http://www.suarapembaruan.com/News/2008/01/26/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
"Allah" Nama yang Dipermasalahkan

Bulan Desember 2007 dunia dikejutkan keputusan Pemerintah Malaysia yang tidak 
memperpanjang izin terbit The Herald, berita mingguan gereja Katolik. Alasannya 
The Herald menggunakan nama 'Allah' untuk menyebut Tuhan dan nama itu dianggap 
nama tuhannya agama Islam. Pada akhir Desember izin itu kemudian diberikan, 
namun penggunaan nama Allah tetap dilarang. Fanatisme kepemilikan nama 'Allah' 
juga pernah dilontarkan sekelompok kecil masyarakat di Indonesia namun karena 
tokoh-tokoh muslim menyadari bahwa klaim itu tidak berdasar maka kemudian 
dilupakan. 

Nama 'Allah' adalah nama untuk menyebut Tuhan semitik dalam bahasa Arab, dan 
nama ini sudah disebut jauh sebelum agama Islam hadir di abad-VII, sedini 
kehadiran bahasa Arab. Agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) berasal dari 
rumpun keturunan Sem. Arphaksad adalah putra Sem yang menurunkan bangsa Ibrani 
(dikaitkan nama Eber cucu Arphaksad), dan Aram putra Sem menurunkan bangsa Aram 
dan Arab. Dalam hal bahasa, Aram lebih dahulu mengembangkan bahasanya dan nenek 
moyang bangsa Ibrani mengembangkan bahasa Ibrani dengan berakulturisasi dengan 
bahasa Kanani dan Amorit dan menggunakan abjad Kanani kuno (Funisia) yang 
kemudian berkembang dalam bentuk bulat karena pengaruh bahasa Aram. 

Abraham berasal dari Mesopotamia dan berbahasa Aram, setelah hijrah ke 
Palestina, Ishak anaknya mengawini iparnya Ribka, saudara Laban yang tinggal di 
Mesopotamia, Laban dicatat Alkitab sebagai orang Aram berbahasa Aram (Kejadian 
31:20,47). Yakub, putra Ishak dan Ribka, mengawini Lea dan Rachel anak-anak 
Laban yang berbahasa Aram juga. Jadi orang Israel (keturunan Yakub) mengikuti 
bahasa Aram bahasa nenek dan ibu mereka. Alkitab menyebut orang israel adalah 
keturunan Aram (Kejadian 25:5). 

Ensiklopedia Islam (Cyrill Glasse, hlm.49-50) menyebut bangsa Arab adalah 
masyarakat Semit keturunan Quathan (Joktan, anak Eber) dan juga Adnan 
(hlm.12-13) yang menurunkan keturunan Ismael (putra Abraham), jadi bangsa Arab 
merupakan keturunan Semitik, Ibranik dan Abrahamik juga, jadi saudara sepupu 
bangsa Ibrani. Bahasa Arab berasal bahasa kuno Aram dan aksaranya merupakan 
perkembangan dari aksara Nabati-Aram. 

Nama Tuhan 'El' (Il) sudah lama dikenal di Mesopotamia, dan dalam dialek Aram 
nama itu disebut 'Elah/Elaha,' di Israel disebut 'El/Elohim/Eloah,' dan dalam 
bahasa Arab disebut 'Ilah/Allah.' Kata sandang difinitif dalam bahasa Aram 
adalah 'Ha' yang diletakkan di belakang kata, dalam bahasa Ibrani diletakkan di 
depan (Ha Elohim), sedangkan dalam bahasa Arab kata sandang ditulis 'Al' 
diletakkan di depan (Al-Ilah). Jadi baik El/Elohim/Eloah, Elah/Elaha, dan 
Ilah/Allah menunjuk kepada Tuhan Monotheisme Abraham yang sama, baik sebagai 
nama pribadi maupun sebutan untuk ketuhanan. 

Di Israel, nama 'El/Elohim' adalah nama Tuhan sebelum nama 'Yahweh' 
diperkenalkan kepada Musa (Keluaran 6:1-2), itulah sebabnya sebelum Keluaran 
tidak ada nama orang yang diberi identitas nama 'Yahweh' (seperti Eli'yah') 
tetapi nama 'El' (a.l. Metusael, Ismael, Israel), dan sekalipun nama Yahweh 
sudah diperkenalkan, nama El tetap digunakan sebagai nama diri Tuhan. 'El, 
elohe Yisrael' (Kejadian 33:20;46:3) disetarakan dengan 'Yahweh, elohe Yisrael' 
(Keluaran 32:27; Yoshua 8:30). Dalam Perjanjian Lama, nama Elah/Elaha sudah ada 
dan ditulis pada abad-VI sM dalam kitab Esra yang ditulis dalam bahasa Aram 
dengan aksara Ibrani 'Elah Yisrael' (Allah Israel, 5:1; 6:14). Dalam Alkitab 
Aram Siria (Peshita) digunakan nama Elah/Elaha juga. 

Setelah berkembangnya bahasa Arab, nama itu menjadi Ilah/Allah, dan orang-orang 
Yahudi yang berbahasa Arab dan orang Arab yang mengikuti kepercayaan Yahudi 
juga menggunakan nama Allah itu. Pada jemaat Kristen pertama sudah ada orang 
Arab yang percaya dan menyebut nama Tuhan dalam bahasa mereka sendiri yaitu 
Allah (Kisah 2:8-11). Beberapa inskripsi Kristen pada abad-abad sebelum 
lahirnya agama Islam sudah menunjukkan penggunaan nama Allah itu, dan 'Injil 
Muqqadas' dalam bahasa Arab diterjemahkan ditahun 643 memuat nama 'Allah.' 

Pada masa jahiliah pra-Islam, sebutan Ilah/Allah merosot dan juga ditujukan 
kepada Dewa Bulan/Air (di kalangan Ibrani, nama Yahweh juga pernah merosot 
digunakan untuk menyebut berhala Anak Lembu Emas, Keluaran 32:1-5; 1Raja 
12:28), namun Arab Hanif termasuk suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah tetap 
mempertahankan nama Allah sebagai nama diri Tuhan Abraham. Bahkan sebelum 
kelahiran agama Islam, nama Allah digunakan dalam pengertian nama diri Tuhan. 
Ensiklopedia Islam menyebutkan: Gagasan tentang Tuhan Yang Mahaesa yang disebut 
dengan nama Allah, sudah dikenal oleh bangsa Arab kuno, Ajaran Kristen dan 
Yudaisme dipraktikkan di seluruh jazirah. (hlm.50). 

Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum Alquran diwahyukan; misalnya 
nama Abd. Al-Allah (hamba Allah), nama ayah Nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya 
khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang oleh umat Kristen 
yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan. 
(hlm. 23) 

Dalam Al-Quran beberapa kali disebutkan bahwa nama 'Allah' digunakan bersama 
oleh Umat Yahudi, Kristen dan Islam (misalnya QS.2:136). Nabi Muhammad mengakui 
pada masa hidupnya sudah ada orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan nama 
Allah. Dalam Al-Quran ditulis: 

(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena 
mereka mengatakan: Tuhan kami Allah, Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap 
manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta 
dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut 
nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh 
Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40). 

Agama-agama semitik sebelum Islam di kalangan berbahasa Arab sudah lama 
menggunakan nama 'Allah'. Jadi, nama 'Allah' bukan nama Islam saja tetapi nama 
Arab untuk menyebut Tuhan Abraham. Kini di negara-negara Arab, baik orang 
Yahudi, Kristen maupun Islam yang berbahasa Arab, semuanya menggunakan nama 
'Allah' tanpa masalah. Di Kairo kota lama, dipintu gereja Al Mu'alaqqah ditulis 
Allah Mahabah (Allah itu kasih) dan di pintu lainnya Ra'isu al-Hikmata 
Makhaafatu Ilah (Permulaan Hikmat adalah Takut kepada Allah). Sinagoga 'Ben 
Ezra' menyebut bahwa dahulu di situ Rabbi 'Moshe ben Ma'imun' menulis buku Al 
Misnah dan Dalilat el-Hairin dalam bahasa Ibrani dan Arab dimana 'El/Elohim' 
diterjemahkan 'Allah.' 

Ada 29 juta orang berbahasa Arab yang beragama Kristen dan semuanya menyebut 
nama 'Allah,' dan di kalangan ini beredar empat versi Alkitab berbahasa Arab 
yang menggunakan nama 'Allah.' Maka dari sini jelas bahwa bagi orang-orang Arab 
penganut Yahudi, Kristen, dan Islam, nama Allah digunakan bersama tanpa rasa 
curiga sebab mereka menyadari bahwa semua mempercayai Allah Abraham yang sama, 
sekalipun tidak disangkal adanya perbedaan akidah yang dipercayai oleh 
masing-masing mengingat ketiganya memiliki kitab suci yang berbeda. Olaf 
Schuman teolog Kristen yang tiga tahun belajar di Universitas Al Ashar, Mesir, 
mengemukakan bahwa: 

"Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah 
ialah soal dogmatika atau akidah, sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham 
dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula 
mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakannya." (Keluar Dari Benteng 
Pertahanan, hlm. 175). 

Dalam terjemahan Alkitab ke bahasa Indonesia, sejak awal nama Allah sudah 
digunakan. Daud Susilo, konsultan United Bible Societes, menulis: Dalam 
terjemahan bahasa Melayu dan Indonesia, kata 'Allah' sudah digunakan terus 
menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama 
(terjemahan Albert Corneliz Ruyl, 1629). Begitu juga dalam terjemahan Alkitab 
Melayu yang pertama (terjemahan Melchior Leijdekker, 1733) dan Alkitab Melayu 
yang kedua (terjemahan Hillebrandus Corneliz Klinkert, 1879) sampai saat ini. 
(Forum Biblika, LAI, No.8/1998, hlm. 102) 

Alkitab berbahasa Melayu di Malaysia terbitan The Bible Society of Malaysia 
juga menggunakan nama 'Allah.' (Hal yang sama dilakukan dalam penerjemahan 
Al-Quran ke dalam bahasa Inggeris di mana nama Arab 'Allah' diterjemahkan God). 

Bila bangsa Arab pemilik bahasa Arab tidak mempermasalahkan penggunaan nama 
'Allah' oleh agama-agama semitik, maka seyogianya bangsa-bangsa non-Arab juga 
tidak mempermasalahkannya. Kesamaan nama 'Allah' yang disembah ketiga agama 
Semitik bisa menjadi perekat bahwa ketiganya sebenarnya bersaudara. Yang perlu 
disadari adalah bagaimana dalam keeksklusifan iman sesuai ajaran kitab suci 
masing-masing, agama bisa diamalkan dengan damai seperti yang diucapkan oleh 
Nabi Muhammad dalam Al-Quran (QS.22:40). 


Herlianto, penulis buku berjudul "Siapakah Yang Bernama Allah itu?" 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 25/1/08 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke