13 Februari 2008
Perlawanan Siti Fadilah Supari
Asro Kamal Rokan

Wajahnya serius membicarakan ketidakadilan negara-negara maju. Kalimat
demi kalimat meluncur deras. Dr Siti Fadilah Supari, satu dari sedikit
warga dunia yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah
dominasi badan resmi dunia dan negara adikuasa. Ia melawan dan berhasil.

Majalah The Economist London menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh
yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit
pandemik. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang
terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam
menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The
Economist (10 Agustus 2006).

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung (Avian
Influenza/AI) menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan.
Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong
negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil,
negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja
ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.

Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan
diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating
Center (WHO CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel
spesimen. Perintah itu diikuti Siti Fadilah. Namun, ia juga meminta
laboratorium Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama.
Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong?

Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu
burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu
diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment,
diagnosis, dan kemudian dibuat seed virus. Dari seed virus inilah
dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah
perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak
terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban,
kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.

Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan
martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global
Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa
dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah
memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu
ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka
berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah membaca di The Straits Times
Singapura, 27 Mei 2006, bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data
sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan
di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15
grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak
diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data
itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data
itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai
kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus
2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal
mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist
menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi.

Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar
mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di
Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini
jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan: tidak
lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme
itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan
dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang
Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International
Government Meeting (IGM) WHO di Jenewa November lalu, sharing virus
disetujui dan GISN dihapuskan.

Prof Siti Fadilah anak bangsa yang melakukan perlawanan atas
ketidakadilan. Bangsa ini memerlukan banyak orang seperti Siti
Fadilah, yang berjuang untuk keadilan, kadaulatan, dan kesetaraan. Ia
inspirasi untuk bangsa yang bangkit.




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke