Saya kutip kalimat ini:

"Sementara Hidayat Nur Wahid melihat bahwa Platform parpol sebenarnya
banyak yang saling bersinggungan. Hanya saja, menurut dia, penekanan
masing-masing parpol berbeda, Ada yang dibidang ekonomi, umat, dan
sebagainya. ''Tidak lagi berpikir dikotomis antara yang membahayakan
atau tidak membahayakan NKRI,'' ungkap Hidayat."

Pertanyaan saya: apakah ini berarti PKS telah meninggalkan programnya tentang 
syariah? Artinya me inggalkanprinsipuntuk bisa iktu berkuasa?

Atau sekedacar taktik: "masuk kandang kambing mengembik masuk kandang harimaum 
engaum?) artinya unjuk kemunafikan dan kecurangan?

---


Home ยป Nasional
PDIP, Golkar, dan PKB Siap Berkoalisi
By Republika Contributor
Rabu, 24 September 2008 pukul 16:27:00
PDIP, Golkar, dan PKB Siap Berkoalisi

JAKARTA -- Pimpinan partai politik (parpol) dan para calon presiden bertemu 
dalam satu forum Bincang Santai yang diselenggarakan Republika. Dalam 
perbincangan itu mereka secara terbuka menyatakan siap menjalin koalisi dalam 
Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

Pimpinan parpol yang hadir antara lain Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf 
Kalla, Ketua Dewan Penasihat DPP PDIP Taufik Kiemas, mantan Presiden PKS 
Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai 
Hanura Wiranto, Capres PBB Yusril Ihza Mahendra, dan Ketua DPP Partai Demokrat 
Anas Urbaningrum. Hadir pula hakim Mahkamah Konstitusi Jimmly Assidiqqie, Ketua 
DPD Irman Gusman, Komisaris Utama PT RMM Adi Sasono, Direktur Utama PT RMM 
Erick Thohir, serta sejumlah tokoh lainnya.

Taufik Kiemas melihat sudah tidak ada lagi dikotomi yang tajam antara parpol 
Islam maupun parpol nasionalis. Dengan begitu, menurut taufik, tidak ada 
persoalan lagi jika harus menjalin koalisi. ''Tinggal kita bicaranya (koalisi) 
sekarang atau setelah pemilu legislatif,'' papar Taufik, pada acara yang 
berlangsung Selasa (23/9) malam di Rumah Maroko, Jakarta.

Taufik menegaskan bahwa seluruh hadirin bersedia bicara koalisi dan tanpa 
malu-malu, itu karena demi kepentingan bangsa. Terlebih pada saat sekarang 
tidak mungkin parpol bisa menang sendiri-sendiri. Sekalipun PDIP memperoleh 
suara cukup mengusung capres/cawapres sendiri, tapi kata Taufik, PDIP tidak 
akan bisa membangun bangsa sendirian.

Tak hanya bicara koalisi, lebih jauh Taufik sudah bicara tentang koalisi 
permanen yang dibangun sejak awal. Dalam pandangannya, koalisi tidak permanen 
muncul karena Pilpres harus dilakukan dalam dua putaran. ''Kalau sekali maka 
akan jelas (parpol posisinya) ada di A atau ada di B,'' jelasnya. Dengan syarat 
30 persen maka akan bisa memunculkan dua pihak koalisi tersebut.

Sedangkan Jusuf Kalla melihat bahwa konteks koalisi akan lebih pada sisi yang 
pragmatis. Agar koalisi bisa dibangun sejak awal, Jusuf Kalla juga mengusulkan 
agar syarat dukungan 30 persen. Ini dimaksudkan agar koalisi kuat dan terbangun 
sejak awal. ''Jika pemerintahan kuat akan bisa menjalankan kebijakan 
pemerintahan yang lebih baik. Kalau tidak ya terombang-ambing,'' paparnya.

Pada prinsipnya, menurut Jusuf Kalla, koalisi diarahkan untuk menutup 
kekurangan-kekuarangan. Dengan begitu diharapkan koalisi akan bisa menambah 
kekuatan parpol. Terutama dalam memenangkan pemilu sehingga bisa menjalankan 
idealisme maupun program.

Sementara Hidayat Nur Wahid melihat bahwa Platform parpol sebenarnya banyak 
yang saling bersinggungan. Hanya saja, menurut dia, penekanan masing-masing 
parpol berbeda, Ada yang dibidang ekonomi, umat, dan sebagainya. ''Tidak lagi 
berpikir dikotomis antara yang membahayakan atau tidak membahayakan NKRI,'' 
ungkap Hidayat.

''Rakyat akan lebih melihat pada apa yang dilakukan. Ketika parpol peduli 
tentang keadilan, lingkungan, perempuan, masyarakat akan menilai jujur tidak 
parpol dengan programnya. Kalau jujur rakyat akan memberi pilihannya,'' kata 
Hidayat.

Wiranto mengingatkan agar dalam koalisi lebih tepat bicara tentang kesamaan 
program. Bukan pada pembagian kekuasaan yang dikedepankan. ''Tapi bagaimana 
program, visi, misi dalam membangun pemerintahan yang sama,'' tandasnya.

Pada sisi lain Muhaimin melihat koalisi masih sangat terbuka oleh siapapun dan 
dengan siapapun. Indonesia sangat mudah mengkonsolidasi kekuatan koalisi maupun 
oposisi.

Diingatkannya, kalau peta politik Islam dan politik Islam seperti saat ini, 
maka 2009 koalisinya tidak boleh semu. ''Hal yang tidak boleh terjadi di 2009 
adalah koalisi jangan semu. Begitu pula oposisi juga tidak boleh semu,'' 
tandasnya.

Seperti Muhaimin, Yusril Ihya mengingatkan agar konsep koalisi lebih jelas. 
Jangan sampai terulang koalisi yang terbentuk sejak awal, justru ditinggal oleh 
presiden/wakil presiden yang diusungnya.dwo/ya

 ---------------
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo


Allah yang disembah orang Islam tipikal dan yang digambarkan oleh al-Mushaf itu 
dungu, buas, kejam, keji, ganas, zalim lagi biadab hanyalah Allah fiktif.



      

------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke