si banci psikopat ryan sudah membunuh dan mutilasi lebih dari 4 orang
korbannya.  banyak pakar psikologi dan media yang membahas sisi
banci-nya daripada sisi sakit jiwa-nya dalam memberitakan kejadian
mutilasi yang dilakukan si banci pembunuh berantai ini.

emang sih, ketika ada mayat ditemukan terpotong-potong di bogor,
ternyata pembunuhnya adalah pasangannya korban, sesama banci. 
demikian juga, ketika balon (banci salon) membunuh pasangannya di
jakarta, dipotong-potong dan dimasukkan ke bagasi mobil.

cuman, dibandingkan dengan psikopat bule di amerika atau di eropa,
psikopat disini ini sih nggak ada apa-apanya lah dalam hal sadisnya.  

btw, di indonesia saat ini sedang membicarakan isu pencabutan hukuman
mati.  lalu, kalo psikopat banci kayak si ryan ini, sebaiknya
hukumannya, dimatiin atau kagak?  atau, si banci dientot aja pantatnya
berame-rame oleh seluruh napi di penjara...



=========



Ritual Maut Si Bujang Maijo


VERY Idam Henyansah baru sekitar sebulan belajar tenis. Bolanya kerap
menyangkut di net, tak jarang nyelonong ke luar garis. Di lapangan
tenis Apartemen Margonda Residence, Depok, Sabtu pagi awal Juli lalu,
rekan sekamarnya, Novel Andreas, dengan setia memunguti bola-bola itu.

Ryan, begitu Very Idam dipanggil, tinggal bersama Novel di Blok C
Nomor 309A Margonda Residence sejak 25 Mei. Kamar 16 meter persegi ini
dilengkapi kamar mandi dan dapur kecil. Mereka menyewa untuk tiga
bulan, dengan tarif Rp 1,2 juta per bulan, dibayar di muka.

"Ryan rajin salat," kata Novel, 28 tahun. "Setiap akhir pekan kami
salat berjamaah. Saya selalu jadi imamnya." Mereka menghabiskan
sebagian waktu akhir pekan di area olahraga apartemen.

Ryan, 30 tahun, mengambil les tenis di sini. Ia juga bermain bulu
tangkis. Tempo beberapa kali melihat Ryan bermain tenis melawan
teman-temannya. Semuanya lelaki. Novel hanya menonton dari pinggir
lapangan.

Novel mengenal Ryan di Bandung pada Februari lalu. Ketika itu Ryan
meneleponnya, mengatakan memperoleh nomor dari seorang rekan. Sejak
itu mereka berhubungan dekat.

"Kata Ryan, saya pacarnya yang ketiga," ujar Novel. Ryan tak punya
pekerjaan, Novel pegawai golongan IIA di Kantor Imigrasi Depok, Jawa
Barat. Siang hari, ketika Novel bekerja, Ryan diam di apartemen.

Jumat tiga pekan lalu, tak seperti biasa, Novel tak langsung pulang ke
apartemen. Ia pamit mampir ke rumah kakaknya di Jalan Kedondong,
Depok. Ini kesempatan Ryan mengundang temannya yang lain: Heri
Santoso. Kepada polisi, ia mengaku bermesraan dengan pria 40 tahun
karyawan pemasaran sebuah perusahaan baja di Cikarang, Jawa Barat itu.

Seusai melepas hasrat, sekitar pukul 20.00, Heri iseng melihat foto
Novel di telepon seluler Ryan. Ia rupanya tertarik, dan ini membuat
Ryan naik pitam. Diam-diam Ryan pergi ke dapur, mengambil pisau.
Dengan pisau ini ia diduga membunuh tamunya.

Ryan juga menetak tubuh Heri jadi tujuh bagian, lalu memasukkannya ke
koper. Awalnya ia hendak mengangkut potongan tubuh itu dengan mobil
Heri, yang ternyata dilengkapi kunci pengaman. Ia pun memanggil taksi
dan membuang tubuh Heri di Jalan Kebagusan, Ragunan, Jakarta Selatan.

Di sela aksinya, Ryan mengirim pesan pendek ke telepon seluler Novel,
pada sekitar 21.00. Ia minta dijemput di depan Rumah Sakit Pondok
Indah. "Saya segera ke sana dengan sepeda motor," kata Novel. "Saya
menunggu sampai setengah satu dini hari, dia baru datang."

Tiba di apartemen, Novel mencium bau anyir. Ia tak curiga karena Ryan
memang sering batuk darah. Yang aneh, baru bangun tidur pada Sabtu
pagi, Ryan mengajak Novel pindah rumah. Padahal, sewa mereka baru
habis bulan depan.

"Aku mimpi ketemu Abah. Dia bilang kita harus pindah hari ini," kata
Novel, menirukan Ryan. Entah siapa yang dia maksud dengan "Abah" itu.
Mereka mencari tempat tinggal baru.

Akhirnya terpilih rumah petak di Jalan Margonda Raya 34, milik Abdul
Madjid—nomor 7 dari 12 rumah di tempat itu. Sewanya Rp 750 ribu per
bulan. Sabtu sore keduanya mengangkut barang-barang mereka dengan taksi.

Ryan lalu sibuk berbelanja: pemasak nasi, perlengkapan dapur, juga
cermin. Pada Senin pagi, dua hari setelah menempati kamar kos, ia
berbelanja sayuran dan daging. "Ia bilang, di luar makanannya kotor,
jadi lebih baik masak sendiri," kata Abdul.

Esoknya, ia masak ayam dan sayur yang dibeli dari Carrefour. Siang
harinya Ryan pamit kepada Abdul, katanya hendak membeli lemari es.
Tapi, menjelang petang, Ryan dan Novel datang ke tempat kos dengan
kawalan polisi.

Setelah membunuh, menurut polisi, Ryan dan Novel menguras isi rekening
Heri Santoso. Dengan uang itulah Ryan diduga berbelanja dan membayar
sewa kos. Setelah interogasi, polisi menduga Heri bukan korban pertama
Ryan.

Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 1 Februari 1978 itu juga diduga
membunuh empat orang lainnya: Guntur Setyo Pramono alias Guruh (warga
Nganjuk, Jawa Timur), Grendy (warga negara Belanda), Ariel Somba
Pamungka Sitanggang (warga Depok, Jawa Barat), dan Vincentius Yudi
Priyono (penduduk Wonogiri, Jawa Tengah).

Jasad mereka dikubur di belakang rumah keluarga Ryan di Dusun Maijo,
Jatiwates, sekitar 15 kilometer arah utara ibu kota Kabupaten Jombang.
Dengan petunjuk tersangka, polisi membongkar kuburan itu, Senin pekan
lalu.

l l l

PERKAMPUNGAN di Desa Jatiwates membentuk blok-blok cluster. Satu blok
merupakan dusun, yang dipisahkan hamparan sawah atau kebun tebu dari
blok lainnya.

Sebagian besar penduduknya petani, termasuk Ahmad Sadikun, ayah
kandung Ryan. Adapun Siatun, ibunya, berdagang keliling pakaian angsuran.

Di sinilah Ryan lahir. Sang ibu bercerai dari suami pertamanya,
Sahlan, 14 tahun sebelumnya. Dari perkawinan pertama, Siatun punya
satu anak, Mulyo Wasis, kini 44 tahun. Menurut Wasis, tak ada yang
aneh pada masa kecil adiknya.

Wahib, yang mengajar Ryan di kelas enam Sekolah Dasar Jatiwates II,
mengenang muridnya itu sebagai anak baik. Nilai rapornya rata-rata:
7-8. Yang tak biasa, menurut Wahib, Ryan—di desanya dipanggil
Yansyah—bertingkah gemulai.

Paining, teman sekelas Ryan di sekolah dasar, menilai kawannya itu
pintar dan periang. "Ia suka bergaul dengan murid perempuan," ujarnya
mengenang. "Ia dulu sering main loncat tali, juga dengan teman
perempuan." Menurut Paining, Ryan juga sering bermain bunga.

Lulus dari sekolah dasar, Ryan melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama
I Tembalang. Marsudi, gurunya dulu, mengingat Ryan sering diolok-olok
murid pria. Namun anak itu menanggapinya dengan tertawa. "Tak terlihat
ia marah," katanya. "Paling dia menghindar."

Ryan aktif di organisasi siswa intrasekolah. Ia ditunjuk menjadi ketua
bidang apresiasi dan seni. Di sinilah ia menyalurkan hobinya menari.
Ia satu-satunya penari pria ketika klub tari sekolah itu pentas di
dalam dan di luar sekolah.

Menurut Wasis, adiknya berubah setelah mengikuti tamasya sekolahnya ke
pantai selatan. Kepada kakaknya, Ryan mengatakan mendapat boneka
pemberian penguasa pantai selatan. Sebulan kemudian boneka itu hilang.

"Setelah itu perilakunya berubah," kata Wasis, guru sekolah dasar.
"Kalau marah, ia memecahkan kaca dan merusak isi rumah." Dari sekolah
menengah pertama, Ryan meneruskan ke Sekolah Menengah Atas I Jombang.

Tak lama di sekolah itu, ia pindah ke Sekolah Menengah Atas Kabuh.
Enam bulan kemudian, ia pindah lagi ke Sekolah Menengah Atas III. Tak
sampai lulus, ia memutuskan hijrah ke Jakarta. "Tapi aku masih sering
balik ke Jombang," kata Ryan kepada Tempo.

Pada 2004, keluarga Ryan diterpa masalah. Solikan, sepupu Ryan yang
menjadi kepala dusun, dituduh menggelapkan beras untuk rakyat miskin
dan berbuat cabul dengan seorang perempuan warganya. Penduduk setempat
berunjuk rasa di depan rumah Solikan, tepat di samping kanan rumah Ryan.

"Karena Solikan tetap mengelak dan dinyatakan tak terbukti bersalah di
pengadilan, warga mengucilkan keluarga itu," kata Suprayitno, tetangga
Ryan. Sejak saat itu, menurut Suprayitno, Ryan tidak pernah
bercakap-cakap dengan para tetangganya.

l l l

RYAN mengaku mengenal Guntur, Grendy, dan Vincentius sejak awal 2007.
Ia bertemu Grendy di bus, dalam perjalanan dari Jombang menuju Kediri.
"Yang lainnya aku tidak ingat," ujarnya.

Kepada penyidik, Ryan mengaku menjalin hubungan khusus dengan Guntur
cukup lama. Hubungan mereka retak pada Agustus tahun lalu, karena
masing-masing memiliki pasangan lain.

Keduanya cekcok di rumah Ryan, yang berakhir dengan pembunuhan Guntur.
Sang tuan rumah lalu memereteli perhiasan emas dan telepon seluler
tamunya.

Tahun berganti, Ryan mengajak pulang Grendy pada Februari lalu. Di
rumahnya, ia kembali beraksi. Ia bunuh pria yang hingga kini belum
jelas identitasnya itu. Ia kemudian diduga merampas semua harta korban.

Pada bulan yang samalah, Ryan mengenal Novel. Sejak 11 Maret, keduanya
tinggal bersama di rumah kontrakan di Jalan Pedurenan, Setiabudi,
Jakarta Pusat.

Pada 23 April, Ryan pamit pulang ke Jombang untuk menggarap proyek
rumah sakit di Surabaya. "Ia bilang akan ketemu insinyur di sana,"
kata Novel. "Saya mengantarnya ke Stasiun Gambir."

Rupanya ia pergi bersama Ariel Somba Sitanggang. Ariel, yang bekerja
sebagai agen properti, pernah berjanji merenovasi rumah Ryan. Ternyata
janji itu tak bisa dipenuhi dengan cepat, sehingga Ryan marah.

Ariel juga tahu, ternyata Ryan punya teman dekat. Keduanya terlibat
pertengkaran, yang juga berakhir dengan pembunuhan. Ryan baru hendak
mengubur jasad Ariel ketika Vincent, teman dekatnya yang lain, datang.

Tak mau aksi kejinya ketahuan, Ryan bergegas membunuh pemuda Wonogiri
itu. Jenazahnya dikubur jadi satu dengan Ariel. Jenazah empat korban
itu dikubur dalam dua lubang, dengan satu lubang berisi tiga jenazah.

Polisi curiga masih ada jenazah terkubur di sekitar rumah Ryan. Itu
sebabnya mereka sempat membuka septic tank. Tapi Ryan mengaku hanya
membunuh empat orang. "Tak ada lagi yang lain di situ," katanya.

Beres dengan urusan mayat, Ryan kembali ke Jakarta, ke pangkuan Novel.
Keduanya kemudian pindah tempat tinggal ke Jalan Jambu, Pejaten,
Jakarta Selatan. Sebulan di situ, mereka pindah ke Margonda Residence.

Kepada Tempo, Novel mengaku tidak mengenal Ariel. "Saya pernah dengar
nama itu dari Ryan, tapi enggak pernah ketemu orangnya," ujarnya.

Guru SMP Ryan, Marsudi, terakhir bertemu muridnya itu sekitar empat
bulan lalu di warung bakso di sudut Kota Jombang. "Dia bercerita
sedang membuat film, dan syuting untuk suatu produk," ia mengenang.

Untuk meyakinkan gurunya, Ryan mengenalkan seorang pria sebagai
produser. Dari logat bicaranya, Marsudi memperkirakan "produser" itu
dari Jakarta. "Wajahnya mirip Ariel," katanya, sambil menunjuk foto di
surat kabar. Marsudi menyimpulkan, Ryan hanya membual.

Lurah Jatiwates, Machmud, menilai Ryan memang pembual. Setiap kali
berjumpa, Ryan mengaku habis melancong ke luar negeri: Malaysia,
Singapura, Australia, atau negara lain. Kepada teman-temannya
berolahraga di Marcella Gymnastic, Jombang, ia pernah mengatakan baru
pulang haji.

Jika semua pengakuannya kepada polisi benar, Ryan seperti menjalankan
"ritual" tetap, ya membunuh itu. Ia menjaring calon korban antara lain
dengan membual, mengajaknya berkencan, membunuhnya, lalu menyikat
hartanya.

Ia kemudian menikmati harta itu: tinggal di apartemen, fitness, juga
bermain tenis—walau bolanya masih sering nyangkut di net atau melesat
ke luar lapangan.

Budi Setyarso, Sahala Lumbanraja, Muhammad Nafi, dan Dini Mawuntyas
(Jombang)




============


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke