AS tetap jaya, justru negara muslim akan habis tak berdaya disaat tak punya minyak lagi...
gp On 9/24/08, Haryo Penangsang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa > > > > Sebuah buku spektakuler > tentang analisa kehancuran Amerika dan Eropa di akhir zaman dari berbagai > sudut > pandang : empiris, historis, sosial, ekonomi, dan nubuwah akhir > zaman. > > > Di saat Uni Soviet yang mengusung > komunisme tumbang, Perang Dingin berakhir, maka Amerika tampil sebagai > negara > super power yang menentukan hitam putihnya dunia. > Di saat sistem politik demokrasi dan > sistem ekonomi kapitalisme diterima oleh lebih dari 90 % negara di > dunia. > Di saat 95 % negara anggota PBB > mendukung Amerika dan sekutunya dalam memerangi Islam dan kaum muslimin > melalui > sandi operasi 'perang global melawan terorisme'. > Di saat Amerika dan sekutu-sekutunya > melanggar aturan internasional, dan melakukan invasi militer kepada dua > negara > yang paling miskin dan lemah di dunia, Afghanistan dan Irak, tanpa ada satu > negara pun yang mampu mencegah dan menghukumnya. > Di saat Amerika Serikat terus > memimpin sekutu-sekutunya dari Eropa Barat, Australia, Jepang, dan Korea > Selatan > untuk menuruti semua kehendaknya > Di saat Amerika telah menjelma > bagaikan bangsa Mesir pada zaman Fir'aun, yang menginginkan bangsa-bangsa > lain menghamba kepada mereka, mengikuti agama mereka, menyembah thagut, > dengan > cara memeras, menakut-nakuti, menyiksa, bahkan melenyapkan mereka. > Di saat Amerika tampil mengangkangi > segala negara dan lembaga di dunia, tak terkecuali PBB, yang dengan > leluasanya > Amerika bisa berbuat semaunya tanpa ada seorang pun dan sebuah negara pun > yang > bisa mencegah dan menghukumnya. > Di saat seluruh dunia menerima klaim > Amerika sebagai pusat peradaban, ekonomi, penegakan HAM, Demokrasi dan > standar > tunggal gaya hidup manusia. > Di saat Amerika menjadi tolok ukur > dalam seluruh makna keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia. > Bisakah Anda mempercayai penjelasan orang yang > menyatakan bahwa Amerika dan sekutunya tengah berada di ambang > keruntuhannya? Dapatkah Anda membenarkan klaim yang menyatakan bahwa > negeri itu tengah di ujung jurang kebinasaannya? Bagaimana jika yang > menjelaskannya adalah para tokoh politik, ekonomi, budaya dan cendekiawan > Amerika dan Eropa sendiri? Bagaimana jika yang menjelaskannya adalah para > ilmuwan dan ulama muslim? Bahkan, ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits yang > shahih? > Amerika adalah sebuah negara adidaya > yang ekonominya 100 % berbasis sistem ribawiyah-spekulatif (Kapitalisme) dan > merupakan penghela utama peradaban Barat-modern. Banyak sekali orang yang > tersihir oleh kehebatan teknologi negeri itu, terpesona oleh kekayaannya > yang > luar biasa, sehingga sama sekali tidak mengira bahwa sebenarnya negara > adidaya > itu tengah memasuki hari-hari terakhirnya, insya Allah. Buku ini > mengungkapkan kenyataan sebenarnya yang tengah dihadapi negeri adidaya itu. > Seluruh persyaratan untuk terjadinya sebuah kehancuran total telah terpenuhi > oleh negeri ini; ekonomi, politik, militer, sosial, demografi, moralitas, > termasuk nubuwat akhir zaman. > Dari sisi ekonomi, negeri produsen > dolar ini telah berubah dari lintah darat menjadi korban lintah darat > terbesar > di dunia sejak pertengahan tahun 1986 – dimulai pada masa pemerintahan > Presiden > Ronald Reagen. Perubahan status ini bermula dari pengeluaran anggaran yang > luar > biasa besar bagi pembiayaan Proyek Perang Bintang (Strategic Defense > Initiative) dan Kampanye Penghancuran Uni Soviet. Uni Soviet memang > akhirnya hancur, akan tetapi dengan ongkos yang membuat Amerika sendiri > menjadi > limbung dan menuju status sekarat! Utang total pemerintah Amerika bertambah > praktis secara eksponensial, dan per April 2007, utang tersebut telah > melewati > US$ 8,9 trilyun (ikuti terus statusnya pada situs "US National > Debt Clock") dan terus bertambah dengan besarnya bunga yang harus dibayar > setiap > tahun melewati angka US$ 300 milyar yang nilainya semakin bertambah pula > seiring > dengan semakin meningkatnya utang pokok dan suku bunga pinjaman. > Dengan akumulasi utang bangsa > Amerika per 2007 (jumlah utang pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor > swasta, dan rumah tangga) sebesar lebih kurang US$ 48 > trilyun[1] (dengan kurs 1 US$ = Rp. 9000,- > nilainya akan setara dengan kira-kira Rp. 432.000 trilyun, baca: empat ratus > tiga puluh dua ribu trilyun rupiah!), secara teoritis, jika Bank Sentral > Jepang dan atau Cina dan atau sejumlah investor lainnya (cukup salah satu > saja > yang beraksi, lainnya akan segera mengikuti) memutuskan menarik seluruh > investasinya keluar Amerika, maka akan terjadi suatu gempa moneter yang luar > biasa hebat, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia, di > Amerika dengan episentrumnya terletak pada dua tanduk syaitannya, yaitu > bursa > saham dan pasar uangnya. Gempa moneter raksasa ini selanjutnya akan > menimbulkan > gelombang tsunami moneter yang luar biasa dahsyat yang menjalar ke seluruh > penjuru dunia! > Banyak analisa para pakar ekonomi > yang telah meramalkan kehancuran Amerika dari sudut pandang ini. Pada 23 > Januari > 2005, Jas Jain, salah seorang analis ekonomi terkemuka telah menulis, > "Depresi > yang lebih Besar (Greater Depression) adalah tak terhindarkan. > Semakin tinggi kita mendaki tangga utang, semakin dalam ekonomi Amerika > akan jatuh selama Depresi yang lebih Besar yang akan datang. > > Pada Maret 2005, Stephen Roach, > seorang kepala ahli ekonomi pada lembaga keuangan Morgan Stanley di Boston > mengatakan, bahwa ia percaya peluangnya adalah 90% (yang menunjukkan sudah > sangat dekat kepada kepastian!) bahwa utang yang gila-gilaan ini pada > akhirnya > akan membawa pada kehancuran ekonomi! > Pada 24 September 2005, Alan > Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika, mengungkapkan kepada sejawatnya > Thierry Breton, Menteri Keuangan Perancis, bahwa Amerika Serikat telah > kehilangan kendali atas defisit anggarannya. Selanjutnya Breton berkata, > "Situasi yang menciptakan tekanan saat ini pada pasar uang adalah jelas > defisit > Amerika." Ia juga mengungkapkan, "Nampak bagi saya bahwa sejawat saya John > Snow > (Menteri Keuangan Amerika, penj.) sepenuhnya sadar akan hal ini, ia > ingin mengatasi masalah ini, tetapi nampaknya ia tidak mempunyai ruang yang > cukup untuk bermanuver."[2] > Dari sisi politik dan militer, > kehancuran Amerika juga tinggal menunggu waktu. Perang yang dikobarkan oleh > Amerika di negeri-negeri muslim telah mendapat kecaman internasional dan > kerugian yang cukup besar. Hingga awal 2007, perang Irak dan Afganistan > telah > merenggut nyawa lebih dari 4000 orang tentara Amerika, dan lebih dari 50.000 > tentara mengalami cedera. Semula Departemen Pertahanan Amerika, Pentagon, > berusaha mengecilkan jumlah prajurit yang cedera menjadi 24.000 orang. Akan > tetapi Dr. Linda Bilmes telah mengejutkan publik Amerika dengan membocorkan > angka yang sebenarnya, yaitu berkisar 50.000 prajurit yang membuat Pentagon > kebakaran jenggot. Angka ini tidak dapat disanggah oleh Pentagon karena > dikutip > oleh Dr. Bilmes dari Departemen Urusan Veteran Amerika yang terbebas dari > pengaruh Pentagon. Sejauh ini lebih dari 200.000 veteran telah dilayani di > VA centers (Pusat-pusat Urusan Veteran), dan terdapat antrian klaim > pelayanan medis dari 400.000 veteran. Jumlah klaim diperkirakan akan > mencapai > 874.000 pada 2007, dan 930.000 pada 2008.39 Dari > total prajurit yang cedera, sekitar 50% mengalami cacat permanen yang > membuatnya > tidak dapat bertugas kembali sehingga setara dengan kematian. Celakanya, > tentara > yang cacat ini malah membebani pemerintah Amerika dengan biaya perawatan > seumur > hidup yang jauh lebih besar dari pada kompensasi bagi keluarga prajurit yang > tewas. Sebagai contoh, keluarga dari seorang prajurit yang tewas akan > mendapatkan bantuan sebesar US$ 500.000, sedangkan seorang prajurit yang > menderita cedera permanen di otaknya akan memerlukan biaya perawatan sekitar > US$ > 4 juta.. > Faktor penting lainnya yang juga > menambah/mempercepat kemungkinan kehancuran Amerika adalah datangnya bencana > alam yang sangat dahsyat, seperti angin topan yang menghantam kota New > Orleans > yang terletak di wilayah Teluk Meksiko pada akhir Agustus 2005. Bencana > tersebut > telah membuat Kongres Amerika segera meluluskan permintaan bantuan sebesar > US$ > 10 milyar sebagai uang muka, sementara sebuah perkiraan telah menyebutkan > bahwa > dibutuhkan dana sebesar US$ 200 milyar guna merestorasi semua kerusakan, > suatu > nilai yang setara dengan perang selama empat tahun di Irak dan Afganistan. > > Belum genap sebulan setelah bencana > alam akibat angin topan yang demikian merusak tersebut, datang lagi angin > topan > kedua yang menghantam wilayah yang sama, yang menimbulkan kerusakan dan > banjir > secara meluas. Belum genap sebulan setelah topan kedua, datang lagi topan > ketiga. Barangkali saja sudah menunggu angin-angin topan lainnya yang akan > terus > menghantam daratan Amerika. > Rentetan bencana tersebut telah > menghancurkan sebagian infrastuktur energi Amerika; 108 anjungan pengeboran > minyak rusak dan tidak mungkin dibangun kembali, demikian juga kerusakan > pada > sarana penyulingan minyak yang menurunkan kapasitas operasinya menjadi 70%. > Bencana tersebut juga telah mengakibatkan 363.000 orang menjadi penganggur, > dan > menimbulkan gelombang kebangkrutan yang masif.[3] > Jika pandangan suram tentang masa > depan Amerika di atas semata-mata dari sisi ekonomi, maka pandangan suram > dari > sisi sosial budayanya tercermin dari kutipan berikut ini, > "Gambaran suram masyarakat Amerika > dilukiskan oleh Alistair Cooke, penyiar veteran kelahiran Inggris, yang > tinggal > di AS selama bertahun-tahun. Masalah Amerika baginya semata-mata merupakan > pembusukan moral: 'Tingkat kejahatan di kota secara teratur melampaui > semuanya. > selain tahun sebelumnya yang paling buruk, dan kejahatan di jalanan secara > acak > di waktu malam menandingi peristiwa menonjol dalam buku harian abad > kedelapan > belas. Obat terlarang adalah hama yang menyerang semua kelas dari segala > usia. > Kita baru saja tersadar untuk mendapatkan bahwa sudah lama sekali, mungkin > beberapa puluh tahun, pendidikan umum di Amerika telah menetapkan standar > yang > mudah dan membingungkan, sehingga, paling tidak dalam minoritas besar, > mungkin > mayoritas, tamatan sekolah menengah, kalau dibandingkan dengan sesamanya > dari > Eropa dan Asia, hanya setengah melek huruf.' > > > Alistair Cooke memerhatikan > gejala lain dari keruntuhan budaya: penyalahgunaan kebebasan, kegagalan > pengadilan menetapkan dan mengekang perbuatan tidak senonoh, kemerosotan > tajam > dalam sikap umum, dan lain-lain. Dia menyimpulkan bahwa akan ada titik balik > sejarah yang besar, suatu akibat dramatis seperti Perang Saudara > Amerika kedua, datangnya seorang diktator populis, atau kembalinya secara > darurat ke bentuk sosialisme nasional yang menguntungkan ciptaan Franklin > Roosevelt dalam New Deal pertama (kebijakan Presiden Roosevelt untuk > mengatasi Depresi Besar pada 1930-an, penj.)" > Itu adalah komentar dari seorang > yang hidup pada dekade 1990-an di Amerika. Sekarang tentu keadaannya sudah > jauh > lebih buruk lagi. Maka lengkap sudah semua syarat kehancuran Amerika: > kemerosotan secara cepat dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan > memerhatikan segenap tanda-tandanya, puncak musibah (baca: azab) > yang mirip dengan Depresi Besar 1930 insya Allah akan terjadi lagi. > Sebuah makalah dengan judul TOO > Jika segenap penyebab di atas belum > memadai untuk membawa Amerika kepada kehancurannya, maka skenario berikut > dapat > menjadi skenario pamungkasnya. Sebagaimana dikemukakan banyak pengamat dari > kalangan akademisi maupun lembaga penelitian lainnya, baik mewakili > institusi > maupun perorangan, kehancuran ekonomi Amerika yang dipicu oleh kehancuran > pasar > saham dapat terjadi akibat adanya perubahan pada struktur demografi > masyarakat > Amerika dikaitkan dengan sistem pensiun para pekerja. Bahkan tokoh "resmi" > semacam Dr. Alan Greespan.[4] yang menjabat sebagai Gubernur Bank > Sentral Amerika, telah menyatakan keprihatinannya yang mendalam akan > persoalan > ini dalam pidatonya pada 2 Desember 2005 mengenai kebijakan anggaran > Amerika. > > Data demografi Amerika menunjukkan, > bahwa lebih dari 76 juta orang Amerika lahir antara 1946 dan 1964, yang oleh > para ahli sosiologi disebut sebagai generasi "baby boomers" (bayi-bayi yang > lahir pada era ledakan kelahiran pasca PD II). Para "baby boomers" itu kini > berusia antara 43 dan 61 tahun. Mereka inilah yang membanjiri pasar kerja > pada > era 1970-an. Kemudian sepanjang dekade 1980-an dan 1990-an, mereka ini pula > yang > banyak menanamkan investasinya di bursa saham. > Dalam beberapa tahun mendatang, > generasi "baby boomers" ini akan mulai memasuki masa pensiun, sehingga > mereka > akan mulai mencairkan dana-dana pensiun mereka, yang berarti menutup > investasi > mereka di reksa dana, dan menyimpan dalam bentuk tabungan di bank. Bahayanya > terletak pada kenyataan bahwa generasi "baby boomers" ini adalah kelompok > populasi yang paling besar dan paling kaya di Amerika, sementara generasi > berikutnya, yang berpotensi menggantikan generasi "baby boomers" sebagai > investor di bursa saham, mempunyai jumlah yang lebih kecil dengan > tingkat kekayaan yang lebih rendah. Lebih memperburuk keadaan adalah adanya > "cacat" pada peraturan sistem dana pensiun Employment Retirement Income > Security Act - ERISA, di mana setiap pensiunan yang telah > menginjak usia 70 tahun "diwajibkan" mulai menarik dananya dari pasar saham, > dengan cara menjual sahamnya setiap bulan. > Maka secara teoritis, mulai 2008 > orang akan menyaksikan kecenderungan terjadinya lebih banyak transaksi > menjual > daripada membeli saham dan semakin bertambah nyata pada tahun-tahun > berikutnya. > Selang beberapa waktu kemudian orang akan memerhatikan bahwa indeks > harga saham tidak akan bisa naik lebih jauh lagi, bahkan cenderung terus > tertekan, akibat kecenderungan menjual saham lebih banyak daripada membeli. > Lalu > begitu tersadar, orang-orang akan berduyun-duyun menjual sahamnya. > Persoalannya, sebagaimana juga di > negara-negara lain, bagian terbesar dari masyarakat Amerika adalah warga > yang > dididik untuk menjadi pekerja, bukan pengusaha. Para pekerja itu tetap saja > merupakan orang-orang yang awam dalam bidang investasi di bursa saham. > Sebagaimana orang awam lainnya, tindakan mereka sering bersifat emosional, > "ikut-ikutan." Jadi, jika suatu kali terjadi kondisi pasar saham yang > "merosot," > mereka dapat menjadi sangat panik, lalu berusaha menjual secepat mungkin > saham-saham mereka, dan yang lain pun akan segera mengikuti. Pasar saham > bisa > benar-benar hancur karenanya. Jika itu terjadi, para analis memperkirakan, > ia > akan menjadi "kehancuran pasar saham paling besar dalam sejarah peradaban > manusia." > Kini renungkanlah, jika para > pengamat telah membuat prediksi yang sedemikian kelabu, tentu para investor > telah membuat ancang-ancang jauh-jauh hari sebelumnya untuk segera menarik > investasinya dari tanah Amerika. Seakan-akan, wallahua'lam, Allah telah > membuat "rencana" yang akan memaksa para investor itu untuk menarik modalnya > keluar dari Amerika. Seakan-akan semua jalan telah terkunci bagi Amerika > untuk > melepaskan dirinya dari bom waktu raksasa yang terbentuk tanpa mereka sadari > dan > melekat tepat pada jantungnya. > Namun, di balik semua kengerian yang > hendak mencengkeram dunia, ada kabar gembira yang menjadi konsekwensi > kehancuran > barat dan Amerika. Kembalinya khilafah rasyidah yang sesuai dengan manhaj > nubuwah yang akan memimpin dunia dengan keadilan dan kebenaran merupakan > janji > yang pasti. > Maka, buku ini juga mengupas secara > padat dan tuntas generasi umat Islam yang akan muncul sebagai pemimpin > dunia, > menggantikan peranan Amerika dan Barat; siapa, kapan, karakteristik dan > sifat > keistimewaan, langkah-langkah perjuangan dan hasil-hasil yang akan mereka > capai. > Sebuah penjelasan yang lengkap, berdasar Al-Qur'an dan As-Sunnah, disertai > tinjauan sejarah dan fakta-fakta terbaru yang valid. Sungguh sebuah kajian > yang > obyektif, ilmiah, menarik, dan sangat berani! > > > > [1] Pada situs > Grandfather Economic Report, Michael W. Hodges, America's > Total Debt Report-Update 2007 US$ 48 Trillion and Soaring. > [2]. > Pada situs CNN Money edisi 24 September > 2005. > > [3]. > Pada situs Financial Sense Online, edisi 11 Oktober 2005, Jennifer Barry, > America Sinking Below The Waterline. > [4]. > Pada situs India Infoline, edisi 3 Desember 2005, Greenspan warns > on US budget deficit.Shalom, > Tawangalun. > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ > > Post message: [EMAIL PROTECTED] > Subscribe : [EMAIL PROTECTED] > Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] > List owner : [EMAIL PROTECTED] > Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links > > > > -- Salam, Great Pretender ------------------------------------ Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
