Wah runyam memang... Begitu banyak biaya yang akan dikeluarkan, dan hasilnya juga, saya yakin, hanya untuk memilih koruptor yang akan menguras kekayaan negara.
Masaalahnya, saya ulang, karena di Indonesia tidak ada organisasi masyarakat yang kuat untuk meengontrol politisi dan penjabat negara lainnya; tidak ada serikat buruh yang cukup kuat untuk mendorong partai politik untuk bikin undang-undang yang menguntungkan buruh; tidak ada persatuan petani yang menuntut agar politisi membikin undang-undang yang melindungui kepentingan petani; atau persatuan pemilik pabrik roti atau pabrik tahu yang memperjuangkan agar korupsi dan pemerasan yang dilakukan polisi atau jawatandan lembaga negara lain yang minta sumbangan untuk merayakan hari Bhayangkara atau pemerasan sebangsanya dihapuskan). Jelasnya: priorits yang perlu diberikan oleh orang Indonesia yang ingin melihat Indonesia maju sebenarnya bukan untuk ikut pemilihan umum, tapi untuk mendorong didirikannnya serikat buruh, serikat petani, dan organisasi profesionel yang berfungsi secara demokratik. Lalu mendorong organisasi profesi itu untuk mengontrol politisi dan penjabat negara. Di zaman Soeharto sudah sering di katakan, tapi tidak ada yang melakukan: yang perluk dikembangkan di Indonesia adalah civil society. Dan civil society itu bukan hanya dan bukan terutama NGO, tapi organisasi profesionil. --- In [email protected], "gsuryana" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Berapakah dana yang dibutuhkan untuk bisa menjadi seorang Presiden ?. > > Dengan jumlah suara yang mencapai sekitar 100 Juta suara, minimal seorang > capres akan berusaha untuk mendapatkan suara sekitar 40 juta, dan untuk > mendapatkan angka tersebut minimal harus memperkenalkan diri ke minimal 60 > juta pemilih. > Dan dengan index rupiah persuara kalkulator menjadi hang. > > Untuk meraih suara tersebut, mau tidak mau membutuhkan dana, baik untuk > atribut, iklan dan lain lain, plus saksi yang jumlahnya cukup aduhai dimana > minimal 250 ribu orang saksi dengan asumsi jumlah pemilih terdaftar 100 > juta, dan per TPS dialokasikan untuk 400 suara. > > Dana kampanye untuk setiap capres akan berbeda beda tergantung dari > capresnya itu sendiri, bagi muka baru maka biayanya menjadi lebih besar > dibandingkan dengan muka lama, karena muka lama tinggal melakukan polesan > disaat kampanye, sedang untuk muka baru selain harus memperkenalkan diri > yang sesungguhnya sulit bila dilakukan secara tradisional ( kampanye > keliling ), minimal memasang spanduk baliho dan media cetak serta media > tayang, ini pun hasilnya masih menjadi tanda tanya. > > Hal ini bisa diibaratkan menjual produk baru ditengah pasar yang sudah > dikuasai oleh produk² yang sudah eksis lebih dahulu, dan dalam teory > management, untuk melakukan penetrasi pasar tersebut membutuhkan kapital > bisa berlipat lipat agar bisa masuk. > > Masih hangat berita yang muda maju untuk Pilpres Indonesia, sungguh > keberanian menentang arus, bilamana tidak didukung oleh dana yang memadai, > karena dengan bermodalkan idealisme dan partai semata belum tentu dikenal > sampai ke pelosok² desa. > Memang media tayang cukup dan bisa dikatakan ampuh untuk memperkenalkan > diri, dan ini pun tetap saja membutuhkan biaya. > > Kembali ke angka 60 juta pemilih, dan dikalikan dengan index rupiah > persuara. > Bila index rupiah persuara dialokasikan Rp 5000,-, maka didapat angka Rp > 300.000.000.000,- , dan nilai Rp 5000,- akan bervariasi untuk setiap daerah > pemilihan. > > Pilpres bisa menjadi 2 putaran bila putaran pertama perolehan suara > berdekatan dan tidak meliwati 30 % dari jumlah pemilih, dengan demikian di > putaran kedua akan keluar kembali dana kampanye, dengan target berubah > tergantung daerah yang di pilpres pertama tidak mendukung. > > Jadi berapakah dana kampanye yang harus disediakan untuk seorang capres ? > wallahuallam > > sur. > ------------------------------------ Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
