kuasa utk mengontrol semua system 
di dalam negri, matilah kau ucok !

***Lha ada parabola dan internet untuk rakyat termasuk anda melihat 
kritikan2, hinaan2, fitnahan2 dll, kenapa salahkan sistim ? 
Pemerintah AS juga ada sistim melarang media massa-nya 
membicarakan 'classified' news di Irak, Afghanistan, lebih hebat 
lagi CIA hapus bukti2 kejahatannya, CIA tidak dibubarkan.
    
           
> Seharusnya Adnan Buyung Nasution sebagai salah satu pembicara juga 
di segmen 3 tapi Abang (demikian ABN dipanggil) pulang dengan kesal, 
tidak mau jadi nara sumber karena melihat bagaimana Rosi wawancara 
Moerdiono yang mengelu elukan Suharto sebagai bapak pembangunan. 
Kemudian dilanjutkan statement Titik Suharto yang mengatakan sekali 
lagi Suharto banyak jasanya bagi Indonesia

***Si Abang bukan tidak tahu Soeharto berjasa, tapi dia titik 
beratkan pada sisi negatif saja. Apa itu dinamakan adil ? Bukankah 
statement Titik memenuhi semangat freedom of expression ?


> Teman saya, yang mengikuti wawancara tersebut sejak awal sampai 
akhir juga sangat kecewa karena sebagai wartawan "independen" 
seharusnya kalau memang Moerdiono dan Titik dijadikan nara sumber, 
mengapa tidak ada korban korban Suharto yang diwawancara. Kenapa 
tidak ada korban DOM Aceh, tidak ada korban dari Papua, tidak ada 
korban Talangsari, tidak ada keluarga orang hilang, korban 65, dan 
masih banyak lagi. "Apakah karena Titik Suharto pemegang saham SCTV? 
Walahualam. ..", ujar teman saya yang wartawan itu. 


***Korban satu revolusi adalah korban revolusi. Andai kata PKI 
dibawah panji Nasakom Bung Karno berkuasa, tentu sudah pecah perang 
saudara. Anda namakan korban2 PKI, korban2 Soeharto atau korban apa ?






Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke