Live Show Actor mendapatkan Hidayah     
Kisah Mualaf - Kisah Foreigner
Tuesday, 22 April 2008 06:52
Sekitar dua bulan lalu, saya didatangi oleh seorang anak muda dengan
perawakan gemuk dan berjanggut tipis yang hampir tidak terurus.
Mungkin karena kondisi fisiknya yang gemuk, atau karena memang baru
saja masuk ke Islamic Center setelah berjalan kaki cukup jauh, sang
pemuda itu nampak berkeringat. Nampak sedikit kaku, bimbang, tapi
berusaha melempar senyum.

Sambil menyodorkan jabatan tangan, anak muda ini memperkenalkan diri
sebagai "Emanuel". Tentu dengan ramah kusambut jabatan itu sambil
memperkenalkan diri. Dia sepertinya ingin menenangkan diri sehingga
berusaha untuk lebih "confident" dalam ekspresi wajahnya. Tapi saya
menangkap seolah ada sebuah kekhawatiran di benaknya. Ternyata memang
betul. Ketika saya tanyakan hal itu, dia menjawab: "This is my first
time to a Mosque and I am worried how to behave in an appropriate
mannerĂ¢."

"Emanul, feel at home! Mosque is the most public place on earth. Every
body is welcome regardless their status, including their religious
affiliation",  jawab saya menenangkan. Saya pun memulai bertanya,
kenapa tertarik untuk datang ke mesjid? Dia menjawab: "I am a Graduate
from Cornell University, Upstate New York, and still remember my class
on Middle Eastern Studies."

Saya tanyakan: "What did you study?" Dia menjawab bahwa dia sebenarnya
belajar Islam. Bahkan menurutnya, dia sendiri sejak belajar di Cornell
itu diam-diam sudah membaca Al-Quran, dan hingga saat ini masih terus.
Menurutnya lagi "the more I read the Quran, the more I feel being
attracted to read more" Bahkan, menurut dia, Al-Quran itu memberikan
"peace in mind". "I used to read it even before sleeping, " lanjutnya.

Tanpa bertanya panjang lebar, saya mulai menjelaskan Islam seperti
biasanya. Cuma menghadapi seseorang seperti Emanuel ini memerlukan
pendekatan yang sedikit rasional dan ilmiyah. Rupanya tanpa saya
sadari dari namanya, dalam benak saya ketika itu Emanuel adalah
seorang  Kristen atau Katolik. Karena memang mayoritas mereka yang
datang belajar Islam adalah Kristen atau Katolik. Maka
penjelasan-penjelas an saya kepadanya banyak menekankan mengenai
kedudukan Isa dan ibunya dalam Islam.

Setelah sekitar setengah jam menjelaskan Islam, baru saya bertanya,
"What is your back ground? I mean, your religion". Dia dengan sedikit
tersenyum mengatakan, "I am a Jewish, but originally from Puerto
Rico".  Saya hampir menyesal dengan penjelasan-penjelas an panjang
lebar mengenai Isa dan ibunya, padahal kaum Yahudi tidak percaya
kepada ketuhanan Isa, bahkan tidak mempercayai Isa sebagai Nabi.

"I am sorry",  saya sampaikan. "I think you were completely
disconnected from my talk, since you dont believe in Jesus at Allah".
 Dengan sopan Emanuel menjawab: "It's fine. I love to learn and I
enjoyed your talk".

Tiba-tiba saja Emanuel menyela: "I am actually willing to embrace
Islam. But I don't  know what to do. Saya segera menjawab: "to convert
to Islam is very easy. Probably the most difficult part of that, is to
make sure that you are really convinced that Islam is the truth and
the right way to follow.

Dia dengan mantap menjawab: "I am very much sure about that, but I
have something to ask before doing it. Saya tanya: "What is that?. Dia
bilang: "I am an actor. I used to perform live show in different
places here in the City. Can I still be an actor after becoming a Muslim?"

"O yes, sure!", jawab saya tegas. "What you need to do after becoming
a Muslim is learning some Islamic regulations concerning the arts.
Islam is a practical religion and it provides clear guidance on what
to do and not to do". Mendengar jawaban saya itu, Emanuel sepertinya
sangat puas dan senang.

Menjelang azan shalat Zhuhur saya minta seseorang untuk mengajarkan
wudhu. Setelah berwudhu kembali saya ajarkan beberapa hal, termasuk
kalimah syahadah yang sebentar lagi akan diucapkan di hadapan jamaah
shalat Zhuhur. Saya juga mengajarkan cara shalat secara ringkas,
hingga azan berkumandang. Nampak Emanuel khusyu' mendengarkan azan
pertama kali siang itu.

Menjelang shalat dimulai saya ajak Emanuel ke depan jamaah  dan
menuntungnya: "Asy-hadu al laa ilaaha illa Allah, wa asy-hadu anna
Muhammadan Rasul Allah". Dengan khusyu'  Emanuel mengikuti saya
mengucapkan Kalimah itu, disusul pekik takbir para jamaah  yang hadir.
Iqamah untuk shalat dikumandangkan, dan Emanuel melakukan shalat
pertama kalinya.

Semoga Allah menguatkan iman dan Islamnya saudara kita, Emanuael Fihmen !

 Shalom,
Tawangalun.


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke