Apakah masih terjadi diskriminasi di Indonesia?

Cina adalah bagian dari multi etnik di Indonesia yang mempunyai tempat
yang istimewa.  Dikatakan istimewa sebab Cina itu mempunyai sejarah
yang sangat panjang dibandingkan dengan etnik yang lainnya seperti
India, bule, dll.  Seperti diketahui bahwa penyebar Islam di Indonesia
sekitar abad ke 16 adalah Wali Songo yang terdiri dari tujuh Cina,
satu Arab (Sunan Gunung Jati) dan satu Melayu (Sunan Kali Jaga). 
Paling tidak, Cina sudah ada disini sejak abad ke 15 ketika Panglima
Cheng Ho datang berkunjung ke Jawa.

Ketika Belanda berkuasa di Indonesia, dengan politik 'divide et
impera', Belanda mengangkat ras Cina menjadi warga kelas dua, dibawah
ras bule dan diatas Melayu, sehingga terjadilah friksi antara Cina dan
Melayu.  Dengan demikian, warisan rasis Belanda tetap langgeng sampai
dengan Indonesia merdeka.  Walaupun Presiden Soekarno bukan pembenci
Cina, tapi tetap saja Soekarno telah mengeluarkan PP 10 / 59 yang
bersifat rasis.  Mengusir Cina miskin  keluar dari Indonesia.

Presiden Soeharto lebih rasis dari pendahulunya.  Semua Cina dilarang
untuk menjadi pegawai negeri, berpolitik, militer.  Dia bahkan, lebih
parah lagi, mengeluarkan peraturan yang memberangus semua yang berbau
Cina, baik itu kebudayaan Cina, sekolah Cina ditutup, bahkan nama Cina
musti diganti dengan nama Indonesia.  Nggak perlu lah disebutkan
berapa banyak Cina yang mati dibunuh oleh rezim Soeharto pada tahun 65
/ 66.

Presiden Abdulrahman Wahid menghapus semua aturan pendahulunya dan
menjadikan Cina sebagai bagian dari kultur Indonesia yang beragam ini.
 Bahkan Presiden Megawati melanjutkan kebijakan ini dengan menjadikan
Imlek sebagai Libur Nasional dan SKBRI juga dihapus.

Walaupun pemerintah berusaha untuk menghapus diskriminasi tetapi dalam
kenyataannya diskriminasi masih juga terjadi dalam kehidupan
sehari-hari.  "Dasar Cina! (Damn Chinese)" masih sering terjadi ketika
mengumpat Cina.  "Wah keren juga tuh orang"  She is cute, don't you
think?.  "Sayang.., dia Cina sih"  (Too bad she is Chinese).  Chinese
people are petty with money and they always have weird schemes going on.

Demikian juga sebaliknya, Cina juga punya stereo tipe yang menganggap
Melayu sebagai pemalas.  They are shallow and lazy.  Bahkan Cina
Glodok lebih rasis lagi, mereka tidak mau bergaul dengan sesama Cina
yang tidak bisa berbahasa Cina.  Oleh sebab itu, semuanya kembali ke
soal pendidikan.  Cina Glodok, Melayu 'low class', bisa rasis karena
tidak punya pendidikan dan yang lebih penting adalah asimilasi (Tak
kenal maka tak sayang).

Sekolah Pangudi Luhur relatif hampir tidak ada diskriminasi.  Di
universitas pastinya diskriminasi akan semakin tidak ada, mengingat
universitas adalah pendidikan yang lebih tinggi (seperti Soe Hok Gie
yang menjadi pejuang tahun 85/66 dan juga pejuang reformasi tahun 98).
 Jadinya, untuk mengurangi dan meminimalisasi diskriminasi, kuncinya
adalah pendidikan.  Dengan pendidikan yang lebih tinggi, tentunya
diharapkan wawasan juga lebih luas sehingga bisa mengerti bahwa
perbedaan adalah rahmat Tuhan.

Gong Xi Fat Chai.



========




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke