Dekonstruksi Wiranto
20 Februari 2008 22:10:37
Beberapa hari yang lalu, Wiranto berkata: "Sebagai seorang politisi
sudah wajar kalau cara apapun halal dilakukan untuk memperbesar
konstituen. Termasuk rekrutmen terhadap klan Cendana." (Koran NonStop,
hari dan tanggal lupa dicatat).
Keceplosan, Jenderal?
Kalimat yang kedua bisa diabaikan untuk sementara, karena kata
"termasuk" pada awal kalimat menunjukkan bahwa sisa kalimat yang kedua
("rekrutmen terhadap klan Cendana") hanyalah 'satu di antara yang
lain-lainnya'.
Yang penting adalah kalimat yang pertama.
A. Sebagai seorang politisi
B. Sudah wajar kalau cara apapun halal dilakukan
C. Untuk memperbesar konstituen
A
"Sebagai seorang politisi". Frase itu memang secara harfiah belum
tentu mendiskriminasi "seorang politisi" dari yang lain-lainnya,
seperti kalau kukatakan "sebagai seorang manusia Indonesia, kita perlu
makan". Tetapi justru sifat diskriminasi muncul karena kemunculan
frase itu sendiri, dalam arti, jika sifat diskriminasi itu tidak ada,
semestinya frase itu tidak perlu muncul.
Lugasnya begini (meneruskan contoh di atas), karena kita tau
sewajarnya semua manusia (tidak terikat kebangsaannya) perlu makan,
maka begitu frase "sebagai seorang manusia Indonesia" muncul, ada
pesan diskriminatif tersirat yang dibawanya (terlepas dari benar atau
salahnya) bahwa "cuma manusia Indonesia" yang perlu makan.
Jadi, jelas tidak semuanya, tidak semua orang, melainkan politisi, dan?
Diskriminasi yang terjadi terhadap 'seorang politisi' di sini tidak
berarti absolut. Bisa jadi ada yang lain-lain lagi, walaupun dalam
pesan itu tidak tersampaikan 'siapa saja' selain 'seorang politisi'.
B
"Wajar kalau cara apapun halal dilakukan". Kata "wajar" adalah unsur
yang membuat frase menjadi positif, walaupun pemilihan kata "wajar"
justru menunjukkan bahwa penggunanya 'tidak benar-benar yakin akan apa
yang dikatakannya' atau lebih jauh adalah 'memang wajar' tetapi 'belum
tentu merupakan sebuah kebenaran'. Kalau memang benar-benar yakin,
kata yang lebih tepat digunakan adalah "pasti", atau "sudah
semestinya", atau setidaknya "sudah selayaknya".
Kata "wajar" memang membuat kalimat menjadi positif, tetapi bersifat
temporer, dan tidak esensial. Kita mengatakan "matahari pasti terbit
di timur", bukan "matahari wajar terbit di timur". Penggunaan kata
"wajar" memberi kesempatan bahwa suatu waktu 'mungkin saja' matahari
akan terbit di selatan.
Di depan kata "wajar", ada kata "sudah", menjadi "sudah wajar". Ada
dua kemungkinan maksud dari "sudah wajar". Pertama menunjuk kepada
'kewajaran yang sangat wajar', 'hampir pasti', 'selayaknya', 'ngeus
sawayahna' seperti frase "sudah wajar kalau ia marah!" (dengan
pengucapan bernada tinggi). Kedua menunjuk 'kebiasaan', 'tak ada yang
aneh lagi', seperti pada frase "sudah wajar bayi menangis malam hari".
Dalam hal kalimat bapak Jenderal, sepertinya yang lebih cocok adalah
maksud yang kedua, yaitu 'kebiasaan' dan 'tak ada yang aneh lagi' atau
'umumnya'.
Yang dengan demikian jika kita simpulkan makna dari sepotong frase
"sudah wajar" adalah bahwa "(sang pengucap secara sadar atau tidak
sadar mengetahui bahwa) memang belum tentu merupakan sebuah kebenaran,
(tetapi) umumnya, biasanya, dan tak ada yang aneh lagi" kalau - kita
sambungkan dengan sisa frase B: "cara apapun halal dilakukan".
Kata "dilakukan" pada sisa frase B itu menunjuk pada "cara", jadi kita
dapat potong dan buang kata "dilakukan", menjadi "cara apapun halal"
(untuk dilakukan). Esensi dari frase itu pada akhirnya adalah "apapun
halal", yang memiliki maksud "tidak ada yang tidak halal", "semuanya
halal".
Perlu diingat bahwa frase "cara apapun halal dilakukan" memiliki makna
dan maksud yang benar-benar berbeda dan sama sekali tidak sama dengan
frase "cara halal apapun dilakukan"!
C
"Untuk memperbesar konstituen". Pertama, dalam istilah para
'politisi', "konstituen" (sederhananya) berarti: "para pemilih" atau
"orang-orang yang terwakilkan (oleh orang-orang yang mereka pilih)".
Tetapi "konstituen" (di luar istilah para 'politisi') dapat berarti:
"bagian" atau "komponen" atau "elemen".
Kata "konstituen" di kalimat sang Jenderal, juga dapat menunjuk pada
dua hal yang berbeda, yaitu, satu - sesuai arti pertama - "para
pemilih" (pada pemilu), atau "rakyat", yang pada intinya adalah
"kursi" di DPR. Tetapi, jika kita seret lagi kalimat kedua "rekrutmen
terhadap klan Cendana" (yang sebelumnya telah kita buang tadi) dan
kita hubungkan dengan penggunaan kata "konstituen", maka - sesuai arti
kedua - bisa jadi, "konstituen" yang dimaksud adalah "Klan Cendana"
itu sendiri (karena, sesuai dengan konteks kalimat sang Jenderal,
"klan Cendana", jika masuk ke dalam partai sang Jenderal, adalah
"konstituen" dari partai itu).
Tetapi dalam konteks kalimat ini, menurutku, yang dimaksud adalah
"para pemilih" itu sendiri, karena jika kita hubungkan frase C dengan
kalimat kedua, maka alur logikanya menjadi "untuk memperbesar
konstituen, kita rekrut klan Cendana". Jadi "rekrutmen terhadap klan
Cendana" adalah 'sarana untuk memperbesar konstituen'. Bukan
"rekrutmen terhadap klan Cendana" itu sendiri yang secara langsung
"memperbesar konstituen", melainkan itu hanya cara.
Sehingga kita dapat melihat, dalam logika bapak Jenderal, "rekrutmen
terhadap klan Cendana" akan (atau dapat) "memperbesar konstituen".
Dalam arti yang sederhana, dalam logikanya, "akan semakin banyak orang
yang memilih partainya dengan adanya klan Cendana di dalam partai".
Selanjutnya hanya dapat diteruskan dengan interpretasi bebas yang
tidak lagi linguistik, bahwa; apakah memang menurut pak Jenderal
melihat (terlepas dari benar atau salahnya) rakyat masih mencintai
klan Cendana - sehingga dapat mempergunakannya sebagai magnet? Apakah
justru memang pak Jenderal berniat menarik kembali suporter-suporter
Hooligharto yang tercerai berai - dengan kail pancing berupa klan
Cendana? Atau ada faktor-faktor dan alur pemikiran lain yang tidak
'sebegitu sederhananya' yang, dalam perhitungan pak Jenderal, 'klan
Cendana di dalam partai' sama dengan 'pembesaran konstituen'?
KESIMPULAN
1. Berkaitan dengan bagian A dan B, kita dapat hubungkan (dan putar
balik posisinya) menjadi: "Sudah wajar kalau cara apapun halal
dilakukan oleh seorang politisi". Hanya saja, lalu, "sudah wajar kalau
cara apapun halal dilakukan" itu, selain oleh "seorang politisi" -
dalam benak Jenderal Wiranto - oleh siapa lagikah?
Tetapi jelas tidak oleh semua orang. Mengapa? Mengapa hanya seorang
politisi yang boleh? Ini perlu dipertanyakan kepada Jenderal Wiranto.
2. Sebenarnya, frase "cara apapun halal dilakukan" dapat diungkapkan
dalam bentuknya yang lain: "segala cara halal dilakukan", atau
"menghalalkan segala cara". Eit. Mengingatkan pada sesuatu? Ah, ya,
cerita lama tentang PKI.
3. Berkaitan dengan bagian C, ini juga tidak lagi linguistik, aku
ingin mengingatkan kepada Jenderal Wiranto, bahwa salah satu cara
"memperbesar konstituen" adalah dengan cara "memperkecil
anti-konstituen" (entah apalah istilahnya, kugunakan kata
'anti-konstituen'). Kan "cara apapun halal dilakukan"??
camarmerah
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/