Ini hanya terjadi bagi TKW/I yang mendarat di Cengkareng, Jakarta. Para TKW/I yang mendarat di Juanda, Surabaya dan Husein Sastranegara tidak terkena masalah tersebut. Waktu mendarat di Bandung tahun lalu ibu saya turut mengawasi mereka dan mereka (dua orang) tidak kena masalah.
--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Penerbangan dari Taipei ke Jakarta, saya duduk di samping > Eti, seorang tkw yang sudah 7 tahun tinggal di Taiwan. > Wajahnya manis. Umurnya sekitar 25 saya tebak, lantaran > tidak lama dia lulus sma, dia menjadi tkw lantaran ketidak > mampuan orang tuanya membiayai kuliah, cerita dia. > > Mendarat di Cingkareng, saya berpisah setelah loket imigrasi > lantaran Eti harus melewati pintu exit yang lain. Saya ke kiri, > dia ke kanan. Nah lantaran jemputan saya terlambat datang, > maka habe iseng mencoba liat liat pintu exit khusus buat tkw. > Di sana saya melihat sekumpulan perempuan yang sedang > dibriefing oleh beberapa laki laki. Eti ada di antara mereka. > > Saya tegor Eti, dia nampak pucat pasi. Saya tanya ada apa. > Dia mereka harus membayar 300 ribu seorang untuk diantarkan > ke alamat para tkw yang tinggal di Jakarta. Eti tinggal di cingkareng > jaraknya kira kira cuma 6 km dari Bandara. Saya bilang kenapa > tidak naik taksi saja? O menurut peraturan, dia tidak boleh keluar > sendiri tanpa dibawa oleh pihak travel yang mengurus antar jemput. > Dan kalaupun mau lepas dari pihak travel, dia harus membayar 500 > ribu. Saya tanya kenapa ngga minta dijemput orang tua saja? O > menurut peraturan semua tkw dilarang dijempur oleh orang tua > bahkan suami atau istrinya sekalipun. Saya ber HAAAAH? whats > that? > > Lalu seorang tkw asal lampung menambahkan, ongkos memulangkan > dia memakai bis ke lampung 1 juta rupiah lebih. Yang ke Cirebon 1 juta rupiah. > Yang ke Bandung 700 ribu. Tangerang 500 ribu rupiah. Dan itu belum dengan > pemerasan berikutnya jika sang supir merasa ada biaya tambahan lain. > > Lalu saya memerhatikan ada beberapa tkw yang memutuskan diri keluar > dari jemputan. Lebih baik mereka naik bis umum barangkali dari pada > diantar travel. Masing masing membayar setengah juta. Saat mereka > melewati pintu exit saya melihat spanduk besar yang terpampang di > di atas dinding sana " SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA " > menyaksikan wajah mereka, orang orang kecil yang bekerja mati matian > di luar negeri. Bertahun tahun jauh dari sanak family. Tidak pernah saya > begitu merasa jijik pada negara ini. Perut saya mual. Bagaimana bisa > pemerintahan ini memberantas korupsi, jika semua orang tahu bahwa > para tenaga kerja kita diperas secara masal tiap hari dipintu masuk > ke negaranya sendiri? Semua oknum, baik pihak bandara,travel,supir, > polisi nampak terlibat bersama sama laksana piranha lapar yang > siap menggayang sang mangsa. > > Manusia yang kerja mencari nafkah dan membawa hasilnya ke Indonesia > seharusnya dipermudah urusannya bukan dijadikan sapi perah. > > Lalu saya memutuskan, saya batal bangga jadi orang Indonesia. > Pemerintahnya brengsek. Manusianya juga banyak yang brengsek. > > > Habe > > </HTML> > > > [Non-text portions of this message have been removed] > Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
