Amerika Serikat Buka Dokumen Rahasia Soeharto 

Dokumen-dokumen yang selama ini diklasifikasikan rahasia itu 
memperlihatkan, pemerintah AS tidak pernah menekan Soeharto atas 
berbagai pelanggaran HAM yang terjadi selama pemerintahannya.

Kritik keras Amerika Serikat terhadap almarhum bekas presiden 
Soeharto hanya muncul tahun 1998, ketika Indonesia diguncang 
kerusuhan akibat krisis moneter.
 
Bill Clinton, yang ketika itu menjabat presiden Amerika Serikat, 
berkali-kali menelpon Jakarta, mendesak agar Soeharto memberlakukan 
penyesuaian ekonomi besar-besaran agar memenuhi ketentuan Dana 
Moneter Internasional, IMF. Itulah salah satu catatan dalam dokumen-
dokumen yang baru dipublikasi oleh Arsip Keamanan Nasional atau The 
National Security Archives. Berlandaskan Undang-undang Kebebasan 
Informasi, lembaga non pemerintah yang terkait Universitas George 
Washington ini mengoleksi dan mempublikasi dokumen-dokumen yang sudah 
tak lagi dirahasiakan.
 
Dari puluhan ribu dokumen mengenai hubungan Amerika Serikat dengan 
Soeharto hingga tahun 1998, tak ada bukti bahwa presiden-presiden 
Amerika Serikat pernah menggunakan tekanan agar rejim Soeharto 
mengindahkan hak azasi manusia maupun demokratisasi. Begitu ungkap, 
Brad Simpson yang bertanggung jawab untuk proyek dokumentasi mengenai 
Indonesia dan Timor Leste di lembaga itu. 
 
Diantara dokumen yang sudah bebas-baca itu terdapat transkripsi 
pertemuan dan pembicaraan antara Soeharto dengan sederetan bekas 
presiden dan petinggi Amerika Serikat, seperti Henry Kissinger. Surat 
dari bekas Menlu AS itu kepada Richard Nixon misalnya, menyatakan 
bahwa Amerika Serikat tidak memiliki masalah dengan Indonesia. 
 
Tak lama kemudian, Nixon dan Kissinger menemui Soeharto pada 26 Mei 
1970. Dalam catatan pembicaraan itu tertera tanya-jawab yang 
berlangsung. Di situ bekas Presiden Indonesia mengaku telah menahan 
puluhan ribu orang dan menumpas pendukung komunisme sampai hanya 
tertinggal 10 persen kekuatan sebelumnya.
 
Soeharto juga melaporkan telah melancarkan indoktrinasi paham Orde 
Baru kepada siswa dan mahasiswa Indonesia. Dalam jawabannya, bekas 
presiden Nixon mengatakan bahwa Soeharto merupakan pemimpin salah 
satu demokrasi yang terbesar di dunia. 
 
Dokumen-dokumen ini juga merefleksi persepsi Amerika Serikat terhadap 
Soeharto, sejak awal kekuasaannya yang berdarah, bahkan ketika 
aneksasi Papua Barat di tahun 1969, invasi terhadap Timor Timur di 
tahun 1975 dan pembunuhan misterius atau petrus yang berlangsung dari 
1983 hingga 1984. 
 
Dalam masa kepresidenen Gerald Ford di Amerika Serikat, juga terdapat 
pernyataan Soeharto mengenai dekolonialisasi Timor Leste. Tercatat, 
Ford tidak memberi tanggapan ketika Soeharto mengatakan bahwa satu-
satunya cara adalah untuk mengintegrasi wilayah itu ke Indonesia.
 
Rangkaian catatan serupa, bagai benang merah mengalir dalam dokumen-
dokumen itu. Yang nampak jelas, Amerika Serikat memperhatikan 
Indonesia hanya dari segi keamanan dan ekonomi. (ek)

http://www.dw-world.de/dw/article/0,2144,3095247,00.html




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke