Sayangnya berita dibawah ini hanya survei melalui telp, sehingga tidak 
secara detail ke masyarakat bawah yang pada umumnya tidak memiliki saluran 
telp.

sur.
++
----- Original Message ----- 
From: "Ronnie" <[EMAIL PROTECTED]>



> Kompas  -  Senin, 28-04-2008
>
> Otonomi Tak Ubah Kinerja Pemerintahan Daerah
> Oleh: SUWARDIMAN
>
> http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/04/28/01240877/otonomi.tak.ubah.kinerja.pemerintahan.daerah
>
> Kepemimpinan hasil pemilihan kepala daerah belum memberi banyak perubahan 
> bagi daerah, khususnya perekonomian masyarakat. Baik di daerah yang sudah 
> pilkada maupun yang belum, perekonomian menjadi titik ketidakpuasan publik 
> atas kinerja pemerintahan daerah.
>
> Pemerintah daerah di bawah rezim otonomi saat ini oleh separuh responden 
> (52 persen) dinilai belum mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
>
> Sebaliknya, enam dari sepuluh responden menilai pemerintah daerah berhasil 
> membawa perubahan kondisi keamanan ke arah yang lebih baik dibandingkan 
> kondisi tiga tahun sebelumnya.
>
> Kesimpulan ini terangkum dari hasil jajak pendapat yang diselenggarakan 
> Litbang Kompas pada 23-25 April 2008 terhadap 1.139 pemilik telepon di 33 
> ibu kota provinsi di Indonesia. Secara umum, 52,2 persen responden 
> menyatakan belum merasakan ada perbaikan signifikan terkait kondisi 
> perekonomian di daerah mereka selama tiga tahun terakhir. Sementara 45,7 
> persen responden lainnya berpendapat sebaliknya.
>
> Apresiasi negatif terhadap kinerja pemerintah daerah tampak menonjol 
> ditunjukkan oleh publik di kota-kota besar, seperti Jakarta, Medan, 
> Bandung, Semarang, dan Surabaya.
>
> Penilaian terhadap kinerja di bidang ekonomi, misalnya, persentase publik 
> yang memberikan apresiasi negatif paling tinggi adalah responden di Kota 
> Medan. Sebanyak 83,8 persen responden di kota ini menyatakan tidak puas 
> atas upaya pemerintah daerah dalam memperbaiki kondisi perekonomian.
>
> Disusul publik di Kota Semarang, sekitar delapan dari sepuluh responden 
> juga menyatakan ketidakpuasan mereka.
>
> Problem pengangguran dan kemiskinan adalah hal yang paling banyak disebut 
> oleh responden sebagai masalah yang yang paling mendesak untuk diatasi 
> oleh pemerintahan di daerah mereka. Sebanyak 30,6 responden menyatakan, 
> persoalan pengangguran sebagai problem yang paling genting. Sementara 20,2 
> persen responden menyebutkan masalah kemiskinan sebagai problem utama.
>
> Otonomi?
>
> Substansi dari desentralisasi sesungguhnya berujung pada soal kedaulatan 
> rakyat. Otonomi seharusnya menempatkan masyarakat sebagai jantung dari 
> segala tujuan pembangunan.
>
> Seperti yang dikatakan Mohammad Hatta jauh sebelum eforia otonomi daerah 
> berkembang pasca-1999. Melalui tulisannya di Keng Po pada 27 April 1957, 
> Hatta menegaskan, otonomi masyarakat tak hanya melaksanakan demokrasi, 
> tetapi juga mendorong berkembangnya prakarsa dalam bentuk pelaksanaan 
> kebijakan untuk kepentingan masyarakat lokal. Melalui konsep otonomi yang 
> disebut Hatta ini, rakyat tak saja menentukan nasib mereka sendiri 
> sekaligus memperbaiki nasib mereka. Mohammad Hatta merupakan salah satu 
> tokoh generasi awal yang mengusung semangat desentralisasi.
>
> Lima tahun setelah kemerdekaan, dalam satu pidato pada rapat terbatas di 
> Kabanjahe, Sumatera Utara, Hatta meyakinkan konsep otonomi yang 
> memosisikan kabupaten sebagai ujung tombak. Saat itu Hatta menekankan, 
> pusat otonomi terletak pada kabupaten karena kabupaten cukup luas untuk 
> melaksanakan pemerintahan otonomi.
>
> Sementara provinsi bertugas mengordinasi kabupaten-kabupaten yang ada di 
> dalamnya. Dalam hal ini, Hatta dengan tegas juga menyatakan bahwa 
> pekerjaan pemerintah pusat hanya memberikan pimpinan umum.
>
> Gagasan Bung Hatta baru terwujud pada tahun 1999 dengan terbitnya 
> Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Gagasan ini 
> juga kemudian dipertegas melalui perubahan konstitusi.
>
> Konsep desentralisasi ditekankan melalui Pasal 18 UUD 1945 hasil perubahan 
> kedua yang disahkan pada 18 Agustus 2000. Dalam pasal itu secara khusus 
> diatur soal pemerintahan daerah dan ditegaskan, pemerintahan daerah 
> menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh 
> undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat.
>
> Semangat mengatur dan mengelola daerah secara otonom pun menggiring 
> semangat untuk melangsungkan demokrasi langsung. Masyarakat dapat 
> berpartisipasi langsung dalam memilih sosok yang akan memimpin daerah 
> mereka. Maka, lahirlah sistem pilkada langsung.
>
> Harapan utama dari sistem pemilihan yang diselenggarakan secara langsung 
> adalah soal pertanggungjawaban dan akuntabilitas kepala daerah terpilih. 
> Kepala daerah secara langsung bertanggung jawab terhadap masyarakat 
> pemilih mereka. Dengan sistem ini, seleksi terhadap calon pemimpin daerah 
> pun lebih terbuka. Dengan demikian, publik bisa menilai secara langsung 
> siapa yang akan mereka pilih.
>
> Namun, realitas politik di satu sisi, budaya dan pendidikan politik 
> masyarakat di negeri ini belum sepenuhnya siap. Budaya feodalisme dan 
> politik mobilisasi menjadi realita yang tidak bisa diabaikan sebagai 
> faktor yang masih kuat mendominasi di sejumlah daerah.
>
> Di sisi lain, terbukanya sistem pemilihan berimbas pada menguatnya 
> persaingan politik dari elite dan aktor lokal. Konstelasi dan kolaborasi 
> politik pun melahirkan berbagai kompromi dari sejumlah kelompok sebagai 
> strategi dan siasat memuluskan jalan merebut kekuasaan. Tak heran ketika 
> koalisi terbentuk dan kompromi tercipta timbul konsekuensi setelah kursi 
> kekuasaan terebut. Tarikan kekuasaan dari kelompok-kelompok kepentingan 
> pun mengiringi proses pemerintahan yang berjalan kemudian.
>
> Tak jarang, hasil pemilihan kepala daerah langsung pun tak berhasil 
> menelurkan pimpinan yang memiliki kapabilitas yang cukup. Pun, ketika 
> pimpinan yang terpilih memiliki kapabilitas yang cukup, sering kali 
> terbentur oleh tarikan kepentingan sebagai bagian dari kompromi politik.
>
> Pada akhirnya, publik tetap dikecewakan karena kepala daerah yang dipilih 
> secara terbuka dianggap tidak mampu memberi perubahan berarti.
>
> Hasil jajak pendapat kali ini, misalnya, mencatat 64,8 responden yang 
> menyatakan tak puas dengan upaya pemerintah daerah dalam memperbaiki 
> problem perekonomian daerah. Hanya 32,2 persen yang menyatakan sebaliknya. 
> Lebih jauh lagi, mayoritas responden (73,1 persen) menyatakan bahwa upaya 
> kepala daerah belum sesuai dengan apa yang mereka janjikan pada saat 
> kampanye. (Litbang Kompas)


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke